Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 23 Jagain jodohnya Dewa


__ADS_3

Ayuna tidak mengira jika saat ini di hadapannya ada seorang yang tadi dia hindari ketika mengajaknya pulang bersama.


Dewa, dia benar-benar berusaha menjaga apa yang dia inginkan. Kini Ayuna seolah menjadi tawanannya.


"Kak Dewa?! Ngapain Kak Dewa ada di sini?" tanya Ayuna gugup.


Dewa masih saja menampakkan senyum paksanya agar Ayuna tidak melihat kemarahan dalam dirinya.


"Kenapa Bapak bisa ada di sini? Apa Bapak mengikuti kami?" tanya Devan dengan tersenyum sinis.


Dewa merubah ekspresinya ketika mendengar perkataan dari Devan. Dia menoleh ke arah Devan dan memandangnya dengan tatapan sinis. Namun dia masih ingat jika Devan adalah mahasiswanya, sehingga dia biarkan saja seolah tidak ada Devan di antara dirinya dan Ayuna di meja itu.


Dewa memanggil pelayan cafe untuk memesan makanan, namun tiba-tiba Ayuna bersuara,


"Kami sudah memesan makanan Kak."


Dewa mengangguk dan tersenyum. Dia puas karena ternyata Ayuna tahu jika dia bertanya padanya hanya melalui tatapan matanya.


Mereka makan dengan diam. Devan mendengus kesal dalam hatinya karena lagi-lagi dia gagal untuk berbicara pada Ayuna. Bahkan kesempatannya untuk menyatakan perasaannya hari inipun telah gagal dengan adanya Dewa yang hadir di antara mereka.


Sedangkan Ayuna, dia merasa cemas dengan Dewa yang sedari tadi tersenyum padanya.


Tidak biasanya dia selalu tersenyum seperti itu. Apa benar dia baik-baik saja? Apa itu karena sakit panasnya tadi? Iiiih... ngeri..., Ayuna berkata dalam hatinya sambil bergidik ngeri.


Dewa, dia menahan mati-matian rasa marahnya pada Devan karena berani menyentuh Ayuna. Dewa sadar jika dia dan Ayuna belum mempunyai ikatan apapun, namun tetap saja dia tidak ingin lelaki manapun menyentuhnya.


Setelah makanan mereka habis, Dewa segera mengajak Ayuna untuk pulang dengannya.


"Ay, ayo pulang," ucap Dewa sambil memegang tangan Ayuna untuk diajaknya pulang.


Devan kaget melihat tangan Dewa yang berani menggandeng Ayuna. Kemudian dia berkata,


"Eh tunggu dulu Pak, kami masih menunggu teman-teman kami. Lagian Ayuna datang bersama dengan saya, jadi sudah seharusnya dia pulang bersama dengan saya."


"Saya lebih berhak mengajaknya pulang karena kemarin kami sudah pacaran dan hari ini kami sudah bertunangan," jawab Dewa dengan tersenyum sinis.


Mata Ayuna dan Devan bersamaan membelalak mendengar perkataan Dewa. Bahkan Ayuna tidak bisa berkata-kata untuk menanggapi perkataan Dewa mengenai hubungan mereka. Ayuna hanya bisa tertawa dalam hatinya.


"Benar itu Ayuna?" tanya Devan dengan menatap Ayuna penuh tanya.


"Hah?!" celetuk Ayuna sambil melihat ke arah Devan dan Dewa secara bergantian.

__ADS_1


"Sudahlah, tidak ada yang perlu dikonfirmasi lagi. Kami akan segera menikah, jadi tunggu saja undangan dari kami," ucap Dewa sambil menarik tangan Ayuna untuk keluar dari cafe tersebut.


Devan lemas, kakinya tidak bisa digerakkan. Hatinya remuk redam mendengar gadis yang dicintainya dan diincarnya untuk menjadi pacarnya selama ini sudah menjadi pacar orang lain, lebih tragisnya mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah.


Lalu penantian Devan selama ini untuk apa? Dan untuk siapa? Untuk menjaga jodohnya Dewa?


Diacaknya rambut Devan dengan frustasi. Ingin rasanya dia berteriak menyuarakan kekesalannya dan rasa sakit dalam hatinya.


Namun tiba-tiba kesadaran Devan kembali, dalam hatinya dia berkata,


Tidak seharusnya aku percaya begitu saja pada Dewa dosen sialan itu. Bisa saja dia hanya mengancam Ayuna dengan nilainya sehingga Ayuna rela pulang dengannya meskipun tanpa paksaan.


Devan pun bergegas berlari keluar cafe untuk masuk ke dalam mobilnya menyusul mobil Dewa yang baru beberapa menit melaju meninggalkan parkiran cafe tersebut bersama dengan Ayuna.


"Eh mau ke mana?" tanya Felix sambil menahan tangan Devan ketika mereka bertemu di parkiran cafe.


"Kita aja baru datang, kok kamu malah cabut sih?" tanya Viktor pada Devan.


"Mana Yuna?" tanya Gavin pada Devan.


Pertanyaan mereka bertiga membuat Devan bertambah pusing. Dia sudah tidak ada waktu untuk meladeni mereka.


"Kalian masuk aja. Aku mau kejar Ayuna dulu," jawab Devan sambil melepas tangan Felix yang menahannya.


Devan tidak menjawab, dia sudah terburu-buru masuk ke dalam mobilnya.


"Dev! Devan!" seru Viktor ketika mobil Devan sudah melaju dengan cepatnya di depan mereka.


"Kenapa sih tuh anak kayak kesetanan?" tanya Gavin pada Felix dan Viktor.


"Gak tau. Tapi katanya tadi mau kejar Ayuna. Memangnya Ayuna ke mana sih?" tanya Gavin kembali.


"Jangan-jangan...."


Ucapan Viktor menggantung, dia tidak bisa mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Jangan-jangan apa?" tanya Gavin pada Viktor.


"Jangan-jangan... Ayuna diculik," ucap Viktor mengagetkan kedua temannya.


"Apa? Masa' sih?" tanya Felix tidak percaya.

__ADS_1


"Kalian ini coba pikirkan, Devan itu paling gak bisa melihat Ayuna sakit ataupun sedih. Tau gak kenapa?" tanya Viktor pada kedua temannya.


"Kenapa?" tanya Gavin penasaran.


"Kalian gak tau kalau Devan itu suka sama Ayuna?" tanya Viktor sambil menoyor kepala kedua temannya.


Sontak saja Felix dan Gavin terperanjat kaget. Mereka benar-benar tidak tahu jika Devan menyukai sahabat mereka sendiri.


"Masa' sih? Tau dari mana kamu?" tanya Felix pada Viktor.


"Ah kalian ini, ngakunya sahabat tapi kurang peka," tukas Viktor sambil menoyor kembali kepala kedua temannya itu.


"Terus kita gimana? Apa kita gak ikut nyari Ayuna?" tanya Gavin pada Felix dan Viktor.


"Aku lapar, kita masuk aja deh. Lagian Devan tadi kan nyuruh kita masuk ke dalam cafe," jawab Felix.


Gavin menoleh pada Viktor dan Viktor menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Felix. Mereka bertiga masuk ke dalam cafe tanpa menyusul Devan yang katanya sedang mengejar Ayuna.


Di dalam mobil Ayuna protes pada Dewa mengenai tindakannya.


"Kemarin kami pacaran, dan hari ini kami tunangan. Hahahaha... klise banget hubungan kita, bisa-bisa habis ini kita nikah setelah itu cerai," ucap Ayuna dengan nada menyindir pada Dewa.


"Enggak. Aku gak akan ceraikan kamu. Buatku nikah hanya satu kali dan itu untuk seumur hidupku. Jadi jangan sampai kamu berpikir untuk meminta cerai dariku," tutur Dewa dengan tegas.


"Hai... hello... kita belum menikah, dan kita gak ada hubungan apa-apa. Jangan seenaknya mengatakan pada semua orang," tukas Ayuna dengan menatap kesal pada Dewa.


"Semua itu benar dan aku tau jika kamu gak akan menolaknya," ucap Dewa dengan senyumnya sesekali melihat ke arah Ayuna.


"Kamu tuh nyebelin banget sih. Seenaknya aja kamu nentuin semuanya sendiri. Memangnya aku setuju apa nikah sama kamu?" tanya Ayuna dengan kesalnya.


Dewa hanya tersenyum dengan perhatiannya masih pada jalanan yang ada di hadapannya.


Sesampainya di rumah, Ayuna segera masuk rumahnya tanpa menunggu pintu mobilnya dibukakan oleh Dewa.


Di dalam rumah sudah ada Bu Andini, mama dari Ayuna.


"Eh Dewa, tumben main ke sini jam segini? Mau ketemu Papanya Ayuna?" tanya Bu Andini pada Dewa.


"Iya Tan, saya mau melamar Ayuna," jawab Dewa dengan entengnya.


"Uhuk!"

__ADS_1


Ayuna tersedak minuman ketika sedang meminum orange jus sambil berdiri di depan kulkas.


__ADS_2