
Di kampus, berita lamaran Dewa dan Ayuna sudah tersebar. Mereka tetap sinis pada Ayuna karena berhasil mendapatkan Dewa yang menjadi incaran mereka.
Sedangkan Dewa diam-diam dia sangat menjaga Ayuna. Dia menjaga calon istrinya itu agar tidak kembali menjadi sasaran mereka-mereka yang menaruh hati padanya.
Hari ini Devan sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Felix, Gavin dan Viktor berencana akan menjenguk Devan di rumahnya. Tentu saja mereka mengajak Ayuna ke sana karena Ayuna juga bagian dari mereka.
Reina mengajak Ayuna ke kantin untuk mengisi perut mereka sebelum kelas kembali di mulai. Semua mata yang ada di kantin menatap Ayuna dengan tatapan yang aneh menurut Ayuna. Dia tidak mau ambil pusing dan tidak mau memikirkan hal yang tidak jelas seperti itu.
Mereka berdua segera memesan makanan dan minuman untuk mengisi perut mereka yang cacingnya sudah berdemo meminta diberi makanan.
"Ayuna, nanti pulangnya kita ke rumah Devan ya. Dia sudah pulang tadi pagi," ucap Felix yang sudah duduk di kursi di depan Ayuna.
"Oh oke. Bagaimana keadaannya?" tanya Ayuna sambil memakan baksonya.
"Sepertinya dia bersedih karena kamu tidak menjenguknya," jawab Gavin yang sedang memakan batagor yang dia bawa ke meja Ayuna.
"Maaf, aku belum sempat menjenguknya. Apa kalian setiap hari ada bersama dengannya?" ucap Ayuna yang menunjukkan wajah menyesalnya.
"Jelas dong, kita kan sahabat," sahut Viktor setelah menelan baksonya.
Ayuna melirik Viktor dengan tatapan tajam, kemudian dia berkata,
"Kamu gak sedang menyindir ku kan?"
"Hahaha... mana berani kita nyindir kamu Yuna. Bisa-bisa kami dihabisi oleh Devan. Belum lagi nanti kalau Pak Dewa tau, pasti nilai kami jadi taruhannya," ucap Viktor sambil tertawa.
"Kenapa jadi bawa-bawa mereka sih? Bilang aja kalau kamu memang takut sama aku," tukas Ayuna sambil menatap tajam Viktor.
"Ampun Ayuna, ampun...," ucap Viktor sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
"Beeeh... tatapannya gak nahan...," ucap Felix sambil terkekeh.
__ADS_1
Sontak saja Ayuna menancapkan garpunya pada bakso besar dengan tatapan mata bengis pada sahabat-sahabatnya itu seolah mengancam mereka.
Secara bersamaan mereka menelan ludahnya dan bergidik ngeri melihat Ayuna yang seperti itu. Bagi mereka perempuan yang paling mereka takuti adalah Ayuna selain ibu mereka tentunya.
Bagi mereka Ayuna adalah sahabat perempuan mereka yang jika sudah ngambek, sangat sulit sekali di bujuk. Pernah mereka membuat Ayuna kesal berhari-hari dan tidak mau berbicara pada mereka, sehingga mereka harus membujuk Ayuna apapun caranya.
Sialnya permintaan Ayuna sangat menyulitkan mereka. Ayuna menyuruh mereka untuk melayaninya dan menuruti kemauannya selama satu bulan. Dan itu membuat mereka sangat kerepotan karena Ayuna tidak mau dibantah ataupun menunda perintahnya.
Setelah kelas mereka berakhir, Felix, Gavin dan Viktor segera menemui Ayuna ke kelasnya. Ayuna segera diseret oleh mereka bertiga agar cepat-cepat ikut mereka ke rumah Devan.
"Eeeeehh... bentar dong, main tarik aja. Emangnya aku kuda ditarik-tarik?" omel Ayuna seiring langkah kakinya.
Tangan kanan Ayuna ditarik oleh Felix dan tangan kiri Ayuna ditarik oleh Viktor. Sedangkan Gavin bertugas mengemudikan mobilnya.
"Vin, gak ikutan narik aku?" tanya Ayuna sambil berjalan dan tangannya masih ditarik oleh kedua sahabatnya itu.
"Udah gak ada tempat. Apa kamu mau aku gendong aja biar aku ikutan adegan culik menculik ini?" ucap Gavin sambil terkekeh.
"Enak aja, mau aku kirim ke kuburan?" Ayuna mengancam Gavin dengan tatapan bengis.
Dewa menghubungi ponsel Ayuna sedari tadi, tapi tidak ada jawaban ataupun pesan balasan darinya.
Hari ini Dewa pulang terlebih dahulu karena ada pekerjaan di lain tempat yang harus dia kerjakan. Tapi pikirannya tidak tenang karena meninggalkan Ayuna yang masih ada di kampus dan belum tahu tentang keberadaan Dewa saat ini.
Rencananya ketika jam pulang Ayuna, Dewa akan menjemputnya. Sayangnya, ponsel Ayuna tidak juga dapat dihubunginya.
Dewa segera menuju kampus karena urusannya memang sudah selesai. Dalam perjalanannya ke kampus, tak henti-hentinya dia menghubungi Ayuna dan tetap saja tidak ada jawaban dari Ayuna.
Langkah kaki Dewa yang lebar dan sedikit berlari kecil membuatnya lebih cepat sampai di kelas Ayuna. Sayangnya kelas sudah berakhir, dia tidak menemukan siapapun di dalam kelas tersebut.
Dewa mengambil ponselnya dari saku celananya. Sekali lagi dia menghubungi ponsel Ayuna dan tetap saja tidak ada jawaban darinya.
__ADS_1
Dengan kecemasannya yang luar biasa, Dewa menghubungi Bu Andini untuk menanyakan keberadaan Ayuna. Sayangnya Mama dari Ayuna itu juga tidak tahu di mana anaknya berada.
"Pak Dewa?!" seru Reina ketika masuk ke dalam kelasnya.
Dewa melihat ke arah yang memanggilnya. Dia memicingkan matanya pada Reina, mengingat-ingat siapa Reina yang menurut Dewa tidak asing baginya.
"Emmm... kamu yang biasanya bersama dengan Ayuna kan?" tanya Dewa yang masih berusaha mengingat Reina.
"Iya Pak. Nama saya Reina. Saya teman dekat Ayuna. Bapak kenapa ada di sini?" ucap Reina yang merasa heran melihat keberadaan Dewa di dalam kelas ya pada saat kelas sudah berakhir.
"Saya mencari Ayuna. Kamu tau di mana dia sekarang?" tanya Dewa dengan menatap Reina menunggu jawabannya.
"Oh Ayuna, dia tadi bersama Felix, Gavin dan Viktor mau ke rumah Devan Pak. Tadi pagi kan Devan sudah pulang dari Rumah sakit, jadi mereka menjenguknya," jawab Reina dengan tenang sesuai yang dia ketahui.
"Kok kamu gak ikut?" tanya Dewa kembali mencari tahu.
"Kan saya bukan bagian dari mereka Pak. Saya cuma teman dekatnya Ayuna saja, bukan teman dari mereka berempat," jawab Reina tanpa berpikir.
Tampak Dewa sedang berpikir. Dia sangat kesal karena Ayuna tidak memberi kabar padanya. Dan jika Ayuna meminta ijin padanya pun pasti Dewa tidak akan membiarkannya pergi bersama teman-temannya itu tanpa dirinya.
"Kamu tau di mana rumah Devan?" tanya Dewa menelisik.
Reina menggelengkan kepalanya, kemudian dia tersenyum lebar dan menjawab pertanyaan Dewa.
"Hehehe... enggak tau Pak."
Dewa menghela nafasnya kasar. Tanpa sadar dia mengacak-acak rambutnya seperti orang frustasi di hadapan Reina.
Reina yang memang mengidolakan Dewa, tidak berhenti menatap Dewa dengan penuh kekaguman. Hingga akhirnya dia tersadar ketika Dewa melewatinya dan mengucapkan terima kasih padanya ketika berjalan keluar kelas.
"Eh aku ke sini kan mau ambil buku, kok sampai lupa sih. Bisa-bisa balik lagi nanti. Ah gara-gara Pak Dewa nih, aku jadi lupa," Reina bermonolog sambil mencari bukunya di bangkunya.
__ADS_1
Dewa kini berlari kecil menuju ruangan yang menyimpan data semua mahasiswa. Dia ingin mencari alamat Devan untuk mendatanginya dan menjemput Ayuna untuk pulang bersamanya.
"Apa ini benar alamatnya?" gumam Dewa sambil membawa secarik kertas yang bertuliskan alamat Devan.