Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 38 Ayuna ada di mana-mana


__ADS_3

Setelah dirasa mereka sudah cukup berada di tempat itu, Dewa segera mengajak Ayuna turun ke lantai bawah.


Ketika melihat Dewa turun dari lantai atas, segera Felix, Gavin dan Viktor menutupi Devan dengan tubuh mereka agar tidak terlihat oleh Dewa dan Ayuna. Mereka memunggungi Dewa dan Ayuna agar tidak mengetahui kehadiran mereka di tempat itu.


Sebenarnya mereka tidak ingin berbuat seperti itu. Mereka ingin mengajak Dewa dan Ayuna makan bersama mereka semeja bersama. Sayangnya itu akan menambah luka Devan, sehingga mereka berusaha menutupi kehadiran mereka di tempat itu.


Terlihat Dewa yang sangat perhatian dengan Ayuna. Dia menjaga Ayuna dalam tiap langkahnya dan juga selalu menggandeng tangannya agar tidak terlepas darinya.


Setelah Dewa berbincang-bincang dengan penanggung jawab cafe tersebut, dia mengajak Ayuna menuju mobilnya.


"Kalau kayak gini ceritanya sih malah sakit hati yang ada. Udah, sekarang kita cari kenalan cewek aja," tukas Viktor sambil matanya berkeliling mencari perempuan yang sekiranya bisa mereka ajak berkenalan.


"Itu, ada cewek. Kita ajak kenalan aja mereka," ucap Gavin sambil menunjuk meja yang terdiri dari beberapa perempuan.


"Yuk lah, daripada gak ada ceweknya. Biasanya kan ada-"


Mulut Viktor di bekap oleh tangan Felix karena Felix tau jika Viktor akan menyebut nama Ayuna.


"Kita ke sana sekarang," sahut Gavin sambil merangkul pundak Devan dan mengajaknya menuju meja perempuan-perempuan tersebut.


"Hai, boleh kenalan kan?" tanya Viktor sambil mengulurkan tangannya.


Tiga perempuan dalam satu meja itu menoleh ke arah mereka berempat. Kemudian salah satu dari mereka mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Viktor.


"Ayu," ucap salah satu perempuan tersebut.


Viktor kaget mendengar nama perempuan tersebut, begitupula dengan Felix, Gavin dan Devan. Mereka berempat sepertinya berpikiran sama ketika mendengar perempuan tersebut menyebutkan namanya.


Kemudian Ayu berjabat tangan dengan Felix, Gavin dan Devan. Setelah itu perempuan yang selanjutnya memperkenalkan dirinya dengan menjabat tangan Viktor yang diulurkan padanya.


"Yuna," ucap perempuan tersebut.


Sontak saja mereka berempat seperti tersedak sesuatu. Antara ingin tertawa dan kaget mendengar perempuan tersebut menyebutkan namanya.


Setelah mereka semua berjabat tangan dengan Yuna, kemudian giliran perempuan satunya lagi untuk memperkenalkan dirinya. Dia menjabat tangan yang diulurkan Viktor padanya.

__ADS_1


"Nana," ucap perempuan tersebut.


Mereka berempat, Felix, Gavin, Viktor dan Devan saling menoleh. Mereka benar-benar tidak mengira jika hidup mereka masih dipenuhi dengan Ayuna.


Setelah mereka berkenalan, mereka kembali ke meja mereka sendiri karena melihat wajah Devan yang kembali suntuk mendengar nama mereka.


"Aneh, diantara begitu banyaknya nama, kenapa semua masih berputar pada Ayuna?" ucap Viktor ketika baru saja duduk di kursinya.


Memang tidak ada yang bernama Ayuna, tapi nama mereka mengingatkan pada Ayuna. Dulu, ketika mereka berempat berkenalan dengan Ayuna, mereka mempunyai nama panggilan sendiri-sendiri untuk Ayuna.


Menurut mereka berempat nama Ayuna sangat sulit untuk memanggilnya. Felix memanggil Ayuna dengan nama Ayu. Gavin memanggil Ayuna dengan nama Nana. Sedangkan Viktor dan Devan memanggil dengan nama Yuna, sesuai dengan permintaan Ayuna.


Lambat laun Felix dan Gavin ikut memanggil dengan nama Yuna atau Ayuna karena si pemilik nama tersebut selalu protes dan marah jika mereka memanggil dengan nama lain kecuali Yuna atau Ayuna.


Devan meminum jusnya dengan sekali tenggak. Felix, Viktor dan Gavin memakan French fries dan snack combination sambil berbincang.


"Jauh-jauh loh kita ke sini. Niatnya pengen sejenak menghilangkan Ayuna dari pikiran Devan. Eh gak taunya malah ketemu dia di sini. Belum lagi nama cewek-cewek itu samaan sama dia. Parah gak sih?" tukas Gavin disela kegiatan mengunyahnya.


"Tau nih. Kita cabut ke villa aja kali ya. Kita beli aja makanan buat di sana," ucap Felix sambil melihat kembali menu yang ada.


Felix pun segera memesan makanan dan minuman untuk mereka bawa ke villa yang mereka tempati malam ini.


Dari cafe menuju parkiran mobil Dewa masih terguyur hujan. Petugas yang berjaga untuk menjaga parkiran dan memayungi pengunjung tidak nampak saat itu.


"Kamu pasti kedinginan. Sini biar aku peluk," ucap Dewa sambil memeluk tubuh Ayuna dari samping


"Ih, ini sih maunya kamu aja Kak," ucap Ayuna sambil terkekeh.


"Daripada kamu hipotermia kan gawat," ujar Dewa sambil mengeratkan rangkulannya agar tubuh Ayuna lebih mendekat padanya.


"Ckckck... akalnya pinter banget Bapak dosen yang satu ini," tukas Ayuna sambil terkekeh.


Dewa pun ikut terkekeh dan lebih mengeratkan lagi pelukannya agar badan mereka lebih hangat.


"Ini mana ya mereka, kok gak ada yang nyamperin bawa payung?" ucap Dewa yang mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok petugas yang harusnya memayungi mereka.

__ADS_1


"Kita lari aja yuk Kak, daripada di sini malah kedinginan," tukas Ayuna yang kini lebih merapatkan dirinya pada tubuh Dewa.


"Yakin? Nanti basah loh," tanya Dewa meyakinkan.


"Yakin banget. Ayo Kak daripada kedinginan di sini," jawab Ayuna yang melihat Dewa dengan mata puppy eyes nya.


"Ya udah, kita pakai ini saja ya. Untung jas ku masih aku pakai Ay. Kamu ini ada-ada aja," tutur Dewa sambil mencubit hidung Ayuna.


Kemudian Dewa melepas jas yang dipakainya untuk memayungi mereka dari cafe menuju parkiran mobilnya.


"Pegangan yang erat Ay," tukas Dewa ketika bersiap meletakkan jas yang dia pakai di atas kepala mereka berdua.


Ayuna melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dewa dan lebih mempererat tubuhnya sehingga tidak ada jarak pada tubuhnya dan tubuh Dewa.


Mereka berjalan cepat menuju parkiran mobilnya dengan menjadikan jas Dewa sebagai payung mereka. Anehnya Ayuna malah tertawa senang kala itu, sehingga Dewa pun ikut tertawa di tengah hujan yang menerpa mereka.


"Maaf Pak tadi saya sedang ke kamar kecil jadi tidak tau jika Bapak akan ke mobil."


Tiba-tiba ada suara yang mengalihkan perhatian mereka. Ternyata petugas yang dicari oleh Dewa mendatangi mereka dengan membawa dua buah payung ketika mereka sudah sampai di depan mobil mereka. Kemudian payung tersebut dipayungkan oleh orang tersebut pada mereka berdua.


"Gapapa Pak, toh kita sudah sampai di sini," ucap Ayuna sambil terkekeh.


Ayuna takut jika petugas tersebut dimarahi oleh Dewa, sehingga dia yang segera menyahut menjawab permintaan maaf petugas tersebut.


"Sekali lagi saya minta maaf Pak," ucap petugas cafe tersebut penuh permohonan.


"Gapapa Pak. Berkat Bapak kita jadi main hujan-hujanan dan kita jadi punya pengalaman baru," ucap Dewa sambil terkekeh.


"Wah saya benar-benar merasa bersalah Pak. Maafkan saya Pak," ucap petugas cade tersebut dengan menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa Pak, kami malah senang kok. Iya kan Kak?" ucap Ayuna sambil bertanya pada Dewa untuk mencari dukungannya.


Dewa pun tersenyum dan lebih menarik tubuh Ayuna ke dalam pelukannya. Kemudian dia berkata,


"Iya Pak, kita lebih senang karena kita bisa lebih dekat, seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2