
Hujan yang semakin deras mengguyur daerah itu membuat mereka menunda perjalanan pulangnya.
Banyak pengunjung yang masih berada di sana menanti redanya hujan yang sangat deras disertai dengan petir yang sangat menggelegar.
Daerah dataran tinggi itu tiba-tiba menjadi mencekam ketika suasana seperti itu. Bahkan pemerintah setempat menghimbau agar mereka semua tetap berada di tempat dan tidak sedang dalam perjalanan.
Kini mereka berdua sedang duduk di dalam mobil dengan guyuran hujan yang sangat deras di luar sana. Petir yang menggelegar dan kilat yang menyambar-nyambar membuat Ayuna ketakutan dan berlindung di balik lengan Dewa yang sedang duduk di sebelahnya.
"Ay, gimana ini? Sepertinya kita terjebak di sini," ucap Dewa sambil memakaikan jaket tebal miliknya yang diambilnya dari kursi belakang di mobilnya.
Ayuna mengeratkan jaket yang dipakaikan oleh Dewa pada tubuhnya. Kemudian dia kembali merangkul lengan Dewa untuk menghangatkan tubuhnya.
"Hangatnya... nyaman...," ucap Ayuna sambil memejamkan matanya.
Dewa tersenyum dan mengusap rambut Ayuna. Kemudian dia mencium kepala Ayuna yang masih merapat di lengannya.
"Ay, kalau gini ceritanya, mending tadi kita nikah aja Ay, biar sekarang kita bisa bersama terus," ucap Dewa sambil terkekeh.
"Pikirannya itu loh gak jauh-jauh dari-"
"Aku kan udah dewasa Ay. Kamu juga bukan anak-anak lagi. Gak ada salahnya kan kita menikah sekarang? Besok, lusa, tahun depan atau kapan pun sama aja Ay, kita akan tetap menikah kapan pun itu," tutur Dewa dengan tatapan matanya melihat ke arah Ayuna yang kepalanya berada di pundaknya.
Tatapan mata Dewa tertuju pada bibir Ayuna yang merekah seolah memanggilnya untuk mencicipi madunya.
Tanpa sadar tangan Dewa meraih dagu Ayuna dan dengan cepatnya kini bibir Dewa telah menempel pada bibir Ayuna.
Mata Ayuna terbelalak ketika bibir mereka saling menempel. Tapi kemudian mata Ayuna terpejam ketika bibir Dewa menghisap manisnya madu pada bibir Ayuna dan lidahnya menerobos masuk ke dalam mulut Ayuna. Mereka saling bertukar saliva, bahkan lidah mereka menari-nari di dalam mulut mereka.
Jedar!
Petir yang menggelegar dengan kerasnya mengagetkan dua insan yang sedang terbawa suasana itu.
Dewa dan Ayuna menghentikan kegiatan mereka. Mata mereka saling menatap dan mereka saling tersenyum. Tangan Dewa mengusap bibir Ayuna yang basah oleh saliva mereka.
Jedar!
__ADS_1
Petir kembali menggelegar membuat Ayuna memeluk dengan erat tubuh Dewa.
"Tuh kan Ay, coba kalau kita udah nikah, pasti kita bisa kayak gini terus. Kamu gak bakalan takut nantinya kalau ada petir," tutur Dewa sambil mengusap pipi Ayuna.
"Ih biasanya aku juga gak takut. Hanya saja ini di dalam mobil dan juga petir serta kilatnya kelihatan dari kaca, serem...," ucap Ayuna manja sambil bergidik ngeri.
"Ya udah sini sayang...," tukas Dewa sambil memeluk erat tubuh Ayuna.
"Udah kita masuk aja Kak. Percuma kita ada di dalam mobil, toh kita gak akan bisa pulang," ucap Ayuna yang masih berada dalam pelukan Dewa.
"Kita ke Villa aja ya, mau kan?" tanya Dewa pada Ayuna.
Ayuna mendongakkan kepalanya melihat wajah Dewa. Kemudian dia memicingkan matanya dan berkata,
"Gak aneh-aneh kan?"
Dewa terkekeh mendengar pertanyaan dari Ayuna. Dia lantas mencubit hidung calon istrinya itu dengan gemas.
"Aneh-aneh apaan sih Ay?" tanya Dewa yang setelah itu menempelkan kembali bibirnya pada bibir Ayuna hanya sekilas.
"Manis, sama seperti orangnya," ucap Dewa setelah mencicipi kembali bibir Ayuna.
Dewa pun tertawa tanpa merasakan sakitnya pukulan dari calon istrinya itu. Lalu dia menghentikan tangan Ayuna yang memukulnya dengan memegang tangannya dan berkata,
"Sepertinya bibir kamu ini sudah menjadi candu buat aku Ay," ucap Dewa dengan menatap intens manik mata Ayuna.
Mata mereka saling menatap, kemudian Ayuna berkata,
"Kak, sebaiknya kita ke Villa sekarang deh. Lama-lama pegel juga kayak gini terus."
Dewa tertawa dan tentu saja dia menyetujui permintaan gadis yang telah mencuri hatinya itu.
Dewa melajukan dengan hati-hati mobilnya menuju Villa nya yang hanya berjarak beberapa meter saja dari cafenya.
Mereka yang sudah dihubungi oleh Dewa segera berjaga di sana untuk memberikan kunci serta makanan dan keperluan yang lain untuk Dewa dan Ayuna.
__ADS_1
"Mandi dulu Ay," ucap Dewa sambil memberikan handuk dan bathrobe pada Ayuna.
Ayuna menerimanya dan menatap Dewa dengan penuh tanda tanya. Dewa tersenyum seolah dia tahu apa yang ditanyakan oleh Ayuna.
"Ada baju-baju aku di lemari. kamu pilih saja sendiri nanti," tutur Dewa sambil memegang kedua pundak Ayuna dan membalikkan badannya serta mendorongnya menuju kamar mandi.
Sekitar tiga puluh menit Ayuna berada dalam kamar mandi, setelah itu dia keluar dari dalam kamar mandi dengan berbalut bathrobe warna putih dan handuk yang dililitkan di atas kepalanya.
Hujan yang turun berhasil mencuri perhatian Dewa. Dia melihat hujan yang turun dengan lebatnya itu dari jendela kaca yang berada dalam kamar tersebut.
Ya, mereka sedang berada dalam kamar yang biasa digunakan oleh Dewa jika berkunjung ke sana. Karena mereka membutuhkan kamar mandi dan Ayuna masih takut berada di tempat baru jika sendirian.
Dewa terperangah melihat Ayuna yang keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan seperti itu. Dewa beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Ayuna.
Hanya dengan ditatap dalam keadaan dekat seperti itu saja oleh Dewa membuat Ayuna menjadi gugup.
"Ma-maaf aku lama mandinya. Aku berendam air hangat supaya gak kedinginan," ucap Ayuna gugup dan tidak memikirkan apa yang dia ucapkan.
Dewa tersenyum melihat kegugupan calon istrinya. Kemudian dia berkata,
"Di lemari itu ada baju-baju aku. Kamu pilih aja sendiri ya sayang...."
Dengan segera Ayuna pun berjalan menuju lemari tersebut. Dia menghindari Dewa yang membuatnya gugup dan mengakibatkan jantungnya berdegup kencang.
Seandainya jika kita sudah menikah tadi Ay, kupastikan akan ku makan kamu sekarang juga, Dewa berkata dalam hatinya dengan melihat Ayuna dan tersenyum padanya.
Ayuna merasakan Dewa masih menatapnya. Dia tidak berani berbalik arah dan sibuk berpura-pura memilih pakaian yang akan dipakainya.
Sepertinya dia masih menatapku. Aku merasakannya, seperti ada yang memperhatikanku. Pasti benar, aku gak dengar suara pintu kamar mandi ditutup. Apa aku harus melihatnya? Atau berpura-pura saja memilih seperti ini terus? Lalu sampai kapan? Ayuna menggerutu dalam hatinya.
Brak!
Suara pintu ditutup. Ayuna mengusap dadanya karena merasa lega. Kemudian dia membalikkan badannya untuk melihat ke arah belakang, ke arah kamar mandi tepatnya.
"Aaaaah...!" Ayuna berseru kaget ketika melihat Dewa masih berdiri di tempat yang sama dan tersenyum padanya.
__ADS_1
"Kok kak Dewa masih di situ?" tanya Ayuna gugup dengan duduk di lantai dan memegang dadanya karena kaget melihat Dewa.
Dewa hanya tersenyum dan berjalan mendekati Ayuna. Ternyata Dewa menjahili Ayuna dengan berpura-pura menutup pintu kamar mandi. Dan benar lah apa yang di pikirkan oleh Dewa. Ayuna berpura-pura lama memilih pakaian hingga dia masuk ke dalam kamar mandi.