
Ayuna mendapatkan pesan dari Dewa yang mengatakan bahwa dia menunggunya di ruangannya untuk pulang bersama. Tidak hanya itu saja, pesan Dewa kini dibubuhi dengan emoticon love dan kiss.
Sungguh bukan kebiasaan dari Dewa untuk melakukannya. Hal itu sama sekali belum pernah dilakukan oleh Dewa selama ini.
Mereka berdua sepertinya tidak menyadari jika melakukan apa yang tidak biasanya mereka lakukan. Mereka hanya mengikuti kata hati mereka saja ketika melakukannya.
Ayuna benar-benar mendatangi ruangan Dewa. Ternyata Dewa sudah menunggunya sedari tadi. Dia ingin memberikan kejutan yang kedua kalinya untuk Ayuna.
Begitu sampai di depan pintu ruangan Dewa, Ayuna merasa deg-degan dan jantungnya kembali berdegup sangat kencang.
Namun, anehnya dalam hatinya merasa berbunga-bunga. Dia tidak berpikir apa alasan dibalik rasa bahagianya dan senyum bahagianya itu. Yang dia tahu, dia merasa sangat bahagia dan tidak mau kebahagiaannya itu hancur begitu saja.
Ayuna hanya berdiri di depan pintu ruangan Dewa. Dia berusaha menenangkan hatinya agar tidak membuatnya gugup jika bertemu dengan Dewa.
Tanpa diketahui oleh Ayuna, Dewa sudah mengetahui kedatangannya. Dewa melangkah mendekati pintu ruangannya.
Ceklek!
Mata Ayuna terbelalak ketika melihat pintu di hadapannya terbuka dan memperlihatkan sosok laki-laki yang membuat jantungnya tidak aman.
Dewa, laki-laki itu masih tetap saja jahil pada Ayuna. Ternyata dibalik kejahilannya itu dia menyimpan keinginan dan alasan yang sangat ingin dia wujudkan.
"Mau masuk dulu atau langsung pulang?" tanya Dewa sambil tersenyum manis.
Ayuna hanya mengerjap-ngerjapkan matanya melihat Dewa yang tersenyum manis padanya. Jantungnya yang tadi berdegup kencang, sekarang bertambah kencang dan dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Serasa dirinya meleleh dihadapan Dewa.
"Ay, mau langsung pulang?" tanya Dewa kembali sambil menggerak-gerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan di hadapan mata Ayuna.
"Eh, i-iya," jawab Ayuna tanpa tahu apa yang dibicarakan oleh Dewa.
Dewa tersenyum dan segera masuk kembali ke dalam ruangannya untuk mengambil tasnya. Sedangkan Ayuna masih mematung di depan pintu ruangan Dewa.
Dewa merangkul pundak Ayuna setelah mengunci ruangannya dan mengajaknya untuk berjalan bersamanya.
"Iiiih... lepasin," ucap Ayuna sambil berusaha melepaskan tangan Dewa dari pundaknya.
__ADS_1
Kejahilan Dewa kembali, dia enggan melepaskan tangannya dari pundak Ayuna. Hingga Ayuna berusaha sekuat mungkin dan itu hanya sia-sia belaka. Dewa semakin terkekeh melihat kegigihan Ayuna untuk melepaskan tangannya dari pundaknya.
Banyak yang melihat kebahagiaan sepasang kekasih itu yang sedang berjalan menuju parkiran.
Tawa Dewa yang memperlihatkan kebahagiaannya membuat yang melihatnya yakin jika Dewa benar-benar menyukai Ayuna.
Dan Ayuna yang tidak sadar menjadi bahan tontonan itu membuat iri kaum hawa yang mengidolakan Dewa selama ini.
"Silahkan masuk calon istriku," ucap Dewa sambil membukakan pintu mobil untuk Ayuna.
Mendengar kata calon istri membuat Ayuna tersipu malu. Rona merah di pipinya terlihat jelas oleh Dewa. Bahkan Ayuna tidak sanggup menyembunyikannya.
Dewa memberikan senyumannya yang tak pernah luntur untuk Ayuna. Melihat Ayuna tersipu malu membuat Dewa semakin ingin menjahilinya.
Merasa terganggu dengan senyum manis Dewa, Ayuna segera masuk ke dalam mobil tersebut dan menghela nafasnya berkali-kali agar detak jantungnya stabil. Tangannya pun dikibas-kibaskan di depan wajahnya untuk menghilangkan rasa panas dan rona merah di wajahnya.
"Kenapa Ay, panas?" tanya Dewa yang kini semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Ayuna.
Sontak saja Ayuna menghalangi wajah Dewa dengan tas miliknya yang ada pada pangkuannya.
"Sukurin... emang enak punya hidung penyok," ucap Ayuna sambil terkekeh menertawakan Dewa yang mengusap-usap hidungnya kesakitan.
"Eh kalau hidungku penyok kasian anak kita dong. Kamu mau hidung anak kita nantinya penyok juga?" tanya Dewa sambil tersenyum menggoda Ayuna.
"Anak?" celetuk Ayuna yang tiba-tiba gugup mendengar kata anak yang ditujukan untuk mereka berdua.
"Iya, anak kita. Pastinya kita akan punya anak kan jika sudah menikah," tukas Dewa sambil menjepit hidung Ayuna dengan tangannya.
"Emmm... tangan kakak bau," ucap Ayuna sambil berusaha melepaskan tangan Dewa dari hidungnya.
Dewa terkekeh dan melepaskan tangannya dari hidung Ayuna. Namun, tidak disangka oleh Ayuna jika tangan Dewa berpindah di atas kepalanya untuk mengacak-acak rambutnya dengan gemas.
Ayuna hanya menatapnya sinis dengan lirikannya. Dia malas berdebat dengan Dewa karena pasti Dewa akan kembali menjahilinya. Dan dia juga tidak bisa membalas kejahilan Dewa karena dia pasti akan kalah dengan Dewa, mengingat berkali-kali Ayuna membalasnya tapi selalu gagal karena tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Dewa.
Dewa segera mengatupkan kedua bibirnya, tidak lagi tertawa karena tatapan Ayuna kini membuatnya takut. Dia takut jika nanti lamarannya dibatalkan oleh Ayuna.
__ADS_1
Dan suasana di dalam mobil hening seketika seiring laju mobil yang dikemudikan oleh Dewa.
Sepi, berasa kayak kuburan aja, ucap Ayuna dalam hati.
Seketika tangan Ayuna menyalakan musik dan terdengarlah lagu yang mendukung sekali suasana mereka.
Lagu Beautiful in White mengalun merdu di dalam mobil. Tak terasa Ayuna terbawa oleh alunan lagu tersebut hingga dia ikut mendendangkan lagu itu tanpa malu pada Dewa. Sepertinya Ayuna telah lupa jika Dewa berada di sampingnya.
Lagu itu merupakan salah satu lagu favorit dari Ayuna dan Dewa mempunyai ide ketika mendengar Ayuna menyanyikan lagu tersebut. Dia tahu jika Ayuna menyukai lagu tersebut, terlihat jelas wajah senangnya ketika menyanyikannya.
Dewa tersenyum melihat wajah sumringah Ayuna melantunkan lagu tersebut dan suara merdu Ayuna membuatnya ingin selalu mendengarnya.
Dipikiran Dewa semua rencana sudah terpikirkan. Hanya pelaksanaannya saja yang tinggal menunggu waktunya.
Mobil Dewa kini berhenti di sebuah tempat yang tidak diketahui oleh Ayuna sama sekali.
Dewa dengan santainya melepas sabuk pengamannya, sedangkan Ayuna baru tersadar jika mereka kini berada di suatu tempat yang dia sama sekali tidak mengetahuinya.
"Kak Dewa, kita di mana? Apa kak Dewa mau culik aku?" tanya Ayuna sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Dewa tersenyum dan dia mendekatkan tubuhnya pada Ayuna. Merasa tubuh Dewa semakin dekat dengannya, Ayuna merasa tegang dan gugup hingga dia lupa caranya bernafas.
Ctik!
Dewa melepas sabuk pengaman yang digunakan oleh Ayuna, kemudian dia menyentil dahi Ayuna sambil berkata,
"Nafas Ay!"
Dewa terkekeh melihat Ayuna yang kaget setelah disentil dahinya oleh Dewa dan seketika Ayuna membuang nafas lega.
Sudah lebih dari sekali dia diperlakukan seperti itu oleh Dewa, sehingga bernafas saja dia lupa, apa kabar dengan hatinya?
Gawat, jantungku sepertinya sudah gak sehat lagi. Apa aku harus periksa ke dokter? Ayuna berkata dalam hatinya sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.
Ayuna masih saja sibuk dengan apa yang dirasakannya. Sedangkan Dewa sudah berada di luar mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil Ayuna.
__ADS_1
"Silahkan Nyonya Dewa Arion," ucap Dewa sambil membuka pintu mobil Ayuna.