
"Sayang... sini...!" seru Ayuna dengan melambaikan tangannya ke arah Dewa untuk memanggil suaminya itu.
Dewa tersenyum dan berjalan cepat menghampiri istrinya yang tersenyum riang menyambut kedatangannya.
Ayuna berdiri dan berlari kecil ke arah Dewa. Kedua tangan Dewa terbuka untuk bersiap memeluk istrinya. Dengan sigapnya Dewa menangkap tubuh Ayuna yang berlari dan melompat di depan tubuhnya.
Kini Ayuna berada dalam gendongan Dewa. Suatu hal yang selalu mereka lakukan jika setelah berpisah dalam saat yang mereka anggap lama.
Waktu Dewa bekerja menurut mereka berdua lama, karena mereka berdua menahan rasa rindu mereka dalam waktu beberapa jam untuk tidak berjumpa.
Reina membuka mulutnya dan menutupnya menggunakan telapak tangannya. Dia tidak menyangka akan melihat adegan seperti itu secara langsung dari Dewa dan Ayuna.
Mereka romantis sekali. Kapan aku bisa seperti mereka? Reina berkeluh kesah dalam hatinya.
"Emmm bau asemmm...," seru Ayuna setelah mencium pipi kanan dan pipi kiri suaminya.
Dewa terkekeh mendengar perkataan istrinya itu. Dia masih betah menggendong istrinya dan bercanda untuk melepaskan kerinduannya dan kepenatannya.
"Tadi belanja apa aja Sayang?" tanya Dewa dengan menempelkan hidung mancungnya dengan hidung mancung Ayuna serta menggesek-gesekkan ke kiri dan ke kanan.
"Lupa kalau belanja sendiri. Main masukin aja, eh ternyata ada lima kantong plastik. Hehehehe...," jawab Ayuna sambil tersenyum lebar.
Dewa mengernyitkan dahinya. Kemudian dia bertanya,
"Terus pulangnya gimana?"
"Dianterin sama...," ucapan Ayuna mengambang, dia baru ingat jika ada Reina di sana.
Dewa memicingkan matanya penuh dengan kecurigaan.
"Sama siapa?" tanya Dewa menelisik.
"Sama Reina. Itu dia di sana," jawab Ayuna sambil meliukkan tubuhnya ke belakang sambil menunjuk ke arah Reina.
Dewa mengikuti arah tangan Ayuna yang menunjuk ke arah Reina. Kini dia baru mengetahui jika ada orang lain di sana kecuali mereka.
Reina tersenyum pada Dewa dan Dewa hanya mengangguk saja tanpa tersenyum balik padanya.
Ayuna turun dari gendongan Dewa dan menarik tangan Dewa untuk mendekat pada Reina.
"Sayang masih ingat Reina kan?" tanya Ayuna sambil tersenyum pada Dewa.
"Yang mana? Dia temanmu juga?" tanya Dewa sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Ayuna.
__ADS_1
"Dia teman sebangku di SMA dan di kuliah juga aku selalu duduk bersama dengan dia. Kamu lupa?" tanya Ayuna sambil memandang wajah lelah Dewa.
"Gak ingat aku Sayang. Dulu yang selalu menyita perhatianku kan cuma kamu," jawab Dewa sambil mencubit gemas hidung Ayuna.
Reina menghela nafasnya lirih. Dia sungguh tidak berharap melihat keromantisan yang diperlihatkan oleh Dewa dan Ayuna di hadapannya.
Kenapa aku harus melihat mereka seperti ini? Harusnya tadi aku pulang saja, Reina berkata dalam hatinya.
"Kamu udah makan Sayang?" tanya Dewa pada Ayuna yang masih berada di sampingnya.
"Belum. Tapi barusan aku makan rujak. Hehehe...," jawab Ayuna sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"Kebiasaan...," ucap Dewa sambil menyentil dahi Ayuna.
Ayuna mengerucutkan bibirnya sambil mengusap dahinya yang disentil oleh Dewa.
"Sakit ya? Sini aku tiup," ucap Dewa yang kemudian meniup-niup dahi Ayuna.
"Udah. Jangan makan dulu ya, nanti kita makan bersama di luar," ucap Dewa sambil tersenyum manis pada istrinya.
"Makan di mana?" tanya Ayuna bersemangat.
"Ada deh, pokoknya tempat yang spesial," jawab Dewa sambil melepas tangannya dari pinggang Ayuna.
"Ya udah aku tungguin. Eh tapi aku gantinya gimana?" tanya Ayuna dengan menampakkan wajah bingungnya.
"Nanti aja gantinya barengan," jawab Dewa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Reina kembali lemas. Dia kembali disuguhkan adegan dan percakapan romantis pasangan yang membuatnya iri.
Setelah itu Dewa mencium dahi Ayuna dan berjalan meninggalkannya.
"Yuna, anak kamu di mana?" tanya Reina yang merasa tidak melihat anak kecil ataupun mendengar suara tangis dari bayi.
Langkah kaki Dewa terhenti. Dia membalikkan badannya dan menatap Ayuna yang sedang diam tidak menjawab pertanyaan dari Reina.
Bahkan senyuman manis di bibir Ayuna lenyap seketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Reina.
Melihat istrinya murung seperti itu membuat Dewa menjadi kesal. Dia menatap tajam dan tidak suka pada Reina. Kemudian dia berjalan cepat mendekati Ayuna.
Grep!
Tangan Ayuna dipegangnya. Kemudian dia menarik tangan Ayuna sambil berkata,
__ADS_1
"Ayo, temani aku mandi."
Ayuna kaget tangannya tiba-tiba ditarik oleh Ayuna. Dan mata Ayuna terbelalak ketika Dewa mengatakan di hadapan Reina untuk menemaninya mandi.
"Tapi Reina...," ucapan Ayuna mengambang, dia tidak bisa menyelesaikannya karena Dewa menyahutnya terlebih dahulu.
"Suruh dia pulang sekarang!" sahut Dewa dengan kesal tanpa menoleh atau berpamitan pada Reina.
Reina terkejut mendengar jawaban dari Dewa. Dia mengira jika nantinya akan diajak makan bersama dengan Dewa dan Ayuna. Nyatanya, kini dia diusir dengan cara kasar oleh Dewa. Meskipun secara tidak langsung, tapi dia menyadari jika Dewa mengusirnya.
"Reina, maaf. Sebaiknya kamu pulang dulu ya," ucap Ayuna sambil berjalan tanpa menoleh pada Reina yang berada di belakangnya.
"Kapan-kapan aku main ke sini lagi ya," seru Reina dari tempatnya berdiri saat ini.
Belum sempat Ayuna menjawab, Dewa menggendong tubuh Ayuna ala bridal style meninggalkan Reina yang menatap getir pada sepasang suami istri itu.
"Kenapa aku ditinggalkan sendiri? Mana pertanyaanku gak dijawab lagi," ucap Reina lirih.
Kemudian dia mengambil tas nya dan berjalan keluar dari taman belakang tersebut.
"Loh Reina udah mau pulang?" tanya Bu Andini yang sedang berjalan keluar dari kamarnya.
"Iya Tante. Saya pamit pulang dulu," jawab Reina sambil bersalaman dengan Bu Andini dan mencium punggung tangannya.
"Ayuna ke mana kok kamu gak diantar keluar?" tanya Bu Andini sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Ayuna.
"Tadi sama Pak Dewa Tante," jawab Reina sambil tersenyum kaku.
"Kok kamu ditinggal sih?" tanya Bu Andini sambil tersenyum dan mengusap pundak Reina karena sungkan, anaknya telah meninggalkan tamu sendirian.
"Tadi sih Pak Dewa bilang minta ditemani mandi," jawab Reina sambil tersenyum malu membayangkan Dewa yang sedang mandi.
"Emmm... kebiasaan mereka tuh. Maklumi ya, karena mereka belum memiliki anak, jadi mereka maunya pacaran terus. Beberapa bulan yang lalu aja mereka honeymoon lagi, mana lama lagi di sana," tutur Bu Andini sambil terkekeh.
Reina kaget mendengar kenyataan bahwa Dewa dan Ayuna belum memiliki anak. Dia tersenyum mendengar penuturan dari Bu Andini mengenai Dewa dan Ayuna.
Pantas saja tadi aku menanyakan anaknya, mereka malah diam saja. Baguslah, berarti hidup Ayuna tidak seindah yang aku bayangkan. Eh tapi kalau kenyataannya begitu, berarti aku ada kesempatan dong. Siapa tau Pak Dewa menginginkan anak dari perempuan lain. Berarti aku bisa jadi istri keduanya yang bisa memberinya anak berapapun yang dia minta.
Reina berkata dalam hatinya sambil tersenyum senang membayangkan jika rencananya berhasil.
Dia menganggap jika dirinya lebih mempunyai kesempatan lebih besar untuk mempunyai banyak anak daripada Ayuna. Karena orang tuanya saja memiliki empat orang anak, jadi menurutnya dia pun memiliki kesempatan yang sama dengan ibunya.
Berbeda dengan keluarga Ayuna yang hanya memiliki satu orang anak, yaitu Ayuna saja. Jadi menurutnya tidak menutup kemungkinan jika Ayuna pun susah memiliki anak.
__ADS_1