Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 85 Suatu kabar


__ADS_3

Di dalam IGD, dokter segera menangani Dewa. Mereka mengobati luka Dewa. Dan Ayuna menemaninya dengan berdiri di sebelah Dewa.


Kenapa kepalaku berputar-putar ya? Padahal aku kan sudah makan. Apa aku anemia? Ayuna berkata dalam hatinya sambil memegang pelipisnya.


Bruk!


"Sayang!" seru Dewa ketika melihat Ayuna jatuh di lantai tidak sadarkan diri.


Dewa segera menggendong tubuh Ayuna dan diletakkan di atas bed pasien. Dokter yang menangani Dewa tadi segera melakukan pemeriksaan pada Ayuna dibantu oleh perawat yang membantu dokter menangani Dewa.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Dewa pada dokter yang sedang memeriksa Ayuna.


Dokter tersebut tersenyum pada Dewa, kemudian dia berkata,


"Menurut hasil pemeriksaan saya, istri Bapak sedang mengandung. Tapi sebaiknya Bapak periksakan untuk lebih lanjut pada poli kandungan agar lebih jelas lagi."


Mata Dewa terbelalak, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"A-apa Dok? Hamil?" tanya Dewa seolah dia tidak percaya dengan pendengarannya.


Dokter tersebut menganggukkan kepalanya sambil tersenyum untuk meyakinkan Dewa dan berkata,


"Iya Pak, benar."


"Istri saya Dok? Istri saya sedang hamil?" tanya Dewa kembali yang masih merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.


"Benar Pak, istri Bapak sedang hamil. Untuk lebih jelasnya sebaiknya Bapak memeriksakan lagi ke poli kandungan," tutur dokter tersebut lebih jelasnya.


Mulut Dewa menganga dan mata Dewa berkaca-kaca, dia tidak percaya jika saat ini Ayuna, istri tercintanya itu sedang mengandung anaknya.


"Maaf Pak, kita selesaikan dulu luka Bapak yang sebelah sini," ucap dokter sambil menunjuk luka lebam pada pipi Dewa.


Dewa pun mengangguk dan mempersilahkan dokter tersebut untuk melanjutkan merawat lukanya.


Sementara wajahnya yang terluka sedang diobati oleh dokter, tangan Dewa tetap memegang erat tangan Ayuna. Dia tidak ingin terlepas sedetik pun dari istrinya itu.

__ADS_1


"Sudah selesai Pak. Nanti saya akan beri resep obat untuk lukanya. Dan untuk istri Bapak, mungkin sebentar lagi akan siuman. Setelah itu Bapak bisa memeriksakan istri Bapak pada poli kandungan," tutur dokter tersebut sambil tersenyum.


"Baik, terima kasih dok," ucap Dewa dengan raut wajah bahagianya yang terpancar.


Kemudian dokter dan perawat pamit mengundurkan diri dari hadapan Dewa. Kini Dewa menunggu Ayuna yang masih belum sadarkan diri dari pingsannya.


Tangan Ayuna tak henti-hentinya dicium oleh Dewa sambil merapalkan kata terima kasih pada istrinya itu. Dia benar-benar bahagia mendengar berita bahwa istrinya sedang hamil. Kabar yang selama ini dia nantikan, kini sudah dia dengar. Sekarang sudah tidak ada alasan lagi bagi Ayuna untuk bersedih lagi.


Perlahan mata Ayuna mengerjap. Ayuna mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan binar cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Dewa pada Ayuna yang masih mengumpulkan ingatannya.


Ayuna menoleh ke arah Dewa dan menampakkan wajah bingungnya.


"Aku kenapa? Apa aku pingsan?" tanya Ayuna sambil berusaha duduk dari tidurnya.


Dewa pun segera membantu Ayuna untuk duduk bersandar pada bed tersebut dengan meletakkan beberapa bantal pada punggung Ayuna.


Dewa memandang Ayuna dengan wajah yang sangat bahagia. Terpancar dengan jelas aura kebahagiaan Dewa, terutama dari matanya ketika menatap Ayuna.


Dewa mengernyitkan dahinya. Dia menatap lekat mata istrinya itu. Kemudian dia berkata,


"Sayang, kita periksa ke poli kandungan yuk."


Dahi Ayuna mengernyit. Dia bingung, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dan kini, kepala Ayuna masih saja berputar-putar. Dia merasa lemah dan merasakan badannya tidak seperti biasanya.


"Sayang, kepalaku rasanya seperti berputar-putar. Dan aku merasa tidak enak badan. Apa aku sakit parah hingga aku pingsan?" tanya Ayuna dengan wajah sedikit pucat.


Dewa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mendekatkan wajahnya pada wajah Ayuna dan menggesek-gesekkan hidungnya pada hidung Ayuna.


"Ini Sayang. Ini alasannya," jawab Dewa sambil memegang perut Ayuna dan mengusap-usapnya.


"Maaf, permisi Pak. Biar pasien kami periksa dulu."


Tiba-tiba ada suara dari arah belakang Dewa menghentikan perbincangan mereka.

__ADS_1


Dewa dan Ayuna melihat ke arah sumber suara, ternyata sudah ada perawat yang membawa peralatan untuk memeriksa Ayuna.


Dewa pun menyingkir, dia memberikan ruang untuk perawat tersebut memeriksa keadaan Ayuna.


"Silahkan," ucap Dewa mempersilahkan perawat tersebut untuk memeriksa keadaan Ayuna.


Perawat tersebut pun mulai memeriksa tensi darah Ayuna. Kemudian dia memanggil dokter yang menangani Ayuna tadi untuk memeriksanya kembali.


Setelah dokter memeriksanya, Ayuna segera dibawa oleh Dewa menggunakan kursi roda menuju poli kandungan sesuai saran dari dokter yang memeriksanya tadi.


Ayuna sedikit mengerti apa yang dimaksudkan oleh Dewa, hanya saja dia tidak mau merasa bahagia terlebih dahulu karena dia takut jika nantinya dia kecewa.


Ayuna menurut saja pada Dewa. Dia mengikuti keinginan Dewa untuk menurut padanya. Dan Ayuna pun memenuhi keinginan suaminya itu.


Tiba di poli kandungan, Ayuna kembali tercengang. Matanya berkaca-kaca ketika dia melihat hasil USG yang memperlihatkan janin di dalam kandungannya.


"Sayang... apa ini benar? Apa ini artinya aku... aku akan jadi seorang ibu?" tanya Ayuna dengan suara yang bergetar.


"Iya Sayang, itu anak kita. Kamu akan menjadi seorang Ibu," jawab Dewa dengan menciumi tangan istrinya.


"Selamat Bapak, Ibu. Semoga kandungannya dalam keadaan sehat hingga nanti melahirkan. Ini saya berikan resep untuk vitamin untuk dikonsumsi ibu," ucap dokter kandungan yang memeriksa kandungan Ayuna.


"Terima kasih dokter," jawab Dewa dan Ayuna bersamaan.


"Oh iya dok, untuk pemeriksaan selanjutnya kapan ya dok?" tanya Ayuna pada dokter tersebut.


"Ini sudah saya tuliskan di sini Bu. Jadi nanti ibu bisa datang ke sini sesuai dengan jadwal yang saya berikan," jawab dokter tersebut sambil memberikan resep obat dan kartu untuk pemeriksaan kandungan Ayuna.


Setelah mereka mengucapkan terima kasih dan berpamitan pada dokter tersebut, Dewa membawa Ayuna menuju mobilnya yang terparkir di parkiran rumah sakit tersebut.


Di dalam mobil, Dewa tidak henti-hentinya menciumi tangan Ayuna. Hingga sambil mengemudikan mobilnya pun masih sempat mengucapkan terima kasih dan menciumi kembali tangan istrinya itu.


Ayuna tidak bisa melarangnya, dia tahu jika suaminya itu teramat sangat bahagia mendapatkan berita tentang kehamilannya. Dan tidak dapat dipungkirinya jika dirinya pun sangat bahagia mendengar berita itu.


Anak yang mereka idam-idamkan selama ini, kini ada dalam kandungannya. Dan itu semua berkat kesabaran, cinta dan kasih sayang suaminya.

__ADS_1


"Sayang... stop! Jangan bergerak. Biar aku saja yang menggendongmu," seru Dewa ketika melihat Ayuna akan berjalan keluar dari mobil.


__ADS_2