Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 28 Malu tapi cinta


__ADS_3

Berita pertunangan sekaligus lamaran Dewa pada Ayuna tersebar dipenjuru kampus. Kini semua orang tersebut mengetahui bahwa Ayuna merupakan tunangan Dewa.


Sebenarnya sebelum mengadakan acara lamaran di kampus waktu itu, Dewa sudah meminta ijin pada pihak kampus dan dia meminta bantuan para mahasiswi yang dia tahu ngefans dengannya dan memusuhi Ayuna.


Dia melakukan itu agar semua tahu jika Ayuna adalah miliknya, jadi dia memperingatkan agar tidak ada yang mengganggu Ayuna. Itu yang dikatakannya pada mereka semua sebelum dia meminta bantuan pada mereka untuk melancarkan acara kejutan yang bertujuan untuk melamar Ayuna.


Ayuna sudah kembali ke kelasnya karena akan ada kelas terakhir untuk hari ini. Tadinya dia berwajah bingung dan kaget mendengar kata lamaran dari Dewa yang dia setujui. Tapi entah mengapa dia tidak bisa memprotes apa yang dikatakan oleh Dewa padanya.


Senyum Ayuna tidak luntur dari bibirnya. Entah mengapa hatinya berbunga-bunga mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dewa.


"Wuiih... lihat dong cincinnya, kayaknya keren tuh," ucap Gavin yang sudah ada di belakang Ayuna.


"Silau euy...," sahut Felix sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.


"Yaaah gak bisa nikung deh," ucap Viktor sambil merangkul pundak Ayuna.


"Hei, awas tangan!" seru Felix sambil memukul lengan Viktor.


"Lupa kalau udah dilabeli?" sahut Gavin sambil menunjuk cincin yang disematkan Dewa di jari Ayuna.


Viktor nyengir dan menggaruk-garuk rambutnya. Dia lupa jika Ayuna kini sudah menjadi calon istrinya Dewa, dosen yang dingin dan killer.


"Kalau gak mau dapat nilai jelek jangan ganggu calon istrinya," tukas Felix sambil menjewer telinga Viktor.


"Ouch...," Viktor meringis kesakitan ketika telinganya dijewer oleh Felix dengan berjalan menuju kelas.


Ayuna, Felix dan Gavin tertawa melihat penderitaan Viktor seiring langkah kaki mereka menuju kelas mereka masing-masing.


Ketika Ayuna masuk ke dalam kelas, dia disoraki oleh teman-temannya seisi kelas tersebut. Ada yang mengucapkan selamat, ada yang menyindir dan ada pula yang mengatakan bahwa kini Ayuna sudah tidak bisa memiliki Felix, Gavin, Viktor dan Devan.

__ADS_1


Ayuna hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya saja mendengar perkataan-perkataan dari teman-temannya sambil melihat cincin indah yang tersemat di jarinya.


Indah, sangat indah, itulah yang ada dalam pikiran Ayuna saat ini. Hingga dia tidak sadar jika Reina, teman sebangkunya dulu di SMA kini sudah duduk disampingnya.


"Ehemm... sepertinya ada yang mau nikah nih...," ucap Reina sambil menopang dagunya dengan tangannya dan memandang ke arah Ayuna.


"Apaan sih? Enggak lah. Kan masih kuliah, masih kecil juga," tukas Ayuna dengan mata yang masih belum beralih dari cincin yang ada di jarinya.


"Sumpah ya, Pak Dewa tuh idaman banget. Udah ganteng, pinter, tajir lagi. Dan dia juga sepertinya tipe-tipe yang setia," ucap Reina dengan mata yang berbinar membayangkan wajah Dewa berada di depannya.


Ayuna terkekeh melihat tingkah temannya itu. Dia tidak mengerti jika sebenarnya Reina sangat mengagumi sosok Dewa sejak kehadirannya di kampus mereka.


Sosok Dewa yang memang menjadi incaran para kaum hawa itu tidak pernah terpikirkan oleh Ayuna untuk menjadi suaminya. Malahan dengan percaya dirinya Ayuna selalu menolak kehadiran Dewa.


Namun, selalu saja Ayuna dibuat kalah oleh pesona Dewa. Tanpa sadar dia selalu menuruti kemauan Dewa. Hal itu yang membuat Dewa lebih percaya diri untuk mendapatkan Ayuna.


Namun, tidak hanya membuatnya kesal saja yang disukai oleh Dewa, setelah dia membuat kesal Ayuna, Dewa selalu menyiapkan hal manis yang tentunya sangat disenangi oleh Ayuna.


"Eh lihat dong," ucap Reina seraya tangannya mengambil tangan Ayuna yang di jarinya tersematkan cincin dari Dewa.


Ayuna tidak bisa mengelak karena gerakan tangan Reina yang lebih cepat dari perkiraannya.


Reina memperhatikan dengan seksama cincin yang dipakai Ayuna di jarinya. Dia memperhatikan sangat detail hingga mendekatkan cincin itu di depan matanya.


"Wow... amazing, indah sekali," ucap Reina dengan pandangan mata masih pada cincin Ayuna.


Ayuna terkekeh mendengar perkataan dari Reina. Dengan ekspresi kekaguman dan kelucuannya itu mampu membuat Ayuna tertawa dan dia lupa akan makna dari cincin itu sebenarnya.


"Eh Yuna lihat, ini... apa ini artinya inisial nama kalian? Di sisi kiri D dan di sisi kanan A. Benar kan?" tanya Reina penasaran.

__ADS_1


"Mana?" tanya Ayuna sambil mendekatkan cincin yang masih melingkar di jarinya itu ke depan matanya.


Ayuna menelisik dan memperhatikan dengan seksama. Ternyata memang ada huruf D dan Andi masing-masing sisi berlian yang ada di tengah cincin tersebut. Memang kecil, hingga tidak terlihat jika tidak diperhatikan secara seksama.


"Eh iya, kok bisa sih kamu tau?" tanya Ayuna pada Reina.


Reina hanya mengerakkan kedua bahunya dan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.


Apa benar ini inisial nama kita? Kalau memang benar, berarti dia benar-benar ingin menjadikanku istrinya. Tapi... aku masih belum yakin dengan perasaanku padanya. Dan aku juga belum yakin jika dia memang benar-benar mencintaiku. Aku takut nantinya dia... Aaahh... sudahlah, aku gak mau memikirkan itu sekarang. Lagian nikahnya kan masih lama, Ayuna berkata dalam hatinya sambil memandang cincin yang melingkar indah di jemarinya


"Yuna... Ayuna... kok kamu ngelamun sih?" tanya Reina pada Ayuna.


Seketika Ayuna gelagapan dan memaksakan senyumnya. Setelah itu pandangannya kembali pada cincinnya.


Perasaan tidak percaya diri kini datang pada Ayuna. Dia takut jika nantinya dia malah disakiti atau dikhianati oleh Dewa. Mengingat mereka masih baru saja saling mengenal dan Dewa dengan cepatnya melamarnya.


Reina ingin sekali bertanya pada Ayuna tentang hubungannya dengan Dewa, tapi kesempatan itu tidak dimilikinya karena kini dosen mereka yang kebetulan adalah Dewa sudah masuk ke dalam kelas mereka.


Sorak sorai semua yang ada di dalam kelas membuat Ayuna malu. Dia menundukkan kepalanya dan pipinya bersemu merah.


Berbeda dengan Dewa yang sangat cuek dan berwajah datar seolah tidak terjadi apa-apa. Dia mampu menyembunyikan rasa bahagianya dan rasa malunya. Bahkan kini dia tersenyum tipis mendengar semuanya menyorakkan namanya dan nama Ayuna.


Selama kelas berlangsung mereka kembali diam seperti biasanya. Aura Dewa kembali membuat seisi ruangan kelas menjadi hening. Hingga kelas berakhir pun mereka tidak ada yang bersuara ataupun menyoraki Dewa dan Ayuna kembali.


Drrrt... drrttt... drrtt...


Getaran ponsel Ayuna membuatnya menghentikan kegiatannya. Diletakkannya buku-bukunya itu kembali ke dalam tasnya, kemudian dia mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan membuka pesan yang baru saja dia dapat.


Matanya membelalak membaca pesan tersebut. Namun, bibirnya melengkung ke atas membaca pesan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2