Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 31 Bucin parah


__ADS_3

Mata Ayuna berkaca-kaca mendapatkan kejutan lamaran dua kali berturut-turut dari seorang Dewa Arion. Lelaki yang tampan mempunyai semua hal yang diinginkan oleh perempuan manapun.


Dia tidak menyangka jika Dewa kini berlutut di hadapannya untuk melamarnya yang kedua kalinya.


"Ay, jawab dong. Tadi memang kamu sudah menjawab di hadapan semua orang di kampus, dan sekarang kamu harus menjawab di hadapan keluarga kita, di hadapan kedua orang tua kita," ucap Dewa dengan tatapan memohon padanya.


Ayuna mengedarkan pandangannya pada seluruh orang yang hadir. Mereka semua adalah keluarganya dan keluarga Dewa. Bahkan sekarang mereka bersorak agar Ayuna menerima lamaran dari Dewa. Sungguh terlihat binar kebahagiaan dari wajah mereka.


Kemudian dia kembali menatap Dewa yang kini masih berlutut di hadapannya dengan satu tangan yang memegang tangannya dan satu tangan lagi membawa box kecil yang dibuka menampakkan kalung berlian yang sangat menyilaukannya.


"Ay, will you marry me?" tanya Dewa dengan tatapan penuh harap pada Ayuna.


Seolah terhipnotis dengan senyuman manis Dewa dan semua perlakuan Dewa padanya, Ayuna mengangguk memberikan jawaban untuk yang kedua kalinya pada Dewa.


Dewa sangat senang Ayuna menganggukkan kepalanya, yang berarti menerima lamarannya untuk kedua kalinya.


Sontak saja Dewa mencium punggung tangan Ayuna yang sangat halus dan putih bersih itu. Kemudian dia berdiri dan memakaikan kalung tersebut pada leher jenjang milik Ayuna.


"Cantik, indah, sama seperti yang memakainya," ucap Dewa sambil menatap kakung tersebut yang mengalung indah pada leher Ayuna.


Seketika rona malu tersirat di kedua pipi Ayuna. Dia sangat malu mendengar perkataan Dewa dan hatinya merasa berbunga-bunga mendapatkan perlakuan romantis seperti itu.


Ternyata dia bisa romantis juga, berbeda dengan di rumah sakit waktu itu, Ayuna berkata dalam hatinya sambil tersipu malu mengingat pernyataan Dewa di koridor rumah sakit waktu itu.


"Terima kasih Ay, terima kasih sudah menerima lamaranku untuk kedua kalinya," ucap Dewa dengan senyuman kelegaan dan kegembiraan.


Kedua tangan Dewa memegang pinggang Ayuna yang berhadapan dengannya. Ditariknya pinggang Ayuna agar tubuhnya lebih mendekat padanya. Mata mereka saling beradu pandang seolah saling mengatakan perasaan mereka.


"I love you more and more Ay," ucap Dewa sambil tersenyum manis dan wajahnya kini lebih mendekat pada wajah Ayuna.

__ADS_1


"Ehemmm... Tahan dulu Dewa, kalian belum sah," seru Pak Andik dari tempatnya berdiri saat ini.


Semua tawa orang yang hadir menyadarkan Dewa dan Ayuna. Hampir saja mereka berdua terbuai oleh situasi. Andai saja mereka hanya berdua pada saat itu, sudah pasti Dewa mencium bibir ranum milik Ayuna.


Berkali-kali Dewa menahan keinginannya itu ketika berdekatan dengan Ayuna. Bibir Ayuna seolah memintanya untuk dicicipi.


Kini mereka kembali pada realita yang mengharuskan mereka untuk menahan keinginannya itu.


Mereka berdua gelagapan dan kikuk. Malu, sangat malu pada keluarga mereka. Tapi semua itu bisa ditutupi oleh Dewa dengan mengajak Ayuna berdansa bersamanya.


Lantunan musik yang sangat indah membuat semua orang berdansa bersama. Tentu saja Dewa dan Ayuna yang menjadi pusat perhatian mereka.


Dewa dan Ayuna berdansa di tempat yang telah disediakan, tepatnya di tengah-tengah tempat tersebut dengan dikelilingi hamparan bunga warna-warni yang sangat indah dan mengeluarkan wangi semerbak di tempat terbuka itu.


Bahagia. Satu kata yang menggambarkan perasaan Ayuna saat ini. Dia sangat bahagia berada di tempat indah itu dan mendapatkan perlakuan romantis dari calon suaminya, Dewa.


Kaki mereka bergerak seirama dengan musik yang mengalun indah itu. Suara riuh tepuk tangan mengiringi tarian Dewa dan Ayuna yang masih ingin menikmati alunan musik indah itu berdua.


Rintik hujan mengganggu momen keromantisan mereka berdua. Rintik hujan yang tiba-tiba itu seolah menambah suasana romantis acara tersebut.


Hujan pun ikut menyambut kebahagiaan mereka, seolah langit pun mengerti kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.


Mereka semua masuk ke dalam restoran karena rintik hujan yang belum reda selama beberapa waktu lalu.


Kini mereka menikmati makanan mereka diselingi canda tawa mereka yang membuat Dewa dan Ayuna tersipu malu.


"Dulu kalian itu sangat dekat sekali saat kalian masih kecil. Ayuna selalu menangis jika Dewa pulang ke rumah. Dia tidak mau ditinggal sedetikpun oleh Dewa," tutur Pak Antonio, Papa dari Dewa.


"Iya benar, sampai saya disuruh buatkan kamar untuk Dewa di rumah kami," sahut Pak Andika, Papa dari Ayuna.

__ADS_1


Sungguh Ayuna sangat malu. Meskipun saat mengatakan itu dia masih sangat kecil bahkan sekarang dia tidak mengingatnya, tapi tetap saja dia sangat malu pada Dewa.


Saking malunya, Ayuna tidak berani menatap Dewa. Kini kepalanya hanya tertunduk malu, berbeda dengan tadi pada saat mereka berdansa dengan saling pandang seolah tidak jemu melihat satu sama lain.


"Dewa juga gitu, kalau sehari saja tidak bertemu dengan Ayuna, pasti dia sedih. Katanya dia kangen sama adek cantiknya," ucap Bu Intan, mama dari Dewa.


"Iya, dulu dia pernah tanya sama saya gini, adek cantik ke mana? Nah saya bingung dong adek cantik siapa, eh ternyata Ayuna," sahut Bu Andini, mama Ayuna.


Dewa tidak malu dengan apa yang diceritakan oleh mamanya, karena memang itulah kenyataannya meskipun dia tidak mengingatnya.


Dewa memandang Ayuna yang semakin malu. Make up flawless yang terkesan natural itu membuat rona merah di wajah Ayuna bisa terlihat oleh Dewa.


Acara makan pun telah usai dan rintik hujan di luaran sudah berhenti. Kini suasana di luaran menjadi lebih sejuk dan segar karena guyuran air hujan yang memberkati mereka.


"Ternyata kita sudah saling suka dan gak mau dipisahkan sejak kecil ya Ay," ucap Dewa ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman restoran setelah makan.


"Kak please deh gak usah ingetin apa yang mereka bahas tadi. Malu tau gak? Kesannya kayak aku gak mau dtinggalin kamu banget gitu, bucin parah," tukas Ayuna menutupi rasa malunya.


"Kenapa? Aku suka kok kamu bucin sama aku," ucap Dewa sambil terkekeh.


"Dih enggak ya, Kak Dewa tuh yang bucin parah sama aku, sampai-sampai di kampus aja aku udah ditandai jadi punya Kakak," sahut Ayuna tidak terima dengan apa yang dikatakannya.


Dewa menghentikan langkahnya, dia memegang kedua pundak Ayuna dan mengarahkannya untuk menghadapnya. Kemudian dia memegang kedua tangan Ayuna dan menatapnya dengan intens, lalu berkata,


"Memang. Aku tuh bucin banget sama kamu. Parah banget, sampai gak mau kehilangan kamu. Aku pengennya deket terus sama kamu, gak mau jauh dari kamu. Kita segera nikah aja yuk Ay."


"Hah, nikah?" tanya Ayuna dengan ekspresi kaget.


"Iya, nikah, kamu pasti senang kan kita segera menikah?" ucap Dewa sambil memberi senyumannya pada Ayuna.

__ADS_1


"Ih ogah, aku gak mau nikah," ucap Ayuna sambil bergidik ngeri, lalu menghempaskan tangan Dewa dan berjalan sendirian meninggalkan Dewa yang kaget dengan penolakan Ayuna.


__ADS_2