Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 8 Tamu kurang ajar!


__ADS_3

Suara bel rumah Ayuna ditekan berkali-kali sehingga membuat Ayuna berlarian dari kamarnya di lantai atas menuju lantai bawah.


"Sebentaaaaaar!" teriak Ayuna seraya berlari menuju pintu.


Ceklek!


Seketika mata Ayuna membelalak melihat sosok orang yang ada di hadapannya.


"Hai...," sapa orang tersebut dengan memberikan senyuman yang mampu membuat Ayuna terpanah padanya.


"Gak disuruh masuk nih?" tanya orang tersebut dengan menengadahkan wajahnya pada wajah Ayuna.


"Eh! E-enggak, lagi gak nerima tamu," ucap Ayuna gugup.


Dewa tersenyum lebar melihat tingkah Ayuna yang sangat menggemaskan baginya.


Melihat Dewa yang menertawakannya, Ayuna merasa kesal. Dengan cepatnya tangan Ayuna meraih pintu untuk menutupnya. Namun tangan kekar Dewa berhasil menghalau pintu tersebut agar tidak bisa tertutup.


Senyum Dewa semakin melebar, dia puas karena bisa membuat Ayuna kembali kesal padanya.


"Iiih... minggir gak? Awas...!"


Ayuna mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menutup pintu yang dihalau oleh Dewa.


Percuma saja Ayuna mengerahkan seluruh tenaganya, hanya dengan satu tangan saja Dewa berhasil membuka pintu tersebut dan membuat Ayuna kehilangan keseimbangan.


Bruk!


Tubuh Ayuna ditangkap oleh Dewa hingga mata mereka saling bertatapan.


Deg!


Degup jantung Ayuna berdetak dengan cepat sehingga membuat Ayuna merasa tidak nyaman.


Dijauhkannya tubuh Dewa darinya dengan mendorongnya ketika dia sudah berdiri dengan sempurna.


Dengan kikuk Ayuna berjalan keluar rumahnya hingga membuat Dewa tertawa dan berseru memanggil namanya.


"Ay! Kamu mau ke mana?"


Ayuna yang tidak sadar berjalan keluar rumah kini kembali pada kesadarannya ketika Dewa memanggilnya.


Sontak saja Ayuna melihat sekelilingnya dan dia baru sadar jika harusnya dia masuk ke dalam rumahnya.


"Lah kenapa aku ada di sini? Harusnya kan aku masuk ke dalam. Iiih.... Yuna bodoh... bodoh... bodoh..."


Ayuna memukul-mukul kepalanya merutuki kebodohannya. Hal itu membuat Dewa semakin tertawa melihat tingkah lucu Ayuna.


Tawa Dewa terdengar di indera pendengaran Ayuna. Dia menatap nyalang ke arah Dewa yang masih saja tertawa melihatnya.


Ayuna menghentakkan kakinya dengan penuh rasa kesal menuju ke dalam rumahnya. Dengan wajah yang penuh kekesalan dia masuk dan menarik tangan Dewa agar keluar dari dalam rumahnya.

__ADS_1


Sialnya, seberapa pun tenaga yang dikeluarkan oleh Ayuna masih tetap saja tidak sebanding dengan tenaga Dewa.


Niat hati Ayuna menarik Dewa dan menyeretnya keluar dari dalam rumahnya. Namun pada saat Ayuna menarik tangan Dewa, bukannya Dewa yang tertarik malah badan Ayuna yang tertarik dan menabrak dada bidang milik Dewa.


Dewa menahan tubuh Ayuna agar tidak jatuh dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ayuna.


Mata mereka kembali bertatapan selama beberapa detik. Setelah itu Ayuna tersadar dan kembali memperlihatkan kekesalannya pada Dewa.


"Udah deh kamu pulang aja. Aku selalu sial kalau ada kamu," ucap Ayuna sambil mendorong-dorong badan Dewa.


Dan sama seperti sebelumnya. Badan Dewa tidak bergerak sedikit pun meskipun Ayuna sudah mengerahkan semua tenaganya.


"Iiiih.... berat banget sih badannya," ucap Ayuna sambil mendorong tubuh Dewa.


Ayuna pun berhenti ketika dia merasa tenaganya sudah habis. Dia mengatur nafasnya agar tidak terengah-engah dan mengumpulkan tenaganya kembali untuk menyingkirkan Dewa dari dalam rumahnya.


"Ay, capek ya?" ucap Dewa sambil tersenyum manis padanya.


"Oh saya sangat capek sekali Tuan Dewa. Oleh sebab itu lebih baik Kak Dewa pergi dari sini ya.... bye....," jawab Ayuna sambil berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Oh jadi gak mau HP nya ya?!" ucap Dewa dengan nada meledek pada Ayuna.


Seketika badan Ayuna berbelok ke belakang dan dia menghampiri Dewa dengan memasang senyum manis yang bisa meluluhkan hati Dewa.


Telapak tangan kanan Ayuna menengadah di depan Dewa dengan maksud ingin mengambil kembali ponselnya.


Dewa diam saja, dia ingin kembali menggoda Ayuna dengan pura-pura tidak mengetahui apa yang Ayuna maksudkan.


"HP ku!" jawab Ayuna dengan tegas dan sedikit berseru.


"Nanti setelah aku makan di sini," jawab Dewa sambil berjalan masuk ke ruang tamu yang sudah terlihat oleh matanya.


"Makan di sini? Kata siapa? Aku gak makan. Aku diet. Makan saja di rumahmu. Aku gak bisa masak," ucap Ayuna berusaha mengusir Dewa.


Bukannya pergi dari rumah Ayuna, kini Dewa malah duduk dengan santainya di kursi ruang tamu tersebut.


"Kok malah duduk sih? Pergi dong... kan udah diusir. Ya... ya... pergi ya... plisssss....," Ayuna mengeluarkan jurus manjanya agar Dewa tergerak dan mau meninggalkan rumahnya.


Dewa menahan senyumnya karena dia tidak mau Ayuna kembali kesal padanya.


"Duduklah di sini Ay, sebentar lagi makanan kita akan sampai," ucap Dewa dengan santainya.


"Hah?! Makanan? Kita?" celetuk Ayuna menirukan kata-kata yang keluar dari bibir Dewa sambil menunjuk wajahnya dan wajah Dewa secara bergantian dengan telunjuknya.


"Iya, aku pesan makanan untuk kita berdua makan bersama di sini," jawab Dewa sambil tersenyum manis pada Ayuna yang masih memperlihatkan wajah kesalnya.


"Lah ngapain?" celetuk Ayuna kembali.


Tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi. Ayuna menoleh pada Dewa, dan Dewa kembali tersenyum padanya.


Kaki Ayuna berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Banyak sekali sih yang datang, padahal aku tidak sedang menunggu siapapun," ucapnya lirih sebelum tangannya meraih handle pintu.


"Dengan Mbak Ayuna?" tanya orang yang sedang berdiri di depan pintu rumah Ayuna.


"Iya," jawab Ayuna dengan wajah bingung.


"Ini pesanannya, terima kasih Mbak. Selamat menikmati dan jangan lupa kasih bintang lima ya Mbak," ucap kurir makanan online tersebut.


Seolah terhipnotis, Ayuna menerima semua makanan tersebut dan kembali masuk ke dalam ruang tamu.


"Udah datang ya makanannya. Yuk kita makan," ucap Dewa seraya berjalan ke ruang makan melewati Ayuna yang masih terbengong dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisi makanan.


"Ay, ayo cepat siapkan makanannya, aku sudah lapar," Dewa kembali berseru pada Ayuna.


Dengan langkah gontai dan wajah cemberutnya Ayuna menuruti perintah Dewa. Dia menyiapkan semua makanan tersebut ke dalam piring dan menghidangkannya di meja makan yang sudah ada Dewa di sana.


"Makan Ay," perintah Dewa pada Ayuna ketika dia akan menyendokkan makanannya ke dalam mulutnya.


Karena perut Ayuna yang berdemo saat melihat semua makanan yang ada di hadapannya, Ayuna pun memakan makanannya.


"Apa ini?" tanya Ayuna sambil melirik makanan yang masih dalam kemasan box tersebut.


"Salad, buat kamu," ucap Dewa sambil tersenyum lebar pada Ayuna.


"Aku bukan embek. Aku pemakan daging, terutama daging manusia. Mangkanya cepat pulang daripada nanti kamu aku makan," ucap Ayuna dengan kesal sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.


Dewa tertawa mendengar ucapan Ayuna yang benar-benar sangat menghiburnya.


"Aku gak keberatan kalau kamu makan," ucap Dewa kemudian.


"Aku yang keberatan, daging kamu kan alot," sahut Ayuna dengan kesalnya.


"Udah yuk duduk, kita makan. Marah-marah juga butuh tenaga. Sekarang isi tenaga dulu biar bisa marah," ucap Dewa sambil mendudukkan Ayuna di kursi yang berada di sebelahnya.


Iya juga, gapapa deh makan dulu, kasihan cacing-cacing di perutku udah pada demi dari tadi, Ayuna berkata dalam hatinya seraya dengan menelan air liur melihat beberapa makanan lain yang menjadi favoritnya.


Setelah itu Ayuna tanpa malu-malu mengambil makanan kesukaannya dan memakannya dengan lahap.


Dewa tersenyum melihat Ayuna yang memakan dengan lahap makanan yang menjadi dibelinya.


Gadis ini unik, dia apa adanya, dia tidak pernah malu-malu dan sekarang dia makan tanpa malu ada aku di depannya, Dewa berkata dalam hatinya dengan senyumannya.


"Ay, kita udah seperti suami istri yang sedang makan bersama ya," ucap Dewa sebelum memakan kembali makanannya.


Seketika Ayuna tersedak, dia terbatuk dan kaget ketika Dewa mengatakan hal tentang suami istri yang disama-samakan dengan mereka berdua.


"Pelan-pelan Ay," ucap Dewa sambil memberikan segelas air putih yang baru diambilnya dari teko di depannya.


Ayuna pun mengambil gelas yang diberikan Dewa padanya dan meminumnya.


"Mangkanya Ay, hati-hati kalau makan. Masih latihan jadi suami istri aja sudah gugup, apalagi kalau beneran," Dewa kembali meledek Ayuna agar Ayuna kesal dan mau berbicara.

__ADS_1


Dasar tamu kurang ajar! Ayuna memaki Dewa dalam hatinya.


__ADS_2