Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 12 Kekesalan Ayuna


__ADS_3

Tanpa basa-basi, Ayuna mendatangi Dewa ke rumahnya. Berbekal dengan ponsel yang dia bawa, Ayuna mendatangi rumah Dewa dengan rasa kesal dan amarah yang sudah memuncak.


Brak... brak... brak...


Ayuna mengetuk pintu dengan kedua telapak tangannya yang mengeluarkan tenaga ekstranya.


"Dewaaaaaa..... keluar....!!!"


"Keluar kau Dewa, atau ku dobrak pintu ini!"


Dengan nafas yang memburu dan dada yang naik turun, Ayuna sekuat tenaga berteriak memanggil Dewa agar segera keluar untuk menemuinya.


Dewa segera berlari membuka pintu ketika mendengar suara Ayuna yang memanggilnya.


Dengan perasaan berdebar, Dewa membuka pintu rumahnya. Dan matanya terbelalak melihat Ayuna yang berada di depannya saat ini.


Ayuna yang imut dan cantik itu memakai celana pendek mini dengan atasan tanktop tali spaghetti berwarna hitam yang kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih.


Dewa terpanah melihat gadis imut dan cantik yang selama beberapa hari ini selalu mengganggu pikirannya.


Bahkan Ayuna yang sedari tadi mengomel padanya terasa seperti sedang menyanyi dengan suara merdunya.


"Dewaaaaaaaaaaa......!"


Suara teriakan Ayuna yang sangat lantang itu membuat Dewa kembali pada kesadarannya.


"Dari tadi aku ngomong, teriak-teriak, ngomel-ngomel gak didengerin. Maunya apa sih?"


Ayuna tak henti-hentinya meneriaki Dewa di hadapannya. Dia bertambah marah ketika Dewa tidak meresponnya, bahkan Dewa hanya diam saja menatapnya.


"Apa sih sayang?" tanya Dewa sambil tersenyum manis pada Ayuna.


Dan senyuman manis yang diberikan Dewa padanya mampu membuatnya diam karena terpanah dengan senyumannya itu.


Mendengar kata sayang dilayangkan oleh Dewa untuknya, jantung Ayuna pun tak kalah kencang bergemuruh seperti genderang yang ditabuh sekeras mungkin oleh pemiliknya.


"Ay, ada apa? Masuk yuk."


Dewa menarik tangan Ayuna yang masih saja diam menatapnya. Dia tidak merasa jika kini tangannya telah ditarik oleh Dewa dan berjalan masuk ke dalam ruang tamu Dewa.


Tubuh Ayuna didudukkan oleh Dewa di sofa yang panjang dan duduk berdampingan dengan Dewa.


Dewa masih saja menatapnya dengan memberinya senyum manisnya tepat di depan wajah Ayuna.

__ADS_1


"Ay, kamu tadi mau ngomong apa?" tanya Dewa kembali pada Ayuna.


Seketika Ayuna tersadar jika dia telah terhipnotis oleh senyuman Dewa yang kadarnya sangat luar biasa hingga Ayuna tidak dapat menolaknya.


"Ay...," ucap Dewa kembali.


"Eh anu, itu, apa... apa ya tadi? Itu loh, apa sih?"


Ayuna bingung dengan apa yang akan dia katakannya. Senyuman Dewa telah memporak porandakan hati Ayuna.


Dewa menahan tawanya, dia tersenyum agar Ayuna tidak marah padanya.


Seketika tangan Dewa mengambil ponselnya dari saku celananya. Kemudian dia mengarahkannya ke depan wajah mereka dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ayuna.


Tanpa ijin dari Ayuna, Dewa menyalakan kamera depan pada ponselnya untuk mereka foto bersama.


"Kita foto dulu Ay mumpung ingat. Kita kan belum pernah foto bersama," ucap Dewa sambil mengarahkan kamera ponselnya mencari angle terbaik.


Ayuna pun ikut bergaya terbawa suasana karena kebiasaannya yang suka berfoto dan ber selfie ria.


Setelah itu Dewa melihat-lihat hasil fotonya bersama Ayuna dan mengomentari tiap foto yang dihasilkan oleh tangan Dewa.


"Eh kirimin dong foto-fotonya," ucap Ayuna sambil memperlihatkan ponselnya pada Dewa.


Notifikasi pesan pun berbunyi. Dilihatnya seluruh foto-foto tersebut. Namun wajah Ayuna kembali tegang karena melihat video kiriman dari Dewa tadi yang membuat Ayuna menjadi kesal dan emosi ketika melihat foto-foto kiriman dari Dewa barusan.


"Loh aku ke sini kan mau marah-marah. Kenapa malah jadi foto-foto?" tanya Ayuna pada dirinya sendiri.


Dewa susah payah menahan tawanya agar Ayuna tidak kembali marah padanya. Namun kemarahan Ayuna saat ini bisa membuat Dewa ketar ketir karena Ayuna yang sedang marah malah mendekatkan tubuhnya pada Dewa dengan membusungkan dadanya agar Dewa mau mengakui kesalahannya.


"Jelaskan, kenapa anda mengambil video saya tanpa seijin saya? Apalagi itu pada saat saya sedang dihukum. Maunya anda apa sih? Kenapa anda selalu mengganggu saya?"


Ayuna mengeluarkan semua kekesalannya yang dia pendam selama dari rumahnya menuju rumah Dewa.


"Kan buat kenang-kenangan Ay kalau aku kangen sama kamu," jawab Dewa yang lagi-lagi mengeluarkan senyuman mautnya.


Ayuna kembali gelagapan melihat senyuman Dewa, namun sekuat hati dia menahan debaran jantungnya dan kembali mengomel pada Dewa.


"Kangen... kangen. Dilarang kangen dengan orang asing!" ucap Ayuna tegas.


"Aku bukan orang asing Ay. Aku itu.... ah nanti pasti kamu akan tau. Sekarang yang penting adalah kamu dilarang pergi nonton bersama teman kamu yang mengantar kamu pulang tadi."


Dewa mengatakan keinginannya dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.

__ADS_1


"Loh kenapa? Apa hak anda melarang saya? Anda bukan dosen saya sekarang ini dan anda tidak berhak mengatur hidup saya, apalagi mengatur dengan siapa saya akan pergi."


Ayuna tidak mau kalah dengan Dewa. Dia sekarang berani melawan karena dia tidak sedang menjadi mahasiswi dari Dewa saat ini.


Ayuna mengikuti Dewa dengan melipat tangannya di depan dadanya dan dia lebih mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga kini dia berjarak sangat dekat di depan Dewa.


Dan sekarang giliran Dewa lah yang ketar ketir melihat Ayuna yang mendekat padanya. Dia takut jika tidak bisa mengendalikan dirinya.


Bibir pink alami milik Ayuna seolah memanggilnya untuk segera dicicipinya. Sekuat tenaga Dewa menahannya hingga dia meneguk ludahnya sendiri memperlihatkan jakunnya yang bergerak naik turun.


"Jadi, tolong hapus video saya itu dari HP anda bapak Dewa yang terhormat. Jika anda tidak bisa menghapusnya, perkenankan saya yang menghapusnya untuk anda. Sekian terima kasih," ucap Ayuna dengan tegas dan menekankan setiap katanya.


Sejenak hening karena Dewa masih dalam lamunannya dengan melihat ke arah bibir Ayuna. Sedangkan Ayuna diam karena merasa heran pada Dewa yang diam saja tidak seperti biasanya.


Kenapa dia diam saja? Apa dia takut jika aku melawannya seperti ini? Ah jika memang dia takut, kenapa gak dari kemarin-kemarin aja sih aku melawan seperti ini, kan aku gak jadi tertindas seperti kemarin ceritanya kalau aku berani melawan. Ck, Ayuna... Ayuna... bodoh sekali sih kamu.


Ayuna tersenyum ketika mengatakan itu semua dalam hatinya.


Senyuman Ayuna itu menyadarkan lamunan Dewa. Seketika dia teringat akan rencananya tentang video hukuman Ayuna yang dia kirimkan tadi. Kemudian dia berkata,


"Pokoknya aku gak mau lihat kamu besok nonton sama teman cowok kamu itu. Titik."


"Hah?! Apa urusannya dengan anda? Terserah saya dong mau nonton sama siapa," ucap Ayuna dengan kesal dan bernada tinggi.


"Pokoknya saya tidak suka. Dan jika kamu tetap melakukannya, maka video tadi akan saya sebarkan agar kamu menjadi viral seketika. Bagaimana, apa kamu mau itu terjadi?"


Dewa menantang Ayuna dengan memberi pilihan padanya.


Gigi Ayuna bergemelatuk menahan amarahnya, hidungnya yang mancung kini kembang kempis dan dadanya naik turun dengan nafas yang tidak beraturan menahan amarah dan kekesalannya pada Dewa, cowok tampan di depannya yang selalu membuatnya kesal tiap bertemu dengannya.


"Dewaaaaaaaaa..... hiyaaaaa........."


Ayuna sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia menyerang Dewa dengan sangat brutal.


Dihempaskannya tubuh Dewa di atas kursi dan tangannya berusaha meraih ponsel milik Dewa.


Dewa yang tidak siap dengan serangan Ayuna tentu saja dengan mudahnya bisa digulingkan oleh Ayuna.


Kini Ayuna berada di pangkuan Dewa demi meraih dan mengambil paksa ponsel Dewa.


Namun Dewa tetap saja mempertahankan ponsel miliknya sehingga mereka sangat lama dalam posisi seperti itu, Ayuna berada di pangkuan Dewa dengan kedua kakinya yang berada di samping kiri dan kanan Dewa dan tubuhnya menghadap ke arah depan Dewa.


Sungguh pemandangan yang sangat membuat siapa saja berpikiran buruk pada mereka.

__ADS_1


"Kalian sedang apa?"


__ADS_2