
"Maaf Nyonya, saya hanya menjalankan perintah. Pak Dewa yang memerintahkan saya untuk memecat Reina. Untuk lebih jelasnya, silahkan Nyonya bertanya sendiri pada Pak Dewa," tutur Pak Suryo pada Bu Intan.
Bu Intan terkejut mendengarnya, tapi dalam beberapa saat dia tersenyum tipis. Sedangkan Pak Suryo merasa heran melihat Bu Intan yang berekspresi seperti itu.
"Ma, Kenapa Mama menyuruh Dewa datang ke sini? Mama tau, Mama mengganggu acara Dewa sama Ayuna."
Tiba-tiba suara Dewa terdengar oleh Pak Suryo dan Bu Intan. Sontak saja mereka melihat ke arah datangnya suara.
Tampak Dewa sudah datang bersama dengan Ayuna yang pinggangnya dipeluk dengan posesif oleh Dewa.
"Kalian sudah datang? Duduklah, Mama ingin menanyakan sesuatu," ucap Bu Intan sambil tersenyum pada Dewa dan Ayuna.
"Yuk Sayang, duduk dulu," tukas Dewa sambil mengajak Ayuna berjalan menuju kursi.
"Sebentar, aku mau ke toilet dulu, sekalian aku pesan minuman seperti biasanya ya," ucap Ayuna yang diangguki oleh Dewa.
Ayuna menuju area bartender dan memesan minuman serta kue untuk mereka.
"Nanti langsung bawa saja ke sana ya. Saya mau ke toilet dulu," ucap Ayuna sambil menunjuk meja di mana Dewa berada.
Kemudian dia berjalan ke arah toilet. Perasaan Ayuna sudah kembali seperti semula, berkat Dewa dia bisa melupakan apa yang didengarnya kala itu.
Langkah kakinya sangat ringan, seringan hatinya yang seolah tanpa beban. Usaha Dewa membuat Ayuna selalu bahagia udah berhasil. Kini Ayuna merasa tanpa beban sehingga bisa tersenyum ceria seperti dahulu.
"Aku akan menjadi istri Pak Dewa. Karena istrinya tidak bisa memiliki anak."
Seketika kaki Ayuna terhenti. Dia mengenal suara itu dan apa yang didengarnya sangatlah nyata.
Hati Ayuna sangat sakit mendengarnya. Entah itu benar atau tidak, Ayuna tidak bisa memikirkannya. Yang dia tahu, hatinya terasa sangat sakit mendengarnya.
"Hah, yang benar saja. Istrinya masih sangat muda dan cantik, mana mungkin Pak Dewa menjadikanmu sebagai istrinya hanya karena dia ingin mempunyai anak," sahut salah satu karyawan perempuan yang berada di sana.
"Iya, palingan kamu cuma omong kosong saja. Kita semua tau jika Pak Dewa sangat mencintai istrinya. Dia membangun restoran ini untuk istrinya dan semua orang tau perlakuannya pada istrinya menunjukkan betapa cintanya dia pada istrinya," ucap karyawan perempuan lainnya.
Terlihat sangat jelas sekali mereka semua memang tidak menyukai Reina. Saat inipun dia merasa terpojok karena tidak ada satupun yang membantunya.
__ADS_1
"Terserah apa yang kalian katakan. Akan aku pastikan kalian akan aku pecat sebentar lagi, karena aku yang akan bertanggung jawab pada restoran ini karena aku akan menjadi istri dari Pak Dewa," ujar Reina dengan penuh percaya diri.
Mata Ayuna berkaca-kaca. Tangannya menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Dengan menguatkan kakinya, dia perlahan berjalan mendekati Reina.
"Reina," suara lirih Ayuna membuat semua yang ada di tempat itu menoleh padanya.
"A-Ayuna?!" ucap Reina dengan ekpresi kaget melihat Ayuna berada di belakangnya.
"Reina, kamu teman aku kan? Kamu tidak akan pernah berbohong padaku bukan? Lalu, apa kamu bisa menjelaskan apa yang kamu katakan tadi?" tanya Ayuna dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang bergetar.
Reina tersenyum licik pada Ayuna. Dalam hatinya dia sangat bahagia melihat Ayuna yang sepertinya sudah hancur hanya karena mendengar ucapannya saja.
Baru mendengarnya saja kamu sudah seperti ini, apalagi jika itu benar terjadi. Pasti kamu akan jantungan, Reina berkata dalam hatinya.
"Ayuna, kamu tau kan kalau aku tidak akan pernah berbohong padamu. Tapi kenyataannya memang begini. Aku harap kamu bisa menerimanya," ucap Reina sambil berjalan menghampiri Ayuna.
"Stop! Jangan mendekat! Jika ini memang benar, aku gak sudi punya teman seperti kamu!" seru Ayuna dengan tatapan mata penuh dengan kebencian.
Tanpa berpikir panjang, Ayuna berlari meninggalkan tempat tersebut. Dia tidak berpikir ke mana dia akan pergi. Dia hanya menuruti ke mana langkah kakinya mengajaknya pergi.
Bahkan mereka semua tidak akan sudi jika berdekatan dengannya.
"Ternyata dia pelakor guys...," ucap salah satu dari mereka sambil beranjak pergi dari tempat itu.
Yang lainnya pun mengikuti meninggalkan tempat tersebut. Mereka saling berbisik membicarakan Reina.
Sedangkan Reina, dia tersenyum puas telah membuat Ayuna percaya pada apa yang dikatakannya.
Dewa menjelaskan pada mamanya alasan dia memerintahkan Pak Suryo untuk memecat Reina. Dan di saat Dewa menjelaskan, kebetulan sekali salah satu karyawan restoran tersebut mengantarkan minuman dan kue yang telah dipesan oleh Ayuna.
"Ini Pak minumannya," ucap waitress tersebut sambil meletakkan minuman dan kue yang dibawanya.
"Terima kasih," ucap Dewa sambil menoleh ke arah dalam restoran.
"Tunggu, apa kamu melihat istri saya?" tanya Dewa menghentikan waitress tersebut.
__ADS_1
Waitress tersebut tampak terkejut mendengar pertanyaan dari Dewa. Dia bingung antara jujur mengatakan semuanya atau hanya mengatakan tidak tahu pada Dewa.
"Emmm... itu Pak tadi...," waitress itu ragu mengatakannya.
"Dia tadi mengatakan mau ke toilet. Apa kamu melihatnya?" tanya Dewa dengan menelisik wajah waitress tersebut yang terlihat gugup dan takut menjawab pertanyaan Dewa.
"Emmm... itu Pak, sebenarnya tadi...," waitress tersebut kembali ragu ketika akan mengatakan yang sebenarnya pada Dewa.
"Ada apa sebenarnya? Cepat katakan dengan jelas!" ucap Dewa dengan tegas dan memandang waitress tersebut dengan tatapan tegasnya.
"Maaf Pak, saya hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Mohon jangan salahkan saya atau pecat saya," ucap waitress tersebut ketakutan.
"Kamu ini bicara apa? Cepat katakan apa yang terjadi!" ucap Dewa dengan nada yang lebih tinggi.
Waitress itupun terlihat ketakutan. Dia menghela nafasnya dan berdoa dalam hatinya agar dia tidak dipecat sesudah mengatakan apa yang terjadi pada Dewa, pemilik restoran tempat dia bekerja.
Kemudian waitress tersebut menceritakan apa yang terjadi dengan Reina dan Ayuna. Dia menceritakannya sedetail mungkin tanpa ada yang ditutup-tutupi atau dikurangi.
"Berengsek! Mau apa lagi dia?!" seru Dewa dengan menggebrak meja menggunakan kepalan tangannya.
Pak Suryo dan Bu Intan kaget melihat Dewa yang terlihat sangat emosi saat ini.
"Sekarang, di mana istri saya?" tanya Dewa pada waitress tersebut yang masih terlihat ketakutan.
"Ta-tadi berlari ke arah taman Pak," jawab waitress tersebut ketakutan.
Seketika Dewa berlari ke arah taman mencari istrinya. Matanya menelisik setiap celah untuk mencari istrinya. Bahkan Pak Suryo ikut mencari di semua ruangan di dalam restoran.
Sedangkan Bu Intan, dia merasa bersalah karena mengajak Reina datang ke restoran tersebut dan menghubungi Dewa untuk datang ke restoran tersebut.
"Ma, Ayuna gak ada di mana-mana. Aku harus mencarinya di mana Ma?" ucap Dewa yang terlihat frustasi masuk ke dalam restoran.
"Sabar Dewa, kita akan mencarinya bersama di sekitar sini. Pasti Ayuna akan cepat ditemukan. Kamu sabar ya," tutur Bu Intan sambil mengusap pundak Dewa.
"Kenapa Mama membawa wanita sialan itu datang ke sini?!" seru Dewa dengan mata yang berkabut emosi.
__ADS_1