Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 74 Sebuah rencana


__ADS_3

Hati Reina sangat senang. Dia sudah mendapatkan simpati dari mama Dewa, bahkan Dewa berani pada mamanya hanya karena mamanya membela Reina dan menjelek-jelekkan Ayuna.


Akhirnya... keberuntungan berpihak padaku. Aku yakin ini tidak akan lama lagi, sesuai dengan rencanaku, Reina berkata dalam hatinya sambil tersenyum dan memegang kedua tangan Bu Intan untuk menenangkan hatinya yang sedang terbalut emosi pada Dewa.


"Maafkan Dewa ya. Mungkin benar dia seperti itu karena Ayuna, karena rasa cintanya yang sangat besar pada Ayuna. Sebab itu dia tidak mau ada yang berkata buruk pada istrinya," ucap Bu Intan pada Reina.


Reina tersenyum kecut mendengar perkataan Bu Intan padanya. Dia sama sekali tidak mengharapkan jika Bu Intan masih membela Ayuna meskipun tadinya dia sempat menjelek-jelekkannya di hadapan Dewa.


Ck, gimana sih Tante ini, tadi udah memihak aku, eh sekarang dia tidak menyalahkan Ayuna. Dasar tante-tante labil, Reina menggerutu dalam hatinya.


Bu intan tersenyum mengingat kata-kata Dewa yang membela Ayuna, tidak mau jika ada orang yang menghina istrinya itu. Dan dia juga mengingat Dewa yang memperlakukan Ayuna dengan sangat manis, menggendongnya seolah melindunginya bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan perbuatan.


"Gak nyangka kalau Dewa begitu cintanya sama Ayuna hingga menggendong istrinya itu di hadapan kita. Memang sih sering sekali kita semua melihat mereka berdua sangat romantis, bahkan sering lebih dari itu. Hanya saja kali ini mamanya ini bangga sekali sama dia, melihatnya seperti itu hampir sama dengan Papanya Dewa dulu ketika menyelamatkanku di hadapan teman-teman yang menggunjingku," tutur Bu Intan dengan senyumnya sambil menerawang mengingat dirinya dulu yang diperlakukan seperti itu oleh Antonio, papanya Dewa.


Hati Reina semakin panas, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada di depan matanya.


"Maaf Tante, sepertinya saya harus cepat pergi dari sini. Saya sebenarnya tidak apa-apa jika Pak Dewa mengusir saya dari sini, hanya saja saya khawatir jika Pak Dewa memecat saya dari restorannya. Tante kan tau kalau saya harus membanting tulang agar bisa membantu perekonomian orang tua saya," ucap Reina dengan wajah iba dan sedikit meneteskan air matanya.


"Loh kamu bekerja di restorannya Dewa?" tanya Bu Intan dengan ekspresi kagetnya.


"Iya, benar Tante. Sebenarnya Pak Dewa tidak pernah bersikap kasar pada saya. Bahkan kami berdua terkesan dekat. Sejak Ayuna memergoki kami berbicara berdua waktu itu, Pak Dewa jadi berubah. Dia bersikap kasar pada saya. Sepertinya Ayuna cemburu pada kedekatan saya dengan Pak Dewa," tutur Reina dengan wajah sedihnya mengelabuhi Bu Intan.


"Jadi kamu dan Dewa sebenarnya sudah sangat dekat? Lalu apa dulu di kampus kalian juga sangat dekat?" tanya Bu Intan dengan rasa ingin tahunya.

__ADS_1


"Sangat dekat sekali Tante. Cuma pada saat itu kan lebih dekat Pak Dewa dengan Ayuna, rumah mereka lebih dekat sih," jawab Reina dengan senyum yang menampakkan kesedihan.


"Lalu, apa ada cerita lain lagi yang belum saya ketahui?" tanya Bu Intan penasaran.


"Pada saat itu Pak Dewa sempat curhat sama saya di restoran. Padahal jika Pak Dewa ingin menikah lagi karena menginginkan keturunan kan wajar ya Tante. Saya kasihan pada Pak Dewa yang pernah bercerita pada saya karena ingin memiliki keturunan. Dan saya hanya bercanda mengatakan pada Pak Dewa agar menikah lagi. Nah kebetulan Ayuna datang pada saat itu, dia langsung membawa Pak Dewa pergi dari sana. Saya jadi merasa sangat bersalah Tante. Padahal kan saya hanya bercanda," tutur Reina dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


"Apa benar seperti itu?" tanya Bu sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya, menghadap ke arah Reina.


"Iya, benar Tante. Maka dari itu saya tadi ke sini berniat untuk meminta maaf pada Ayuna dan memasakkan makanan untuknya dengan harapan dia tidak akan menjauhi saya lagi. Saya benar-benar tidak bermaksud apa-apa kok Tante," jawab Reina dengan wajah mengiba.


Bu Intan memicingkan matanya, dia diam beberapa saat, kemudian dia berkata,


"Apa kamu tidak ada niatan sama sekali untuk menjadi istri Dewa?"


Reina terhenyak mendengar pertanyaan dari Bu Intan. Dia was-was jika Bu Intan marah padanya jika dia mengatakan sejujurnya tentang keinginannya menjadi istri Dewa.


Bu Intan terkekeh mendengar jawaban dari Reina dan melihatnya malu-malu ketika menjawabnya.


"Jadi benar kamu menyukai Dewa?" tanya Bu Intan sambil terkekeh.


"Tidak Tante, saya tidak berani. Maafkan saya... saya hanya mengagumi Pak Dewa saja," ucap Reina dengan wajah memohon sambil memegang kedua tangan Bu Intan.


"Baiklah saya mengerti. Lalu kamu mau makan dulu atau kamu bawa saja makanannya pulang?" tanya Bu Intan sambil tangannya mengusap pundak Reina.

__ADS_1


"Emmm... sebenarnya saya ingin makan bersama dengan Tante, tapi saya takut jika Pak Dewa benar-benar memanggil polisi untuk mengusir saya," jawab Reina dengan wajahnya yang dibuat seperti ketakutan.


"Ya sudah kamu pulang saja sekarang ya. Tapi kami bawa semua saja masakannya. Sebentar, biar saya bungkuskan semuanya," ucap Bu Intan sambil beranjak mencari wadah untuk membungkus makanan tersebut.


"Kok semuanya Tante? Sedikit saja Tante. Biarkan yang lainnya di sini, biar Pak Dewa dan Tante bisa memakannya," ujar Reina berniat menghentikan Bu intan yang sedang memindahkan semua masakan tersebut pada sebuah wadah.


"Cuma buat Dewa sama saya saja nih? Ayuna enggak?" tukas Bu Intan sambil terkekeh.


"Eh iya Tante, untuk Ayuna juga," jawab Reina sambil tersenyum kaku.


"Sudahlah kamu bawa semua saja, mereka gak bakalan pulang kalau sudah pergi berdua," ucap Bu Intan sambil memberikan bungkusan makanan tersebut.


"Ya sudah Tante, saya bawa pulang saja kalau begitu. Terima kasih Tante sudah mengijinkan saya memasak dan lebih dekat dengan Tante. Saya senang dekat dengan Tante, seperti dekat dengan Ibu saya sendiri," tutur Reina, setelah itu dia bersalaman pada Bu Intan dan mencium punggung tangannya.


Bu Intan terkekeh melihat Reina berjalan keluar dari rumah tersebut. Kemudian dia berkata,


"Dasar wanita jaman sekarang."


Setelah itu Bu Intan kembali masuk ke dalam dapur dan membersihkan dapur tersebut.


"Jangan sampai Dewa marah karena melihat ada bekas masakan dari Reina," ucap Bu Intan sambil membersihkan semua bekas kegiatan memasaknya bersama Reina tadi.


Di dalam mobilnya, Dewa masih saja diam dengan raut wajah emosinya yang masih saja bisa dilihat oleh Ayuna.

__ADS_1


Ayuna sedikit miring mendekati kursi Dewa, kemudian dia mencium pipinya dan berkata,


"Sayang, jangan marah-marah ya...."


__ADS_2