Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 45 Jagain jodohnya Dewa


__ADS_3

Felix, Gavin dan Viktor berlari mencari keberadaan Devan. Mereka kini berlari menuju tebing yang sangat curam.


"Kalian yakin Devan pergi ke sini?" tanya Viktor pada Gavin dan Felix.


"Kali aja dia frustasi dan melakukan hal bodoh tanpa berpikir panjang terlebih dahulu," jawab Gavin sambil matanya menelusuri daerah tersebut mencari sosok Devan.


"Aku pikir Devan gak bakalan bertindak seperti itu deh. Dia kan orangnya selalu memikirkan akibatnya terlebih dahulu sebelum dia melakukan sesuatu," ucap Felix sambil berjalan dan menatap sekelilingnya mencari sosok sahabatnya yang sedang patah hati.


"Kita lihat aja nanti, siapa tau dia-"


Gavin menghentikan langkahnya dan tangannya menghentikan langkah Felix dan Viktor dengan pandangan matanya menuju ke satu arah.


"Ada apa?" tanya Viktor yang merasa heran dengan Gavin yang menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.


Gavin menunjuk ke arah yang dilihatnya. Felix dan Viktor mengikuti arah yang ditunjuk oleh Gavin. Sontak saja mereka berdua terkejut melihat Devan yang benar-benar berada di sana.


"Itu Devan?" tanya Viktor pada Gavin dan Felix dengan menunjuk ke arah yang ditunjukkan oleh Gavin tadi.


"Itu beneran Devan?" tanya Felix tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Apa yang kita pikirkan tadi akan benar-benar terjadi?" tanya Gavin pada Felix dan Viktor dengan rasa tidak percayanya melihat Devan.


Mereka bertiga melihat Devan yang kini berdiri di pembatas tebing. Jarak mereka dengan tempat Devan berada tidak jauh dan tidak pula dekat. Sehingga mereka bisa melihat jika orang yang mereka tunjuk itu benar-benat Devan, sahabat mereka yang sedang mereka khawatirkan karena patah hati.


Devan berteriak meluapkan kekesalannya. Dia ingin meneriakkan isi hatinya, kekecewaannya serta rasa sakit hatinya pada kenyataan yang dia rasa tidak adil dan kejam untuknya.


Selama ini dia sangat menjaga Ayuna layaknya pacarnya dengan tujuan untuk menjadikannya sebagai pacarnya. Dan kini dia harus menerima kenyataan bahwa Ayuna bukan untuknya. Lalu, apa selama ini dia hanya menjaga jodohnya Dewa?


Felix, Gavin dan Viktor segera berlari ke arah Devan. Dengan sekuat tenaga mereka menghampiri Devan berniat untuk mencegah Devan melakukan hal-hal yang berbahaya.


"Devan!" teriak Felix, Gavin dan Viktor secara bersamaan.

__ADS_1


Devan yang hendak kembali berteriak menghentikan aktivitasnya. Dia tidak jadi berteriak karena mendengar teriakan namanya dari suara yang sangat familiar di indera pendengarnya.


Devan menoleh ke arah sumber suara yang diyakininya adalah suara dari ketiga sahabatnya, Felix, Gavin dan Viktor.


"Dev, apa yang kamu lakukan?" tanya Felix yang berusaha mengatur nafasnya karena berlari menuju tempat Devan.


Devan memandang heran pada ketiga sahabatnya itu. Dia tidak mengerti akan pertanyaan yang diajukan oleh Felix karena menurutnya dia sangat jelas sedang berteriak, tapi Felix tetap menanyakan apa yang dia lakukan.


"Apa hanya karena patah hati kamu akan melakukan hal bodoh seperti itu?" ucap Viktor dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Masih banyak cewek lain Dev. Jangan hanya karena seorang Ayuna, lalu kamu akan mengakhiri hidup kamu," sahut Gavin dengan menatap serius Devan yang menampakkan wajah bingungnya karena perkataan ketiga sahabatnya itu.


"Apa maksud kalian?" tanya Devan dengan melihat bergantian ke arah Felix, Gavin dan Viktor.


Mereka bertiga saling melihat. Kemudian Gavin menjawab untuk mewakili Felix dan Viktor.


"Kamu gak usah mengakhiri hidupmu hanya karena seorang cewek. Kami bisa membantumu. Kami akan selalu berada di sampingmu. Jadi kami harap kamu jangan melakukan hal-hal yang akan membuat dirimu merugi."


Devan mengerutkan dahinya, dia tidak menyangka jika apa yang dilakukannya membuat teman-temannya berpikiran buruk tentangnya.


"Bukannya kamu akan loncat dari sini?" tanya Viktor dengan ragu.


Devan kembali mengerutkan dahinya, kemudian dia terkekeh mendengar apa yang ada dalam pikiran ketiga sahabatnya itu.


Melihat Devan yang tertawa membuat Felix, Gavin dan Viktor heran. Mereka saling memandang. Gavin menggelengkan kepalanya ketika Viktor dan Felix melihatnya seolah mereka bertanya pada Gavin melalui matanya.


Berganti dengan Felix ketika Gavin dan Viktor menatapnya. Dia menggerakkan bahunya sebagai tanda dia tidak tahu dengan apa yang mereka tanyakan.


"Siapa yang akan loncat ke bawah? Kalian kira aku akan bunuh diri?" tanya Devan yang kini sudah menghentikan tawanya.


"Iya," jawab Felix, Gavin dan Viktor serentak.

__ADS_1


Devan kembali tertawa mendengar jawaban sahabat-sahabatnya. Tawa Devan itu benar-benar membuat mereka bertiga menjadi sangat bingung.


"Devan gak lagi kesambet kan?" tanya Viktor dengan suara lirih pada Felix dan Gavin.


"Gak tau. Tapi kok aneh ya?" ucap Felix dengan melihat Devan yang masih tertawa.


"Tanya langsung aja ke orangnya," tukas Gavin sambil berjalan mendekati Devan.


"Dev kamu gapapa kan?" tanya Gavin sambil menepuk-nepuk pundak Devan.


"Gapapa. Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?" ucap Devan dengan memperlihatkan wajah bingungnya.


"Tadi kamu tiba-tiba menghilang. Jadi kami berpikir kamu akan nekat bunuh diri dengan meloncat dari tebing ini," tutur Viktor yang kini sudah berada di dekat Devan.


"Kami takut kamu akan bertindak bodoh hanya karena patah hati dengan seorang gadis," tukas Felix yang juga sudah berada di dekat Devan.


Devan kembali tertawa. Dia memang sedang bersedih dan kesal karena sedang patah hati, tapi berkat ketiga sahabatnya itu, dia kini bisa tertawa, sedikit mengurangi kekecewaannya atas apa yang sudah terjadi.


"Aku bunuh diri? Kalian benar-benar konyol. Siapa yang akan bunuh diri hanya karena sedang patah hati?" tanya Devan sambil terkekeh.


"Bukannya kamu akan...," Gavin tidak melanjutkan perkataannya karena dia ragu jika apa yang tadi dia pikirkan salah.


"Aku hanya ingin berteriak di sini. Aku ingin mengeluarkan semua rasa yang ada dalam dadaku saat ini," tutur Devan sambil melihat satu persatu wajah dari ketiga sahabatnya itu.


Terlihat Felix, Gavin dan Viktor terkejut. Mereka bertiga saling menatap, setelah beberapa saat mereka tertawa menyadari kebodohan mereka yang ternyata bukan Devan yang tidak berpikir panjang, melainkan mereka yang tidak berpikir panjang.


Mereka meragukan seorang Devan yang benar-benar berpikir sebelum bertindak dan selalu mengutamakan kebahagiaan Ayuna dibandingkan kebahagiannya.


Selama ini Devan selalu seperti itu. Hanya saja Felix, Gavin dan Viktor yang melupakan itu. Sehingga bisa dipastikan jika Devan akan mengutamakan kebahagiaan Ayuna jika memang benar-benar Ayuna bisa bahagia bersama dengan Dewa.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Felix dengan rasa penasarannya.

__ADS_1


Devan memandang ke arah pemandangan di sekitar tebing tersebut. Kemudian dia menghela nafasnya berat. Sejenak dia diam untuk berpikir.


"Aku akan beritanya kembali pada Ayuna. Jika memang dia memilih Dewa tanpa paksaan dari siapapun, aku akan mendukungnya meskipun aku merasakan sakit di sini...," ucap Devan sambil tersenyum getir dan memegang dadanya untuk menunjukkan rasa sakitnya.


__ADS_2