
Dengan penampilan yang berantakan dan terlihat sangat frustasi, Dewa menemui sahabat-sahabat Ayuna.
"Tolong tunjukkan di mana Ayuna berada," ucap Dewa lemah dan mengiba.
Devan hanya tersenyum sinis dan meremehkan Dewa. Kini Dewa yang ada di hadapannya tidak sesombong yang biasanya.
"Dev, udah kasih tau aja. Kasihan tuh Pak Dewa," bisik Felix di sebelah telinga Dewa.
"Dia belum bisa menyelesaikan masalahnya," tukas Devan dengan disertai senyuman sinis sambil menatap ke arah Dewa.
Dewa mengeluarkan ponselnya. Dia mengutak-atik sebentar ponselnya, kemudian memberikan ponsel tersebut pada Devan.
"Lihatlah. Itu rekaman pernyataan pengakuan wanita brengsek itu di depan semua orang di restoran Ayuna. Sekarang tolong tunjukkan padaku di mana Ayuna berada. Aku sudah mencarinya ke mana-mana, bahkan aku baru saja mencarinya ke Villa dan ke Cafe, tapi dia tidak ada di sana. Aku mohon, katakan padaku di mana istriku sekarang berada. Aku akan menunjukkan video itu padanya," tutur Dewa sambil memohon pada keempat sahabat Ayuna.
"Dev, udah kasih tau aja," ucap Viktor sambil menepuk ringan pundak Devan.
"Aku ragu jika nantinya Bapak tidak akan membuat Ayuna menangis lagi. Asalkan Bapak tau, kami sangat tidak suka melihat air mata kesedihan dari Ayuna," tutur Devan dengan menatap sinis pada Dewa.
"Sama seperti kalian, saya tidak akan mengijinkan air mata Ayuna keluar. Saya sangat mencintainya dan saya akan berjanji akan lebih menjaganya dan lebih waspada lagi," ujar Dewa meyakinkan mereka semua.
"Udah Dev, kasih tau aja," ucap Gavin lirih di sebelah telinga Devan.
Devan diam dan hanya menatap Dewa dengan tajam. Kemudian dia berkata,
"Kami akan memberitahu, asalkan anda mau berjanji pada kami," ucap Devan menuntut pada Dewa.
"Apapun itu, silahkan. Asalkan jangan minta saya meninggalkan Ayuna. Saya tidak akan bisa melepas ataupun meninggalkan dia," tutur Dewa dengan sangat yakin.
Felix, Gavin dan Viktor tersenyum. Mereka percaya pada Dewa dan mereka senang karena Dewa sangat mencintai sahabat mereka.
Sedangkan Devan tetap tersenyum sinis pada Dewa. Di sisi lain dia tidak senang karena Dewa telah merebut Ayuna darinya, terlebih lagi dia telah membuat Ayuna menangis dan terluka. Tapi di sisi lain dia senang karena Dewa terlihat sangat mencintai Ayuna.
"Ijinkan kami semua bebas bertemu dengan Ayuna seperti kami waktu dulu, sebelum Ayuna menikah denganmu," ujar Devan dengan tegas pada Dewa.
Dewa berpikir sejenak. Dia memang tidak suka jika Ayuna berdekat-dekatan dengan laki-laki lain meskipun mereka adalah sahabat Ayuna sejak dulu. Terlebih lagi dia tahu jika Devan menyukai Ayuna.
__ADS_1
Namun, kini dia tidak boleh egois. Dia tidak boleh mementingkan rasa cemburunya itu untuk sekarang ini. Yang terpenting sekarang yaitu menemukan Ayuna dan menyelesaikan kesalahpahaman mereka.
"Baiklah. Saya setuju," ucap Dewa dengan tegas.
"Carilah dia di tempat kalian memulai hidup baru," ucap Devan, kemudian dia masuk ke dalam rumahnya.
"Tempat kita memulai hidup baru?" Dewa mengulang ucapan Devan sambil memikirkan tempat tersebut.
"Bapak masih belum tau juga?" tanya Felix menyelidik.
Dewa menatap Felix dengan wajahnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Tempat di mana Bapak dan Ayuna berjanji untuk saling setia," sahut Gavin tidak sabar melihat Dewa yang tidak juga segera menjawabnya.
Seketika Dewa teringat suatu tempat yang dia janjikan akan pergi ke sana dengan Ayuna untuk sesekali.
Ya, benar, Ayuna memang mengatakan jika tempat itu sangat tenang dan nyaman. Dia pasti berada di sana sekarang. Aku harus ke sana menjemputnya, Dewa berkata dalam hatinya.
"Apa di tempat itu?" tanya Dewa pada Felix, Gavin dan Viktor yang masih berada di hadapannya.
Dengan segera Dewa berlari meninggalkan mereka bertiga menuju mobilnya. Dan mobil itu kini dilajukan oleh Dewa dengan kecepatan tinggi.
"Vin, emang kamu tau tempat mana yang dimaksud Pak Dewa tadi?" tanya Felix pada Gavin setelah melihat Dewa pergi dengan mobilnya.
"Enggak," jawab Gavin dengan entengnya.
Viktor menoyor kepala Gavin dan dia berkata,
"Wah parah. Kalau ternyata tempat yang dia tuju bukan yang kita maksud gimana?"
"Gampang. Pasti nanti dia bakalan datang ke sini lagi," jawab Gavin sambil tersenyum lebar.
Felix dan Viktor menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Gavin yang sepertinya mempermainkan Dewa.
Di dalam mobilnya, Dewa merapal doa dalam hatinya agar Ayuna benar-benar ada di tempat yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
Dengan kecepatan mobilnya yang tinggi itu, Dewa berhasil sampai di tempat tersebut. Mobilnya dia parkirkan sembarangan di depan bangunan itu.
Tok... tok... tok...
Pintu itu diketuk berkali-kali dengan ketukan yang sangat keras menandakan bahwa dirinya tidak sabar untuk dibukakan pintu oleh orang yang ada di dalam.
Ceklek!
Grep!
Begitu pintu terbuka, badan Ayuna langsung disambar oleh Dewa. Kini Ayuna ada dalam pelukan Dewa.
Dewa memeluknya dengan erat seolah dia tidak mau kehilangan Ayuna lagi.
"Maafkan aku Sayang. Tolong jangan pergi lagi. Semua itu fitnah. Semua salah paham. Aku akan menjelaskannya padamu," tutur Dewa yang masih memeluk tubuh Ayuna.
Ayuna tidak menjawabnya. Dia hanya diam saja dan menikmati pelukan Dewa yang sangat dia rindukan.
Air mata Ayuna lolos tanpa permisi. Dia tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Bahkan saat dia bertemu dengan suaminya kembali, dia hanya bisa mengeluarkan air matanya saja. Entah itu air mata kesedihan atau air mata kebahagiaan, dia sendiri tidak mengetahuinya.
Perlahan Dewa mengurai pelukannya karena dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Ayuna.
"Sayang, kenapa kamu menangis? Kamu kenapa?" tanya Dewa dengan sangat khawatir.
Ayuna tidak menjawab, kini tangisannya semakin menjadi. Dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya saat ini pada Dewa. Semua yang dirasakannya hanya bisa ditumpahkannya melalui air matanya.
"Sayang, jangan begini. Lebih baik kamu pukul saja aku daripada kamu terus menangis dan mengeluarkan air mata berhargamu itu," tutur Dewa sambil memegang tangan Ayuna dan memukul-mukulkan tangan Ayuna pada dada Dewa.
Ayuna menarik tangannya. Dia tidak mau menyakiti badan suaminya. Entahlah, Ayuna juga tidak mengerti kenapa sedari tadi dia sangat sensitif dan tiba-tiba menangis ketika mengingat semuanya.
Dia menangis lebih kerasa dan berjongkok di hadapan Dewa dengan kedua tangannya menutupi wajahnya.
"Sayang, aku mohon berhentilah menangis. Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Lihatlah ini, aku akan menunjukkan sesuatu padamu," tutur Dewa yang saat ini sedang ikut berjongkok di hadapan Ayuna.
Ayuna tidak bisa begitu saja menghentikan tangisannya. Kini dia hanya terisak dan menatap ke arah Dewa yang sedang mengulurkan ponselnya di hadapannya.
__ADS_1
"Apa ini?"