
Air mata Ayuna menetes seiring langkah kakinya membawanya pergi. Bahkan dia tidak tahu tujuannya saat ini.
Tadinya dia hanya ingin berpikir menyendiri agar lebih bisa memahami apa sebenarnya yang terjadi. Ternyata kakinya terus melangkah membawanya pergi menjauh dari restoran miliknya.
Ayuna percaya pada Dewa, sudah pasti. Yang diragukan olehnya adalah Reina. Tapi anehnya hatinya sangat sakit mendengar semua itu. Terlebih lagi Ayuna mengingat bahwa sebelumnya Reina dan mama mertuanya pernah mengatakan hal seperti itu hingga kini masih terdengar jelas di indera pendengaran Ayuna.
"Yuna! Ayuna!" teriak seseorang dari dalam mobil yang ada di depan Ayuna.
Ayuna terperangah ketika melihat yang memanggilnya adalah sahabat-sahabatnya. Felix, Gavin, Viktor dan Devan yang sudah lama tidak ditemuinya.
Mobil mereka pun berhenti. Tanpa berpikir panjang Ayuna masuk ke dalam mobil tersebut.
"Yuna, kamu ngapain jalan di tempat kayak gini?" tanya Felix yang berada di kursi depan.
"Mana suami bucin kamu itu? Tumben istri tercintanya ini dibiarkan jalan sendirian?" tanya Gavin yang sedang mengemudikan mobil.
Devan hanya melihat Ayuna, dia mengerti jika saat ini Ayuna sedang memiliki masalah.
"Yuna, ceritakan padaku masalahmu seperti dulu. Jangan hanya karena kamu sudah menikah, kamu gak mau cerita lagi padaku," tutur Devan yang masih menatap lekat Ayuna yang sedang menundukkan kepalanya karena dicecar pertanyaan oleh sahabat-sahabatnya.
"Kamu ada masalah Yuna?" tanya Viktor yang berada di bangku paling belakang.
Ayuna terdiam. Dia bimbang apakah dia harus bercerita pada mereka atau hanya menyimpannya sendiri saja karena masalah ini berkaitan dengan rumah tangganya.
Sayangnya mereka semua tetaplah sahabat terbaik Ayuna. Mereka memaksa Ayuna bercerita dengan dalih persahabatan mereka. Dan Ayuna pun memang sangat butuh untuk tempat berkeluh kesah, sehingga dia pun bercerita pada mereka tentang apa yang dikatakan oleh Reina di restoran tadi.
Ciiiiiiit...!!!!
Gavin mengerem mobil secara mendadak. Untung saja mereka berada di jalanan yang sepi sehingga tidak ada kendaraan lain yang terganggu dengan berhentinya mobil mereka yang secara mendadak.
__ADS_1
"Brengsek!"
"Sialan!"
"Gak ada kapok-kapoknya dia!"
Felix, Gavin dan Viktor bersahutan memaki Reina. Hanya Devan yang memendam kemarahannya. Karena sedari dulu Devan lah yang berperan untuk menenangkan mereka agar tidak terbawa emosi.
"Lalu suamimu bagaimana? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa semua itu benar?" Devan bertanya pada Ayuna dengan mengepalkan tangannya untuk menahan amarahnya.
"Aku gak tau. Tadi aku hanya berniat untuk menenangkan diri saja. Tapi nyatanya aku berjalan terlalu jauh. Pasti Kak Dewa mencariku. Aku harus kembali. Tolong antarkan aku kembali ke restoran itu," tutur Ayuna dengan air matanya yang menetes kembali di pipinya.
Devan bertambah geram, dia tidak bisa melihat Ayuna menangis. Dia berjanji akan membuat perhitungan pada Dewa untuk setiap tetesan air mata yang dikeluarkan oleh Ayuna.
"Dev, gimana nih?" tanya Gavin sebagai pengemudi pada Devan, si ketua geng.
"Lebih baik kita saja yang mencari tahu. Kamu bersembunyi di tempat lain saja yang sekiranya tenang dan tidak mungkin dijangkau oleh suamimu," tutur Devan dengan memegang tangan Ayuna untuk mencoba meyakinkannya.
"Bagaimana Yuna, apa kamu mau melakukannya?" tanya Felix dengan menatap Ayuna mencoba mencari jawaban dari sahabatnya itu.
Ayuna diam, dia berpikir sebentar sebelum memutuskan apa yang akan dia lakukan untuk sekarang ini.
Benar juga apa yang dikatakan oleh Devan. Memang aku butuh waktu sendiri untuk berpikir di tempat yang tenang. Kira-kira, aku harus ke mana ya? Tempat yang tenang tanpa diketahui oleh Kak Dewa. Ah... tempat itu... tempat itu sangat tenang, lebih baik aku ke sana saja. Kak Dewa juga gak bakalan berpikir aku pergi ke tempat itu. Pasti aman untuk aku sementara waktu tinggal di sana, Ayuna berkata dalam hatinya.
"Yuna... Ayuna... gimana?" tanya Gavin yang penasaran dengan keputusan sahabatnya itu.
Ayuna memandang satu persatu wajah sahabatnya itu, kemudian dia berkata,
"Baiklah, tolong antarkan aku ke tempat di mana aku menikah waktu itu. Aku akan tinggal di sana untuk sementara waktu," ujar Ayuna dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Ke sana? Apa kamu yakin dia tidak bisa menemukanmu?" tanya Devan seolah ragu akan keputusan Ayuna.
"Aku sangat yakin. Kak Dewa gak akan terpikirkan tempat itu," jawab Ayuna sangat yakin.
"Baiklah, kita akan mengantarkan kamu ke sana. Dan keperluan kamu di sana nanti akan kami antarkan. Dan kami juga akan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya," tukas Devan memutuskan.
"Ok, berangkaaaaat....," seru Felix menyertai Gavin yang sedang menyalakan mesin mobilnya.
Hati Ayuna sangat berat memutuskan itu semua. Tapi dia harus menenangkan dirinya dan menyiapkan hati serta pikirannya jika memang benar-benar itu yang akan terjadi. Dia memutuskan akan meninggalkan Dewa jika memang benar apa yang dikatakan oleh Reina.
Setelah beberapa saat, sampailah mereka di tempat yang diinginkan oleh Ayuna. Tempat yang sangat bersejarah olehnya. Tempat Dewa berjanji akan membahagiakannya hingga maut memisahkan mereka.
Tak terasa air mata Ayuna kembali menetes. Kini semua memory itu kembali. Dan air mata Ayuna bukan lagi air mata yang menetes biasa. Dia menangis sesenggukan mengingat semua peristiwa yang terjadi di tempat itu. Ternyata keputusannya untuk tinggal sementara waktu di tempat itu malah menambah luka hatinya.
Kini Ayuna sendiri di tempat itu meratapi semua kesedihannya. Kesedihan karena belum diberikan keturunan dan kesedihan tentang Reina yang ingin menikah dengan Dewa.
Felix, Gavin, Viktor dan Devan menuju restoran Ayuna. Mereka ingin menyelesaikan segera masalah yang dihadapi oleh sahabat perempuan mereka. Terlebih lagi karena mereka sangat tidak suka pada Reina yang seolah menusuk Ayuna dari belakang.
Mobil mereka sudah terparkir di depan restoran Ayuna. Dan Dewa serta karyawan lainnya yang sedang luang membantu Dewa untuk mencari Ayuna di sekitar restoran tersebut.
"Aku akan mencari Ayuna di jalan Ma. Aku gak bisa hanya menunggu saja di sini, " ucap Dewa sambil beranjak menuju pintu keluar restoran.
"Pak Dewa, perempuan ini mau diapakan?" tanya Pak Suryo yang tiba-tiba keluar dari dalam restoran dengan menarik secara kasar tangan Reina.
Dewa menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Pak Suryo yang memanggilnya. Wajah Dewa berubah ketika melihat wajah Reina. Dewa menatap tajam penuh kebencian padanya.
"Saya tidak peduli dengan dia. Terserah mau diapakan dia. Yang penting jangan biarkan dia ada di hadapan saya dan istri saya, sampai kapanpun itu. Dan jika terjadi hal buruk pada istri saya, tentu saja saya akan memberimu pelajaran yang setimpal," tutur Dewa dengan menunjuk ke arah Reina menggunakan jari tangannya.
Reina berusaha melepaskan tangan Pak Suryo darinya. Dan itupun berhasil. Reina berlari menghampiri Bu Intan dan berlutut di hadapannya.
__ADS_1
"Tante, tolong saya. Bukankah Tante sudah berjanji pada saya," ucap Reina dengan memegang tangan Bu Intan dan mengeluarkan air matanya serta menatap Bu Intan dengan tatapan memohon.
"Mama!" seru Dewa dengan tatapan bengisnya.