Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 62 Pengangguran


__ADS_3

Dewa menghampiri Felix, Gavin, Viktor dan Devan yang tidak jauh dari parkiran mobilnya. Sedangkan Ayuna menunggu Dewa di luar mobil Dewa untuk melihat Dewa yang sedang berbicara dengan keempat sahabatnya.


"Bapak mau bicara dengan kami berempat?" tanya Viktor dengan menunjuk dirinya dan ketiga sahabatnya secara bergantian.


Dewa menganggukkan kepalanya, kemudian dia berkata,


"Saya mau berbicara dengan kalian berempat. Apa bisa kita bicara sekarang?" tanya Dewa dengan tegas.


"Di sini Pak?" tanya Viktor kembali.


"Iya, kita bisa bicara di sini saja sekarang," jawab Dewa yang seakan tidak mau berbasa-basi.


Sontak saja Gavin menoyor kepala Viktor. Dia tidak menyangka jika sahabat kocaknya itu bisa bercanda di saat yang tidak tepat pada dosennya.


"Apaan sih? Kali aja gitu Pak Dewa berbaik hati ngajak kita ngobrol sambil makan di cafe. Iya gak Pak? ucap Viktor pada Gavin setelah kepalanya ditoyornya dan Viktor mencari dukungan Dewa dengan bertanya padanya.


"Lain kali. Pasti lain kali kalian akan saya traktir," jawab Dewa sambil melihat ke arah istrinya yang sedang berdiri menunggunya.


"Lalu, apa yang ingin Bapak bicarakan dengan kami?" tanya Gavin pada Dewa mewakili ketiga sahabatnya.


"Saya rasa kalian sudah mendengar mereka membicarakan tentang Ayuna," ucap Dewa sambil meletakkan kedua tangannya pada saku celananya.


Felix, Gavin, Viktor dan Devan saling memandang. Mereka berempat mengangguk bersamaan sebagai jawaban pertanyaan yang diajukan oleh Dewa pada mereka.


"Lalu apa kalian tidak ingin membantu Ayuna agar tidak dijelek-jelekkan seperti itu lagi?" tanya Dewa dengan menatap mereka berempat secara bergantian.


"Kami selalu menjaganya. Bahkan dari dulu sampai sekarang pun kami tidak pernah meninggalkan dia sendiri untuk menghadapi masalahnya," jawab Devan dengan menatap tegas mata Dewa, seolah dia ingin menegaskan bahwa dirinya akan selalu melindungi Ayuna.


"Dengan cara bagaimana kalian melindunginya? Jika dengan selalu berada di dekatnya seperti sebelum dia menikah, saya rasa kalian salah. Karena dengan kalian seperti itu malah akan membuat Ayuna menjadi bahan omongan mereka. Label wanita murahan karena dia sudah bersuami dan masih saja berdekatan dengan kalian. Itu akan selalu ada jika kalian masih saja seperti itu," tutur Dewa dengan melihat mereka satu persatu secara bergantian.


"Maksud Bapak apa? Bapak ingin kami menjauhi Ayuna?" tanya Devan yang tiba-tiba emosi dan berdiri di hadapan Dewa seolah menantangnya.


"Dev... Dev... tenang Dev," ucap Felix sambil menahan tangan Devan.

__ADS_1


"Kalem Dev, jangan emosi," tutur Gavin sambil memegang lengan Devan.


Dan Viktor menahan badan Devan dari belakang seolah dia memeluk Devan dari belakang badannya.


"Bukan menjauhinya. Tapi menjaganya dari jauh. Aku rasa kalian tau apa yang say maksud," tukas Dewa sambil menepuk-nepuk pundak Devan dan berlalu pergi meninggalkan mereka berempat.


Dewa tersenyum ketika sudah berjalan mendekati Ayuna. Dia tidak mau membuat istrinya itu khawatir dan marah padanya.


"Maaf ya udah nunggu lama," ucap Dewa ketika sudah berada di hadapan Ayuna sambil mengusap pipi istrinya itu.


"Kalian ngomongin apaan sih? Gak ngomongin macam-macam kan? Kalian gak bertengkar kan? Kalian gak berantem kan?" tanya Ayuna beruntun menampakkan wajah cemasnya.


Dewa terkekeh mendengar pertanyaan dari istri cantiknya itu. Baru kali ini dia melihat istrinya itu cemas padanya.


Dirangkulnya pundak istrinya itu dan dibawanya masuk ke dalam mobil. Keempat sahabat Ayuna hanya mampu melihat kepergian sahabat perempuan mereka satu-satunya itu. Kini mereka harus menuruti kemauan dari Dewa. Bagaimanapun Dewa sekarang adalah suami Ayuna. Dan mereka harus menghormati keputusannya seperti mereka menghormati keputusan Ayuna.


Hari-hari berlalu, Ayuna kini tidak lagi bersama dengan keempat sahabatnya itu. Memang mereka tidak berada dekat dengannya, tapi mereka selalu mengawasi dan menjaga Ayuna dari jauh. Mereka juga masih aktif dengan grup chat milik mereka. Dan sama sekali tidak ada masalah dalam hubungan persahabatan mereka.


Kini gosip tentang Ayuna yang murahan itu berganti dengan gosip keretakan persahabatan Felix, Gavin, Viktor, Devan dan Ayuna. Semua orang mengira persahabatan mereka hancur karena Ayuna sudah menikah dan Dewa tidak menyukai kedekatan mereka meskipun sebagai sahabat.


Ayuna tersenyum melewati semua orang yang membicarakannya. Dia berjalan menuju parkiran untuk menghampiri Dewa yang sudah berdiri di luar mobil menunggunya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Dewa ketika Ayuna sudah berada di hadapannya.


"Kenapa? Gak kenapa-kenapa kok," ucap Ayuna sambil terkekeh.


"Kok kamu sepertinya aneh gitu. Senyum tapi gimana gitu," tukas Dewa sambil menelisik wajah Ayuna.


"Gapapa. Cuma makin ke sini semakin merasa jadi artis aja," ucap Ayuna sambil terkekeh kembali.


Dewa mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh istrinya itu.


"Maksudnya?" tanya Dewa penasaran.

__ADS_1


"Semua pada ngomongin aku. Padahal aku kan bukan artis. Jadi merasa seperti artis kan kalau dibicarakan oleh mereka setiap hari," jawabnya sambil terkekeh.


Dewa pun tersenyum lega. Ternyata yang dimaksud oleh istrinya bukan seperti apa yang dipikirkannya.


"Ya sudah, yuk kita pulang," ujar Dewa sambil membukakan pintu mobil untuk Ayuna.


Lama kelamaan gosip yang beredar tentang Ayuna sudah berlalu. Mereka semua sudah disibukkan dengan kegiatan mereka agar lulus tepat waktu.


Ayuna dan Dewa tinggal di rumah Dewa, yang berarti mereka tinggal di rumah yang berada di depan rumah keluarga Ayuna.


Kedua orang tua Dewa masih berada di tempat lain sehingga Dewa diperintahkan untuk menempati rumah tersebut.


Hari-hari mereka berdua selalu penuh warna. Pertengkaran, kejahilan, kesenangan dan kebahagiaan selalu hadir dalam tiap harinya.


Pertengkaran mereka hanya menjadi bumbu dalam tiap harinya, setelah itu mereka akan tertawa untuk menertawakan pertengkaran mereka yang mereka anggap seperti pertengkaran anak kecil ketika bermain bersama.


"Benar kata Mama, proses kelulusanku akan lebih mulus jika aku menikah denganmu," ucap Ayuna sambil menonton televisi dengan kepalanya berada di pangkuan Dewa.


"Oh jadi tujuan menikah dengan aku hanya karena itu?" tanya Dewa dengan menengadahkan wajahnya pada wajah istrinya.


Ayuna tersenyum lebar. Dia enggan menjawab pertanyaan dari suaminya karena dia malu menyatakan perasaannya pada suaminya itu.


Ayuna memang tidak pernah menyatakan cintanya pada Dewa. Selalu saja Dewa yang mengatakan perasaan cintanya pada Ayuna. Karena bagi Dewa, melihat istrinya tersipu malu membuatnya sangat menggemaskan.


Dewa menggelitik pinggang dan perut Ayuna hingga dia meminta ampun padanya. Merasa istrinya sudah lemas dan dia tidak mau istrinya itu pingsan, Dewa menghentikan gelitikannya.


Dengan cepatnya Ayuna berganti posisi dan naik ke pangkuan Dewa. Mata mereka kini saling menatap. Ayuna mendekatkan bibirnya dengan perlahan. Ketika mata Dewa terpejam, Ayuna segera mendekatkan bibirnya di telinga Dewa.


"Sekarang apa pekerjaan suamiku? Bukankah suamiku ini sudah tidak menjadi dosen lagi?"


Mata Dewa terbuka, lantas dia tersenyum setelah mendengar bisikan dari istrinya. Ternyata dia sedang dijahili oleh istrinya itu.


"Sepertinya suamimu ini jadi pengangguran sekarang. Apa istriku ini keberatan mempunyai suami pengangguran?" tanya Dewa dengan tersenyum jahil pada Ayuna.

__ADS_1


"Oh tentu tidak suamiku. Tenang saja, istrimu ini akan bekerja untuk kebutuhan kita berdua. Kamu diam saja di rumah untuk mengurusi rumah dan memasakkan makanan yang lezat untuk istrimu ini," tutur Ayuna dengan ekspresi penuh percaya dirinya.


Seketika Dewa tertawa mendengar jawaban dari istrinya itu. Dia benar-benar bersyukur memiliki Ayuna sebagai istrinya, karena dengan hadirnya Ayuna bisa membuat harinya lebih berwarna.


__ADS_2