
Hari-hari Ayuna bertambah bahagia dimanjakan dan selalu berlimpahkan kasih sayang serta perhatian dari Dewa.
Pikiran tentang anak tidak lagi sempat dia pikirkan karena selalu disibukkan oleh Dewa. Suaminya itu selalu memintanya untuk menyibukkan dirinya.
Dewa selalu meminta Ayuna untuk melakukan banyak hal agar tidak terpikirkan masalah keturunan lagi. Meskipun kadang-kadang pasti dia akan terpikirkan tentang anak dikala dia sedang merasa kesepian ataupun saat melihat anak kecil bersama dengan orang tuanya. Pasti ada rasa ingin untuk memiliki keturunannya sendiri.
Seperti saat ini, Dewa memerintahkan Ayuna agar dia berkunjung ke kantornya. Setiap hari dia selalu memutar otaknya untuk menyibukkan Ayuna agar bisa selalu bersamanya.
"Sayang, apa aku di sini hanya untuk menunggumu bekerja?" tanya Ayuna yang kini sudah berada di sofa ruangan kantor Dewa.
Sebelum jam makan siang tadi, Dewa meminta agar Ayuna datang ke kantornya dengan membawakan makan siang untuk Dewa.
"Tunggu sebentar ya Sayang. Ini sebentar lagi juga mau selesai," ucap Dewa tanpa melihat ke arah istrinya berada.
Ayuna menghembuskan nafasnya. Dia merasa bosan sudah sekitar satu jam berdiam diri duduk di sofa tersebut tanpa melakukan sesuatu. Sedari tadi dia hanya memainkan ponselnya dan membaca buku yang telah disiapkan oleh Dewa untuknya.
Buku tersebut sudah selesai dibaca olehnya dan dia sudah merasa bosan dengan ponselnya. Kini Ayuna mirip seperti anak kecil yang sudah merasa bosan memainkan mainannya.
Ayuna berjalan mendekati Dewa untuk mencari perhatiannya. Dia berjalan berlenggak lenggok untuk memecah konsentrasi Dewa.
Sayangnya Dewa yang sedang fokus dengan pekerjaannya tidak tergoda oleh apapun. Konsentrasi Dewa memang patut diacungi jempol karena jika dia sudah fokus terhadap sesuatu, maka tidak akan ada yang bisa mengalihkan perhatiannya, tak terkecuali istrinya sekalipun.
Merasa tetap diacuhkan oleh Dewa, dengan kekesalannya itu dia memutar otaknya agar bisa mengalihkan perhatian Dewa dari kertas-kertas yang sedang dibacanya.
Ayuna duduk di kursi depan meja Dewa dengan memajukan wajahnya dan menopang dagunya menggunakan kedua tangannya sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya agar suaminya itu mau memperhatikannya.
Namun, cara yang digunakan oleh Ayuna itu tidak berhasil mengalihkan perhatian Dewa dari pekerjaannya.
"Huffftttt...," Ayuna kembali menghela nafasnya, dia meniupkan nafasnya ke arah atas mengenai poni rambutnya.
Aku harus mengalihkan perhatiannya. Oke, sekarang aku akan menjalankan rencana yang kedua, Ayuna berkata dalam hatinya.
Ayuna beranjak dari duduknya, dia berjalan mendekati Dewa dan tiba-tiba dia duduk di atas pangkuan Dewa.
Yesss!
__ADS_1
Ayuna bersorak dalam hatinya. Dia berhasil mengalihkan perhatian suaminya dari semua lembaran kertas yang ada di hadapannya.
Dewa terlonjak kaget mendapati tubuh Ayuna yang sudah duduk di pangkuannya. Kedua tangan Ayuna melingkar pada leher Dewa. Dan wajahnya sengaja berada di hadapan Dewa dengan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda suaminya.
"Sayang, kamu nakal sekali," ucap Dewa sambil mencubit hidung mancung Ayuna.
"Habisnya aku dicuekin sih. Aku bosen tau gak duduk sendirian di situ," tukas Ayuna sambil mencebik kesal.
"Kan udah aku kasih buku. Dibaca dulu itu bukunya," ucap Dewa sambil mencubit kedua pipi istrinya itu dengan gemas.
"Apaan, bukunya udah selesai aku baca semuanya," sahut Ayuna dengan mengerucutkan bibirnya.
Dewa tersenyum melihat istrinya yang sedang kesal seperti itu. Secepat kilat Dewa menerkam bibir lembut milik Ayuna dan menikmati manisnya bibir istrinya itu.
Ayuna tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia lebih memperdalam ciumannya seolah tidak mau melepaskan bibir suaminya yang lebih dulu menciumnya.
Dewa pun terbawa oleh ciuman Ayuna yang menuntutnya untuk melakukan lebih jauh lagi dengan ciuman itu.
Keduanya kini telah terbawa suasana. Mereka saling menyambut apa yang dilakukan oleh pasangannya.
Tangan Dewa menyikap rok Ayuna, mengusap pahanya dan bergerilya di daerah tersebut. Sedangkan Ayuna yang merasakan desiran aneh ikut dalam permainan Dewa.
Tangan Ayuna kini sibuk melepaskan satu persatu kancing baju Dewa. Dia pun tidak mau melepaskan kesempatan yang sedari tadi ditunggunya.
Mengalihkan perhatian Dewa dari pekerjaannya, itulah tujuan Ayuna sejak tadi. Sayangnya sedari tadi dia gagal melakukannya. Dan kini, akhirnya dia sudah bisa mengalihkan perhatian suaminya itu hanya pada dirinya.
Tangan mereka kini terlalu jauh. Mereka saling terhanyut oleh apa yang dilakukan tangan pasangannya.
Tok... tok... tok...
Kegiatan mereka sempat terhenti ketika mereka mendengar suara ketukan pintu pada ruangan Dewa.
Mata mereka saling memandang dan mereka menghentikan apa yang mereka lakukan. Tapi suara ketukan pintu itu tidak lagi terdengar di sana. Dewa dan Ayuna pun meneruskan kembali apa yang mereka lakukan tadi.
Tok... tok... tok...
__ADS_1
Suara ketukan pintu itu kembali terdengar. Mereka kembali menghentikan apa yang sedang mereka lakukan.
Helaan nafas kekecewaan mereka berdua sangat terasa ketika ada suara dari sekretaris Dewa yang meminta ijin masuk ke dalam ruangan Dewa.
"Sebentar ya," ucap Dewa lirih sambil mengecup kembali bibir manis milik istrinya.
Ayuna turun dari pangkuan Dewa dan merapikan kembali pakaiannya serta rambutnya. Tidak lupa dia mengambil cermin untuk merapikan lipstiknya.
Begitupula dengan Dewa, dia memasang kembali kancingnya yang hampir semuanya sudah dibuka oleh Ayuna. Kemudian dia merapikan penampilannya. Setelah itu dia mempersilahkan sekretarisnya itu masuk ke dalam ruangannya.
"Masuk!" seru Dewa dari tempat duduk kebesarannya.
Masuklah ke dalam ruangan Dewa seorang laki-laki berpakaian rapi membawa beberapa tumpukan map.
"Ada apa?" tanya Dewa dengan nada datar.
Raka, sekretaris Dewa merasakan aura dingin dari wajah Dewa. Dia mengerti jika sekarang ini pasti Dewa sedang kesal padanya. Sehingga dia harus berhati-hati.
"Maaf Pak, ini ada beberapa berkas yang harus Bapak periksa dan tanda tangani," jawab Raka sambil memberikan berkas-berkas tersebut pada Dewa.
Dewa menatap tajam ke arah tumpukan map yang diletakkan oleh Raka di mejanya. Dia menghela nafas kasar karena tumpukan map tersebut menandakan dia harus lebih lama berada di kantornya.
"Apa harus hari ini?" tanya Dewa dengan nada kesal.
"I-iya Pak," jawab Raka gugup, dia takut salah bicara.
"Ck, bisa-bisanya kamu memberiku banyak pekerjaan di saat ada istriku menungguku di sini," ucap Dewa dengan kesal sambil menatap Raka yang tersenyum kaku melihatnya.
"Aku bawa saja semuanya pulang. Hari ini aku ingin berdua bersama dengan istriku di rumah," tukas Dewa sambil merapikan berkas-berkasnya yang sempat terhenti dikerjakannya karena serangan dari Ayuna tadi.
"Saya permisi Pak," pamit Raka sambil membungkukkan setengah badannya pada Raka.
Raka pun mengangguk dan mempersilahkan sekretarisnya itu keluar dari ruangannya.
Dewa mendekati Ayuna yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Sayang, kita pulang sekarang yuk... udah gak tahan..."