Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 65 Makan kamu!


__ADS_3

"Waaaah... pantaiiii...," seru Ayuna sambil berlari mendekat ke arah pantai.


Dewa tertawa melihat tingkah istrinya yang tidak berubah, masih saja sama seperti belum menikah padanya. Sangat menyenangkan dan menggemaskan menurutnya.


Dress dan topi pantai yang digunakannya bergerak-gerak tertiup angin pantai yang sangat menyegarkan.


Dewa sibuk mengabadikan tiap momen Ayuna yang sedang sibuk bermain di tepi pantai. Dia berlari riang dengan tawanya berkejaran bersama ombak.


Dan momen seperti itulah yang membuat Dewa ingin selalu melihatnya. Melihat tawa riang Ayuna dan tawa kebahagiaan tanpa terbebani dengan pikiran mengenai keturunan yang masih belum dikaruniakan oleh Tuhan pada mereka.


"Sayang, sini...," teriak Ayuna sambil melambaikan tangannya memanggil Dewa.


Dewa yang sedang sibuk mengambil fotonya menggunakan kamera digital melihat ke arahnya.


"Sini... kita main air sama-sama," seru Ayuna dengan melambaikan tangannya ke arah Dewa.


Dewa tersenyum dan meletakkan kameranya menggantung pada tubuhnya. Kemudian dia berlari menuju istrinya.


Dewa mengejar Ayuna yang berlarian di tepi pantai. Mereka persis seperti pasangan yang sedang kasmaran. Tidak akan ada yang mengerti jika mereka sudah menikah. Dari penampilan mereka yang masih awet muda dan tidak ada kehadiran anak di dekat mereka, membuat mereka masih seperti pasangan yang sedang berpacaran.


"Sayang, udahan yuk... kita balik ke kamar aja ya sekarang. Nanti kita jalan-jalan lagi," ucap Dewa sambil memainkan gandengan tangan mereka dengan menggerak-gerakkannya seperti ayunan.


Ayuna menghentikan tangan Dewa dan dia menatap Dewa dengan tatapan mengharap.


"Kita makan dulu ya...," ucap Ayuna memohon.


"Apa sih yang enggak buat istriku yang cantik ini," tukas Dewa sambil mencubit gemas hidung mancung istrinya.


Ayuna pun tersenyum lebar menampakkan deretan giginya. Kemudian dia melepaskan genggaman tangan Dewa dari tangannya.


Dewa terhenyak karena tangannya dilepaskan begitu saja oleh istrinya tanpa memberitahukan alasannya.


Ada apa? Bukannya tadi dia meminta makan dan aku menyetujuinya? Dewa bertanya dalam hatinya.


Tiba-tiba saja dia kaget karena merasakan punggungnya yang berat, seperti ada sesuatu yang menimpa punggungnya.


Dewa tersenyum ketik melihat tangan putih mulus yang tidak asing baginya melingkar di lehernya.


Ya, Ayuna sekarang berada dalam gendongan Dewa. Dia sengaja melepaskan genggaman tangan Dewa dan dengan cepatnya dia melompat naik ke punggung Dewa.

__ADS_1


Gendongan seperti inilah yang membuat Ayuna nyaman di mana pun bersama dengan Dewa. Baginya suaminya itu memberikan kenyamanan di setiap tindakannya.


Dewa berjalan menyusuri tepi pantai dengan Ayuna yang berada dalam gendongan di belakang punggungnya. Dia tersenyum senang karena istrinya masih manja padanya. Bisa dia bayangkan jika istrinya itu tidak lagi bermanja padanya, pasti dia akan sangat kesepian dan kehilangan sosok manja istrinya itu.


"Senengnya digendong sama suami...," seru Ayuna meluapkan kebahagiaannya.


"Enak ya gak capek," sahut Dewa sambil terkekeh.


Ayuna tertawa dan mengangguk membenarkan perkataan suaminya. Tiba-tiba terbersit sesuatu dalam pikirannya.


"Sayang, apa aku akan tetap bisa gendong seperti ini jika kita sudah memiliki anak?" tanya Ayuna lirih dengan nada serius.


"Kenapa enggak? Gak ada larangan kan jika kita sudah memiliki anak, kita gak boleh gendong-gendongan atau bermesraan?" sahut Dewa seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ayuna.


"Iya sih, cuma...," Ayuna ragu mengatakannya.


"Cuma apa? Malu sama anak? Atau malu sama orang-orang?" tanya Dewa sambil terkekeh.


"Dua-duanya," jawab Ayuna lirih sambil meletakkan dagunya pada ceruk leher Dewa.


Dewa tertawa mendengar jawaban dari istrinya yang sepertinya benar-benar malu, bisa terlihat dari suaranya yang lirih ketika menjawabnya.


Buk! Buk! Buk!


Ayuna memukul-mukul punggung Dewa hingga suaminya itu merintih kesakitan. Dengan wajah cemberutnya dia mengatakan,


"Mau menggendong istri orang lain, hmmm?"


"Enggak sayang, siapa yang bilang sih?" tanya Dewa setelah merintih kesakitan.


"Kamu. Tadi kan kamu bilang begitu," jawab Ayuna dengan kesal.


"Enggak, aku kan cuma-"


"Kapan ya kita bisa punya anak seperti mereka?"


Ayuna menyela perkataan Dewa ketika dia melihat sepasang suami istri yang menggandeng anak mereka berjalan di tepi pantai.


Dewa terdiam. Rasanya hatinya kini seperti disayat oleh belati. Dewa tidak tega jika dia mendengar Ayuna membahas tentang anak dengan raut wajah yang menampakkan kesedihan yang teramat sangat.

__ADS_1


Mata Dewa menyusuri pantai tersebut guna mencari apa yang dilihat oleh istrinya. Dewa menatap nanar pada mereka.


Sebuah keluarga yang bahagia, batin Dewa.


Tidak dipungkiri jika Dewa memang menginginkan adanya anak dalam keluarga kecil mereka, tapi dia tidak mau terlalu memikirkannya karena akan membuat mereka semakin terbebani.


Dan siapa yang bisa merubah kuasa Tuhan jika Tuhan berkehendak untuk tidak memberinya anak di usia pernikahan mereka yang sekarang.


Mungkin nanti, jika usia pernikahan mereka lebih dari sekarang. Atau juga Tuhan telah memberi mereka ujian untuk melihat kesabaran dan usaha mereka dalam menjalani ujian yang diberikannya.


"Pasti kita akan seperti itu sayang. Bahkan lebih dari mereka. Kebahagiaan keluarga kita harus melebihi kebahagiaan orang lain, karena kita berhasil melewati ujian yang diberikan Tuhan pada kita," tutur Dewa dengan lembut untuk menenangkan istrinya.


"Apa itu benar?" tanya Ayuna yang sepertinya meragukan ucapan suaminya.


"Kenapa enggak? Kita masih muda, kita masih punya banyak waktu untuk berusaha agar kita bisa memiliki anak. Kita harus yakin dan tetap berusaha agar apa yang kita inginkan segera diberikan Tuhan pada kita," jawab Dewa dengan menahan bulir air matanya.


Sebenarnya Dewa sangat bersedih jika Ayuna mulai mempertanyakan tentang anak padanya. Dia tahu Ayuna sangat sedih dan terluka, apalagi jika orang tua Dewa mempertanyakan masalah keturunan pada Ayuna, seolah-olah menyalahkan Ayuna yang tidak bisa memberikan anak pada Dewa.


Suami mana yang tega melihat istrinya tertekan dan stres karena masalah keturunan yang sama sekali bukan salahnya. Mereka berdua sama-sama sehat dan subur. Jadi, salah siapa jika mereka masih belum bisa memliki keturunan?


"Sayang, kita makan di sana atau makan di kamar aja?" tanya Dewa sambil menunjuk salah satu tempat makan yang ada di daerah pantai tersebut.


"Emmm... terserah sayang aja deh," jawab Ayuna yang masih berada di gendongan Dewa.


"Di kamar aja ya," ucap Dewa seolah tidak mau dibantah.


"Kenapa harus di kamar?" tanya Ayuna dengan wajahnya yang terlihat bingung.


"Biar lebih nyaman aja. Bisa sambil tiduran juga, bebas mau ngapain aja," jawab Dewa sambil terkekeh.


Sejenak Ayuna terdiam, dia memikirkan apa yang diucapkan oleh suaminya.


Benar juga sih, daripada makan di luar mending makan di dalam kamar aja, Ayuna berkata dalam hatinya.


"Lalu makan apa kalau di kamar?" tanya Ayuna di samping telinga Dewa.


Dewa menoleh ke arah Ayuna, kemudian dia berkata,


"Makan kamu."

__ADS_1


__ADS_2