
Mendengar perkataan Dewa semakin membuat Ayuna menjadi salah tingkah. Dengan segera dia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Dewa terkekeh melihat tunangannya itu yang salah tingkah karena ulahnya sendiri. Dia pun beranjak untuk mandi di kamar mandi yang berada di kamar lainnya.
"Kenapa aku bisa melakukan itu? Kenapa aku berani sekali? Apa tadi itu hanya mimpi? Atau benar-benar terjadi?" Ayuna mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan itu pada dirinya sendiri dalam kamar mandi di bawah guyuran air shower yang membasahi dirinya.
Setelah ritual.mandinya selesai, Ayuna keluar dengan berbalut handuk putih besar pada bagian dadanya hingga atas pahanya. Rupanya dia lupa membawa bathrobe dan baju gantinya.
Ceklek!
Dibukanya pintu kamar mandi oleh Ayuna. Kepalanya keluar terlebih dahulu untuk melihat keberadaan Dewa.
"Aman...," ucap Ayuna lega dengan menghela nafasnya penuh kelegaan serta meletakkan tangannya di depan dadanya.
Perlahan keluarlah dia dari kamar mandi dengan senyumnya yang menandakan kelegaan hatinya.
Ceklek!
Pintu kamar tersebut terbuka dan menampakkan Dewa yang masuk ke dalam kamar tersebut setelah mandi di kamar lainnya.
Mata mereka saling memandang, hingga beberapa saat mereka sadar dan kaget melihat objek di depan mereka yang memakai lilitan handuk pada tubuhnya.
Dewa terpanah melihat Ayuna yang berbalut handuk sebatas dada hingga pahanya. Sedangkan Ayuna juga terpanah kembali melihat tubuh atletis Dewa yang hanya berbalut handuk pada pinggangnya.
Beberapa saat mereka saling terpanah dan mengagumi apa yang mereka lihat. Hingga alarm dari ponsel Dewa berbunyi dan membuat mereka tersadar.
Ayuna kelabakan dan salah tingkah hingga dia tidak tahu arah. Dia hanya mencari arah dengan menoleh ke kanan dan ke kiri karena bingung akan berjalan ke arah mana.
Sedangkan Dewa kembali harus menahan sesak yang dirasakan oleh miliknya. Baru saja dia menginginkan pikiran dan miliknya agar tidak kembali memikirkan tentang hal yang dilakukan Ayuna padanya.
Dan sekarang, dia kembali disuguhi kemolekan tubuh calon istrinya itu meskipun ditutupi oleh handuk pada bagian tertentu.
Ayuna pun merasakan hal yang sama. dia merasakan gelenyar aneh dalam dirinya ketika melihat Dewa yang dalam keadaan seperti itu.
__ADS_1
Baru saja kemarin malam dia melihat dan menyentuh bagian dada dan perut yang berotot milik Dewa. Dan sekarang dia melihat hal yang sama.
Kak Dewa apa-apaan sih, kok pakai begitu lagi? Aku kan jadi ingin nyentuh lagi kayak kemarin, Ayuna menggerutu dalam hatinya.
"Ehemm...," Dewa berdehem sambil mengarahkan pandangannya ke arah lain.
Bukan hanya Ayuna yang salah tingkah, Dewa pun salah tingkah sama seperti Ayuna. Setelah itu mereka berjalan ke lain arah untuk mengambil pakaian mereka.
Dewa berjalan ke arah lemarinya dan mengambil pakaian untuknya serta untuk Ayuna.
"Ay, ini pakaianmu. Pakailah ini untuk sementara," tutur Dewa sambil memberikan pakaian yang dia pilihkan untuk Ayuna.
Ayuna yang mencoba untuk sibuk dan memunggungi Dewa kini membalikkan badannya untuk mengambil pakaian yang diberikan oleh Dewa padanya.
"Pakaianku gimana Kak?" tanya Ayuna sambil menerima pakaian yang diberikan oleh Dewa padanya.
"Nanti akan dicuci dan segera dikeringkan oleh orang yang ada di sini. Kamu sementara pakai itu dulu aja sambil menunggu pakaianmu selesai dikeringkan.
Ayuna menganggukkan kepalanya dan dia segera berjalan ke arah kamar mandi tanpa melihat Dewa yang berada di hadapannya.
Setelah Dewa selesai berganti pakaian, dia kembali ke dalam kamar yang berada Ayuna di dalamnya.
"Ay, kita lihat matahari terbit yuk," ajak Dewa sambil menarik tangan Ayuna agar mereka tidak lagi canggung seperti tadi.
"Di mana Kak?" tanya Ayuna yang enggan beranjak dari duduknya di sofa dalam kamar tersebut.
"Nanti kamu pasti tau. Sekarang kamu ikut saja denganku. Ayo...," tukas Dewa sambil berjalan dan menarik tangan Ayuna.
Ayuna menghentikan langkahnya dan menarik tangannya yang ditarik oleh Dewa.
"Masa' aku pakai seperti ini Kak?" tanya Ayuna pada Dewa yang juga ikut menghentikan langkahnya karena tangannya yang ditarik oleh Ayuna.
Dewa melihat penampilan Ayuna yang sama seperti kemarin malam meskipun pakaiannya sudah berganti. Terlihat jelas lekuk bagian depan tubuh Ayuna yang memperlihatkan bagian dadanya tanpa memakai dalaman meskipun kaos tersebut longgar.
__ADS_1
Dewa menggelengkan kepalanya melihat bagian dada Ayuna. Kemudian dia melepaskan tangan Ayuna.
"Sebentar, aku akan ambilkan jaket milikku," ucap Dewa sebelum dia berjalan menuju lemari pakaiannya yang berada dalam kamar tersebut.
Jujur saja Ayuna nyaman memakai pakaian Dewa, tapi tidak digunakan untuk keluar rumah. Dia merasa aneh tanpa memakai dalaman jika berada di luar rumah yang tentu saja pastinya akan bertemu dengan banyak orang.
"Ini Ay, pakailah ini," tukas Dewa sambil memakaikan jaket tebal milik Dewa yang biasanya dia gunakan jika berada di tempat ini.
Ayuna tersenyum senang karena jaket milik Dewa benar-benar nyaman dan sangat sesuai dengan style nya.
Ayuna berjalan ke arah cermin dan melihat dirinya yang sudah memakai jaket milik Dewa pada cermin. Senyumnya mengembang melihat dirinya dari arah samping kanan, kiri, depan dan belakang melalui cermin tersebut.
"Pas sekali," ucapnya sambil tersenyum senang melihat pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya.
"Kamu suka jaket itu?" tanya Dewa yang kini berjalan menghampiri Ayuna.
"Banget," jawab Ayuna sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar pada Dewa.
"Kalau gitu jaketnya buat kamu aja. Itu baru akau pakai satu kali kok, cuma di dalam kamar ini saja waktu itu. Tapi kalau kamu mau yang baru, aku bisa belikan nanti pada saat kita perjalanan pulang ke rumah," tutur Dewa sambil memegang kedua pundak Ayuna dan diarahkan menghadapnya.
Dewa menelisik penampilan Ayuna yang sedang memakai jaket miliknya. Jaket itu terlihat oversize jika dipakai oleh Ayuna.
"Yuk, kita berangkat sekarang," ucap Dewa sambil menggandeng tangan Ayuna dan berjalan keluar kamar tersebut.
Dewa mengajaknya berjalan kaki menuju tempat yang akan mereka tuju. Sepanjang perjalan mereka disuguhkan oleh pemandangan yang indah dan suasana yang sangat menyejukkan hati karena masih jelas terlihat basahnya air hujan yang membasahi jalan, serta pepohonan dan semua tanaman bunga di sana.
"Waaah... indah sekali...."
Ayuna menyuarakan kekagumannya melihat matahari yang sedang terbit terlihat sangat indah dari tempatnya melihat saat ini.
"Bagus kan? Benar apa kataku kan?" tanya Dewa dengan percaya dirinya.
"Iya, Kak Dewa benar. Aku sudah lama gak lihat matahari terbit," jawab Ayuna dengan menampakkan senyum lebarnya dan matanya masih memandang matahari yang sedang terbit di hadapannya.
__ADS_1
"Ayuna?!