Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 25 Keterkejutan sahabat Ayuna


__ADS_3

Tap... tap... tap...


Terdengar suara langkah kaki yang menapaki anak tangga.


Pak Andika, Bu Andini dan Dewa melihat ke arah tangga yang sudah ada Ayuna sedang menuruni anak tangga dengan terburu-buru.


"Eh mau ke mana kamu Yuna kok bawa tas segala?" tanya Pak Andika.


"Yuna mau ke rumah sakit Health Pa. Devan kecelakaan, dia dirawat di sana," jawab Ayuna sambil meraih tangan Papanya untuk mencium punggung tangannya.


"Devan?" celetuk Bu Andini.


"Iya Ma, tadi kecelakaannya. Barusan Yuna dikasih kabar sama Felix," ucap Ayuna sambil mencium punggung telapak tangan Mamanya.


"Udah ah, Yuna mau ke sana dulu ya Ma," ucap Ayuna kembali.


"Eh... eh tunggu. Kamu harus diantar Dewa," tukas Pak Andika menghentikan pergerakan Ayuna.


"Diantar Kak Dewa, ngapain?" tanya Ayuna pada Pak Andika.


"Harus diantar Dewa. Dia kan calon suami kamu," jawab Pak Andika tegas tidak bisa dibantah.


"Hah?! Calon suami? Sejak kapan?" tanya Ayuna kaget.


"Sejak tadi kan? Bukannya kamu sendiri yang minta untuk menikah besok?" sahut Bu Andini sambil terkekeh.


"Lah tadi kan cuma bercanda, kok jadi pada serius sih? Ih gak seru deh," ucap Ayuna kesal dengan bibir yang mengerucut sesudah berucap.


Bu Andini dan Pak Andika tertawa melihat tingkah anaknya yang tidak terima jika ucapannya menjadi kenyataan sehingga menjadi boomerang baginya.


"Ya sudah Om, Tante biar saya antar Ayuna dulu," ucap Dewa sambil berdiri dari duduknya.


"Panggilnya Mama sama Papa aja, biar sama kayak Yuna," ucap Pak Andika sambil terkekeh.


Dewa menanggapinya dengan tersenyum senang, berbeda dengan Ayuna yang masih saja mengerucutkan bibirnya semakin maju karena semakin kesal.


Setelah Dewa berpamitan dan mencium punggung tangan kedua orang tua Ayuna, dia segera mengajak Ayuna masuk ke dalam mobilnya yang masih terparkir di rumah Ayuna.


Tadi sewaktu Dewa akan pulang setelah berbincang dengan Bu Andini, ternyata Pak Andika datang, sehingga Dewa mengurungkan niatnya untuk pulang.

__ADS_1


Dewa tidak main-main, dia berbicara serius pada kedua orang tua Ayuna bahwa dia ingin menikahi Ayuna, anak mereka.


Tentu saja kedua orang tua Ayuna, Pak Andika dan Bu Andini sangat senang. Kedua orang tua Dewa dan kedua orang tua Ayuna sejak dulu ingin menjodohkan anak mereka, tapi mereka sadar jika cinta tidak bisa dipaksakan.


Oleh sebab itu mereka berniat hanya memperkenalkan anak mereka saja.


Dan ternyata mereka berdua, Ayuna dan Dewa sudah kenal dengan sendirinya. Bahkan Dewa berniat ingin menikahi Ayuna secepat mungkin.


Di dalam mobil, Ayuna diam saja. Dia sangat merasa resah mendengar Devan kecelakaan. Baginya Devan, Viktor, Gavin dan Felix adalah segalanya, karena mereka selalu ada di saat Ayuna membutuhkan mereka ataupun tidak.


"Kamu kenapa Ay, kok diem aja?" tanya Dewa pada Ayuna dengan sesekali melihat ke arah Ayuna yang duduk di sebelahnya.


Ayuna menoleh ke arah Dewa dan mata mereka saling menatap. Namun, Dewa segera memutus tatapan mereka untuk beralih menatap jalanan yang ada di hadapannya.


"Aku khawatir pada Devan. Kenapa dia bisa kecelakaan ya, padahal tadi kan dia menunggu yang lain di cafe?" ucap Ayuna dengan nada khawatir.


Sebenarnya Dewa enggan membicarakan laki-laki lain, apalagi itu Devan, lelaki yang tadi bersama dengan Ayuna. Tapi dia mencoba untuk mengendalikan kemarahannya karena dia tahu jika tidak akan mudah memisahkan Ayuna dengan sahabat-sahabatnya meskipun Ayuna sudah menjadi istrinya.


"Nanti, setelah kita menemui dia, pasti kita akan tau penyebabnya," tukas Dewa sambil fokus mengemudikan mobilnya.


"Semoga saja dia baik-baik saja," ucap Ayuna lirih.


Sontak saja Ayuna terkejut ketika tangan Dewa menggenggam tangannya. Jantungnya kembali berdebar dengan cepat dan dia merasa nyaman diperlakukan seperti itu oleh Dewa hingga senyum tipis terbit di bibirnya.


"Tenang ya, dia pasti akan baik-baik saja," ucap Dewa dengan sangat lembut hingga membuat Ayuna merasa tenang dan nyaman.


Ayuna mengangguk dan tidak berusaha untuk melepas tangan Dewa. Meskipun jantungnya tidak aman, tapi dia merasa senang dan nyaman dengan semuanya.


Namun, Ayuna merasa kecewa saat Dewa harus melepaskan genggaman tangannya karena mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit.


Ayuna melihat tangannya yang terasa kehilangan setelah dilepaskan oleh Dewa. Namun, dia terperanjat kaget ketika Dewa sudah berada di luar untuk membukakan pintu mobilnya.


Dewa menggenggam kembali tangan Ayuna pada saat memasuki rumah sakit. Dan tangan itu kembali dilepaskan oleh Dewa ketika mereka bertanya pada bagian informasi mengenai Devan.


Kecewa? sudah pasti Ayuna kembali kecewa. Tapi itu tidak lama, hanya dalam hitungan detik saja hatinya kembali berbunga-bunga.


Kini tangan Dewa bertengger pada pundak Ayuna. Dewa merangkul Ayuna berjalan menuju kamar inap Devan sesuai dengan petunjuk dari perawat tadi.


Langkah kaki Dewa terhenti sebelum masuk ke dalam kamar inap Devan. Dan Ayuna pun ikut menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Dewa menghadapkan badan Ayuna ke arahnya. Kini mereka saling berhadapan dengan Dewa menatap intens mata Ayuna. Kemudian dia berkata,


"Ay, aku bersungguh-sungguh dengan semua ucapanku. Aku ingin hubungan kita serius, lebih dari ini. Aku ingin kamu menjadi bagian dalam hidupku untuk selamanya. Apa kamu bersedia?"


Ayuna terhenyak. Dia tidak mengira jika Dewa benar-benar memintanya sebagai istrinya.


Apa dia sungguh-sungguh? Apa aku harus menerimanya? Atau aku harus menolaknya? Tapi kan aku belum siap menikah. Eh tapi... gak di rumah sakit juga kali ngelamarnya, Ayuna berkata dalam hatinya.


"Apa tidak ada tempat romantis selain di rumah sakit?" celetuk Ayuna tanpa sadar.


"Eh iya, maaf Ay. Habisnya aku takut kamu akan berubah pikiran jika melihat sahabatmu terbaring di rumah sakit," jawab Dewa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Urusan itu nanti saja. Sekarang kita masuk dulu untuk menemui Devan," ucap Ayuna kemudian.


Seketika tangan Dewa kembali berada di pundak Ayuna. Dia merangkulnya agar sahabat-sahabat Ayuna itu tahu jika Ayuna adalah miliknya, milik Dewa Arion.


Ceklek!


Pintu kamar inap Devan terbuka. Seketika semua mata yang ada di ruangan tersebut menatap ke arah pintu.


"Ayuna?!" ucap Felix, Gavin dan Viktor secara bersamaan.


Devan yang sudah setengah sadar dari tidurnya mencoba membuka matanya, tapi diurungkannya ketika ketiga temannya itu menyebut nama seseorang yang paling dibencinya.


"Pak Dewa?!" ucap Felix, Gavin dan Viktor secara bersamaan.


Ngapain sih dia ikut ke sini? Kenapa dia selalu ada di dekat Ayuna? Devan bertanya dalam hatinya sambil berpura-pura masih tertidur.


Ayuna dan Dewa masuk ke dalam kamar inap Devan. Mereka berdua berbincang dengan Felix, Gavin dan Viktor mengenai apa yang terjadi pada Devan.


Namun, Ayuna tak mendapatkan penjelasan apapun tentang kecelakaan yang terjadi dengan Devan karena mereka bertiga pun belum mengetahuinya dari Devan.


"Kita pulang yuk Ay. Devan belum bangun. Besok saja kita ke sini lagi," ucap Dewa pada Ayuna sambil memegang tangan Ayuna.


Mata Felix, Gavin dan Viktor membelalak melihat kedekatan Ayuna dengan Dewa. Belum lama keterkejutan mereka hilang ketika melihat Dewa merangkul pundak Ayuna, kini mereka harus kembali terkejut karena melihat tangan Ayuna digenggam oleh Dewa.


Ayuna mengangguk setuju karena melihat ketiga sahabatnya itu menatap mereka dengan penuh tanda tanya. Dan Ayuna pun tidak mau jika mereka mempertanyakan apa yang terjadi padanya dan Dewa.


Setelah sampai di depan rumah Ayuna, ketika Ayuna akan turun dari mobil, Dewa kembali bertanya padanya.

__ADS_1


"Ay, apa kamu mau menikah denganku?"


__ADS_2