
Dewa kaget mendapat ciuman dari istrinya ketika dia dalam keadaan mengemudi. Meskipun hanya pada pipinya saja, Dewa merasa lega karena menurutnya Ayuna tidak marah dengan mamanya.
Dewa menoleh sekilas ke arah Ayuna dan memberikan senyumnya padanya. Kemudian dia kembali menghadap depan untuk fokus pada jalanan.
Ayuna mengerti jika Dewa, suaminya itu sangat khawatir padanya. Oleh sebab itu dia tidak menampakkan kekecewaan dan sakit hatinya pada suaminya.
"Kita mau ke mana Sayang?" tanya Ayuna sambil memandang ke arah suaminya dan memberikan senyumnya.
"Kita akan ke suatu tempat yang pasti kamu sukai," jawab Dewa sambil fokus pada jalanan yang sudah mulai ramai pada jam pulang kerja.
Ayuna mengernyitkan dahinya, matanya berputar sambil memikirkan tempat yang Dewa maksud.
"Di mana sih Sayang? Jauh?" tanya Ayuna dengan rasa ingin tahunya.
"Penasaran ya?" tanya Dewa sambil terkekeh.
Ayuna mengeluarkan puppy eyes nya dan dia menjawab dengan suara dibuat sesedih mungkin.
"Iya, penasaran."
Dewa terkekeh dan memegang pipi istrinya itu dengan pandangan masih fokus pada jalanan. Kemudian dia berkata,
"Sebentar lagi kita sampai. Kamu pasti akan senang berada di sana."
Ayuna kembali pada posisi duduknya semula. Dia berpura-pura kesal pada Dewa. Sayangnya Dewa tetap pada pendiriannya, dia ingin memberikan kejutan pada istrinya.
Mereka berdiam selama berada di dalam mobil. Dewa tidak banyak bicara karena suasana hatinya masih ada rasa marah pada Reina.
Tidak seperti biasanya yang selalu berusaha membujuk Ayuna jika dia merajuk. Kali ini Dewa benar-benar fokus pada jalanan dan berusaha menahan emosinya.
Kok Kak Dewa gak mencoba membujuk aku sih? Biasanya kan dia langsung membujuk aku kalau aku sedang merajuk. Tapi... sepertinya dia masih marah. Apa karena Reina? Ayuna bertanya-tanya dalam hatinya.
Setelah beberapa saat, Dewa membelokkan mobilnya masuk ke dalam rumah yang berpagar tinggi dan sangat mewah, bahkan terkesan sangat elegan.
Ayuna sangat terkesan pada bangunan yang ada di hadapannya itu. Bahkan dia terpanah melihatnya, hingga dia masih tetap berada di dalam mobil ketika Dewa sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Silahkan Tuan Putri...," ucap Dewa sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Ayuna keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Ayuna menyambut uluran tangan Dewa dan dia keluar dari mobil itu dengan mata yang masih memandang takjub pada bangunan mewah yang ada di hadapannya.
"Ini rumah siapa Sayang?" tanya Ayuna pada Dewa dengan menatap sekelilingnya.
"Rumah Nyonya Ayuna, istrinya Dewa Arion," jawab Dewa dengan tersenyum manis padanya.
"Hah?!" celetuk Ayuna kaget.
"Surpriseeeee...!!!" teriak Dewa sambil merentangkan kedua tangannya ke samping.
Mata Ayuna semakin melebar, dia benar-benar terkejut mendengar jika rumah yang sangat mewah dan elegan itu diberikan Dewa untuknya.
"Beneran?" tanya Ayuna dengan ekspresi tidak percayanya.
"Iya, beneran. Aku sengaja buat rumah ini untuk kamu," jawab Dewa dengan mencubit gemas hidung mancung Ayuna.
"Ta... tapi... buat apa?" tanya Ayuna dengan wajah polosnya.
"Buat tempat tinggal kita Sayang. Rumah ini sesuai dengan yang kamu inginkan bukan? Dan rumah ini atas namamu, sama seperti restoran Ayuna yang memakai namamu," Dewa menjelaskan dengan lembut dan tersenyum manis padanya.
"Berarti rumah dan restoran itu punyaku?" tanya Ayuna yang merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Tadinya rumah ini akan aku jadikan hadiah ulang tahun kamu lusa, tapi sekarang pun gak masalah. Aku akan memberikan hadiah yang lain untuk ulang tahunmu," tutur Dewa yang masih betah memeluk tubuh istrinya.
Ayuna mengurai sedikit pelukannya, kemudian dia menatap wajah suaminya dan berkata,
"Gak usah. Semuanya lebih dari cukup Sayang... Bahkan baru saja kamu memberiku kejutan restoran itu dan sekarang rumah ini. Aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung sekali."
"Aku sangat senang jika kamu merasa menjadi wanita yang sangat beruntung, karena aku ingin memberimu kejutan setiap hari," tutur Dewa dengan senyumnya yang sangat menawan.
"Tapi aku... aku merasa tidak layak kamu perlakukan seperti ini. Bahkan aku belum bisa memberikanmu-"
"Aku gak pernah minta apa-apa padamu Sayang... aku hanya punya satu permintaan saja," Dewa menyela ucapan Ayuna karena dia tau arah pembicaraan istrinya itu yang akan membicarakan masalah anak.
"Apa itu?" tanya Ayuna dengan antusias.
"Jangan pernah tinggalkan aku untuk alasan apapun, kecuali maut yang memisahkan kita. Mengerti?" Dewa mengucapkannya dengan menatap intens mata Ayuna agar bisa meyakinkannya.
__ADS_1
Ayuna pun mengangguk setuju dan tersenyum menjawab pertanyaan Dewa.
"Aku janji tidak akan meninggalkan suami bucinku ini sampai kapanpun dan dengan alasan apapun."
"Bagus. Sekarang kita masuk ke dalam dan menginap di sini," ucap Dewa sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Ayuna dan menuntunnya masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Memangnya sudah siap semuanya?" tanya Ayuna ragu sambil berjalan beriringan dengan suaminya.
"Mau pindah sekarang pun juga bisa. Di sini sudah lengkap semuanya," jawab Dewa dengan penuh percaya diri.
"Mmm... sombong," ucap Ayuna sambil tangannya lebih erat memeluk pinggang Dewa.
Dewa pun tertawa mendengar perkataan istrinya yang selalu dikatakannya ketika Dewa sangat percaya diri.
"Sudah pasti dong... Dewa...," ucap Dewa yang sangat percaya diri sekali.
Mereka disambut satu orang pelayan laki-laki dan satu orang pelayan perempuan yang merupakan suami istri. Mereka berdua dipekerjakan oleh Dewa untuk mengurus rumah tersebut.
"Perkenalkan, ini Pak Amat dan ini Bik Ida yang bekerja di sini," Dewa memperkenalkan dua orang pelayan itu pada Ayuna.
Ayuna tersenyum pada mereka berdua dan dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan pada mereka. Sayangnya mereka enggan untuk menjabat tangan Ayuna, karena mereka merasa tidak sopan jika menjabat tangan majikannya.
"Pak, Bik, ini Ayuna istri tercinta saya. Tolong patuhi semua perintahnya dan penuhi semua keinginannya. Jangan sampai istri cantik saya ini bersedih," tutur Dewa pada Pak Amat dan Bik Ida.
Ayuna malu, dia mencubit lengan suaminya. Dia tidak menyangka jika suaminya yang cuek itu bisa memujinya di hadapan orang yang baru ditemuinya.
"Baiklah Tuan, Nyonya. Apa ada yang perlu kami kerjakan sekarang?" tanya Pak Amat pada Dewa dan Ayuna.
"Tolong buatkan kami makanan yang lezat. Dan jika pekerjaan kalian sudah selesai, tolong tinggalkan kami berdua," tutur Dewa pada Pak Amat dan Bik Ida.
Setelah itu mereka meninggalkan Dewa dan Ayuna hanya berdua. Bik Ida memasak makanan untuk Dewa dan Ayuna, sedangkan Pak Amat berkeliling ke setiap ruangan untuk memeriksa kerapihan dan kebersihannya.
"Tuan, Nyonya, silahkan ke meja makan. Semua makanannya sudah saya siapkan," ucap Bik Ida menyela keromantisan Dewa dan Ayuna yang sedang duduk berdua di taman bunga.
"Baiklah. Terima kasih Bik," ucap Dewa menanggapi perkataan Bik Ida.
"Terima kasih ya Bik," ucap Ayuna sambil tersenyum tulus pada Bik Ida.
__ADS_1
Setelah itu Bik Ida dan Pak Amat pergi dari rumah tersebut menuju rumah mereka yang dibuatkan oleh Dewa khusus untuk mereka di belakang rumah mewahnya.
Namun, sebelum mereka pulang, Pak Amat memberitahukan pada petugas keamanan rumah tersebut agar berjaga dengan sungguh-sungguh karena Dewa dan Ayuna berada di dalam rumah tersebut. Dan dia juga berpesan agar tidak menerima tamu siapapun.