
Dewa tertawa melihat Ayuna yang tubuhnya hanya berbalutkan handuk sebatas dada hingga pahanya, berjalan sedikit ngangkang layaknya kepiting yang sedang berjalan.
Ayuna menatap tajam ke arah Dewa yang sedang bahagianya menertawakannya.
"Sayang, tau gak kamu itu kayak kepiting versi macan tutul," tutur Dewa sambil terkekeh melihat wajah istrinya itu sedang cemberut dan kesal padanya.
"Ini semua gara-gara kamu. Mentang-mentang aku macan, aku dibuat macam macan tutul seperti ini. Mana keliatan banget lagi. Dan ini juga, gara-gara kamu, badanku sakit semua, mana kalau dibuat jalan sakit lagi. Gimana besok aku kalau masuk kuliah?" Ayuna mengomel tanpa henti pada Dewa yang menertawakannya.
"Tenang aja sayang, besok kamu akan ku gendong ke mana-mana," ucap Dewa sambil terkekeh.
Ayuna semakin kesal pada suaminya itu. Dia menyalahkan suaminya atas apa yang dia rasakan saat ini. Dan kekesalannya bertambah ketika suaminya itu menertawakan penderitaannya.
Awas saja nanti, pasti akan aku balas, ujar Ayuna dalam hati dengan menatap tajam pada suaminya yang masih saja menertawakannya.
"Sayang, jangan lupa pakai syal untuk menutupi tanda-tanda cinta dariku itu," ucap Dewa sambil terkekeh.
Dan hal itu membuat Ayuna semakin kesal padanya. Tanpa memperhatikan suaminya yang masih menertawakannya itu, Ayuna segera membuka lemari pakaian yang menurut ucapan Dewa semalam, semuanya sudah dipersiapkan di lemari tersebut.
Ada sebuah kotak di sana. Gift box itu terlihat sangat indah. Dibukanya box tersebut oleh Ayuna. Matanya terbelalak ketika melihat isi dalam box tersebut.
"Apa ini?" tanya Ayuna sambil mengeluarkan benda tersebut dari box tersebut.
"Itu untuk dipakai pada saat kita melakukannya sayang."
Tiba-tiba suara Dewa itu membuat Ayuna meremang. Dewa yang tadinya duduk manis di sofa, kini dia sudah berada di belakang Ayuna dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Ayuna.
"Melakukannya? Melakukan apa?" tanya Ayuna dengan wajah polosnya.
"Melakukan hukuman yang paling menyenangkan di dunia," jawab Dewa sambil tersenyum menatap wajah istrinya.
Sontak saja mata Ayuna terbelalak. Dia kini mengerti, benda yang dia pegang itu ada kaitannya dengan apa yang mereka lakukan kemarin malam.
Dengan perlahan dan deg-degan Ayuna membuka lipatan kain tersebut. Benar saja apa yang ada dipikirannya. Kain itu adalah pakaian yang sangat kurang bahan dan menerawang dengan aksen renda di setiap bagiannya.
"Lingerie?!" ucap Ayuna dengan wajah terkejutnya.
"Nanti dipakai ya sayang, pasti kamu sangat menggoda dengan warna merah yang sangat merona ini," tutur Dewa dengan tersenyum.
__ADS_1
Mata Ayuna kembali membelalak mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya. Dia tampak seperti orang yang ketakutan sambil menelan ludahnya sendiri.
Cup!
Ciuman ringan mendarat di pipi Ayuna. Kemudian Dewa mengambil box yang selanjutnya dari dalam lemari tersebut untuk diberikan pada Ayuna.
"Ini, coba kamu buka Ay. Pasti kamu sangat cantik memakainya," ujar Dewa dengan tersenyum mengambil box lingerie dari tangan Ayuna dan meletakkan box yang dibawanya itu di tangan istrinya.
Ayuna memicingkan matanya menatap Dewa. Kemudian dia berkata,
"Apa ini? Bukan barang yang aneh lagi kan?"
Dewa tertawa, lalu dia membuka tutup box tersebut dan mengeluarkan isinya dari dalam box itu.
"Gimana, cantik bukan? Sangat cantik jika dipakai oleh istri cantikku ini," ucap Dewa sambil memperlihatkan isi dalam box tersebut di depan Ayuna.
Mata Ayuna berbinar, kali ini dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dress yang sangat cantik dengan syal yang bermotif indah membuat tampilan Ayuna sekarang ini menjadi sangat anggun.
Dewa memakaikan syal tersebut ketika Ayuna sudah berganti pakaian dihadapannya. Susah payah dia menahan keinginannya untuk menyentuh istrinya itu agar istrinya tidak marah padanya.
Ayuna berbinar dan tersenyum senang melihat gambaran dirinya pada cermin di hadapannya.
"Gak biasanya loh ada cowok yang kepikiran membelikan cewek sebuah syal," ucap Ayuna sambil melihat ke cermin gambaran dirinya dari samping kanan, kiri dan belakang badannya.
"Entahlah sayang, mungkin aku sudah mempunyai firasat," jawab Dewa sambil terkekeh.
Sontak saja wajah Ayuna kembali kesal. Kini dia mengingat kembali hasil karya Dewa pada kulit mulusnya.
"Awas aja kalau bikin karya lagi pada saat aku akan kuliah. Bakalan aku skorsing gak dapat jatah satu bulan," ucap Ayuna sambil menatap kesal pada Dewa.
Seketika tawa Dewa terhenti. Dia tidak bisa membayangkan jika ucapan Ayuna benar-benar akan dilakukannya.
Satu bulan? Pasti itu akan menyiksa dirinya. Secara mereka masih pengantin baru yang bisa melakukan hal tersebut sesering mungkin dalam waktu sehari. Jadi, lebih baik Dewa meminimalisir karyanya di tempat tertentu saja daripada dia harus mendapatkan hukuman dari istrinya.
Setelah Ayuna berganti pakaian, Dewa mengajaknya berjalan-jalan di sekitar daerah yang mereka tempati saat ini.
"Indah sekali tempat ini," ucap Ayuna dengan mata yang berbinar melihat pemandangan sekitar menggunakan mobil mereka dengan atap yang terbuka untuk menikmati suasana sekitar.
__ADS_1
"Apa kamu ingin tinggal di sini sayang? Sebentar lagi kamu lulus dan aku sudah tidak mengajar lagi di sana. Apa kita tinggal di sini saja?" tanya Dewa yang sedang mengemudi.
Ayuna mengalihkan perhatiannya dari jalanan pada Dewa. Kemudian dia berbalas tanya,
"Lalu pekerjaanmu gimana?"
"Itu bisa diatur," jawab Dewa sambil tersenyum dan satu tangannya menggenggam tangan Ayuna.
"Jika memang pekerjaanmu lebih dekat dengan rumah, mending kita tinggal di rumah saja," tutur Ayuna dengan memberikan tatapannya untuk meyakinkan suaminya.
"Kita bisa ke tempat ini ketika kita ingin ketenangan saja. Di sini sangat tenang, aku menyukainya," ucap Ayuna kembali sambil mengalihkan perhatiannya pada pemandangan dan tersenyum melihatnya.
"Baiklah, terserah kamu aja," ucap Dewa sambil tersenyum dan tangannya masih menggenggam erat tangan Ayuna.
Di tempat lain, tepatnya di rumah Gavin yang mereka jadikan basecamp karena kedua orang tua Gavin yang tinggal di luar kota, kini mereka membicarakan tentang Ayuna.
"Menurut kalian apa Ayuna sudah dibelah?" tanya Viktor pada ketiga sahabatnya sambil memainkan PS di kamar Gavin.
"Belah apaan?" tanya Felix dengan pandangannya masih fokus pada layar televisi.
"Belah duren. Unboxing man...," jawab Viktor sambil terkekeh.
"Benar kata Ayuna, pikiranmu memang benar-benar piktor," sahut Gavin sambil melempar kulit kacang pada Viktor yang isinya habis dimakannya.
"Bukannya itu hal yang wajar. Orang yang setelah menikah pasti mereka melakukan hal itu. Ck, kalian pura-pura polos aja," ujar Viktor sambil menekan-nekan stik PS nya.
Devan berpura-pura sibuk dengan ponselnya, tapi sebenarnya dia juga mendengarkan apa yang dibicarakan oleh ketiga sahabatnya itu. Dia tidak bisa membayangkan hal itu.
Rasanya sangat sakit membayangkan Ayuna disentuh dan melakukan hal itu dengan Dewa. Hanya saja, dia menahan perasaan sakit dan sedihnya itu sekuat tenaga. Dia tidak boleh menampakkan rasa sakit dan sedihnya itu di hadapan Ayuna.
"Lihat saja, besok pasti jalannya Ayuna aneh," tutur Viktor kemudian.
Gavin menghentikan mengupas kacangnya, dia beralih menatap Viktor.
"Aneh gimana?" tanya Gavin dengan wajah polosnya.
"Jalannya ngangkang seperti kepiting," jawab Viktor sambil terkekeh.
__ADS_1