Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 21 Terciduk


__ADS_3

Dewa yang sedang menyendok makanannya ke dalam mulutnya menjadi terhenti ketika Ayuna mendobrak masuk ke dalam ruangannya.


Ayuna terpaku melihat Dewa yang membuka mulutnya siap menerima makanan yang telah berada di sendoknya.


Mata Ayuna seketika melotot mengetahui bahwa Dewa baik-baik saja. Bahkan wajahnya pun segar dan tidak tampak lesu ataupun pucat sama sekali.


Sontak saja sendok yang ada di tangan Dewa jatuh pada box makanannya melihat Ayuna yang memelototinya seperti tidak akan membiarkannya menikmati makanan yang ada di hadapannya itu.


"Ay," ucap Dewa sambil tersenyum kaku.


"Sakit? Iya? Sakit atau lapar?!"


Ayuna bertanya seraya berjalan mendekati meja Dewa.


Melihat tatapan Ayuna yang seolah akan menelannya hidup-hidup itu membuat Dewa kesusahan menelan makanannya. Hingga jakunnya naik turun mencoba menelan makanan yang tadi dikunyahnya.


"Sakit Ay, mangkanya ini makan, mau minum obat," jawab Dewa mengiba.


Ayuna memicingkan matanya melihat Dewa dengan curiga. Kemudian dia berkata,


"Sakit apa?"


Jantung Dewa berdegup kencang ketika Ayuna mendekatinya dan menengadahkan wajahnya dengan menempelkan punggung tangannya pada dahi Dewa.


Kini Dewa benar-benar gugup. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Dia ketakutan jika Ayuna mengetahui kebohongannya.


Demi Tuhan, jangan sampai dia tau aku berbohong, batin Dewa dengan badan yang tegang.


Ayuna meletakkan punggung tangannya pada dahi Dewa, kemudian beralih meletakkan punggung tangannya pada dahinya sendiri.


"Kok sama panasnya sih? Sama keringatan juga. Apa aku juga sakit?" celoteh Ayuna lupa akan kehadiran Dewa di sana.


Seketika Dewa ingin tertawa mendengar celotehan Ayuna. Ternyata Ayuna tidak sadar jika badan Dewa panas karena berdekatan dengan dirinya dan keringat dingin Dewa juga akibat adanya Ayuna yang berada di hadapannya saat ini.


Sedangkan Ayuna badannya panas dan berkeringat karena berlarian menuju ruangan Dewa.


Dewa sangat menikmati wajah Ayuna yang kini sangat dekat dengannya. Jantungnya yang berdebar cepat seperti genderang perang yang ditabuh membuat Dewa menjadi kewalahan menenangkan hatinya.


Kini giliran Dewa yang merasakan hal itu dan Ayuna tidak sadar jika dirinya kini bagaikan duduk dipangkuan Dewa jika dilihat dari arah depan.

__ADS_1


"Ay, kamu mau makan?" tanya Dewa untuk mengalihkan perhatiannya.


Ayuna sedikit menjauh dari Dewa, kemudian dia melihat makanan yang ada di meja Dewa.


"Cuma ada satu box, buat kamu aja. Aku nanti beli di kantin," jawab Ayuna seraya menjauhkan badannya dari hadapan Dewa.


Dengan cepatnya tangan Dewa berada di mejanya untuk menghalangi kepindahan badan Ayuna, sehingga Ayuna kini seperti berada dalam kungkungannya.


Ayuna terperangah, dia tidak mengira jika kini dia benar-benar berhadapan dengan Dewa sangat intens.


"Kita makan berdua saja Ay. Nanti pulangnya kita beli makan lagi," ucap Dewa sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Ayuna dan memberikan senyuman manisnya.


Bagai terhipnotis, Ayuna hanya terdiam dan menggerak-gerakkan bulu matanya saja. Sedangkan tangan Dewa kini sedang sibuk menyendok makanannya dan mengarahkan sendok tersebut pada mulut Ayuna.


Lagi-lagi Ayuna menurut. Mulutnya terbuka begitu sendok tersebut ada di depannya. Dan satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut Ayuna. Dewa tersenyum puas setelahnya.


"Nah gitu dong Ay," ucap Dewa sembari mengelap bibir Ayuna yang terdapat sisa makanan.


Sentuhan jari tangan Dewa pada bibir Ayuna membuat hati Ayuna berdesir. Jantungnya kembali berdetak cepat, apalagi Dewa kini memberikan senyuman manisnya untuk Ayuna.


Jantung, kondisikan dirimu,batin Ayuna sambil mengunyah makanannya.


Gadis di depannya inipun terpanah oleh wajah tampan dan senyum manis milik Dewa. Dalam diam mereka saling memandang dan mengagumi.


Sesendok demi sesendok makanan itu masuk ke dalam mulut mereka berdua hingga suapan terakhir itu Dewa berikan untuk gadis yang ada di hadapannya.


Seolah tidak merasa capek, Ayuna masih saja berdiri di hadapan Dewa. Sepertinya dia lupa jika sekarang dia sedang berdiri sedari tadi. Entah karena dia tidak capek atau karena terbuai oleh keadaan sehingga melupakan posisinya saat ini.


"Udah gak panas kan Ay?" tanya Dewa sambil menempelkan punggung tangannya pada dahi Ayuna.


Kini Ayuna bertambah gugup, tangan Dewa yang menempel di dahinya kini membuat jantungnya semakin berdetak cepat. Dan wajah Dewa yang berada tepat di depan wajahnya membuatnya tidak berkutik.


Kini bergantian Ayuna lah yang merasakan apa yang dirasakan oleh Dewa pada saat Ayuna memeriksa suhu badannya.


"Sudah normal sepertinya Ay. Berarti tadi kamu lapar mungkin Ay, atau mungkin karena kamu panik mendengar aku sakit?"


Dewa berdiri dari duduknya dan meletakkan kedua tangannya pada meja sehingga badan Ayuna berada di dalam kungkungan Dewa.


Mereka saling menatap dalam dan wajah Dewa semakin mendekat pada wajah Ayuna, sehingga Ayuna memejamkan matanya karena dia tidak bisa membayangkan apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Dewa.

__ADS_1


Dewa tersenyum melihat Ayuna yang memejamkan matanya, sehingga timbullah kejahilan dari Dewa.


Dewa semakin mendekatkan wajahnya hingga terpaan nafas Dewa bisa dirasakan oleh kulit wajah Ayuna. Namun semakin mendekat wajah Dewa, ternyata Dewa membelokkan arahnya.


Kini bibir Dewa berada di telinga Ayuna sehingga bulu kuduk Ayuna meremang.


"Apa kamu mau menikah denganku?" bisik Dewa di telinga kanan Ayuna.


Layaknya orang yang terbuai, Ayuna menganggukkan kepalanya dengan mata yang masih terpejam.


Seketika Dewa tersenyum senang dan memeluk tubuh Ayuna. Hal itu membuat Ayuna sadar dan matanya pun terbuka.


"Eh, apa ini?" ucap Ayuna sambil mendorong tubuh Dewa menjauh darinya.


Dewa yang tidak siap menahan dorongan dari Ayuna membuat tubuhnya terdorong menjauh dari Ayuna.


"Ay, kamu lupa? Barusan kamu menerima lamaranku," ucap Dewa sambil mendekat kembali pada Ayuna dan mengungkungnya kembali.


"Lamaran? Kapan? Gak ada, aku masih kecil," tukas Ayuna dengan gugup.


"Kamu tidak bisa membatalkannya begitu saja Ay, kamu sudah menerimanya," ucap Dewa dengan senyum puasnya.


Ayuna mengigit bibir bawahnya, dia malu dengan kebodohannya yang baru dia sadari.


"A-aku... aku tidak sadar. Jadi itu bukan menyetujui," ucap Ayuna gugup dan gelagapan dengan melihat ke sana kemari menghindari tatapan mata Dewa.


Tubuh Ayuna berputar mencari jalan keluar dari kungkungan tangan Dewa.


Secepat kilat tangan Dewa membawa tubuh Ayuna ke atas pangkuannya. Kini Dewa duduk di kursi kebesarannya dengan Ayuna yang berada di atas pangkuannya.


"Lepaskan, lepaskan aku!" seru Ayuna.


Ayuna memberontak dengan memukul-mukul tangan Dewa dan mencoba merenggangkan tangan Dewa agar dirinya bisa keluar dari pangkuan Dewa.


"Diam Ay, ada yang sensitif di bawah. Jika kamu bergerak terus, maka kamu akan membangunkannya," ucap Dewa dengan menahan gerakan Ayuna.


"Kalian sedang apa?"


Tiba-tiba terdengar suara bariton yang sangat mereka kenal. Pak Lukman, dia melihat pintu ruangan Dewa terbuka dan mendengar suara Dewa dengan suara perempuan, sehingga dia ingin tahu apa yang sedang terjadi. Kini ternyata dia memergoki Dewa sedang memangku Ayuna.

__ADS_1


__ADS_2