
Ayuna yang keluar dari toilet menahan diri untuk tidak mendahului kedua mahasiswi yang sedang memotong di depan pintu karena kaget melihat Dewa memergoki mereka membicarakan istrinya.
Ayuna hanya menghela nafasnya karena akhirnya suaminya itu mendengar apa yang dia dengar mulai dari tadi pagi. Dan kini dia bertambah was-was karena sudah bisa dipastikan jika Dewa akan lebih waspada pada keempat sahabatnya itu.
"Maaf Pak," ucap salah satu mahasiswi tersebut, setelah itu dia menarik tangan temannya agar cepat berjalan meninggalkan tempat itu.
Setelah itu Ayuna keluar dari toilet tersebut dan tersenyum pada suaminya. Ayuna melebarkan kedua tangannya menyamping untuk memeluk suaminya.
Dewa tersenyum dan berjalan mendekat hendak memeluk istrinya itu. Sayangnya, tangan Ayuna kembali menutup sehingga membuat Dewa kecewa. Dan sangat terlihat jelas pada wajah Dewa kekecewaannya tidak jadi mendapatkan pelukan dari Ayuna.
"Nanti aja di rumah. Malu kalau di sini," ucap Ayuna sambil terkekeh.
Ternyata Ayuna hanya menggodanya saja. Dia memang sengaja berbuat seperti itu agar mengalihkan pikiran Dewa tentang apa yang dibicarakan kedua mahasiswi tadi tentang dirinya.
"Nakal sekali sih," ucap Dewa sambil mencubit gemas hidung mancung istrinya.
"Istri siapa dulu dong," sahut Ayuna sambil terkekeh ketika tangan Dewa sudah lepas dari hidungnya.
"Ayo aku antar ke kelas sayang. Jangan sampai kita khilaf di depan toilet," ucap Dewa sambil terkekeh dan menggandeng tangan Ayuna berjalan menuju kelasnya.
Semua mata memandang pasangan pengantin baru itu. Mereka tak henti-hentinya membicarakan tentang kedekatan Ayuna bersama keempat sahabatnya itu.
Ayuna menghentikan langkahnya. Dia meniupkan nafasnya ke arah poni rambutnya. Kemudian dia berkata lirih,
"Aisss... apa perlu aku datangi mereka dan aku jelaskan pada mereka satu persatu? Dan jika mereka masih saja mempermasalahkannya, apa boleh aku menghajar mereka?"
Dewa melepaskan pegangan tangannya pada Ayuna. Tangannya kini berada pada kedua pundak Ayuna dan berbicara lirih padanya.
"Tidak usah meladeni mereka. Biarkan saja mereka mengatakan apa yang mereka mau. Dan ingat apa yang kita sepakati tadi di ruanganku."
Ayuna menghela nafasnya berkali-kali agar kekesalannya hilang. Sambil berjalan dia diajak Dewa membicarakan hal apapun agar Ayuna tidak mendengar apa yang dibicarakan orang lain tentang dirinya.
Tanpa menghiraukan pandangan orang lain pada mereka, Dewa mengantarkan Ayuna hingga sampai di kelasnya.
__ADS_1
"Jangan masuk, sampai sini aja," ucap Ayuna sambil menahan tubuh Dewa yang akan melangkah masuk ke dalam kelasnya.
Dewa tidak memikirkan yang lainnya, dia hanya berpikir untuk melindungi istrinya dengan selalu berada di dekatnya.
Ayuna menatap suaminya dengan tatapan yang seolah-olah mengharap untuk dimengerti. Dewa menatapnya dan menghela nafasnya. Dia sungguh tidak tega melihat istrinya menjadi bahan gunjingan semua orang yang ada di kampus itu.
Ya, memang benar mereka iri dengan Ayuna. Tapi Dewa dan Ayuna tidak bisa begitu saja membungkam mulut semua orang agar tidak lagi membicarakan Ayuna.
Setelah melihat Ayuna masuk ke dalam kelasnya, Dewa kembali ke ruangannya untuk melakukan pekerjaannya kembali.
Ketika kelas Ayuna sudah selesai, dia segera mengirim pesan pada Dewa agar menunggunya di dalam mobilnya saja. Karena Ayuna tidak mau jika Dewa kembali mendengar hal-hal yang buruk tentang Ayuna.
"Ayuna, yuk kita keluar," ucap Devan yang sudah ada di dekat Ayuna.
Ayuna menoleh ke arah Devan, dia mengernyitkan dahinya melihat Devan yang tidak biasanya menghampirinya ketika jam kelas usai.
Jika itu dulu pada saat SMA, Ayuna tidak akan heran, karena keempat sahabatnya itu selalu menghampirinya di tempat duduknya untuk mengajaknya pulang bersama mereka. Tapi sejak Ayuna mempunyai hubungan dengan Dewa, mereka berempat sungkan mengajaknya untuk pulang bersama mereka.
"Eh Ayuna, bukannya kamu pulang dengan Pak Dewa? Kenapa kamu pulang bersama mereka?" tanya Reina pada Ayuna ketika melihat Felix, Gavin, dan Viktor berjalan masuk kelas mereka menuju tempat duduk Ayuna.
"Kenapa kamu selalu mengurusi orang lain sih Re? Urus aja urusanmu sendiri," ucap Devan pada Reina dengan menatapnya tidak suka.
"Bukannya gitu. Aku sebagai temannya Ayuna mengingatkannya jika dia sudah bersuami," jawab Reina dengan memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tasnya.
"Kamu memang temannya, tapi kami sahabatnya, jadi kami lebih dekat dengan Ayuna daripada dia denganmu," tutur Felix yang sudah mengetahui arah bicara Devan dan Reina.
"Udahlah aku malas debat dengan kalian. Yuk Yuna kamu jalan sama aku aja. Aku antar kamu ke Pak Dewa. Kalau mau nungguin, aku juga bisa kok menemani kamu," tukas Reina sambil menarik tangan Ayuna.
"Eitsss... apa-apaan nih? Main tarik-tarik aja. Gak ada, biar Ayuna sama kami. Kamu lupa siapa kami? Biar kami yang mengantarnya menemui Pak Dewa. Bahkan kami berempat menjadi pengawal mereka pada saat mereka menikah. Masih mau melawan kami?" tanya Viktor dengan mendekatkan badannya pada Reina.
Ayuna bingung dengan keempat sahabatnya yang berdebat dengan Reina hanya untuk menemani dirinya ke parkiran saja.
Hingga dia tidak bisa bertanya pada mereka karena tidak ada kesempatan untuk menanyakannya.
__ADS_1
Akhirnya Ayuna beranjak dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari kelasnya. Melihat Ayuna yang melarikan diri, Devan segera mengejarnya dan diikuti oleh Felix, Gavin dan Viktor dibelakangnya.
Reina mencebik kesal karena dirinya lagi-lagi gagal mencari tahu tentang Dewa dari Ayuna. Sebenarnya Reina sadar jika Dewa sudah menjadi milik Ayuna, hanya saja rasa ingin tahunya tidak bisa dikendalikannya. Apalagi dia masih merasa sangat ingin dekat dengan Dewa.
Ayuna saja bisa, kenapa aku enggak? Reina berkata dalam hatinya ketika melihat dari jauh Dewa menyambut kedatangan Ayuna di liluar mobilnya dengan membuka tangannya untuk memeluk Ayuna.
"Sayang, sebentar ya. Aku ingin berbicara dengan mereka berempat. Boleh kan?" tanya Dewa ketika sudah melepaskan pelukannya sari tubuh Ayuna.
"Bicara? Bicara apa? Untuk apa?" tanya Ayuna menyelidik.
Dewa tersenyum pada Ayuna. Dia tahu jika istrinya itu pasti menjelaskannya dan keempat sahabatnya itu.
"Enggak ada apa-apa kok. Hanya saja aku ingin meminta bantuan mereka untuk menjagamu dari mereka yang selalu membicarakanmu," jawab Dewa sambil mengusap pipi Ayuna dan tersenyum padanya.
"Bantuan dengan cara menjauhiku?" tanya Ayuna dengan sedikit emosi.
"Bukan menjauhimu, hanya saja menjaga jarak aman untuk kalian dan agar mereka menjaga kamu dari jauh," jawab Dewa sambil menatap Ayuna dengan tatapan yang memohon agar dimengerti.
Ayuna mencoba mengerti perasaan Dewa dan dia mengangguk untuk menyetujui permintaan suaminya itu.
"Tapi aku ikut," ucap Ayuna sambil memegang tangan Dewa untuk menghentikannya.
Dewa menggelengkan kepalanya, kemudian dia berkata,
"Aku mohon kamu tetap di sini. Ini pembicaraan kami antar lelaki," ucap Dewa sambil memegang tangan Ayuna yang ada di tangannya, karena dia tidak mau menghempaskan tangan istrinya yang sangat dicintainya.
"Baiklah, dengan syarat kalian tidak akan berantem," ucap Ayuna menyudahi tawar menawar di antara mereka.
Dewa tersenyum dan mengangukkan kepalanya.
"Aku janji," ucap Dewa, setelah itu dia mengambil tangan Ayuna yang ada si tangannya untuk diciumnya, kemudian dia berjalan mendekati keempat sahabat Ayuna yang berjarak tidak jauh dari mobilnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Dewa pada Felix, Gavin Devan dan Viktor yang sedang bersuit untuk menentukan siapa yang akan membayar makanan mereka pada saat mereka makan di cafe nanti.
__ADS_1