
Ayuna menatap takjub interior restoran tersebut. Dia serasa menjadi orang berkelas saat ini. Selama ini dia paling enggan masuk ke dalam restoran yang mewah dan berkelas seperti yang sekarang dia dan Dewa datangi.
Baginya hanya buang-buang uang saja jika makan di tempat seperti itu. Bahkan jika diajak oleh kedua orang tuanya menghadiri acara di tempat berkelas seperti itu, Ayuna dengan cepatnya menolaknya. Dia lebih baik nongkrong bersama sahabat-sahabatnya di cafe tempat mereka biasa bertemu.
Felix, Gavin, Viktor dan Devan membawa kebiasaan mereka ke dalam kebiasaan Ayuna setelah Ayuna bersahabat bersama mereka.
Bagi mereka tempat paling nyaman untuk makan adalah di cafe. Jika di restoran, pasti akan terlihat canggung karena mereka harus menata sikap dan bahasa mereka. Dan itu sangat susah dikendalikan bagi mereka.
Dewa menggerakkan tangannya ketika waiter hendak menarik kursi Ayuna untuk mempersilahkannya duduk.
Dewa tidak ingin waiter tersebut membantu Ayuna duduk, dia sendiri yang akan mempersilahkan Ayuna duduk dengan menarik kursinya agar Ayuna bisa duduk di kursi tersebut.
"Silahkan duduk Ay," ucap Dewa ketika sudah menarik sedikit kursi yang akan ditempati oleh Ayuna.
Ayuna pun duduk di kursi tersebut, kemudian dia menarik kembali kursi tersebut.
"Mau makan apa Ay?" tanya Dewa ketika dia sudah duduk di kursinya yang berada di depan Dewa.
Ayuna membuka buku menu yang diberikan waiter padanya. Dia membuka-buka buku menu tersebut dan melihatnya satu persatu hingga membutuhkan waktu yang lumayan lama.
"Tinggal saja dulu," perintah Dewa pada waiter tersebut.
"Mau makan yang mana Ay?" tanya Dewa kembali sambil berjalan memutar mendekati Ayuna.
Ayuna gelagapan karena kini posisi Dewa sangat dekat dengannya. Hingga jantungnya kini kembali berdebar cepat seperti dia habis lari maraton.
"Terserah Kak Dewa aja deh," ucap Ayuna sambil menutup buku menu yang dipegangnya sedari tadi.
Dewa tersenyum, kemudian dia kembali duduk di kursinya dan mengutak-atik ponselnya. Setelah itu dia kembali menatap Ayuna yang berada di depannya dan memberikan senyuman manisnya.
"Kak, kenapa kita makan di sini sih? Harusnya kita makan di mal aja tadi sekalian," tanya Ayuna pada Dewa untuk menutupi rasa groginya karena tatapan dan senyuman manis yang Dewa berikan padanya.
"Ini kan hari spesial kita Ay. Jadi makan kita harus spesial juga," jawab Dewa yang masih dengan memberikan senyuman manisnya pada Ayuna.
"Hari spesial? Spesial apaan Kak? Perasaan gak ada yang spesial deh. Malah malu yang ada dari tadi," ucap Ayuna menanggapi perkataan Dewa.
"Kamu lupa Ay? Hari ini kita kan sudah resmi menjadi pacar. Hari ini hari pertama kita," ucap Dewa sambil mengambil tangan Ayuna yang berada di meja untuk di genggamnya.
__ADS_1
"Hah? Pacar? Kok bisa?" tanya Ayuna kebingungan.
"Jangan dibiasakan jadi pelupa gitu Ay. Tadi sebelum berangkat bukannya kamu sudah setuju jika aku mau memakai pakaian yang kamu pilihkan untuk nonton, berarti kamu setuju kita pacaran," tukas Dewa kemudian.
"Jadi..."
Ucapan Ayuna tidak bisa dia teruskan karena dia tidak menyangka jika kini dialah yang kalah dalam tantangan yang mereka buat.
"An," ucap Dewa menyambung ucapan Ayuna.
"Kita ja-di-an," tukas Dewa dengan tegas.
Ayuna sangat kaget mendengar kata 'jadian' keluar dari mulut Dewa. Dia tidak menyangka jika dia akan jatuh terperosok ke dalam lubang yang dia gali sendiri.
Mampus. Gimana ini, masa' iya aku pacaran sama dosenku sendiri? Apa kata dunia jika aku berpacaran dengannya, Ayuna berkata dalam hatinya.
Dan obrolan mereka terganggu karena waiter telah datang membawa troli yang berisi beberapa makanan untuk mereka.
Ayuna menatap takjub dan heran dengan semua makanan yang kini berada di hadapannya. Meja mereka kini penuh dengan makanan yang benar-benar menggugah seleranya.
Ada beberapa piring makanan dan juga ada tart yang bertuliskan namanya dengan Dewa, serta minuman yang berwarna-warni.
"Ini khusus dipersiapkan untuk pasangan yang sedang merayakan anniversary mereka di restoran ini Ay," jawab Dewa sambil tersenyum.
"Kok kita juga dikasih?" tanya Ayuna kembali dengan wajah bingungnya.
"Kan ini hari jadian kita Ay," jawab Dewa sambil melambaikan tangannya ke arah waiter yang standby tidak jauh dari tempatnya.
"Tolong fotokan kami berdua," ucap Dewa sambil menyerahkan ponselnya pada waiter yang sudah berada di sana.
Waiter itupun menerima ponsel Dewa dan bersiap mengambil foto Dewa dan Ayuna.
Dewa memutari meja untuk berada di dekat Ayuna. Tangannya kini berada di pinggang Ayuna dan menarik badan Ayuna agar lebih dekat dengannya.
Tentu saja Ayuna kaget mendapatkan perlakuan seperti itu dari Dewa. Dia terpaku hingga tidak bisa melawan Dewa.
"Senyum Ay," perintah Dewa dengan berbisik di telinga Ayuna.
__ADS_1
Seperti hipnotis bagi Ayuna. Suara Dewa mampu membuat Ayuna tersenyum begitu saja tanpa berpikir panjang.
Kemudian mereka berfoto kembali dengan membawa tart yang bertuliskan nama mereka. Dan Ayuna pun masih tersenyum manis ketika diberi pengarahan oleh waiter untuk tersenyum kembali.
Entah karena Ayuna terpaksa atau karena memang hatinya sedang bahagia. Dalam foto tersebut Ayuna sangat lepas tersenyum begitu manisnya sehingga membuat orang yang melihatnya tidak akan pernah berpikir tentang pemaksaan Dewa pada Ayuna.
Namun kenyataannya memang Dewa tidak pernah memaksa Ayuna. Dengan sendirinya Ayuna bisa didapatkannya dan hari inilah mereka mengubah status mereka menjadi pacar.
Dewa tidak henti-hentinya bersikap manis pada Ayuna. Beberapa kali dia menyuapi Ayuna dan Ayuna dengan senang hati menerimanya.
Lagi-lagi Ayuna tidak mengerti mengapa dirinya dengan mudahnya menerima semua perlakuan manis yang Dewa berikan padanya.
Gawat, daya tarik magnetnya begitu kuat. Aku gak bisa menolaknya. Kenapa begini? Kenapa bisa seperti ini? Ayuna berkata dalam hatinya.
"Yuk Ay," ucap Dewa ketika sudah berdiri di sebelah tempat duduk Ayuna.
Ayuna pun berdiri tanpa berkata apapun. Sungguh dia bingung dengan semua keadaan yang baginya begitu cepat terjadi.
Dewa berjalan menuju pintu dan mendapatkan ucapan terima kasih dan selamat dari waiter dan waitress yang berdiri di sepanjang jalan.
"Terima kasih atas kunjungannya."
"Selamat Bos, semoga langgeng," ucap laki-laki yang memakai setelan jas.
Ayuna yang kini telah digandeng mesra oleh Dewa baru sadar jika mereka berdua layaknya pasangan kekasih.
"Bos?" celetuk Ayuna tanpa sadar dengan wajah bingungnya.
Dewa tersenyum dan menghadap ke arah Ayuna. Kemudian dia berkata,
"Baru tau kamu kalau pacar kamu ini Bos restoran ini?"
"Hah? Beneran?" tanya Ayuna dengan ekspresi kagetnya.
Dewa semakin terkekeh melihat tingkah lucu Ayuna, gadis cantik dan imut yang kini sudah resmi menjadi pacarnya.
"Pantesan tadi gak usah pesan makanan, eh makanannya langsung dianterin aja. Terus tadi pulangnya gak pakai bayar. Main nyelonong aja," celetuk Ayuna tanpa menatap wajah Dewa seperti sedang bermonolog sendiri.
__ADS_1
Kemudian Ayuna menatap Dewa yang ada di sampingnya dan dia memicingkan matanya ketika melihat Dewa. Lalu dia berkata,
"Sebenarnya siapa anda?"