Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 64 Dewa bucin


__ADS_3

Dewa dan Ayuna masih saja seperti pengantin baru meskipun pernikahan mereka sudah berbulan-bulan. Rasa cinta mereka semakin bertambah dan perhatian Dewa pada Ayuna tidak mengendur sedikitpun.


Keromantisan mereka, keharmonisan mereka bahkan kejahilan mereka pun semakin bertambah. Hingga kedua orang tua mereka menjuluki Dewa sebagai Dewa bucin, karena apabila Ayuna tidak terlihat hanya beberapa menit saja dari penglihatannya, dia pasti akan mencarinya ke mana pun.


Sebegitu cintanya Dewa pada Ayuna hingga membuat kedua orang tua Ayuna merasa lega dan tenang melepas Ayuna hidup bersama dengan Dewa.


"Kalian sengaja ya menunda-nunda momongan agar kalian bisa terus pacaran?" tanya Intan, mama dari Dewa.


Ayuna melihat ke arah Dewa yang duduk di sebelahnya. Dewa segera menggenggam tangan Ayuna untuk menguatkannya, karena dia tahu jika Ayuna pasti akan bersedih jika selalu ditanya mengenai keturunan.


Setiap pasangan suami istri yang sudah menikah pasti mereka menginginkan hadirnya anak dalam keluarga mereka. Hanya saja mereka tidak bisa memilih dan mengatur kapan mereka akan mendapatkannya. Hanya Tuhan lah yang mengerti kapan mereka akan memiliki anak.


Dewa menoleh pada Ayuna dan tersenyum untuk menenangkannya. Kemudian Dewa menjawab pertanyaan mamanya.


"Kami sudah berusaha Ma, tapi Tuhan masih belum memberikannya pada kami. Mungkin kami masih disuruh pacaran terus Ma, sampai nanti akhirnya kami diberikan momongan. Kalau sudah diberikan momongan, pastinya waktu kami berdua akan tersita oleh anak-anak kami Ma. Jadi biarkan kami menikmati masa-masa berdua kami dulu."


"Sampai kapan?" tanya mama Intan kembali.


"Hanya Tuhan yang tau Ma. Kita berdua hanya bisa berusaha dan berdoa saja. Mama doain juga dong supaya Mama cepat diberi cucu," tutur Dewa sambil terkekeh di akhir ucapannya.


"Setiap hari Mama mendoakan kalian karena Mama ingin sekali mempunyai cucu. Tapi nyatanya kalian malah santai-santai saja. Kalian terlihat sangat bahagia tanpa kehadiran anak di antara kalian," tukas mama Intan dengan sedikit kesal.


Ayuna mencengkeram kuat tangan Dewa. Dia menundukkan kepalanya, rasanya dia ingin sekali menangis, tidak kuat mendengar tuduhan dari mama mertuanya.


"Ma, tolong, tolong jangan lagi menanyakan hal seperti ini pada kami. Mama cukup diam saja dan pastinya Mama akan mendapatkan berita baik dari kami," tutur Dewa dengan nada memohon pada mamanya.


Akhirnya Intan pulang dengan perasaan kecewa karena Dewa menyuruhnya agar tidak menanyakan mereka masalah keturunan.

__ADS_1


Tadinya Intan akan menginap di rumah Dewa dan Ayuna hingga besok dia akan menuju bandara untuk kembali ke tempat suaminya berada. Sengaja dia berkunjung ke rumah Dewa dan Ayuna untuk sekedar menengok mereka dan menanyakan masalah keturunan pada mereka. Dan hasilnya, dia tidak mendapatkan apa-apa. Kini dia hanya mendapatkan kekesalan karena bantahan secara halus dari putranya.


"Maafkan Mama ya sayang," ucap Dewa sambil memeluk tubuh istrinya.


Ayuna hanya terdiam, tidak menjawab. Dia hanya menahan air matanya agar tidak keluar dari pelupuk matanya.


Sedih, sudah pasti Ayuna sedih. Bahkan dia sudah sering meminta Dewa untuk menemaninya memeriksakan kesuburan mereka dan hasilnya mereka berdua sehat. Dokter hanya menyarankan agar mereka berusaha, berdoa dan bersabar.


Lalu siapa yang harus disalahkan jika sudah seperti ini? Dewa dan Ayuna juga sangat menginginkan hadirnya anak dalam keluarga kecil mereka. Dan Dewa selalu melarang Ayuna memikirkannya karena dia takut jika stress akan berpengaruh pada usaha mereka untuk mendapatkan keturunan.


Intan, mama Dewa selalu menekan mereka agar segera memberikannya cucu. Dia ingin mendapatkan keturunan dari Dewa sebelum dia tiada. Karena umur tidak ada yang tahu, oleh sebab itu dia selalu menanyakannya pada Dewa dan Ayuna.


Ayuna melepas pelukan Dewa, kemudian dia bertanya pada suaminya itu,


"Kita harus bagaimana? Apa kita mengambil anak angkat sebagai pancingan?"


"Sayang, kamu ini ngomong apa sih? Aku gak suka kamu ngomong seperti itu. Bahkan aku saja sebagai seorang suami tidak mempunyai pikiran hingga sejauh itu. Untuk apa kamu memikirkan hal itu?" tukas Dewa dengan sedikit kesal pada Ayuna.


"Tapi Mama-"


"Aku tau Mama selalu menekan kita, aku tau kamu pasti bersedih dan memikirkannya. Aku juga sama Ay, hanya saja aku gak ingin kita merasa stres dan mempengaruhi hubungan kita. Aku gak mau itu terjadi. Aku bahagia bersamamu dan aku gak akan bisa membuatmu bersedih, karena aku sangat mencintaimu. Ingat selalu itu Ay," tutur Dewa dengan menatap intens manik mata Ayuna agar dia merasakan apa yang dirasakan Dewa padanya.


Air mata Ayuna yang sedari tadi mengumpul di pelupuk matanya, kini tak tertahankan lagi. Air mata itu menetes tanpa dikomando.


Dewa mengusap air mata istrinya itu. Hatinya sungguh sakit melihat istri tercintanya menangis di hadapannya karena mamanya.


"Jangan menangis, aku gak bisa melihat kamu menangis. Lebih baik kamu pukul aku daripada aku harus melihatmu menangis," tutur Dewa dengan matanya yang juga berkaca-kaca.

__ADS_1


Ayuna menahan tangisnya. Dia sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak kembali menetes. Kemudian dia tersenyum agar suaminya itu tidak bersedih karena melihatnya menangis.


"Sayang, gimana kalau kita liburan? Sepertinya kita butuh waktu berdua saja agar kita tidak stres memikirkan semuanya. Apa kamu mau?" tanya Dewa sambil menatap mata istrinya dan mengusap lembut pipi istrinya, berusaha menghilangkan jejak air mata yang sedari tadi mengalir di pipi mulus Ayuna.


Ayuna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia tidak kuasa menolak keinginan suaminya.


Ternyata benar, Dewa seketika tersenyum senang melihat anggukan kepala dari Ayuna. Kebahagiaan Dewa kini menjadi prioritas utama bagi Ayuna.


"Kita berangkat kapan?" tanya Ayuna dengan senyumnya yang selalu menenangkan hati Dewa.


"Besok. Kita akan langsung berangkat besok. Lebih cepat lebih baik," jawab Dewa sambil menyelipkan rambut Ayuna ke belakang kepalanya.


"Kerjaan kami gimana sayang?" tanya Ayuna dengan wajah bingungnya.


"Kamu gak usah khawatirkan kerjaanku. Di kantor sedang tidak sibuk, jadi aku bisa meninggalkan kantor dan bekerja dari manapun aku berada," jawab Dewa sambil mencubit hidung Ayuna dengan gemasnya.


Kemudian dengan gerakan secepat kilat, Dewa menggendong tubuh Ayuna dan berjalan menuju kamar mereka.


Ayuna kaget mendapati tubuhnya sudah berada di dalam gendongan suaminya. Tapi dia sangat senang karena Dewa selalu melakukan hal manis padanya, sama seperti pada saat mereka bertunangan ataupun awal-awal mereka menikah.


Ayuna bersyukur karena Dewa tidak mempermasalahkan masalah keturunan, bahkan Ayuna merasa bahwa cinta, kasih sayang dan perhatian Dewa semakin besar padanya.


"Sayang, kita mau ngapain ke kamar?" tanya Ayuna dengan menatap lekat mata Dewa dan tangannya melingkar pada leher suaminya.


"Mau apalagi. Kita pemanasan dulu sayang, sebelum besok kita berlibur," jawab Dewa sambil terkekeh.


Seketika mata Ayuna membelalak mendengar jawaban dari suaminya yang seperti tidak punya beban apapun ketika mengatakannya.

__ADS_1


__ADS_2