
"HP... HP... mana HP ku?"
Tangan Ayuna menengadah di depan Dewa ketika mereka sudah selesai makan.
Dewa tersenyum lebar dan dia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel milik Ayuna yang dia sudah siapkan tadi sebelum datang ke rumah Ayuna.
"Ini nona manis," ucap Dewa ketika memberikan ponsel tersebut pada Ayuna.
Seketika tersirat semburat pink pada wajah Ayuna. Dan jantungnya kembali berdegup kencang seperti pada saat mereka bertatap mata ketika Dewa menghalau tubuh Ayuna dengan tangan kekarnya pada saat dia akan terjatuh.
Dewa tersenyum melihat wajah malu Ayuna karena ucapannya. Dan dia merasa puas untuk sekarang bertemu dengan Ayuna.
"Udah ah, pulang... pulang... pulang sana," ucap Ayuna sambil mendorong-dorong tubuh Dewa sekuat tenaga untuk menutupi rasa malunya.
Tubuh Dewa pun terdorong hingga keluar dari pintu dan Ayuna pun menutup pintunya dengan kekuatan tak terkendali.
Brak!
Dewa pun terkekeh melihat tingkah Ayuna yang malu karenanya.
Untuk saat ini sudah cukup. Besok kita main-main lagi, batin Dewa sambil melihat pintu tersebut.
Setelah itu dia berjalan pulang dengan bersiul sebagai perwujudan kebahagiaannya.
Ayuna yang sudah berada di dalam kamarnya menyikap tirai jendela kamarnya yang berada di lantai atas dan melihat Dewa masuk ke dalam rumahnya.
"Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa aku merasakan hal yang tidak pernah aku rasakan? Kenapa rasanya aneh gini ya? Ah sudahlah..."
Ayuna bermonolog sambil melihat Dewa dan meletakkan tangannya pada dadanya untuk merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang ketika bersama dengan Dewa.
Keesokan harinya, Ayuna melihat sekitar depan rumahnya dari jendela rumahnya. Dia melihat ke arah kanan, kiri dan depan rumahnya. Lebih tepatnya rumah Dewa yang berada persis di depan rumahnya.
"Udah aman gak ya? Ah aman kayaknya. Yuk cus Yuna, kita berangkat.....," ucap Ayuna sambil menutup tirai jendelanya.
Dibukanya pintu rumah itu dengan riangnya seperti biasanya. Dia berjalan dengan riangnya sambil tangannya berayun-ayun dan memutar badannya seraya menyanyikan lagu kesukaannya.
"Let it go.... let it gooo....-"
Seketika mulutnya menutup rapat ketika mendapati Dewa sudah berdiri di depan tembok pagarnya.
O'o.. pantas aja gak keliatan, ternyata orangnya ngumpet di depan tembok besar ini. Isss... ngapain sih Papa bikin tembok setinggi ini, jadi gak kelihatan kan orangnya ngumpet disitu.
__ADS_1
Ayuna mengomel dalam hatinya, namun wajahnya menjadi pink karena malu ketahuan oleh Dewa dirinya yang sedang menari dan menyanyikan lagu soundtrack film kesukaan anak-anak itu.
"Sudah siap?" tanya Dewa dengan menahan tawanya melihat wajah Ayuna yang memerah karena malu padanya.
Karena rasa malunya, Ayuna tidak menjawab, dia bergegas berjalan agar tidak ditanya lagi oleh Dewa.
"Ay, kamu mau ke mana? Bukannya ke arah sana ya jalannya?" tanya Dewa ketika melihat Ayuna berjalan ke arah yang berlawanan.
"Iiiisss... bodoh... bodoh... bodoh.... Ayuna kenapa kamu bodoh sekali," ucap lirih Ayuna sambil memukuli kepalanya sendiri.
Kemudian dia berbalik dan berjalan ke arah yang benar dan melewati Dewa yang masih berada di tempatnya sambil terkekeh melihat Ayuna.
"Hufffftt... kenapa aku selalu terlihat bodoh di depannya. Padahal aku ini pinter loh. Kata Mama aja aku pinternya kebangetan."
Ayuna bermonolog seiring langkah kakinya berjalan menuju jalan raya untuk mencegat taksi yang lewat karena dia tidak sempat memesan ojek online sejak tadi.
Tin... tin... tin...
Tiba-tiba ada sebuah mobil yang tidak asing berada di sebelahnya, berjalan sangat lambat dan membunyikan klaksonnya.
"Ay, masuk!" perintah Dewa pada Ayuna yang berjalan di samping mobilnya.
Ayuna menggelengkan kepalanya dan menolak masuk ke dalam mobil Dewa.
Dewa mencoba menakut-nakuti Ayuna dengan menggunakan ancaman nilai dan hukuman padanya.
Dengan seketika Ayuna langsung membuka pintu mobil Dewa dan duduk di jok sebelah Dewa.
"Gitu dong biar gak dikira saya tetangga yang jahat," ucap Dewa sambil terkekeh.
"Bapak jahat ih, masa' ngancam pakai bawa-bawa hukuman sama nilai. Mentang-mentang situ dosen bisa seenaknya," Ayuna mengeluarkan unek-unek kekesalannya pada Dewa.
"Terserah saya dong, saya kan dosennya," jawab Dewa dengan entengnya.
"Ya udah, kalau gitu terserah saya dong, saya kan muridnya," ceplos Ayuna tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Oh jadi gak mau nilai tinggi nih? Kira-kira orang tua kamu kaget gak ya kalau pulang lihat nilai anaknya jelek banget?" ucap Dewa kemudian.
"Hah?!" celetuk Ayuna sambil menatap nyalang pada Dewa yang sedang mengemudi dan tersenyum-senyum puas karena berhasil menjahili Ayuna sedari tadi.
"Jangan galak-galak, nanti gak ada yang suka," ucap Dewa dengan tawanya yang masih belum reda.
__ADS_1
"Biarin!" jawab Ayuna kesal.
"Eh jangan dong, bisa-bisa gak nikah dong aku kalau gak ada yang suka."
Tiba-tiba Ayuna meralat ucapannya karena mengingat selama ini tidak ada satupun laki-laki yang mendekatinya. Dia takut jika ucapannya menjadi doa bagi dirinya sendiri.
Seketika tawa Dewa semakin menjadi, dia tidak menyangka jika ada perempuan yang akan mengatakan seperti itu.
"Gak usah ketawa, gak lucu," ucap Ayuna dengan sewotnya.
"Tenang aja, kamu bakalan nikah sama aku. Jadi biar aja gak ada yang deketin kamu."
Dewa mengatakannya sambil mengusap rambut Ayuna dengan lembut. Hal itu membuat Ayuna terdiam. Dia tidak bisa mengelak ataupun marah pada Dewa.
Entahlah, dia merasa aneh dengan perasaannya. Merasa selalu kesal pada Dewa namun dia nyaman jika berada di dekatnya seperti sekarang ini.
Setelah beberapa detik, Ayuna ingat bahwa Dewa pernah mengatakan jika dia sudah mempunyai wanita yang akan dinikahinya dalam waktu dekat ini.
"Ih kamu kan udah mau nikah. Gak boleh ngomong gitu ke perempuan lain," ucap Ayuna sambil menjauhkan kepalanya dari tangan Dewa dan setelah itu dia merapikan rambutnya dengan tangannya.
Dewa pun tersenyum, dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya, namun menurutnya ini belum saatnya.
"Nanti kamu pasti akan tau. Sekarang belum saatnya untuk kamu tau," ucap Dewa.
Ayuna mengernyitkan dahinya. Kemudian dia berkata,
"Maksudnya?"
Dewa pun kembali tersenyum dan dia menjapit hidung Ayuna yang mancung itu setelah mobilnya sudah berhenti di parkiran kampus mereka.
"Iiih... ini kebiasaan deh. Tolong ya tangannya dikondisikan," ucap Ayuna sambil melepaskan tangan Dewa dari hidungnya.
Dewa semakin terkekeh mendengar kata-kata Ayuna yang benar-benar sangat menghiburnya. Kemudian dia berkata,
"Ya udah yuk turun, nanti telat loh bisa-bisa saya hukum."
Dengan segera Ayuna membuka pintu mobilnya, namun tidak bisa terbuka.
"Kak, eh Pak, buka dong kuncinya. Gak bisa keluar nih," ucap Ayuna dengan paniknya.
Dan Dewa pun kembali terkekeh karena berhasil menjahili Ayuna sambil tangannya membuka tombol kunci agar pintu mobil bisa terbuka.
__ADS_1
Ayuna segera keluar dari mobil Dewa dan sialnya banyak mata yang mengetahui itu, sehingga lagi-lagi Ayuna menjadi bahan omongan mereka.