Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 57 Macan milik Dewa


__ADS_3

"Maaf Kak, maaf...," ucap Ayuna sambil mengoles salep pada punggung Dewa dengan menahan tawanya.


"Kamu udah kayak macan aja Ay. Suka nyakar-nyakar," ucap Dewa sambil emnahan perih ketika cakaran kuku Ayuna di punggungnya terkena olesan salep Ayuna.


"Kan aku emang macan Kak, manis dan cantik," ujar Ayuna sambil terkekeh.


"Iya, kamu memang macan milik Dewa. Dan mulai sekarang kamu harus memanggil sayang padaku," sahut Dewa sambil mencubit hidung mancung istrinya itu.


"Harus manggil gitu?" tanya Ayuna dengan senyum lebarnya.


Dewa menganggukkan kepalanya dengan tatapan seolah mengisyaratkan dia tidak mau dibantah.


"Kan malu manggil gitu," ucap Ayuna lirih dan menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan mata Dewa.


"Kalau gak manggil sayang, aku bakalan menghukum kamu," ujar Dewa dengan menaikkan dagu Ayuna dengan tangannya.


"Dihukum? Dihukum apaan?" tanya Ayuna sambil mengernyitkan dahinya.


"Hukumannya enak kok," jawab Dewa sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Hukuman enak? Apaan? Makanan?" tanya Ayuna kembali dengan menampakkan wajah bingungnya.


Dewa mendekatkan wajahnya pada telinga Ayuna, kemudian dia membisikkan sesuatu.


"Hukumannya sama seperti kemarin malam sayang."


Sontak saja Ayuna membelalakkan matanya setelah mendengar bisikan dari Dewa. Dia tidak menyangka jika hal itu bisa dijadikan oleh Dewa sebagai hukuman baginya jika dia tidak memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Gak mau, yang kemarin malam aja sakitnya bukan main," ujar Ayuna sambil menggelengkan kepalanya dan menampakkan puppy eyes nya.


"Kan baru awalan Ay, nantinya gak bakalan sakit kok. Percaya deh sama suamimu ini," tutur Dewa sambil tersenyum lebar.


"Iiih... dasar mesum...," seru Ayuna sambil memukul-mukul dada Dewa.


Dewa tertawa dan meraih tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Kemudian dia menggendong tubuh istrinya ala bridal style menuju ke ranjang mereka.


Ayuna menunjukkan kedua jari tangannya yang mempunyai kuku panjang di hadapan wajahnya layaknya binatang yang akan menyerang.


"Awas, aku cakar lagi nih," ucap Ayuna yang berniat mengancam suaminya itu.

__ADS_1


Dewa tertawa melihat tingkah lucu istrinya. Dia merasa terhibur di saat pagi hari sebelum mereka sarapan, dia sudah disuguhi tingkah menggemaskan dari istrinya.


Dewa meraih tubuh Ayuna dan memeluknya dengan erat meskipun Ayuna berusaha untuk memberontak. Tawa Dewa belum juga reda, dia malah menyatukan dahi mereka dan memainkan hidung mancung mereka dengan menggesek-gesekkannya ke kanan dan ke kiri.


"Kita sarapan dulu ya," tukas Dewa setelah tawanya reda.


Ayuna pun mengangguk dan dia terkejut ketika badannya kini melayang, dia berada dalam gendongan suaminya.


Dia tersenyum melihat wajah suaminya dan tangannya pun melingkar pada leher suaminya.


"Ternyata suamiku ini sangat sayang sama istrinya ya," ucap Ayuna sambil tersenyum genit pada Dewa.


"Jelas dong, kan aku gak mau istri cantikku ini capek. Biar nanti malam kita bisa main lagi seperti kemarin malam," tutur Dewa sambil terkekeh.


Seketika wajah Ayuna kembali cemberut. Dia sangat takut jika Dewa mengulanginya seperti kemarin malam.


Dewa mendudukkan tubuh Ayuna pada kursi yang terletak di taman yang memang dipersiapkan Dewa untuk sarapan mereka.


Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Ayuna. Sungguh dia dimanjakan sekali oleh Dewa hari ini. Hingga Ayuna merasa sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat perhatian dan sayang sekali padanya.


"Kenapa Ay kamu liatin aku gitu?" tanya Dewa dengan memandang heran pada Ayuna.


"Enggak, gapapa kok."


Sepertinya keputusanku sudah tepat memilihmu sebagai suamiku. Semoga kamu akan tetap seperti ini suamiku, Dewaku, Ayuna berkata dalam hatinya dengan menyunggingkan senyuman manisnya menerima suapan dari suaminya.


"Sekarang kita mau ke mana sayang?" tanya Ayuna pada Dewa yang sedang meminum teh hangat miliknya.


Uhuuuk!


Dewa tersedak ketika mendengar Ayuna memanggilnya sayang. Terlihat sekali wajah bahagia Dewa ketika mendengarnya. Senyumnya juga tidak luntur dari bibirnya.


"Katakan sekali lagi sayang," ucap Dewa sambil meraih tangan istrinya untuk digenggamnya.


Ayuna tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia malu dan tidak mau mengulanginya lagi.


"Hmmm... baiklah, lebih baik kita mandi dulu. Setelah itu kita akan berjalan-jalan di sekitar daerah ini," ucap Dewa dengan menatap Ayuna sambil memberikan senyumnya yang membuat Ayuna semakin malu.


Dengan sigapnya Dewa meraih tubuh Ayuna dan menggendongnya ketika melihat istrinya itu akan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Biar aku bantu kamu agar kamu tidak terlalu capek," tutur Dewa sambil terkekeh.


Ternyata kejahilan Dewa belum berakhir. Kini mereka sudah berada di dalam kamar mandi. Ayuna terkunci dengan Dewa berada di dalamnya.


Ayuna menghela nafasnya berat. Ternyata Dewa sudah merencanakannya. Ayuna baru teringat jika Dewa meminta mereka untuk mandi bersama ketika dia sudah dalam keadaan mengantuk kemarin malam.


Ayuna tersenyum miring pada Dewa yang menatapnya dengan senyum lebarnya.


"Dasar suami mesum. Selalu saja merencanakan sesuatu yang membuat istrinya merasa dibodohi," ujar Ayuna sambil mulutnya meniup ke atas hingga poni nya tertiup oleh hembusan nafasnya.


Bukannya marah dikatakan Septi itu oleh istrinya, Dewa malah tertawa dengan senangnya menikmati kemenangannya. Tawa Dewa menggema dalam kamar mandi itu, sehingga membuat Ayuna semakin kesal padanya.


Grep!


Secepat kilat tubuh Ayuna sudah digapai oleh Dewa. Kini Ayuna telah menjadi tawanan Dewa yang tidak akan pernah dia lepaskan lagi.


Tangan terampil Dewa berhasil membuat pakaian Ayuna berpindah ke lantai. Di hadapan Dewa sekarang ini terpampang jelas bentuk tubuh istrinya yang tentu saja membuat Dewa semakin menginginkannya.


Ayuna, sebenarnya dia sangat malu pada Dewa. Hanya saja dia memikirkan jalan lain agar Dewa tidak lagi mengerjainya seperti kemarin malam dan sekarang ini.


Ayuna lebih mendekat pada Dewa. Dia memutuskan untuk memberanikan dirinya menyerang musuhnya agar musuhnya itu gentar padanya.


Disentuhnya perlahan dada Dewa yang sudah tidak berbalut apapun. Kemudian Ayuna memberanikan dirinya untuk menyentuh bagian lain dari tubuh suaminya itu.


Sebenarnya dia sangat gugup, takut dan malu. Tapi dia berjanji pada dirinya agar dia bisa mengalahkan suaminya itu dan tidak bisa memperdayanya lagi.


Dewa sangat senang melihat Ayuna yang kemarin malam malu-malu padanya, kini dia berinisiatif untuk menyerangnya terlebih dahulu.


Dewa hanya diam saja, dia ingin tahu bagaimana istrinya itu memperlakukannya di saat seperti itu. Dan ternyata apa yang dilakukan oleh Ayuna semuanya meniru dari apa yang dilakukan oleh Dewa padanya kemarin malam.


Memang benar, Ayuna mengingat-ingatnya disela kegiatannya yang membuat Dewa mabuk kepayang karena sentuhannya.


Memang canggung dirasa oleh Ayuna menyentuh tubuh laki-laki meskipun dia adalah suaminya. Baru kali ini dia melakukan itu dan itu sangat terlihat oleh Dewa, sehingga Dewa merasa beruntung memiliki Ayuna sebagai istrinya yang belum pernah sama sekali tersentuh laki-laki ataupun menyentuh laki-laki.


Ayuna tersenyum penuh kemenangan ketika Dewa melenguh dan suaranya menggema di dalam kamar mandi.


Namun, beberapa saat kemudian senyum Ayuna hilang karena kini dialah yang dalam kendali Dewa.


Badannya terkungkung oleh badan Dewa. Dan suara yang menggema dalam kamar mandi itu berganti dengan suara Ayuna.

__ADS_1


"Kyaaaaa... sakiiiiiit...!"


__ADS_2