
Bu Intan mengarahkan ponselnya pada telinganya. Dia terlihat sibuk menelepon seseorang sedari tadi. Sepertinya orang yang dia hubungi tidak menjawab teleponnya.
Saat ini Reina dan Bu Intan sedang duduk di ruang tamu. Mata Reina berkelana mencari sosok Dewa ataupun Ayuna.
Apa mereka berdua benar-benar gak pulang dari kemarin? Lalu, di mana mereka menginap? Sekarang mereka ada di mana? Apa aku harus menanyakannya ya? Reina bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ke mana mereka?" ucap Bu Intan lirih, tapi masih bisa didengar oleh Reina.
"Siapa Tante?" tanya Reina menyelidik.
"Eh tidak, bukan siapa-siapa," jawab Bu Intan dengan senyum yang dipaksakan.
"Pak Dewa sama Ayuna ke mana Tante? Apa mereka tidak pulang dari kemarin?" tanya Reina kembali mencoba mencari tahu.
Bu Intan tersenyum, dia tahu apa maksud dari pertanyaan Reina itu. Kemudian dia duduk kembali di kursi yang berada di depan Reina.
"Mereka kan suami istri, jadi Tante tidak berhak tau mereka ada di mana," jawab Bu Intan sambil terkekeh.
"Tapi Tante kan mamanya Pak Dewa, jadi sudah sewajarnya jika ingin tau anaknya berada di mana sekarang," tukas Reina seolah tidak bisa dibantah.
Bu Intan kembali terkekeh, dia sangat mengerti apa yang diinginkan oleh Reina. Kemudian dia berkata,
"Mereka sudah sering seperti ini. Mereka itu selalu ingin berbulan madu di setiap kesempatan. Masa' iya setiap mereka pergi Tante harus tau mereka ke mana."
Reina kecewa. Dalam hatinya dia tidak rela melihat Ayuna yang selalu diberikan kebahagiaan oleh Dewa.
Kenapa mesti Ayuna sih? Aku kan juga ingin mendapatkan kebahagiaan seperti Ayuna. Kenapa hanya Ayuna saja yang selalu mendapatkan kebahagiaan dari semua orang? Ini benar-benar tidak adil. Aku juga harus bahagia, Reina berkata dalam hatinya.
"Apa Tante tidak ingin memiliki cucu? Eh maaf Tante, bukan itu maksud saya. Hanya saja biasanya semua orang tua yang anaknya sudah menikah, pasti mereka menginginkan hadirnya cucu. Tapi saya melihat Tante dan mamanya Ayuna tidak mempermasalahkan itu. Ayuna sangat beruntung sekali," ucap Reina sambil memandang Bu Intan dengan sungkan.
Bu Intan diam, dia memandang Reina dengan tatapan yang dalam. Dia menyelami maksud dari perkataan Reina melalui gerak gerik dan matanya. Kemudian dia berkata,
"Sudah pasti, kami para orang tua sangat menginginkan adanya cucu, sama seperti orang tua yang lainnya."
"Tapi Tante dan-"
__ADS_1
"Apa kita perlu datang ke tempat kerja kamu untuk menanyakannya?" Bu Intan menyela perkataan Reina agar dia tidak menanyakan hal yang sangat pribadi dalam keluarga mereka.
"Apa maksud Tante kita berdua akan datang ke restoran?" tanya Reina dengan mata yang berbinar.
"Apa boleh buat. Apa kamu akan menunggu Dewa saja? Belum tentu juga dia akan membantumu bukan?" tukas Bu Intan sambil tersenyum tipis.
Seketika raut wajah Reina berubah. Perkataan Bu Intan memang benar, hanya saja rasanya menusuk di hati Reina.
"Baiklah jika menurut Tante itu yang terbaik. Saya hanya berharap bisa bekerja lagi di sana," ucap Reina dengan wajah yang bersedih.
"Tunggu sebentar, saya akan mengambil tas saya," ucap Bu Intan sambil beranjak dari duduknya.
"Huufffttt... tidak apa-apa, ini baru permulaan. Sebentar lagi keinginan aku pasti akana segera terwujud," ucap Reina lirih sambil tersenyum licik.
Setelah beberapa saat, bu Intan keluar dari kamarnya dengan membawa tas branded miliknya dan berganti baju dengan yang lebih elegan.
"Ayo kita berangkat," ucap Bu Intan pada Reina.
Reina pun beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Bu Intan.
"Iya Tante, ini motor milik saya," jawab Reina sambil memasang kunci motornya.
"Ya sudah kamu berangkat saja dulu. Sebentar lagi taksi saya akan sampai," tutur Bu Intan sambil memperhatikan layar ponselnya untuk melihat kedatangan taksi yang dipesannya.
Reina terperanjat, matanya terbelalak kaget mendengar penuturan dari Bu Intan. Dia tidak menyangka jika Bu Intan tidak berangkat ke restoran bersama dengan dia.
"Tante saya bonceng saja, biar kita bisa datang bersama-sama," ucap Reina mencoba mempengaruhi keputusan Bu Intan.
"Naik motor? Kamu ini ada-ada saja. Mana bisa saya naik motor, kan saya pakai dress," tukas Bu Intan sambil terkekeh.
"Oh iya ya. Hehehe... kalau begitu biar saya saja yang bareng Tante naik taksi," ucap Reina, dia mencoba kembali keberuntungannya.
"Ribet loh, nanti kamu harus balik lagi ke sini buat ambil motornya. Lagian nanti saya mau mampir ke suatu tempat dulu," tukas Bu Intan yang tetap pada pendiriannya.
Tin.. tin... tin...
__ADS_1
Suara klakson mobil menghentikan pembicaraan mereka. Rupanya taksi pesanan Bu Intan telah sampai.
"Itu taksi saya. Lebih baik kamu berangkat sekarang biar kamu bisa datang lebih dahulu," tutur Bu Intan sambil berjalan menuju taksi yang ada di depan rumahnya.
Ternyata selama di dalam kamar tadi, selain berganti baju dan mengambil tasnya, Bu Intan memesan taksi online dan berusaha menghubungi Dewa kembali.
Reina mendengus kesal karena Bu Intan benar-benar menolak untuk berbarengan dengannya. Padahal Reina sudah sangat senang ketika Bu Intan mengajaknya datang ke restoran bersamanya, yang secara otomatis semua orang restoran akan tahu jika Reina bukanlah orang yang patut mereka sepelekan.
Dengan wajah sebalnya dia mengendarai motornya menuju restoran Ayuna berharap jika kedatangannya bersamaan dengan datangnya Bu Intan agar semua orang lebih percaya jika dia dekat dengan mama dari Dewa, pemilik restoran tersebut.
Motornya berusaha mengejar taksi yang dinaiki oleh Bu Intan. Sayangnya dia kehilangan jejaknya.
Sial! Pasti Tante Intan sudah lebih dulu sampai di sana. Aku harus lebih cepat agar Tante Intan tidak terlalu lama menungguku, Reina berkata dalam hatinya sambil mengendarai motornya.
Benar apa yang dikhawatirkan oleh Reina. Kini Bu Intan lebih dahulu sampai di restoran itu. Dia disambut oleh Pak Suryo dan karyawan lainnya. Dan tentu saja Pak Suryo duduk berhadapan dengan Bu Intan.
Tiba-tiba Reina datang dan langsung duduk di sebelah Bu Intan tanpa permisi. Tentu saja Pak Suryo sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Reina. Begitu juga karyawan yang ada di tempat itu, mereka kembali membicarakan Reina dan hubungannya bersama keluarga Dewa sebagai pemilik restoran tersebut.
"Maaf Pak, saya hanya ingin tau saja, kenapa Reina dipecat dari restoran ini. Karena menurutnya tidak ada kesalahan yang telah diperbuatnya," ucap Bu Intan pada Pak Suryo.
Pak Suryo menghela nafasnya. Sungguh dia sangat kesal hari ini pada Reina. Hanya karena pemecatannya saja Bu Intan datang berkunjung ke restoran dan bertanya langsung padanya.
"Maaf Bu, apa bisa kita berbicara berdua saja?" tanya Pak Suryo dengan sopan pada Bu Intan.
Bu Intan mengerutkan dahinya, dia mencurigai sesuatu, hanya saja dia harus menyetujuinya agar dia tahu apa yang terjadi. Bu Intan pun mengangguk setuju.
"Reina, sebaiknya kamu tinggalkan kami berdua agar kami bisa berbicara," ucap Bu intan pada Reina dengan tegas.
Dengan berat hati Reina meninggalkan Bu Intan hanya berdua saja dengan Pak Suryo. Dia menuju ke belakang untuk berpura-pura ke toilet.
"Reina, sebenarnya apa hubunganmu dengan kelurga Pak Dewa? Kenapa kamu bisa datang bersama ibu dari Pak Dewa?" tanya salah satu seorang karyawan yang berpapasan dengan Reina.
Karyawan lainnya pun menyimaknya. Mereka merasa apa yang ditanyakan oleh temannya itu sama dengan apa yang ingin mereka ketahui.
Reina tersenyum sinis pada mereka, kemudian dengan percaya dirinya dia menjawab,
__ADS_1
"Aku akan menjadi istri Pak Dewa. Karena istrinya tidak bisa memiliki anak."