Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 53 Surprise!!!


__ADS_3

Menikah, kata yang seperti teror di telinga Ayuna. Dewa selalu saja mengatakannya dan mengajaknya untuk segera menikah dengannya.


"Apa dia sangat ingin sekali menikah denganku? Tiap hari, tiap waktu, tiap ngomong, selalu aja ngajak nikah. Dipikir gak beban apa buat aku? Aku ini takut, tau gak sih?" Ayuna bermonolog di dalam kamarnya dengan melihat foto dirinya bersama dengan Dewa pada saat di perkebunannya waktu itu.


Sejak Ayuna meminta Dewa untuk berjanji, semenjak itu pula Dewa gencar mengajaknya untuk menikah. Dan sejak itu Ayuna merasa seperti diteror dengan kata nikah oleh Dewa.


"Apa aku terima saja ajakannya untuk menikah? supaya gak diteror terus?" tanya Ayuna kembali pada dirinya.


"Tapi aku belum siap kalau punya anak. Gimana ya?" ucap Ayuna sambil berpikir mencari solusi agar dia tidak terus-terusan ditanya oleh Dewa, kedua orang tua Dewa dan kedua orang tuanya sendiri.


Kedua orang tua mereka memang selalu mempertanyakan tentang rencana pernikahan mereka. Dan semuanya menatap Ayuna untuk menunggu jawabannya karena mereka semua tahu jika Dewa siap sedia menikahinya, sedangkan dirinya masih ragu dan belum siap untuk menjalani kehidupan pernikahan yang mengubah statusnya menjadi seorang istri.


"Ah bodoh amat lah. Aku jadi stres mikirnya. Sekarang aku harus memikirkan gimana caranya aku bisa cepat lulus," ucap Ayuna kembali.


"Gampang itu, tinggal minta si Dewa untuk membantu kamu aja. Dijamin pasti lancar dan cepat lulusnya."


Tiba-tiba ada suara yang membuat Ayuna terkejut dan menoleh ke arah pintu kamarnya.


"Mama?! Sejak kapan Mama di situ?" seru Ayuna kaget melihat mamanya yang tiba-tiba saja berada di dalam kamarnya.


"Sejak kamu bilang stres," jawab Bu Andini sambil mengacak-acak rambut Ayuna.


Untung aja gak dari tadi dengernya. Kebiasaan ih Mama suka masuk kamar orang tanpa permisi, Ayuna mengomel dalam hatinya.


"Udah Yuna, lebih baik kamu terima saja ajakan Dewa untuk segera menikah, pasti nanti kamu lebih semangat kuliahnya dan cepat lulus. Mama jamin deh," ucap Bu Andini sambil mengusap punggung Ayuna.


"Apa iya Ma? Kalau ternyata Yuna gak semangat, berarti Yuna bisa komplain ke Mama dong. Kan Mama yang menjamin," tukas Ayuna sambil menggerak-gerakkan bulu matanya yang lentik.


"Kamu ini ada-ada aja. Iya deh iya, Mama yang kasih jaminan. Tapi kamu harus buatin Mama cucu ya, Mama udah pengen banget gendong cucu," tutur Bu Andini sambil tangannya mempraktekan menggendong cucu.


"Lah kok jadi cucu sih bahasannya? Ah Mama gak seru," Ayuna merajuk agar Bu Andini tidak membahas kembali tentang cucu dengannya.

__ADS_1


"Kan kalau habis nikah pasti punya anak Yuna. Kamu gak pengen apa punya anak yang cantik seperti kamu dan ganteng seperti Dewa?" Bu Andini tidak mau kalah berdebat dengan Ayuna.


"Ya pasti pengen lah Ma. Tapi kan gak sekarang Ma. Besok-besok aja kan bisa," jawab Ayuna membela dirinya.


"Husss... gak boleh ngomong gitu. Takutnya beneran kejadian. Kalau ngomong harus yang baik-baik. Ngerti anak cantik Mama?" tutur Bu Andini dengan memeluk tubuh putrinya itu.


Setelah itu Bu Andini memberikan wejangan dan pengertian agar Ayuna tidak menjadikan pernikahannya sebagai beban, dia sebagai ibunya juga memberitahukan harapannya pada Ayuna agar mau menikah dengan Dewa.


Keesokan harinya, Dewa dan Ayuna berangkat ke Kampus bersama-sama. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih seperti biasanya. Hanya saja ketika mereka berada di dalam kelas, mereka tetap seperti guru dan muridnya. Bahkan Dewa tidak segan-segan untuk menegur Ayuna apabila dia melakukan kesalahan.


Banyak sekali kasak-kusuk yang didengar oleh Ayuna. Mereka mempermasalahkan tentang kepergiannya bersama dengan Dewa dan keempat sahabat-sahabatnya itu ke puncak waktu itu.


Mereka mengetahuinya dan membicarakannya dengan menjadikan Ayuna bahan utama pembicaraan mereka.


"Gampangan banget sih jadi cewek."


"Gak mungkin banget kan mereka gak menginap di sana?"


"Jangan-jangan mereka sudah melakukan hal di luar batas."


"Ternyata seperti itu cara dia mendapatkan hati Pak Dewa."


"Pantesan Pak Dewa bisa langsung melamar dia."


"Jangan-jangan udah isi."


Semua perkataan mereka itu didengar oleh Ayuna, bahkan Dewa yang tidak sengaja mendengarnya pun merasa emosi dan ingin sekali membuat perhitungan dengan mereka karena telah memfitnah kekasih hatinya.


Lihat saja nanti, pasti mulut kalian akan aku buat diam dan tidak membicarakan Ayuna lagi, Dewa berkata dalam hatinya dengan mengepalkan tangannya untuk menggambarkan kekesalannya dan menahan emosinya.


Dewa mengerti perubahan raut wajah Ayuna yang sepertinya memaksakan dirinya untuk tersenyum di hadapan Dewa.

__ADS_1


Dewa sangat sedih melihat kekasih hatinya itu tidak menjadi Ayuna yang periang. Ayuna yang biasanya ceria, cerewet dan menggemaskan kini menjadi pendiam dan senyumnya pun sangat dipaksakan.


Tunggu saja Ay, aku sudah menyelesaikan semuanya. Kamu tunggu saja besok dan kita akan jelang kebahagiaan kita bersama tanpa ocehan dari orang lain seperti sekarang ini, Dewa berkata dalam hatinya ketika melihat Ayuna di dalam kelasnya dengan wajah murung dan tidak bersemangat.


"Dewa, Ayuna kenapa kok kayaknya banyak pikiran gitu?" tanya Bu Andini ketika Dewa mengantarkan Ayuna masuk ke dalam rumahnya.


"Ada yang membicarakan tentang kami Ma," jawab Dewa dengan lemas sambil menatap punggung Ayuna yang berjalan menaiki tangga untuk ke kemarnya.


"Membicarakan bagaimana?" tanya Bu Andini dengan wajah bingungnya.


Dewa menceritakan semua omongan miring tentang Ayuna dan dirinya. Ternyata mereka mengetahuinya dari unggahan saudara salah satu dari mahasiswa yang bekerja di cafe milik Dewa. Hanya saja Dewa tidak mengetahui hal itu karena dia tidak mencari tahu lebih banyak masalah itu. Dia hanya fokus untuk mencari cara agar Ayuna tidak lagi menjadi bahan perbincangan yang buruk untuk mereka.


"Oh jadi karena itu kamu membuat acaranya besok?" tanya Bu Andini sambil terkekeh.


"Iya Ma. Sebenarnya sudah lama saya menyiapkannya, hanya saja untuk kapannya mereka menunggu kepastiannya dari saya. Dan menurut saya saat inilah tepatnya untuk mewujudkan itu," jawab Dewa dengan tersenyum malu.


"Mama senang sekali dengan hubungan kalian. Mama doakan agar kalian tetap langgeng ya. Dan Mama harap kamu tidak akan pernah membuat Ayuna menangis apapun yang terjadi," tutur Bu Andini sambil mengusap lengan Dewa dan tersenyum padanya.


"Saya janji Ma. Dan mohon selalu mengingatkan saya apabila saya salah," ucap Dewa dengan membalas senyum pada Bu Andini.


Bu Andini tersenyum dan mengangguk, kemudian dia mengajak Dewa untuk makan malam bersama keluarga mereka.


Keesokan harinya, Dewa hanya mengantar Ayuna ke kampus dan dia ijin tidak mengajar dengan alasan tertentu.


Tentu saja Ayuna curiga padanya, hanya saja semua pikiran itu teralihkan oleh omongan-omongan buruk tentangnya dari sekelilingnya.


Sore harinya, ketika kelas Ayuna sudah selesai, tiba-tiba Dewa datang menjemputnya dengan berpenampilan sangat mempesona.


Dewa memakai setelan jas berwarna putih dan membawa mobil sport warna putih di parkiran dengan membawa buket bunga mawar putih yang sangat besar menunggu Ayuna.


"Surprise...!!!"

__ADS_1


__ADS_2