
"Maaf Pak, apa Pak Andika bisa membantu saya?" tanya Dewa pada Pak Andika.
"Membantu? Membantu apa?" tanya Pak Andika dengan mengerutkan dahinya.
"Membantu saya agar bisa lebih dekat dengan Ayuna," jawab Dewa kemudian.
"Apa kalian belum berpacaran?" tanya Pak Andika pada Dewa.
"Sepertinya sulit Pak. Ayuna selalu dikelilingi oleh teman-teman cowoknya," jawab Dewa mencoba mengambil simpati Pak Andika.
"Maksud kamu keempat cowok teman Yuna itu?" tanya Pak Andika untuk meyakinkan pemikirannya.
"Iya Pak. Bagaimana saya bisa mendekati Ayuna jika mereka selalu ada di samping Ayuna?" ucap Dewa dengan memperlihatkan wajah sedihnya.
"Apa kamu yakin mencintai Ayuna, anak saya?" tanya Pak Andika kembali.
"Saya yakin Pak," jawab Dewa dengan tegas.
"Baiklah, kamu tenang saja, Bapak pasti akan membantumu," ucap Pak Andika kemudian.
Setelah itu Pak Andika berpamitan pulang pada Dewa dan berjanji akan membantu Dewa untuk bisa mendekati Ayuna.
Setelah kepulangan Pak Andika, Dewa segera membaca semua pesan yang dikirimkan oleh Ayuna padanya sejak dia disuruh Pak Andika pulang ke rumahnya tadi.
Senyum Dewa mengembang, dia sangat senang mendapatkan begitu banyak pesan dari gadis yang selama beberapa hari ini mengisi hari-harinya.
Jika ada yang membaca semua pesan yang dikirimkan oleh Ayuna pada Dewa, pasti orang tersebut akan membicarakan tentang kewarasan Dewa saat ini.
Semua pesan yang dikirimkan oleh Ayuna merupakan pesan ancaman padanya, namun Dewa terlihat sangat senang membaca semua pesan tersebut hingga membuatnya senyum-senyum sendiri layaknya orang yang kurang waras.
Kini Ayuna dan kedua orang tuanya sedang bersiap untuk makan malam. Mereka baru saja berkumpul di meja makan.
Tok... tok... tok...
Suara pintu rumah Ayuna diketuk oleh seseorang di luar sana.
Bu Andini, Mama Ayuna segera berdiri ketika mendengar suara pintu rumah mereka yang diketuk.
"Biar Papa aja Ma. Siapkan saja makanannya," ucap Pak Andika sambil berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Pak Andika, Papa Ayuna berjalan masuk kembali ke dalam ruang makan dengan membawa seseorang bersamanya.
"Ma kenalkan, dia Dewa anak dari Pak Antonio," ucap Pak Andika sambil memegang lengan Dewa.
Ayuna yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, kini mengalihkan pandangannya untuk melihat ke arah Papanya. Terlihat sekali Ayuna yang sangat kaget melihat Dewa yang kini sudah berdiri di hadapannya.
Mau apa sih dia di sini? Kenapa dia harus ada di sini? Apa maunya sampai malam jam segini dia datang ke sini?
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya ditanyakan oleh Ayuna dalam hatinya saja. Tidak mungkin dia berani menanyakannya jika ada Mama dan Papanya bersama mereka saat ini.
"Oh jadi dia Dewa yang dimaksud Pak Antonio itu? Ganteng ya," ucap Bu Andini sambil terkekeh.
Dewa tersenyum malu menanggapi perkataan Bu Andini, Mama dari Ayuna. Sedangkan Ayuna, dia menatap tajam penuh permusuhan pada Dewa. Namun sayangnya tatapan Ayuna itu dibalas senyum manis oleh Dewa.
Bahaya, jantung Ayuna kembali menerima sinyal yang membuat jantungnya benar-benar tidak aman. Senyuman Dewa membuat jantung Ayuna kembali berdegup kencang tanpa dikomando oleh si pemiliknya.
"Ayo Dewa silahkan duduk," ucap Pak Andika sambil duduk di kursinya.
Dewa bingung harus duduk di sebelah mana. Kursi yang kosong ada di sebelah kanan dan kiri Ayuna, serta di sebelah Bu Andini.
Otomatis Dewa harus memilih duduk di sebelah kanan atau kiri Ayuna. Entahlah Ayuna akan marah padanya setelah ini dia tidak peduli. Akhirnya Dewa duduk di sebelah kanan Ayuna berhadapan dengan Pak Andika, Papa Ayuna.
Dewa tersenyum tipis menahan tawanya sambil menatap ke arah Ayuna yang menatapnya dengan tatapan kesal.
"Tadi Papa yang mengundang dia untuk makan malam bersama dengan kita," jawab Pak Andika sambil menerima piring yang berisi nasi dan lauk dari istrinya.
"Kenapa diundang?" sahut Ayuna tanpa sadar.
"Yuna, gak sopan sama tamu kayak gitu," Bu Andini memperingatkan Ayuna.
Dengan seketika wajah Ayuna berubah bertambah kesal dan bibirnya mengerucut dengan menatap sinis ke arah Dewa.
Dewa menampakkan dirinya yang berwajah santai dan sangat nyaman berada di antara keluarga Ayuna. Hal itu membuat Ayuna ingin menyeretnya keluar dari rumahnya.
Sabar Ayuna, sabar... orang sabar jodohnya ganteng, batin Ayuna untuk menyemangati dirinya.
"Dewa, silahkan ambil sendiri makanannya, gak usah malu-malu. Biar Papa kamu gak takut kamu kelaparan karena gak ada yang ngurusi," ucap Pak Andika sambil terkekeh.
Dewa pun ikut terkekeh menanggapi perkataan Pak Andika. Sebenarnya dia agak canggung berada dalam keluarga yang asing ini, namun rasa canggung itu tidak dia tampakkan agar Ayuna tidak merasa menang darinya.
__ADS_1
Mereka semua makan dalam keadaan tenang. Hanya saja Ayuna yang selalu menatap tajam pada Dewa saat makan dan ketika Dewa melihat ke arahnya, Ayuna sengaja memakan makanannya dengan lahap dan menelannya bulat-bulat untuk memperlihatkan pada Dewa jika dia wanita yang ganas dan berbahaya.
Dewa, tentu saja sangat terhibur. Dia tidak berpikir Ayuna galak ataupun menyeramkan, bahkan dia tidak berpikiran buruk tentang cara makan Ayuna yang seperti orang kelaparan dan rakus. Menurutnya Ayuna sangat lucu dan menggemaskan.
Setelah mereka selesai makan malam, Pak Andika mengajak semuanya ke ruang tamu untuk berbincang-bincang dan mengenal lebih jauh tentang keluarga mereka.
Dari situlah Ayuna baru mengerti jika kedua orang tua mereka saling kenal karena bertetangga sejak lama dan dia baru mengerti ternyata Dewa bukan tetangga barunya, melainkan tetangga lama yang pergi dan baru kembali.
"Pak, maaf saya ingin mengatakan sesuatu," ucap Dewa dengan serius.
Hal itu membuat jantung Ayuna bertambah tak karuan. Dia takut jika Dewa mengatakan masalah nilai dan hukumannya.
"Panggilnya jangan Pak, Om saja. Siapa tau besok-besok manggilnya jadi Papa, sama seperti Ayuna manggilnya," tukas Pak Andika sambil terkekeh.
Dewa pun sudah tidak sungkan-sungkan lagi bercanda dengan Papa dan Mama Ayuna. Dia ikut tertawa menanggapi candaan dari mereka.
Berbanding terbalik dengan Dewa, Ayuna sangat ketar-ketir melihat kedekatan Dewa dengan kedua orang tuanya. Dia takut semua hal tentang dia di kampus akan diberitahukan oleh Dewa pada kedua orang tuanya.
"Om, Tante, apa boleh besok saya mengajak Ayuna pergi?" tanya Dewa pada Pak Andika dan Bu Andini.
Pak Andika dan Bu Andini saling menatap, kemudian mereka tersenyum.
"Silahkan, kami senang jika kalian berdua bisa akrab dan dekat," jawab Pak Andika menyetujui permintaan Dewa.
"Hah?! Gak bisa! Besok Yuna sudah ada janji dengan Devan," seru Ayuna menyahuti percakapan Dewa dengan kedua orang tuanya.
"Ehem!"
Dewa berdehem agar Ayuna yang duduk di sebelahnya melihat ke arahnya.
Dewa mengeluarkan ponselnya yang memperlihatkan video hukuman Ayuna padanya.
Mata Ayuna membelalak dan dengan seketika dia mengatakan sesuatu pada Papanya.
"Yuna mau. Yuna mau pergi dengan Kak Dewa."
Dewa tersenyum puas mendengar keputusan dari gadis yang diancamnya itu. Namun Ayuna semakin kesal padanya dan mengutuknya dalam hatinya.
Lihat saja besok apa yang terjadi, akan ku permalukan kau Dewa sialan!
__ADS_1