Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 13 Kenyataan yang tak terduga


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar suara yang membuat kegiatan Ayuna dan Dewa saat ini menjadi terhenti.


"Kalian sedang apa?"


Suara itu membuat Ayuna dan Dewa menoleh ke arah sumber suara.


"Pa-Papa?!" ucap Ayuna dengan panik.


Sedangkan Dewa, dia hanya diam, bingung akan keadaan mereka saat ini.


"Ayuna, kamu sedang apa berada di pangkuan laki-laki itu?" tanya Papa Ayuna dengan tegas dan menatap mereka dengan tatapan yang menyeramkan.


Sontak saja Ayuna turun dari pangkuan Dewa. Sungguh dia sangat ceroboh bisa berada di pangkuan Dewa dan disaksikan secara langsung oleh Papanya.


Ayuna berdiri tidak jauh dari Dewa dan dia merasa kikuk di tatap oleh Papanya seperti itu. Sedangkan Dewa masih duduk di tempatnya tadi dengan merapikan baju dan celananya.


"Ayuna, apa kamu akan menjelaskan sesuatu pada Papa sekarang?" tanya Papa Ayuna.


Ayuna yang menundukkan kepalanya kini memberanikan dirinya untuk melihat ke arah Papanya.


"Itu Pa, tadi.... itu... HP nya... itu..."


"Ayuna, yang jelas ngomongnya. Jangan ini itu ini itu. Ngomong apa kamu ini sebenarnya," sahut Papa Ayuna dengan kesalnya.


"Papa iiih... itu HP nya dia, mau Yuna ambil," jawab Ayuna menambah kebingungan Papanya.


Papa Ayuna memicingkan matanya menatap Ayuna. Kemudian dia berkata,


"Kenapa kamu mau ambil HP nya dia? Apa dia pacar kamu?"


Seketika mata Ayuna melotot mendengar apa yang dikatakan oleh Papanya.


"Bukan... bukan Pa. Dia bukan pacarnya Yuna," jawab Ayuna sambil menggerak-gerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.


"Lalu, sedang apa kalian tadi seperti itu?" tanya Papa Ayuna kembali.

__ADS_1


"Iiih Papa, kan udah Yuna bilang, tadi Yuna hanya ingin mengambil HP nya dia. Yuna mau hapus sesuatu," jawab Yuna sambil merengek pada Papanya.


"Sudah, kamu pulang saja duluan. Papa ada perlu dengan dia," perintah Papa Ayuna pada Ayuna yang sedang bergelayut manja di lengan Papanya berniat untuk merayu Papanya agar tidak marah padanya.


"Ngapain? Kita pulang aja deh Pa. Nanti Yuna jelasin di rumah. Ayo Pa....," ucap Ayuna sambil menarik tangan Papanya agar keluar dari rumah Dewa bersama dengan dirinya.


Papa Ayuna tetap berdiri di sana, tidak goyah sedikitpun meski ditarik oleh Ayuna dengan sekuat tenaga.


"Papa tetap di sini. Sebaiknya kamu pulang saja sendiri."


Papa Ayuna berkata dengan tegas dan melepaskan tangan Ayuna dari tangannya.


Ayuna gelagapan mendengar jawaban dari Papanya. Dia bingung sekarang antara pulang atau tetap tinggal di sana.


Wah gawat nih, kalau aku tinggal bisa-bisa Papa tau soal nilaiku yang jelek, lebih baik aku di sini aja deh biar tau mereka ngomong apa aja, batin Ayuna sambil duduk di sofa dekat Papanya yang masih berdiri tetap pada tempatnya semula.


"Ayuna, ngapain kamu duduk di situ? Kan Papa sudah bilang, pulanglah duluan, Papa ada perlu sama dia," Papa Ayuna yang masih berdiri berbicara tegas pada Ayuna.


Tentu saja Ayuna merasa kaget dan malu. Dia malu dimarahi oleh Papanya di hadapan Dewa. Dan sialnya dia tidak mempunyai alsan lagi untuk bisa berada di sana.


Lihat saja, nanti pasti aku balas. Sekarang aku tidak akan diam saja menghadapimu Dewa pembuat kesal orang, Ayuna kembali berkata dalam hatinya.


Kemudian dia beranjak dari duduknya dan berjalan dengan kaki yang dihentak-hentakkan untuk menyatakan kekesalannya keluar dari rumah Dewa.


Dewa yang melihat Ayuna seperti itu merasa sangat terhibur. Dia ingin sekali tertawa dengan puas, namun ada Papa Ayuna di hadapannya saat ini membuatnya harus menahannya agar terkesan baik di depannya.


"Ehem!"


Mendengar Papa Ayuna berdehem dan menatapnya tajam, Dewa kini duduk dengan tegak dan bersiap menjawab semua pertanyaan dari orang yang ada di hadapannya, Papa Ayuna.


"Apa kamu yang bernama Dewa?" tanya Papa Ayuna pada Dewa.


"Iya benar Pak. Maaf, Bapak tau dari mana nama saya?" Dewa bertanya balik pada Papa Ayuna.


"Perkenalkan, nama saya Andika Setiawan, Papa dari Ayuna Larassati Setiawan. Apa anda adalah Dewa Arion Perdana, anak dari Bapak Antonio Perdana?"

__ADS_1


Papa Ayuna bertanya pada Dewa seolah sudah sangat mengenalnya.


"Iya benar Pak, saya Dewa anak dari Bapak Antonio. Bapak kenal dengan Papa saya?" ucap Dewa dengan wajah bingungnya.


Dewa tidak tahu menahu jika Pak Andika yaitu Papa dari Ayuna mengenal Papanya dan dirinya.


"Kami kenal karena sudah bertetangga lama. Dan rumah ini sudah sangat lama tidak ditempatinya. Maaf baru sekarang saya datang menyapa. Saya dan istri saya baru pulang dari luar kota," jawab Pak Andika dengan tersenyum pada Dewa.


Kini mereka berbicara dengan nyaman, tidak seperti tadi pada saat memergoki Ayuna berada dalam pangkuan Dewa.


"Tidak apa-apa Pak, saya juga baru beberapa hari ini berada di sini. Kalau boleh saya bertanya, Bapak tau dari mana saya tinggal di sini?" tanya Dewa seraya melihat ponselnya yang bergetar.


Memang ponsel Dewa masih dalam mode bergetar sejak dia pulang dari kampus tadi, dan sekarang ponsel itu bergetar sedari tadi karena Dewa mendapatkan pesan sangat banyak sekali dari seseorang.


Bibir Dewa melengkung ke atas ketika melihat layar ponselnya yang menampilkan nama Ayuna yang mengirimkan banyak sekali pesan padanya.


"Papa kamu menghubungi saya ketika saya berada di luar kota. Beliau mengatakan jika kamu yang menempati rumah ini sekarang. Dan dia menitipkan kamu pada kami. Sepertinya Papa kamu takut jika kamu kelaparan karena tidak ada yang mengurusi," ucap Pak Andika sambil terkekeh.


Dewa merasa lega karena Pak Andika berhubungan baik dengan Papanya, sehingga dia mempunyai kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Ayuna.


Matanya masih saja menatap layar ponselnya, namun ketika dia akan membaca pesan yang segitu banyaknya dikirimkan oleh Ayuna, Pak Andika memanggilnya.


"Dewa, sebenarnya apa hubunganmu dengan Ayuna, anak saya?" tanya Pak Andika pada Dewa dengan tatapan penuh tanya.


Mata Dewa yang tadinya menatap ponselnya, kini beralih menatap Pak Andika. Ditaruhnya ponselnya itu di atas meja agar dia tidak terganggu oleh pesan-pesan yang dalam hitungan menit selalu dikirim oleh Ayuna.


"Saya dosen sementara di kampus Ayuna Pak. Dan kebetulan juga saya mengajar di kelas Ayuna," jawab Dewa dengan nada yang meyakinkan.


"Lalu yang tadi saya lihat?" tanya Pak Andika kembali dengan memandang Dewa penasaran.


Mungkin ini kesempatanku agar aku bisa mendapatkan Ayuna, Dewa berkata dalam hatinya.


"Sebenarnya saya menyukai Ayuna sejak pertama kali kami bertemu, bukan di kampus, melainkan di supermarket depan pada saat kami berbelanja," jawab Dewa dengan yakin.


Pak Andika mendapatkan keyakinan dari jawaban Dewa sehingga membuatnya tersenyum setelah mendengar jawaban dari Dewa.

__ADS_1


"Lalu Ayuna bagaimana?" tanya Pak Andika pada Dewa.


__ADS_2