
"Sayang, jangan lupa pakai hot lingerie nya," bisik Dewa di telinga Ayuna.
Ayuna membelalakkan matanya, tersirat rona merah di pipinya. Ternyata suaminya itu masih mengingat benda keramat yang dia berikan tadi pagi padanya.
Dewa mengambil gift box dari lemari pakaian mereka dan menyerahkannya pada Ayuna yang masih berdiri mematung di depan cermin.
"Pakai ini Sayang, aku yakin kamu pasti akan semakin menarik. Dan tentunya semakin menggoda," ucap Dewa sambil memberikan gift box tersebut pada Ayuna.
"Harus ya?" tanya Ayuna dengan tersenyum kaku.
Dewa menganggukkan kepalanya dan tersenyum menggoda pada istrinya yang terlihat gugup di hadapannya.
Kemudian Dewa membuka gift box tersebut dan mengeluarkan isinya. Senyum merekah di bibirnya. Bayangan Ayuna memakai lingerie itu terbayang jelas di pelupuk matanya, sama seperti ketika dia membeli barang tersebut.
Mesum memang, tapi membayangkan istri sendiri bukanlah dosa. Dan dia melakukan itu agar bisa membelikan hadiah yang pas untuk istrinya.
Ayuna menerima benda tersebut dengan pelan-pelan seolah enggan memegangnya.
"Dipakai dong Sayang," ucap Dewa yang masih berada di depannya.
"Mmm... aku... aku pakai di kamar mandi dulu," ucap Ayuna yang terlihat sangat jelas kegugupannya.
Tangan Dewa memegang tangan Ayuna untuk menghentikan langkahnya. Dewa tersenyum padanya ketika Ayuna memandangnya dengan ekspresi kaget.
"Ganti di sini aja," ucap Dewa sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mata Ayuna membelalak, dia sungguh tidak mau berganti lingerie itu di hadapan suaminya. Meskipun mereka menjadi suami istri sudah lama, Ayuna masih malu jika harus terang-terangan berganti lingerie di hadapan suaminya. Tapi, jika berganti pakaian di hadapan suaminya, dia sudah terbiasa.
Ayuna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar pada suaminya.
"Ganti di kamar mandi aja ya," pinta Ayuna dengan wajah memohonnya.
Melihat istrinya yang malu-malu, Dewa semakin gencar menggodanya.
"Di sini aja ya... seperti biasanya," Dewa memohon pada istrinya dengan wajah memelas.
Ayuna tahu akal-akalan dari suaminya. Niat hati dia yang berusaha mengakali suaminya, tapi kini dia yang menjadi korban akal-akalan suaminya.
"Tapi baju ini gak seperti biasanya," ucap Ayuna sambil menekankan setiap katanya.
__ADS_1
Lepaslah sudah tawa Dewa. Dia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Wajah malu-malu Ayuna kini berganti dengan wajah kesalnya.
Dengan kesalnya, Ayuna meninggalkan Dewa berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa lingerie yang akan dipakainya.
"Sayang, mau ke mana?" tanya Dewa sambil berjalan mengikuti Ayuna dari belakang.
Ayuna berhenti dan membalikkan badannya menghadap suaminya.
"Stop di situ aja. Gak usah ke mana-mana. Aku masuk ke kamar mandi sendiri!" ucap Ayuna seolah memerintah Dewa.
"Tapi sayang, nanti kamu gak ada yang bantuin," sahut Dewa berniat merunding istrinya.
"Enggak ada. Udah di situ aja atau batal acaranya pakai ginian," ancam Ayuna dengan matanya yang dibuatnya semakin membesar.
Dewa menyerah, dia tetap berdiri di tempatnya berdiri saat ini sambil mengangkat kedua tangannya, tanda dia menyerah.
Serius aku harus memakai ini? Ini sangat terbuka sekali... Beda dengan lingerie-lingerie yang biasanya aku pakai. Kenapa dia memilih yang model begini sih? Kan aku jadi malu...
Ayuna berkata dalam hatinya sambil memandang dirinya yang sudah memakai hot lingerie di depan cermin yang terdapat di dalam kamar mandi.
Apa aku keluar sekarang? Apa nanti aja dulu? Siapa tau dia ketiduran, kan selamat aku gak jadi show di depan dia pakai beginian, Ayuna berkata dalan hatinya sambil tersenyum lebar memikirkan ide gilanya itu.
"Sayang, kamu kok lama sih? Butuh bantuan gak? Aku masuk ya, biar bisa bantuin kamu," seru Dewa dari depan pintu kamar mandi.
"Enggak. Gak usah. Ini udah selesai. Kamu di aja di situ," sahut Ayuna dari dalam kamar mandi.
Bagaimanapun tujuan kami di sini untuk bersenang-senang dan melakukan hal ini. Semoga Tuhan memberikan karunia Nya pada kami anak-anak yang sangat menggemaskan, Ayuna memantapkan dirinya dalam hati sebelum dia keluar dari kamar mandi tersebut.
Dewa tersenyum sembari menggandeng tangan Ayuna. Ia ingin melihat sang istri selalu merasa bahagia dan begitu dicintai.
Ayuna tersenyum merona melihat wajah Dewa yang begitu tampan, di tambah dengan suara berat yang begitu menggoda, membuatnya tidak mampu menolak sentuhan dari pria tampan ini.
"Kita pemanasan dulu, Sayang," ucap Dewa merebahkan Ayuna di atas ranjang.
Wanita cantik itu tersenyum dan mengangguk. Lagi dan lagi ia terhanyut ke dalam belaian yang begitu memabukkan.
Dewa mulai mengecup bibir Ayuna dengan perlahan, merasakan kelembutan yang selalu membuatnya terbuai.
Perlahan namun pasti, ciuman Dewa terasa semakin menuntut. Dia mengikuti naluri dan gairaah yang mulai menguasainya.
__ADS_1
Mengecup leher Ayuna dengan lembut dan mulai menyentuh beberapa titik sensitif sang istri.
"Aaakh!" suara Ayuna mulai terdengar mendayu ketika Dewa dengan agresif memainkan bunga telang yang melambai-lambai, seakan menggoda untuk di sentuh.
Dewa tersenyum manis dengan nafas yang mulai memburu, ia menatap Ayuna yang mulai frustrasi dengan apa yang tengah ia lakukan.
"Sayang, aku..., aku..., Aaakh!" Ucap Ayuna dengan suara yang tercekat ketika ia mencapai puncak pertama.
Tubuhnya menggelinjang di iringi rembesan cairan yang begitu hangat. Dewa semakin bersemangat untuk melanjutkan kegiatannya.
"Kenapa begitu cepat, Sayang? Padahal aku belum melakukan apapun!" Ucap Dewa dengan suara beratnya sambil tersenyum puas.
Ia membuka satu persatu kain yang melekat pada tubuh Ayuna. mengecup dengan lembut dan mengigitnya dengan gemas.
Dua bukit kembar menjadi tempat di mana ia bisa bermain dengan bebas tanpa penghalang.
Lidah Dewa bermain dengan penuh semangat, sehingga membuat Ayuna mulai mengeluarkan suara-suara yang begitu merdu, memenuhi ruangan itu.
"Sayang, aaakh..., aku gak kuat!" ucap Ayuna melenguh.
Dewa tersenyum dan langsung melepaskan semua kain yang menutupi tubuh mereka.
Tanpa aba-aba, ia langsung memasukkan pisang laras panjangnya kedalam surga dunia sang istri.
Memacu dengan berirama, diiringi decapan yang begitu mengganggu bagi orang lain, namun terdengar sangat nikmat bagi mereka.
Ayuna membusungkan dada ketika merasakan sensasi yang tidak bisa ia kendalikan. Hasrat yang sudah menguasai tubuhnya, membuat ia pasrah di bawah kungkungan dewa.
Ranjang yang semula rapi, kini terlihat berantakan. Tak cukup satu tempat dan satu gerakan, Dewa membimbing Ayuna menuju sofa yang ada di kamar itu.
"Ayo, Sayang. Puaskan aku!" Ucap Dewa dengan nakal.
Ia berbaring di atas sofa, membimbing Ayuna untuk bergerak di atasnya.
Dengan agresif, Ayuna menghentakkan tubuhnya di atas tubuh Dewa. Suara leenguhan semakin terdengar kuat dan tidak bisa ditahannya.
Malam semakin larut, membawa sepasang sejoli itu kepada puncak kenikmatan dunia. Dewa melenguh dan menumpahkan benihnya dengan baik.
Dengan membawa harapan mereka bisa berjuang di dalam agar bisa tumbuh menjadi seorang bayi yang sangat ditunggu kehadirannya oleh mereka berdua dan keluarganya.
__ADS_1