Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 41 Kejahilan Dewa


__ADS_3

Ayuna membelalakkan matanya mendengar perkataan Dewa yang mengingatkan bahwa Mamanya mengatakan agar Dewa membawanya dan mengijinkannya untuk tidak pulang.


Melihat reaksi calon istrinya yang seperti itu, Dewa tidak tega meneruskan kejahilannya. Dia menarik tangan Ayuna dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.


"Aku sudah memberikan kabar pada mereka ketika kamu sedang berada di dalam kamar mandi tadi," tutur Dewa dengan menghadap ke samping di mana Ayuna sedang duduk di sampingnya saat ini.


"Benarkah?" tanya Ayuna seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dewa.


"Kamu gak percaya? Apa aku seperti sedang berbohong?" tanya Dewa sambil memajukan wajahnya pas di hadapan wajah Ayuna.


Gugup, tegang, itulah yang dirasakan oleh Ayuna saat ini. Badannya seolah tidak bisa digerakkan, hanya bulu matanya yang lentik bergerak naik turun melihat wajah Dewa yang berada tepat di hadapannya.


"Bu-bukan seperti itu. Hanya saja...," perkataan Ayuna mengambang karena Dewa memajukan lebih dekat wajahnya.


Glek!


Ayuna menelan ludahnya melihat wajah Dewa hanya berjarak sepuluh sentimeter dari wajahnya. Hingga kedua hidung mancung mereka saling bertemu.


Dewa menahan senyumnya dan menjauhkan wajahnya. Dia tidak tega menjahili lebih lama lagi calon istrinya itu karena dia takut jika Ayuna lupa caranya bernafas ketika dalam keadaan seperti itu.


"Kamu bisa tanyakan Mama Andini jika kamu masih ragu," ucap Dewa dengan tangannya yang mengambil alih ponsel yang dipegang Ayuna sedari tadi.


Tangan Dewa bergerak lincah pada layar ponsel milik Ayuna. Kemudian dia menghubungi kontak yang bertuliskan mama pada ponsel Ayuna.


Beberapa detik kemudian terdengar panggilan itu tersambung dan Dewa pun menekan loud speaker pada layar ponsel tersebut agar Ayuna dapat mendengarnya.


Ayuna ada apa? Bukannya kalian berdua sedang berada di Villa sekarang? Kenapa kamu menelepon Mama? Sudahlah kalian bersenang-senanglah. Mama sama Papa sedang dinas malam, jangan diganggu. Tut... tut... tut...


Suara Mama Andini yang berbicara tanpa jeda membuat Ayuna tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara.


Bahkan dia dikejutkan oleh perintah mamanya yang menyuruhnya untuk bersenang-senang bersama dengan Dewa.


Dan dia malu pada Dewa ketika mamanya mengatakan sedang dinas malam dengan papanya yang membuat pikiran si pendengar traveling ke mana-mana.

__ADS_1


Dewa menahan tawanya melihat ekspresi Ayuna yang bercampur aduk antara kaget dan malu.


"Benar kan, aku sudah memberitahu pada Mama Andini?" tanya Dewa dengan senyum meledeknya.


Ayuna tersenyum kaku pada Dewa dan dia meraih ponselnya dari tangan Dewa untuk menyimpannya.


Dewa mengerti kegugupan Ayuna saat ini. Dalam ruangan hanya berdua dengan seorang laki-laki pasti membuat Ayuna menjadi takut, gugup dan waspada.


Diraihnya pundak Ayuna dan dibawanya menyandar pada dadanya. Kepala Ayuna pun di letakkannya pada ceruk leher Dewa agar dia merasa nyaman.


"Tenang saja Ay, aku gak akan melewati batasku sebelum kita sah menikah," tutur Dewa sambil mengusap rambut Ayuna yang masih sedikit basah.


"Tapi tadi itu udah...," Ayuna ragu meneruskan ucapannya karena dia malu ketika bayangan mereka yang sedang berciuman terlihat jelas di matanya.


"Hanya ciuman Ay, khilaf. Itu juga karena bibir kamu yang memanggil-manggil untuk dicicipi," sahut Dewa sambil terkekeh.


"Mana ada? Bibir aku gak ngapa-ngapain malah disalahkan. Dasarnya Kak Dewa aja yang mes-"


"Rambut kamu masih basah Ay. Aku bantu mengeringkan ya," Dewa segera menyela perkataan Ayuna agar tidak meneruskan ucapannya yang meyebutkan dirinya sebagai laki-laki mesum.


"Duduk sini, aku akan mengeringkan rambutmu," ucap Dewa sambil mendudukkan Ayuna pada kursi di depan cermin yang digunakan untuk berhias.


Dewa mengambil hair dryer yang ada di laci cermin hias tersebut. Dengan telatennya Dewa mengeringkan rambut Ayuna. Perlahan dan sangat penuh perhatian dia mengeringkannya.


Ayuna menatap ke arah cermin yang memperlihatkan dengan jelas Dewa memperlakukannya sangat istimewa dan penuh perhatian.


Tanpa sadar bibir Ayuna melengkung ke atas melihat seorang Dewa yang cuek pada perempuan kini sedang mengeringkan rambutnya, rambut calon istrinya.


Mata mereka beradu pandang melalui cermin itu. Kedua pasang itu sangat betah memandang ke arah cermin yang tertuju pada mata pasangannya.


Bahagia, bersyukur dan tentu saja Ayuna tidak bisa menolak pesona yang ditunjukkan oleh Dewa padanya.


Dewa yang sangat tampan, berpenampilan sangat menarik, bertubuh atletis dan sangat perhatian padanya membuat Ayuna yakin jika Dewa memang benar-benar sayang padanya.

__ADS_1


Mata Dewa memang menatap cermin, tapi tangannya masih bergerak membolak-bolik rambut Ayuna untuk mengeringkannya seiring dengan gerakan hair dryer yang digerakkan oleh tangan Dewa.


Setelah rambut Ayuna dirasa sudah kering, Dewa segera memutus tatapannya yang beradu dengan mata Ayuna melalui cermin yang ada dihadapan mereka.


Dia memasukkan kembali hair dryer tersebut ke dalam laci, kemudian dia menyisir rambut panjang Ayuna dengan sangat lembut agar calon istrinya itu tidak merasakan kesakitan apabila ada rambutnya yang tidak sengaja tertarik oleh sisir.


Ayuna hanya memperhatikan semua gerakan Dewa yang dilakukannya pada rambutnya.


"Rambutmu indah Ay, aku suka," ucap Dewa pada Ayuna sambil menyisir rambut Ayuna.


Dewa tersenyum melihat melalui cermin ekspresi kaget Ayuna yang menunjukkan rona malunya pada cermin tersebut.


Ayuna gelagapan, dia bingung hendak berbicara apa. Rasanya dia tidak pernah disanjung seperti itu. Bahkan mamanya sendiri tidak pernah mengatakan bahwa rambutnya indah.


"Perasaan rambutku biasa aja deh," gerutu Ayuna lirih tapi masih bisa didengar oleh Dewa.


"Kamu kan luar biasa buatku Ay. Jadi kamu harus biasa untuk orang lain dan hanya menjadi luar biasa untuk Dewa seorang," sahut Dewa yang membuat Ayuna kaget dan tercengang.


Kenapa dia bisa tau pikiranku? tanya Ayuna dalam hatinya.


Ternyata Ayuna mengira jika tadi dirinya mengatakannya dalam hati, sayangnya dia mengatakannya tanpa sadar meskipun dengan suara yang lirih.


"Yuk Ay, kita tidur. Sudah malam, besok pagi-pagi sekali aku akan membawamu untuk melihat matahari terbit di tempat yang sangat indah," tutur Dewa sambil memegang kedua pundak Ayuna dan mengarahkannya ke arah tempat tidur.


Ayuna kembali terbelalak dan gugup ketika tubuhnya sudah duduk di atas tempat tidur tersebut.


Dewa, dia sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut tepat di sebelah Ayuna.


"Ay, ayo cepat tidur di sini," ucap Dewa sambil menepuk-nepuk tempat tidur yang ada di sebelahnya.


"A-aku tidur di sana?" tanya Ayuna gugup sambil menunjuk tempat yang ditunjukkan Dewa padanya.


"Iya. Katanya tadi kamu gak mau tidur sendiri. Ya sudah, kita tidur di sini saja berdua," jawab Dewa dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Ayuna semakin gugup, kemudian dia berkata,


"A-aku belum ngantuk."


__ADS_2