
Bu Andini, mama dari Ayuna merasa senang mendengar apa yang telah disampaikan oleh Dewa padanya.
Menikahkan Ayuna dengan Dewa adalah suatu keinginan darinya sejak Dewa makan malam bersama dengan mereka waktu itu.
"Benarkah? Apa Tante tidak salah dengar?" tanya bu Andini pada Dewa.
"Benar Tante, saya berniat akan melamar Ayuna," jawab Dewa dengan tersenyum manis.
"Eh... eh... eh... enak aja. Kemarin bilang ke orang-orang pacaran, tadi bilang tunangan, sekarang bilang mau ngelamar. Bisa-bisa besok ngajak nikah," seru Ayuna berjalan dari tempatnya menuju tempat mamanya dan Dewa berdiri saat ini.
"Ide bagus tuh. Besok aja nikahnya Tan, sekalian biar Mama sama Papa saya tidak bolak balik ke sini," ucap Dewa pada bu Andini sambil tersenyum lebar.
Seketika mata Ayuna terbelalak, dia tidak mengira jika ocehannya menjadi boomerang baginya. Dewa mengambil ocehan Ayuna sebagai masukan baginya.
Ayuna menggelengkan kepalanya, heran melihat tingkah Dewa yang sepertinya sangat ingin memilikinya.
"Au ah, gak ngerti aku sama kamu. Terserah kamu mau bilang apa," ucap Ayuna sambil melangkah pergi menapaki tangga menuju kamarnya.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya bu Andini pada Dewa.
"Tante dengar kan tadi kata Ayuna mintanya besok," jawab Dewa sambil terkekeh.
Jeduwaaaar!
Seperti tersambar petir, Devan yang akan masuk ke dalam pintu rumah Ayuna menghentikan langkahnya ketika dia mendengar percakapan mama Ayuna dengan Dewa.
Hatinya semakin hancur berkeping-keping. Baru saja dia menemukan semangatnya kembali untuk menyatakan perasaannya pada Ayuna.
Namun, kini semua sepertinya sudah tidak diperlukan lagi. Pernyataan cintanya sepertinya akan ditolak meskipun dia belum menyatakannya.
Langkah kakinya diurungkannya masuk ke dalam rumah Ayuna. Dia lebih memilih kembali ke dalam mobilnya yang diparkir di depan rumah Ayuna.
"Sial... sial... sial...," teriak Devan dalam mobilnya sambil memukul-mukul setirnya melampiaskan kemarahannya.
Kemudian dia membentur-benturkan kepalanya pada setir mobilnya. Dia sangat sakit hati mendapatkan fakta tentang Dewa dan Ayuna.
Selama ini dia menjaganya dan menunggunya hingga dia merasa Ayuna siap menerimanya. Dia sangat tahu jika Ayuna menjunjung tinggi persahabatan mereka.
Setiap kali dia akan menyatakan perasaannya, pasti dia takut jika ditolak Ayuna dengan alasan tidak mau kehilangan persahabatan mereka.
Kini semuanya sia-sia. Mereka hanya bisa tetap menjadi sahabat. Sepertinya penantiannya kini sudah harus berakhir.
__ADS_1
Dilajukannya mobilnya dengan kecepatan tinggi. Devan benar-benar melampiaskan semua kekesalan, kemarahan dan emosinya pada jalanan.
Brak!
Kap mobilnya terbuka dengan kepulan asap keluar dari dalam mesinnya. Mobil Devan menabrak pohon pembatas jalan. Dan kepala Devan terselamatkan oleh airbag yang ada di kemudinya.
Namun, Devan ditemukan dalam keadaan pingsan dalam mobilnya dengan posisi masih terduduk di jok kemudi dan kepalanya beralaskan airbag pada kemudinya.
Banyak pengguna jalan yang mengerubutinya dan mencoba untuk menolongnya. Ambulance yang datang karena dihubungi salah satu pengguna jalan berhasil mengeluarkan Devan dari mobilnya dan membawanya ke rumah sakit yang dituju.
"Lama sekali sih Devan? Apa Ayuna belum ditemukan?" tanya Felix pada Gavin dan Viktor.
"Entahlah, coba aja kamu hubungi mereka berdua," jawab Viktor sambil meneruskan makannya.
Mereka berdua membagi tugas. Gavin menghubungi Devan dan Felix menghubungi Ayuna.
"Halo, Ayuna kamu baik-baik saja kan?" tanya Felix pada Ayuna melalui teleponnya.
Baik, sangat sehat malah. Ada apa sih kok tumben nanyanya gitu? ucap Ayuna dari seberang sana.
"Syukur deh kalau gitu. Devan ada sama kamu kan?" tanya Felix kembali.
Gak ada. Devan kan masih ada di cafe nunggu kalian. Aku tadi pulang duluan, jawab Ayuna dari rumahnya melalui saluran telepon.
Ih najis, tukas Ayuna sebelum menekan tombol off pada layar ponselnya.
Ponsel Devan berdering selama beberapa kali namun tidak diangkat olehnya. Hingga yang kesekian kalinya Gavin menghubungi Devan, barulah telepon itu diangkat.
"Halo, Devan kamu di mana?" tanya Gavin ketika sambungan teleponnya diangkat oleh seseorang.
Maaf Pak, orang yang mempunyai ponsel ini kecelakaan dan sedang berada di rumah sakit Health saat ini, jawab orang dengan suara laki-laki di seberang sana.
"Apa? Bagaimana keadaannya?" tanya Gavin kembali.
Lebih baik Bapak segera ke sini saja untuk mengetahui keadaannya, jawab orang tersebut.
"Baik, saya akan segera ke sana," ucap Gavin sebelum mengakhiri teleponnya.
"Kenapa?" tanya Viktor pada Gavin.
"Ada apa?" tanya Felix pada Gavin.
__ADS_1
"Devan, dia kecelakaan dan sekarang dia sedang ada di rumah sakit," jawab Gavin dengan terburu-buru memasukkan ponselnya ke dalam celananya.
"Apa?!" ucap Viktor kaget.
"Ayo cepat kita ke sana!" ucap Felix sambil membawa tasnya dari atas kursi.
Mereka bertiga segera menuju ke rumah sakit Health untuk menemui Devan. Dalam perjalanan ke rumah sakit tersebut mereka melihat mobil Devan yang menabrak pohon pembatas jalan.
"Itu seperti mobilnya Devan," ucap Viktor sambil menunjuk mobil Devan yang sudah dalam keadaan menabrak pohon.
Felix menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan mereka melihat dari dalam mobilnya keadaan mobil Devan saat ini.
"Udah, kita langsung ke rumah sakit aja sekarang," ucap Gavin.
Felix pun segera melajukan mobilnya kembali menuju Rumah Sakit Health. Sesampainya di sana mereka segera menuju ruang IGD untuk mencari Devan.
Terlihat dua orang polisi yang berada di depan ruang pintu IGD. Ternyata mereka menunggu Devan untuk dimintai keterangan.
Felix, Gavin dan Viktor segera bertanya pada perawat dan ternyata Devan sudah tersadar, dia sedang dalam proses pemindahan kamar.
Kini mereka bertiga sudah ada di dalam kamar inap Devan. Dua orang polisi tersebut bertanya untuk meminta keterangan pada Devan tentang kecelakaan yang menimpanya.
Setelah mendapatkan keterangan dari Devan, kedua polisi tersebut berpamitan untuk kembali bertugas.
"Dev, kamu kenapa sih kok bisa sampai kayak gini?" tanya Felix yang duduk di kursi sebelah bed pasien.
"Kamu ngantuk Dev?" tanya Gavin pada Devan.
"Bukannya tadi kamu bilang mau ngejar Ayuna?" tanya Viktor yang kini duduk di pinggiran bed pasien.
Devan menghela nafasnya berat. Dia jadi teringat kembali akan apa yang didengarnya tadi di rumah Ayuna.
Dia tidak mampu bercerita pada sahabat-sahabatnya itu.
"Dev, kok diem. Kamu kenapa?" tanya Gavin menyelidik.
Bukannya menjawab, Devan malah merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Aku mau tidur. Kalian tunggu aja di situ," jawabnya sambil matanya terpejam.
Gavin, Felix dan Viktor saling memandang. Mereka tidak menyangka jika Devan bersikap seperti itu pada mereka. Biasanya seorang Devan selalu terbuka pada sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Dan kini mereka bertiga hanya bisa menunggu Devan agar mau bercerita pada mereka.