
Ciiiiiit....
Dewa mengerem mobilnya secara mendadak. Untung saja jalanan yang dilewatinya tidak sedang ramai. Sehingga di saat dia mengerem mendadak, tidak sampai terjadi kecelakaan.
"Gimana Ay, apa dia sudah pergi?" tanya Dewa pada Ayuna dengan panik.
Ayuna mencoba melihat dari kaca jendelanya, dan ternyata ada seekor kucing berjalan menjauhi mobil mereka.
"Udah kak, itu kucingnya udah jalan," jawab Ayuna sambil menunjuk kucing tersebut.
"Syukurlah...," ucap Dewa lega.
"Lain kali Kak Dewa harus hati-hati. Mangkanya kalau sedang nyetir itu lihatnya ke depan," ujar Ayuna memperingatkan Dewa.
"Lain kali kamu manggilnya sayang, jangan Kak atau Pak," ucap Dewa menimpali perkataan Ayuna.
Sontak saja Ayuna menoleh ke arah Dewa. Kemudian dia berkata,
"Dih ogah, kamu kan bukan suaminya aku, jadi tidak dibenarkan untuk memanggil sayang pada orang yang bukan suamiku," jawab Ayuna dengan tegas.
"Sebentar lagi Ay. Sebentar lagi aku akan menjadi suami kamu. Jadi, latihan mulai dari sekarang manggil aku dengan sebutan sayang," ucap Dewa yang masih konsen dengan jalanan yang ada di hadapannya.
Bukannya membantah, Ayuna malah bengong. Dia tidak mengira jika dia akan mendengarkan hal itu dari mulut Dewa, yang sebentar lagi ketika masuk gerbang kampus akan berubah menjadi dosennya.
"Ay... Ay... kamu gak turun?" tanya Dewa pada Ayuna yang masih saja bengong.
Ayuna kelabakan ketika suara Dewa menyadarkannya. Dia melihat sekelilingnya dan benar saja jika kini mereka sudah berada di parkiran kampus.
Tersirat gurat malu di wajah Ayuna. Dia tidak mau memandang Dewa karena dia tidak mau jika Dewa mengetahui dirinya terbuai dan malu ketika mendengar perkataan Dewa.
Ini bukan aku, bukan aku banget. Masa' iya aku malu gara-gara dengar hal kayak gitu aja. Wake up Ayuna, kamu tidak pernah seperti ini. Kamu tidak pernah terbuai oleh rayuan laki-laki, Ayuna berkata dalam hatinya.
Di saat Ayuna sibuk membatin, Dewa telah turun dan sudah berada di dekat pintu mobil Ayuna.
"Gak turun Ay?" tanya Dewa ketika membukakan pintu mobil untuk Ayuna.
Seketika kesibukan Ayuna dengan batinnya terhenti. Dia menatap sekelilingnya dan benar saja kini mereka sudah sampai di parkiran kampus.
__ADS_1
Ayuna bertambah malu karena sepertinya dialah yang tidak mau turun dari mobil karena kini posisi Dewa sudah berada di luar mobil.
Lagi-lagi Ayuna harus menahan malunya. Dia keluar terburu-buru tanpa berpamitan dengan Dewa. Dan dengan langkah cepatnya itu Ayuna meninggalkan Dewa yang masih berada di dekat mobilnya.
"Jangan terlalu cepat Ay, nanti kesandung loh."
Tiba-tiba suara Dewa membuatnya menoleh. Dan benar saja, Dewa sudah berada di sampingnya dengan memberikan senyuman manisnya serta tangannya yang berada di pundak Ayuna.
Merasa ada yang berat di pundaknya, Ayuna melirik ke arah pundaknya. Sontak saja dia menghempaskan tangan Dewa yang bertengger dengan nyamannya di pundak Ayuna.
Dan sialnya lagi karena kagetnya itu Ayuna kehilangan keseimbangan sehingga dia akan terjerembab jatuh, namun lagi-lagi tangan kekar Dewa menyelamatkannya.
Tangan kekar Dewa mencegah tubuh Ayuna tidak bersentuhan dengan lantai koridor kampus.
Banyak pasang mata yang melihat mereka, tak terkecuali Devan yang baru saja datang tanpa Felix, Gavin dan Viktor. Mereka bertiga masih dalam perjalanan menuju kampus.
Raut wajah Devan mengisyaratkan kemarahannya. Dia sudah sangat kesal pada Dewa yang membawa Ayuna ketika sudah ada janji dengannya. Dan kini dia kembali kesal karena melihat Dewa memegang tubuh Ayuna walaupun tujuannya untuk menyelamatkannya.
Devan menahan tubuh Ayuna dan menghempaskan tangan Dewa yang menahan tubuh Ayuna agar tidak terjatuh.
Dewa membalas tidak kalah bengis dari tatapan Devan. Dewa bukan tipe orang yang mengalah, namun dia menyadari semua pasang mata yang mengarah padanya itu membuatnya harus mengalah saat ini. Dia tidak mau beredar gosip tentangnya yang bertengkar dengan mahasiswanya hanya karena seorang mahasiswi.
Dilepaskannya tubuh Ayuna meskipun dia sangat enggan melepaskannya. Dan dia menatap Ayuna dengan kesal sebelum pergi meninggalkan Devan bersama Ayuna yang masih berada di tempat tersebut.
Ayuna terperangah kaget dengan kejadian yang menimpanya. Menurutnya kejadian itu sangat cepat hingga dia tidak bisa menengahi perdebatan Dewa dan Devan meskipun tanpa ada perkelahian.
Tatapan kemarahan Dewa sangat jelas terlihat oleh Ayuna. Dia juga merasakan jika Dewa sedang kesal padanya.
Aku harus bagaimana? Apa aku harus meminta maaf padanya? Tapi sebenarnya salah apa aku padanya? Kenapa jadi aku yang harus meminta maaf padanya?
Semua pertanyaaan-pertanyaan itu hanya bisa ditanyakan Ayuna dalam hatinya.
"Ayuna kamu gapapa?" tanya Devan sambil melihat Ayuna dari atas hingga bawah.
"Hah? Eh gapapa. Aku gapapa kok," jawab Ayuna gugup.
Kemudian Ayuna berjalan menuju kelasnya meninggalkan Devan yang masih ingin bersamanya.
__ADS_1
Devan berjalan cepat menyusul Ayuna. Dia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Ayuna. Kini mereka berjalan beriringan menuju kelas.
"Yuna, kemarin kamu ke mana?" tanya Devan penasaran.
Ayuna menghentikan langkahnya, kemudian dia menghadap ke arah Devan. Dia merasa sangat bersalah pada Devan karena tidak menepati janjinya.
"Maaf Dev, aku kemarin sudah menunggumu di bioskop," ucap Ayuna merasa bersalah.
"Di bioskop? Kamu jadi nonton? Dengan siapa? Aku kemarin menjemputmu tapi kamu tidak ada di rumah," tanya Devan mengeluarkan semua keingintahuannya pada Ayuna.
"I-itu... ah nanti saja aku ceritakan. Sekarang kita ke kelas saja. Aku gak mau telat, takut kena hukuman lagi," ucap Ayuna yang kemudian berjalan cepat menuju kelasnya.
Sebenarnya Ayuna belum tahu akan berbicara apa pada sahabat-sahabatnya, terutama pada Devan mengenai janjinya kemarin. Dia benar-benar melupakan Devan karena kebersamaannya dengan Dewa kemarin.
Tidak lama kemudian Dewa masuk ke dalam kelas dan memberikan tugasnya, kemudian dia meninggalkan mereka dengan alasan sedang sakit dan butuh berobat saat itu juga.
Tentu saja Ayuna sangat khawatir. Dia merasa pagi tadi Dewa baik-baik saja dan mereka juga sempat berdebat hingga bisa dikatakan Dewa sangat sehat.
Perasaan dia tadi baik-baik saja. Lalu sakit apa dia sebenarnya? Kenapa butuh berobat sekarang? batin Ayuna bertanya-tanya.
Memikirkan semua itu membuat Ayuna bertambah bingung dan cemas. Segera dia berlari keluar kelas menuju ruangan Dewa.
"Ayuna! Yuna! Kamu mau ke mana?" teriak Devan menyusul Ayuna.
Ayuna berhenti, dia menoleh ke arah belakang di mana Devan sedang berlari menyusulnya.
"Aku mau ke toilet. Udah kebelet ini. Kamu balik kelas aja!" teriak Ayuna dari tempatnya berdiri saat ini.
Devan pun menghentikan langkahnya. Dia menatap Ayuna yang berlari menuju toilet, setelah itu Devan berbalik kembali masuk ke dalam kelasnya.
Ayuna mengintip dari toilet, setelah dia mengetahui Devan telah pergi, dia segera berlari menuju ruangan Dewa.
Brak!
Pintu ruangan Dewa dibuka dengan kerasnya tanpa diketuk oleh Ayuna.
"Kak Dewa sakit apa?"
__ADS_1