
"Pak, tolong urus dia..Buat dia mengakui semuanya," perintah Dewa pada Pak Suryo.
"Siap Pak, serahkan saja pada kami," tukas Pak Suryo dengan tegas.
Kemudian Dewa melihat ke arah Mamanya dan berkata,
"Apa Dewa bisa mengandalkan Mama?"
"Jangan khawatir Dewa, Mama akan mengurus semuanya. Akan Mama pastikan dia mengakui semuanya," jawab Bu Intan dengan sangat yakin untuk meyakinkan Dewa.
"Baiklah, Dewa percaya pada Mama. Sekarang Dewa akan mencari Ayuna," ucap Dewa dan mendapatkan anggukan dari mamanya.
Setelah itu Dewa keluar dari restoran tersebut menuju mobilnya. Dikendarainya mobil itu dengan kecepatan tinggi. Dia tidak ingin menunda-nunda waktu untuk menemukan istrinya.
"Sayang, aku mohon... tunggulah aku di sana. Tolong jangan ke mana-mana," Dewa bermonolog di dalam mobilnya sambil fokus pada jalanan dan kemudinya.
Jalanan sangat ramai hingga Dewa merasa perjalanannya sangat lama. Dia tidak sabar sampai di tempat yang dia tuju.
Sesampainya di sana, Dewa segera berlari mengitari Villa yang dulu dia dan Ayuna pernah tinggali.
"Pak Dewa kok tidak mengabari jika mau datang Pak. Apa mau disediakan segala sesuatunya Pak?" tanya penjaga Villa yang kebetulan berpapasan dengan Dewa.
Dewa berhenti dan menghadap ke orang tersebut. Kemudian dia berkata,
"Apa istri saya datang ke sini Pak?" tanya Dewa pada penjaga Villa tersebut dengan nafas yang terengah-engah.
"Istri? Oh yang waktu itu ya Pak?" tanya penjaga Villa tersebut sambil tersenyum lebar.
"Iya Pak. Apa dia datang ke sini?" tanya Dewa kembali dengan tatapan serius.
"Tidak Pak. Tidak ada yang datang ke sini sama sekali," jawab petugas villa tersebut dengan wajah serius.
Dewa menghela nafasnya. Dia tidak percaya jika apa yang dia pikirkan ternyata salah. Padahal dia sangat yakin sekali jika istrinya ada di tempat itu.
Kemana kamu Ayuna? Bukankah tempat ini yang menurutmu sangat tenang dan nyaman? Lalu kamu berada di mana sekarang? Dewa bertanya-tanya dalam hatinya.
"Pak Dewa apa akan menginap di sini? Atau Pak Dewa hanya berkunjung ke cafe saja?" tanya penjaga villa tersebut pada Dewa yang sedang berpikir.
__ADS_1
Aaah... mungkin dia ada di sana, Dewa berkata dalam hatinya dan tersenyum seolah dia sudah menemukan istrinya.
Tanpa berpamitan pada penjaga villa tersebut, Dewa berlari menuju mobilnya. Dia segera melajukan mobilnya ke tempat yang ada dalam pikirannya.
Penjaga Villa tersebut hanya bisa melongo karena diacuhkan begitu saja oleh Dewa. Bahkan pertanyaannya tidak dijawab oleh Dewa.
Mobil Dewa diparkir di tempat biasanya dia parkir. Tempat parkir khusus pemilik. Segeralah Dewa berlari menuju dalam tempat itu.
"Pak Dewa, tumben tidak memberi kabar terlebih dahulu jika akan ke sini Pak?" tanya manager cafe yang kebetulan berada di dekat pintu.
Mata Dewa menelisik setiap sudut cafe miliknya itu. Kemudian dia mencari di seluruh bagian cafe tersebut.
Manager cafe itu heran melihat Dewa yang seperti sedang mencari sesuatu. Dia menghampiri Dewa dan bertanya padanya,
"Maaf Pak Dewa, apa ada yang sedang Pak Dewa cari?" tanya manager cafe tersebut pada Dewa.
Dewa melihat ke arah tangga dan dia teringat akan makan malam romantisnya bersama dengan Ayuna waktu itu. Segeralah dia berlari menaiki tangga dan mencari keberadaan Ayuna di sana.
Namun, lagi-lagi semua hanya menjadi kekecewaan baginya. Ayuna tidak berada di sana. Dia turun dengan perasaan yang sangat tidak bisa dijabarkan. Antara perasaan sedih, khawatir, kecewa karena usahanya mencari istrinya tidak berhasil dan perasaan rindunya pada kekasih hatinya itu.
"Pak Dewa, apa ada yang bisa saya bantu? Atau saya siapkan laporannya di ruangan Bapak?" tanya manager cafe tersebut yang ingin membantu Dewa.
Kemudian dia segera berjalan cepat dan berlari kecil menuju ruangan kantornya.
Sedangkan manager cafe tersebut kembali melongo karena ditinggal begitu saja oleh Dewa.
Brak!
Dewa membuka pintu ruangan kantornya dengan tergesa-gesa. Bahkan pintunya pun dibuka dengan kasar olehnya.
Namun, tak ada Ayuna di sana. Ruangannya kosong. Bahkan terlihat sunyi tidak berpenghuni. Kini Dewa menelan kekecewaan yang mendalam. Hartanya, yaitu istri tercintanya pergi meninggalkannya.
Tanpa sadar air mata Dewa menetes. Dia benar-benar kehilangan semangat hidupnya. Ayuna, istri yang dicintainya melebihi dirinya sendiri itu kini entah berada di mana sekarang.
Dia menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaganya, sehingga kini dia kehilangannya.
"Bodoh... bodoh... bodoh... harusnya kamu antar dia ke toilet tadi. Kenapa kamu biarkan dia sendiri hingga mendengarkan hal-hal tidak berguna itu? Bodoh kamu Dewa! Bodoh... bodoh... bodoh...," Dewa menyalahkan dirinya sendiri disela isakan tangisnya.
__ADS_1
Manager cafe yang sudah berada di luar ruangan Dewa merasa tidak enak pada Dewa. Dia segera meninggalkan tempat itu dengan berjalan berhati-hati agar Dewa tidak mengetahui keberadaannya.
Setelah beberapa saat, Dewa turun ke bawah dengan penampilannya yang sudah tidak rapi lagi. Bekas tonjokan dari Devan semakin memerah kebiruan di pipi Dewa. Dan ujung bibir Dewa pun masih terlihat sedikit bercak darah bekas pukulan yang mengenainya.
"Pak maaf, apa Pak Dewa mencari sesuatu? Atau mungkin ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya manager cafe itu kembali.
Dewa menatap manager cafe itu dengan tatapan datar. Kemudian dia berkata,
"Apa istri saya datang ke sini?"
"Istri? Apa perempuan yang waktu itu Pak?" tanya manager cafe tersebut untuk meyakinkan dugaannya.
"Iya benar. Apa dia datang ke tempat ini?" tanya Dewa kembali pada manager cafe tersebut.
"Tidak ada Pak. Apa istri Bapak datang ke daerah sini Pak? Atau mungkin sedang berjalan-jalan seperti waktu itu bersama teman-temannya?" manager cafe tersebut kembali bertanya pada Dewa.
Seketika Dewa teringat jika di antar Felix, Gavin, Viktor dan Devan memiliki villa di sana. Dengan segera dia berlari menuju mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan yang tinggi.
"Sayang... di mana kamu? Tolong jangan hukum aku seperti ini. Aku sungguh tersiksa jika tidak bertemu denganmu," ucap Dewa sambil mengemudikan mobilnya.
Ribuan kilometer dia tempuh sedari tadi demi bertemu dengan Ayuna. Lelah, tentu saja dia lelah. Bahkan bukan hanya fisiknya saja yang lelah. Hati dan pikirannya pun ikut lelah. Lapar dan haus pun tidak dipedulikannya sebelum dia bertemu dengan istrinya.
Kini jalanan mulai padat. Sore sudah berganti malam. Bahkan jalan raya pun mulai macet karena padatnya kendaraan yang memakai jalanan tersebut.
Hingga malam hari dia sampai di rumah Devan. Hanya rumah Devan yang dia ketahui karena kejadian dia menjemput Ayuna waktu itu.
Tok... tok... tok...
Pintu rumah itu diketuk dengan tergesa-gesa dan terkesan tidak sabaran oleh Dewa.
Devan tergesa-gesa membukakan pintu tersebut. Bahkan sahabat-sahabatnya pun ikut berlari mengikuti Devan.
Ceklek!
"Pak Dewa?!" ucap Felix, Gavin dan Viktor bersamaan.
Devan, dia hanya tersenyum sinis pada Dewa yang terlihat sangat kusut dan menyedihkan.
__ADS_1
"Tolong tunjukkan di mana Ayuna berada," ucap Dewa lemah dan mengiba.