
Ayuna terbelalak ketika melihat Dewa berpenampilan sangat rapi dan begitu mempesona semua mata yang melihatnya.
Dalam hati Ayuna memuja tunangannya yang juga merupakan dosennya itu. Tapi itu hanya bisa dilakukannya dalam hati saja. Pada kenyataannya, dia takut menjadi bahan omongan kembali mereka yang tidak menyukai hubungannya dengan Dewa.
Felix, Gavin, Viktor dan Devan kali ini diminta untuk membantu rencana Dewa oleh Pak Andika dan Bu Andini. Sebagai sahabat Ayuna mereka tidak bisa menolaknya. Mereka hanya bisa menurut dan pasrah dengan permintaan kedua orang tua Ayuna.
"Ayuna, ayo cepetan, itu Pak Dewa udah nungguin sari tadi. Kasihan dia kepanasan," ucap Felix sambil menarik tas Ayuna untuk berjalan bersama mereka.
"Kepanasan gundulmu. Ini udah sore, lihatlah, mana ada panas di sini," sahut Viktor sambil menoyor kepala Felix.
Gavin tertawa seperti biasanya ketika sahabat-sahabatnya saling bercanda, tapi tidak dengan Devan.
Kali ini Devan hanya tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya itu. Dia tidak bisa memaksakan dirinya untuk ikut bercanda dengan mereka seperti biasanya. Dia tidak bisa mengingkari jika dirinya masih memerlukan waktu untuk bisa menyembuhkan rasa sakitnya melihat Ayuna bersama dengan Dewa.
Dewa memberikan buket besar mawar putih pada Ayuna ketika dia sudah berada di hadapannya.
"Ini untuk Tuan Putri Ayuna Arion Perdana," ucap Dewa sambil tersenyum manis ketika menyerahkan buket bunga tersebut.
Viktor, Gavin, Felix dan Devan saling menatap bingung. Bukan hanya mereka, Ayuna pun bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
Dewa tidak memberikan penjelasan apa-apa padanya. Dia hanya memberikan bunganya dan mempersilahkan Ayuna agar masuk ke dalam mobilnya tanpa memberitahu tujuannya.
Ayuna bak seorang putri yang dipersilahkan masuk ke dalam mobil oleh sang pangeran. Dewa membukakan pintu mobil untuk Ayuna dan mempersilahkannya masuk dengan membungkukkan setengah badannya dan melindungi kepala Ayuna dengan tangannya agar tidak terkena atap mobil.
"Kita mau ke mana Kak?" tanya Ayuna pada Dewa ketika sudah berada di dalam mobil.
Dewa menoleh sebentar ke arah Ayuna dan tersenyum padanya. Kemudian dia menatap ke arah depan untuk fokus pada jalanan.
"Nanti juga kamu pasti tau sayang," ucap Dewa sambil tersenyum kembali menghadap jalanan.
__ADS_1
"Issshh... kenapa pakai rahasia-rahasiaan sih? udah gede juga, udah dewasa," ucap Ayuna merajuk sambil memandang wajah Dewa dengan cemberut.
Dewa terkekeh mendengar rengekan Ayuna meskipun dia tidak melihat ekspresi wajah calon istrinya itu.
Di belakang mobil mereka ada mobil sahabat-sahabat Ayuna. Mereka tidak mengerti apa yang direncanakan oleh Dewa. Yang mereka tahu adalah, mereka harus mengikuti mobil Dewa sesuai dengan perintah kedua orang tua Ayuna.
"Mereka mau ke mana sih Dev?" tanya Felix yang satu mobil dengan Devan.
"Entahlah. Kita kan hanya menjalankan perintah Nyonya besar saja," ucap Devan yang mencoba melemparkan candaan pada teman-temannya.
Mereka kini berada dalam satu mobil menggunakan mobil milik Devan. Sedangkan mobil Gavin, Viktor dan Felix masih berada di parkiran kampus. Mereka sengaja meninggalkannya karena mereka berniat hanya memakai satu mobil saja untuk mengikuti mobil Dewa.
"Pak Dewa memakai baju seperti itu apa ada acara spesial?" tanya Gavin pada ketiga sahabatnya itu.
"Apa Pak Dewa ingin memberi kejutan lamaran seperti waktu itu?" tanya Felix tanpa berpikir.
"Apa mungkin mereka akan menghadiri acara pernikahan? Pakaian Pak Dewa sangat rapi, bisa juga dia akan mengajak Ayuna menghadiri acara pernikahan," tukas Viktor yang masih berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada.
"Jangan-jangan... mereka...," Gavin tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena ragu dan merasa tidak enak pada Devan.
Sontak saja Felix menoyor kepala Devan, agar dia tidak meneruskan perkataannya yang mereka yakin jika Gavin akan mengatakan hal yang akan sangat menyakiti Devan.
Devan hanya diam dan fokus dengan jalanan dan kemudinya. Dia mencoba menguatkan hatinya dan menatanya agar tidak terbawa emosi karena sakit hati yang pastinya akan sangat terasa jika melihat apa yang diperbincangkan oleh ketiga sahabatnya itu.
Dengan berat hati Devan tetap mencoba baik-baik saja meskipun hatinya sangat hancur. Entah apa nanti yang akan dia rasakan jika apa yang dibicarakan oleh ketiga sahabatnya itu benar-benar terjadi.
Mobil Dewa berbelok di suatu Villa mewah dengan taman yang luas dan beberapa rusa yang hidup liar pada taman tertentu.
Tampak Dewa yang membuka pintu mobil Ayuna dan menggandeng mesra tangannya ketika berjalan ke arah taman yang dikelilingi oleh bunga warna warni dengan penataan yang sangat bagus dan menarik.
__ADS_1
"Waaaah... indahnya...," seru Ayuna dengan matanya yang memandang takjub mengelilingi taman dan villa tersebut.
Dewa membawa Ayuna ke dalam ruangan khusus yang tidak diketahui oleh Ayuna tujuannya datang ke ruangan tersebut.
Kenapa aku di bawa ke ruangan ini? Apa jangan-jangan akan ada acara lamaran untuk ke tiga kalinya? Waktu itu kan aku juga disuruh ganti dan diberikan make up di ruangan seperti ini. Aaahh... Kak Dewa gak kreatif sih. Aku kan jadi tau kalau dia mau kasih kejutan seperti waktu itu. Hihihi... dasar Kak Dewa, dipikir aku bodoh apa ya? Ayuna berkata dalam hatinya sambil berkeliling di dalam ruangan tersebut.
Tidak lama kemudian masuklah beberapa orang yang membawa gaun indah berwarna putih dan box besar yang diyakini Ayuna sebagai box penyimpanan peralatan MUA untuk me make up dirinya.
Ayuna mencoba untuk tidak bertanya pada Dewa dan mencoba untuk berpura-pura tidak mengerti dengan rencana Dewa. Bahkan dia sangat menikmati diperlakukan dengan sangat baik oleh mereka.
Ayuna terpana oleh ketampanan Dewa ketika dia sudah dirapikan dan ditata rambut dan penampilannya oleh tim MUA yang ada di sana.
Dewa pun terpanah oleh kecantikan calon istrinya itu setelah di make up dan berganti dengan gaun yang sangat indah layaknya seorang putri dengan mahkota berlian yang terpancar keindahannya di atas kepala Ayuna.
"Perfect! Sangat cantik!" seru MUA dengan bertepuk tangan setelah merias dan mengganti baju Ayuna.
Ayuna tersipu malu dipuji seperti itu oleh MUA yang meriasnya. Sedangkan Dewa untuk yang sedari tadi berada di ruangan tersebut merasa tidak akan pernah bosan melihat wajah ayu milik Ayuna.
"Mari Mas, Mbak kita foto terlebih dahulu," ucap fotografer yang sudah menyiapkan spot foto untuk mereka.
Setelah itu Dewa mengajak Ayuna berjalan masuk ke dalam taman bunga yang sudah dihias sedemikian rupa dengan begitu indahnya.
Dewa mengajak Ayuna yang tangannya masih berada dalam gandengannya itu ke depan seorang yang sudah menunggunya.
Setelah itu Papa Ayuna datang mendekati mereka dan mengucapkan sesuatu yang membuat Ayuna terkejut.
Papa Ayuna, Dewa dan orang yang berada di hadapannya itu berbicara sesuatu yang membuat Ayuna tercengang.
Apa ini? Apa semua ini benar? Aku... aku..., Ayuna mengatakannya dalam hatinya dan dia tidak bisa meneruskan ucapannya karena dia tidak ingin hal itu benar-benar terjadi padanya untuk saat ini.
__ADS_1