
Ayuna satu-satunya wanita yang bisa memerintah kelima lelaki tampan yang ada di meja ini.
Kini mereka semuanya berada dalam satu meja untuk makan bersama. Ayuna, Dewa, Felix, Gavin, Viktor dan Devan, mereka makan di cafe milik Dewa.
"Kak, taruh dulu itu kerjaannya. Ini makanannya dimakan dulu," ucap Ayuna sambil menutupi yang dibaca oleh Dewa.
"Bentar Ay. Ini bentar lagi juga selesai. Kamu makan aja dulu gak usah nungguin aku," tukas Dewa sambil tersenyum pada Ayuna dan memindahkan tangan Ayuna dari berkas yang dibacanya.
"Namanya juga makan bersama, ya harus bareng-bareng dong," ucap Ayuna dengan menggerak-gerakkan lengan Dewa.
"Bentar ya, katanya mau pulang cepat. Ini masih banyak loh kerjaannya," ucap Dewa sambil mengusap tangan Ayuna yang ada di lengannya.
"Ya udah kalau gitu. Aku makan dulu ya," ucap Ayuna dengan sedikit kecewa.
Di saat dia dan keempat sahabatnya itu makan, Ayuna melirik ke arah Dewa yang masih saja serius ketika bekerja. Dia teringat ketika dia disuapi oleh Dewa ketika sedang makan bersama.
Mengingat hal itu, Ayuna mengambil piring milik Dewa dan menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
"Haaaak...," ucap Ayuna sambil meletakkan sendok yang berisi makanan di depan mulut Dewa.
Dewa kaget mendapati sendok yang berisi makanan di depan mulutnya. Kemudian dia tersenyum ketika melihat wajah Ayuna yang menatapnya dengan tulus dan penuh harap agar Dewa memakannya.
Dewa tersenyum dan membuka mulutnya sehingga sesendok makanan itu masuk dengan sempurna ke dalam mulutnya.
"Terima kasih sayang," ucap Dewa sambil tersenyum disela kunyahan makannya.
"Vin, ngapain kita di sini?" bisik Felix di telinga Gavin.
Gavin hanya menggelengkan kepalanya sambil menoleh ke arah Felix.
"Dev, kamu gapapa?" bisik Viktor di telinga Devan.
Devan tersenyum palsu dan mengangguk, kemudian dia menunduk dan berpura-pura memainkan ponselnya.
Sedangkan Ayuna, dia sibuk menyuapi Dewa yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Hanya Dewa saja yang belum menyelesaikan makannya karena pekerjaannya belum selesai dikerjakan.
__ADS_1
Mereka berempat seolah menjadi penonton keromantisan Ayuna dan Dewa. Mereka tidak mengira jika Ayuna bisa seromantis itu pada laki-laki.
Devan, tentu saja dia sangat sakit hatinya. Dia benar-benar terbakar cemburu. Hanya saja dia mencoba untuk baik-baik saja, agar Ayuna dan yang lainnya tidak mengkhawatirkannya.
"Udah habis Kak, ini diminum dulu," ucap Ayuna sambil mengulurkan gelas minuman milik Dewa di depan mulut Dewa.
Dewa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang di periksanya saat ini. Dia tersenyum melihat wajah calon istrinya itu yang begitu telaten mengurusnya.
"Terima kasih sayang, kamu memang istri yang baik," ucap Dewa sambil memegang gelas yang dipegang oleh Ayuna.
"Uhuuuk...," Gavin tersedak minumannya karena mendengar perkataan dari Dewa.
Prang!
Felix melepaskan sendok dan garpunya mendengar perkataan Dewa yang ditujukan untuk Ayuna.
"Ehemmm...," Viktor berdehem agar mengurangi kecanggungan setelah mendengar pujian Dewa pada Ayuna.
Sedangkan Devan, dia menertawakan dirinya dalam hatinya. Dia melihat Ayuna yang tersenyum dan tersipu malu pada Dewa. Dari situlah Devan mengerti jika usahanya akan sia-sia meskipun dia berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan Ayuna.
Mereka semua sudah menyelesaikan makanannya, ingin rasanya mereka segera meninggalkan tempat itu, hanya saja Dewa masih sibuk dengan berkas-berkasnya, sedangkan Ayuna mendekatkan dirinya pada Dewa untuk melihat berkas-berkas yang sedari tadi menarik perhatian Dewa.
Gavin menyikut tangan Felix, kemudian Felix menyikut tangan Viktor dan akhirnya Viktor lah yang harus memberanikan dirinya untuk bertanya pada Dewa dan Ayuna.
"Ehemmm... Yuna, Pak Dewa, apa kalian masih lama di sini? Kami akan pulang lebih dulu jika kalian masih lama di sini."
Sontak saja Dewa dan Ayuna mengalihkan perhatian mereka dari berkas-berkas milik Dewa pada Viktor yang bertanya pada mereka.
"Kalian mau balik ke kota?" tanya Ayuna dengan menatap mereka satu persatu.
"Mau balik ke Villa," jawab Viktor tanpa berpikir panjang.
Sontak saja kaki Viktor di injak oleh Gavin dan Felix memelototkan matanya pada Viktor, sehingga Viktor tidak berani mengeluarkan suara kesakitannya akibat kakinya diinjak oleh Gavin.
"Villa? Kalian menginap di daerah sini juga? Di mana? Eh iya kalian kan belum cerita, ngapain kalian di sini?" Ayuna mengeluarkan pertanyaan berturut-turut agar dia tidak lupa lagi menanyakannya pada mereka.
__ADS_1
"Busyet dah... banyak bener nanyanya neng?" tanya Gavin sambil terkekeh.
"Biar gak lupa," jawab Ayuna sambil terkekeh.
"Dasar nenek-nenek pelupa," sahut Felix sambil terkekeh dan melempar gumpalan tisu pada Ayuna.
Ayuna pun membalas Felix dengan melempar kembali gumpalan tisu tersebut. Bahkan mereka terbawa suasana, mereka melupakan kehadiran Dewa di sana karena mereka sudah terbiasa bertingkah seperti itu.
"Aku masih muda, masih gadis, belum nikah, belum emak-emak," ucap Ayuna sambil melempar-lempar gulungan tisu pada Felix.
"Iya, habis ini nikah, hamil, jadi emak-emak, gendut deh," ucap Viktor sambil tertawa dengan tangannya menunjuk ke arah Ayuna yang cemberut dan berwajah kesal pada Viktor.
"Enggak. Aku gak mau gendut. Aku gak mau nikah," sahut Ayuna tanpa berpikir, tujuannya satu, dia hanya ingin menang ketika beradu mulut dengan sahabat-sahabatnya itu seperti biasanya.
"Ay, udah, udah sayang," ucap Dewa sambil memeluk Ayuna dan mengunci kedua tangannya dengan pelukannya agar tidak lagi beradu mulut dan berbalas melempar dengan sahabat-sahabatnya itu.
Sontak saja mereka sadar jika saat ini Dewa ada bersama dengan mereka. Sehingga mereka merasa tidak enak dan takut pada Dewa karena sudah mengolok-olok Ayuna seperti biasanya mereka bercanda. Hanya saja Dewa belum pernah mengetahui candaan mereka berlima, sehingga mereka takut jika Dewa marah pada mereka.
"Ka-kami permisi dulu Pak," ucap Gavin pada Dewa sambil berdiri dari duduknya diikuti oleh yang lainnya.
Dewa menganggukkan kepalanya mempersilahkan mereka pergi dari tempat itu.
"Mereka mengataiku Kak. Jangan bolehkan mereka pergi. Aku belum membalas mereka," Ayuna merengek pada Dewa dengan posisi masih dipeluk oleh Dewa.
Mereka semakin was-was mendengar aduan Ayuna pada Dewa. Mereka takut Dewa marah dan mengancam nilai mereka.
"Bayarnya di mana Pak?" tanya Devan pada Dewa, dia tidak mau berhutang pada Dewa, apalagi posisinya sebagai pacar Ayuna dikalahkan oleh Dewa.
"Tidak usah. Kalian pergi saja, tidak usah membayar," jawab Dewa yang masih memeluk tubuh calon istrinya itu.
"Terima kasih Pak," ucap Felix, Gavin dan Viktor bersamaan, kecuali Devan.
Mereka keluar dari cafe tersebut dengan segera menuju Villa mereka.
"Dev, apa kamu sudah mau menerima hubungan mereka?" tanya Gavin di saat mereka berjalan bersama.
__ADS_1