Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 37 Pertemuan tak terduga


__ADS_3

Ayuna kembali merasa seperti wanita istimewa saat ini. Memang penampilannya tidak diubah, tapi perlakuan Dewa padanya membuatnya merasa sangat istimewa.


Kalau gini caranya, gimana aku bisa nolak dia? Udah cakep, penampilannya oke, perhatian, sepertinya dia sayang sama aku. Apa aku setujui aja ya nikah sama dia? Ayuna berkata dalam hatinya.


"Ay, ke sana yuk," ucap Dewa sambil menunjuk suatu tempat.


Tempat tersebut memang disiapkan oleh Dewa untuknya bersama dengan Ayuna tadi sebelum dia mengemudikan mobilnya, dia menghubungi seseorang untuk menyiapkannya sesuai dengan permintaannya.


Dari tempatnya kini berada Ayuna bisa melihat suasana sore hari dari tempat yang tinggi. Sungguh pemandangan yang sangat indah, apalagi menjelang malam semuanya sangat gelap hanya terlihat kerlap-kerlip lampu dan bintang yang menghiasi langit malam.


Di tempat itu mereka berdua menikmati makan malam mereka. Dengan sajian yang spesial, diiringi dengan suasana romantis yang tidak pernah sama sekali dibayangkan oleh Ayuna.


"Ay, gimana bagus kan?" tanya Dewa pada Ayuna yang sedang berdiri di tepi dinding pembatas.


"Bagus bangeeeet...," ucap Ayuna dengan mata yang berbinar.


"Ay, kamu ingin pernikahan kita seperti apa?" tanya Dewa dengan memandang wajah calon istrinya.


Ayuna pun menoleh memandang wajah calon suaminya itu. Dia memperhatikan wajah tampan calon suaminya itu secara seksama.


"Aku ingin pernikahanku sangat istimewa dan tidak mudah dilupakan," jawab Ayuna sambil tersenyum manis pada Dewa.


Rasanya Dewa tidak bisa menahan lagi kebahagiaannya setelah melihat senyum manis Ayuna yang diberikan untuknya.


Dewa berpindah ke belakang tubuh Ayuna dan memeluknya dari belakang. Seolah terbawa suasana, Ayuna tidak menolaknya, bahkan dia sangat menikmatinya.


Ayuna selalu menjawab semua pertanyaan yang diajukan Dewa disertai dengan senyumannya. Bahkan mereka bercanda dan tertawa bersama hingga tangan Ayuna pun berada di atas tangan Dewa yang memeluknya dari belakang.


Indahnya langit malam yang disertai kerlipnya bintang-bintang dengan dinginnya hembusan angin malam membuat Dewa dan Ayuna larut dalam keromantisan yang dibuatnya.


"Kak, mau ke mana?" tanya pelayan cafe yang mengetahui Felix, Gavin, Viktor dan Devan sudah berada di tangga paling atas.

__ADS_1


"Mau ke atas. Biasanya kita ke sini. Kita. mau makan di sana, pemandangannya bagus," jawab Viktor yang berada di tangga paling bawah diantara ketiga sahabatnya.


"Tapi hari ini tidak bisa digunakan Kak," tukas pelayan cafe tersebut.


"Lah kenapa?" tanya Gavin heran.


"Sedang digunakan yang punya cafe Kak," jawab pelayan cafe tersebut.


"Oh gitu, sayang sekali. Yuk Dev, turun. Kita makan di bawah aja," ucap Felix sambil menarik tangan Devan yang berada di dekatnya.


Devan masih saja melihat ke arah tempat yang ingin dia tempati. Dia tidak mendengarkan ajakan sahabat-sahabatnya untuk kembali turun ke bawah.


Felix yang sedari tadi merasa diacuhkan oleh Devan, dia mendekati Devan dan ingin mencari tahu apa yang membuat Devan hingga tertegun seperti itu.


"Dev, liatin apaan sih? Yuk kita... Ayuna, Pak Dewa?!" ucap Felix yang kaget melihat Ayuna bersama dengan Dewa begitu mesra dan bahagia.


Sontak saja Gavin dan Viktor mendekat ke tempat Felix dan Devan, mereka juga ingin melihat apa yang dilihat oleh kedua sahabatnya itu.


"Ayuna dan Pak Dewa benar-benar ada di mana-mana," celetuk Viktor dengan pandangan matanya yang masih melihat ke arah Dewa dan Ayuna.


Sontak saja tangan Felix menoyor kepala Gavin dan Viktor. Kemudian dia menarik tangan Devan untuk ikut turun bersama dengannya.


Devan yang badannya masih sedikit merasakan sakit, kini hatinya lebih sakit dirasanya. Dia hanya menurut ketika tangannya ditarik oleh Felix untuk turun ke lantai bawah.


Mereka ingin berpindah tempat, sayangnya gerimis mulai datang, sehingga mereka malas untuk berpindah tempat.


Di atap cafe tersebut, Dewa segera menekan tombol untuk menutup atapnya agar dirinya dan Ayuna bisa tetap berada di sana tanpa terganggu oleh hujan.


Ayuna kembali dibuat kagum oleh cafe milik Dewa itu. Dia tidak mengira jika atapnya bisa ditutup secara otomatis hanya dengan menekan suatu tombol.


"Ay, sepertinya kita gak bisa pulang kalau hujannya sangat lebat dan gak berhenti-berhenti," tukas Dewa sambil melihat hujan dari kaca jendela.

__ADS_1


"Bukannya itu yang kamu mau? Sepertinya ini juga atas doa Mama," ucap Ayuna sambil terkekeh.


Dewa menoleh ke arah Ayuna yang masih terkekeh melihat ekspresi kaget Dewa yang mendengar perkataannya.


"Kamu gak marah Ay?" tanya Dewa sambil Ayunaberjalan mendekat ke arah Ayuna.


"Percuma marah, toh juga gak akan bisa sampai rumah meskipun marah-marah sampai mulutku berbusa," jawab Ayuna yang kembali terkekeh mengatakannya.


Dewa tersenyum lega dan dia memeluk tubuh calon istrinya itu sangat erat, hingga Ayuna sulit bernafas.


"Kak, jangan kencang-kencang, rasanya aku sulit bernafas," ucap Ayuna sambil berusaha mengurai pelukan Dewa.


Dewa sedikit melonggarkan pelukannya dan memandang wajah calon istrinya itu seperti tak ada bosannya.


"Jangan dilepas, dingin," ucap Dewa sambil memeluk kembali tubuh Ayuna yang akan segera menjadi istrinya itu.


Entah mengapa, Ayuna menurut, dia membalas pelukan Dewa dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Dewa.


"Hangat bukan?" tanya Dewa berbisik di telinga Ayuna.


"Apa ini juga sudah ada dalam rencanamu?" tanya Ayuna berbalas bisik di telinga Dewa.


Dewa tertawa mendengar bisikan dari Ayuna. Dia tidak mengira jika Ayuna menduga semuanya sudah dalam rencananya.


"Mana bisa aku prediksi hujan Sayang?" bisik Dewa kembali di telinga Ayuna.


"Kali aja Kak Dewa sewa pawang hujan," Ayuna membalas berbisik di telinga Dewa.


"Nanti aja kalau acara pernikahan kita, akan aku sewa pawang hujan agar hujan tidak datang ketika acara pesta berlangsung. Tapi... ketika malam harinya, aku suruh dia untuk mendatangkan hujan," tutur Dewa sambil terkekeh.


"Hah, kenapa malam harinya harus didatangkan hujannya kak? kasian kan bolak balik, habis disingkirkan hujannya, terus didatangkan," tukas Ayuna dengan menampakkan wajah bingungnya.

__ADS_1


Dewa tertawa mendengar perkataan calon istrinya itu. Kemudian dia berkata,


"Ya supaya kita berdua bisa main hujan-hujanan."


__ADS_2