
Dewa segera mengejar Ayuna yang meninggalkannya begitu saja setelah menolak ajakannya untuk segera menikah.
"Ay, tunggu!" seru Dewa yang berlari mengejar Ayuna.
Tangan Ayuna digapai oleh Dewa dan langkah kaki Ayuna pun terhenti.
"Ay, maksud kamu apa? Kenapa kamu gak mau nikah? Kamu udah menerima lamaranku loh Ay," tanya Dewa yang nafasnya sedikit terengah-engah setelah berlari mengejar Ayuna, calon istrinya.
"Iya, tapi...," jawab Ayuna ragu.
"Tapi kenapa Ay?" tanya Dewa dengan rasa ingin tahunya yang sangat tinggi.
"Aku takut, aku gak yakin," jawab Ayuna lirih dengan menundukkan kepalanya.
Dewa memegang dagu Ayuna dan menaikkan dagunya agar memandang ke arah Dewa.
"Takut apa Ay? Kamu ragu denganku Ay?" tanya Dewa dengan menatap intens mata kecoklatan milik Ayuna.
"Aku... aku...," Ayuna sekali lagi ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Ay... lihat aku. Bicaralah, aku gak akan marah sama kamu," ucap Dewa dengan sangat lembut pada Ayuna.
Mata Ayuna menangkap harapan yang sangat besar dari mata Dewa. Detik itu juga dia sadar jika dialah yang egois karena sepertinya hanya memberikan harapan palsu pada Dewa.
"Hufffft... sebenarnya aku takut jika nantinya aku hanya merasakan kekecewaan dalam hubungan ini. Jujur saja, aku gak pernah mempunyai hubungan khusus dengan lelaki manapun. Dan aku gak mau merasakan rasanya sakit hati. Jadi...," ucapan Ayuna mengambang, dia tidak bisa meneruskan perkataannya karena keraguannya masih ada dalam hatinya.
"Kamu takut aku menyakiti hatimu dan meninggalkanmu?" tanya Dewa dengan suara yang lembut, masih sama seperti tadi.
Dewa masih menatap intens bola mata kecoklatan milik Ayuna. Dan dia tersenyum ketika Ayuna mengatakan keraguannya.
__ADS_1
Ayuna pun menganggukkan kepalanya dengan tangan Dewa yang masih berada di dagunya.
"Aku janji Ay, aku gak akan sakiti hati kamu. Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu. Dan aku ingin semua janjiku itu dapat aku lakukan segera. Menikahlah denganku Ay, aku akan selalu menjaga janjiku," ucap Dewa dengan nada lembut dan tegas untuk meyakinkan Ayuna.
"Tapi kita baru kenal dan kamu tiba-tiba memintaku menikah denganmu, jadi...," ucap Ayuna ragu sambil menundukkan kepalanya.
Tangan Dewa yang masih menempel di dagu Ayuna kini mengarahkannya kembali agar Ayuna mau menatapnya.
"Jadi kenapa hmmm? Kita udah kenal dari dulu, sejak kecil kita selalu bersama dan gak mau berpisah, hanya saja kita lupa akan hal itu. Sekarang kita udah dewasa dan aku suka kamu dari awal kita berjumpa. Mungkin rasa itu tetap ada di hati kita tanpa kita sadari. Jadi buanglah rasa ragu itu dalam hatimu calon istriku, agar kita bisa mengarungi masa depan bersama," tutur Dewa dengan senyum manisnya dan menatap intens manik mata Ayuna.
Kata-kata yang dirangkai oleh Dewa itu mampu menyihir Ayuna. Perasaan Ayuna menjadi hangat dan nyaman mendengarnya. Apalagi tatapan mata Dewa memberinya kekuatan untuk mempercayainya.
Dewa meraih tubuh Ayuna dan membawanya ke dalam pelukannya. Dia memeluk erat tubuh calon istrinya itu agar tidak ragu lagi padanya. Kemudian dia berkata,
"Ay, jangan ragu padaku. Aku berani bersumpah jika kamu masih ragu pada keseriusanku dengan hubungan kita."
"Kamu mau kan Ay menikah denganku?" tanya Dewa kembali pada Ayuna dengan posisi masih saling berpelukan.
Ayuna mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh dirinya tidak pernah merasakan hal seperti ini, tapi dibalik rasa ragu dan takutnya, Ayuna merasakan kebahagiaan dalam hatinya. Kebahagiaan yang teramat sangat.
Dewa mengurai sedikit pelukannya untuk melihat wajah ayu milik calon istrinya itu. Gadis yang sangat sulit dia taklukan. Bahkan menaklukannya harus dengan cara licik agar bisa mendapatkannya.
"Terima kasih ya Ay. Sudah jangan takut lagi, aku gak akan biarkan kamu bersedih. Bahkan aku gak akan mengijinkan air mata kesedihan menetes dari matamu yang indah ini," ucap Dewa sambil mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di pipi Ayuna.
"Kamu harus pegang semua janji itu. Dan aku mau menikah setelah aku lulus kuliah," ucap Ayuna dengan suara serak karena tangis kebahagiaannya.
"Kok nunggu lulus Ay? Kan masih lama," tukas Dewa lesu.
"Cuma tinggal beberapa bulan aja lama. Yang lama tuh nunggu tahunan," ucap Ayuna dengan sedikit kesal.
__ADS_1
"Kan aku pengennya kamu cepat-cepat jadi istriku Ay. Satu bulan lagi mau ya?" ucap Dewa membujuk Ayuna sambil menaik turunkan alisnya.
"Satu bulan lagi? Eh cepat amat. Gak mau ah. Aku tuh punya pesta pernikahan impian. Aku ingin pernikahan yang mewah dan sempurna. Kayak di negeri dongeng gitu," ucap Ayuna sambil tersenyum dengan mata terpejam membayangkan dirinya memakai gaun indah dengan pesta impiannya.
Dewa terkekeh melihat calon istrinya yang sedang membayangkan pesta pernikahan impiannya. Dia berjanji dalam hatinya untuk mengabulkan keinginan pengantinnya agar menjadi pernikahan yang sangar berkesan dan tidak bisa mereka lupakan sampai kapanpun.
"Ay, udah ngelamunnya. Kita masuk yuk, pasti kita dicariin keluarga kita," ucap Dewa yang masih melihat calon istrinya itu senyum-senyum dengan mata terpejam membayangkan pernikahan impiannya.
Sepertinya Ayuna terlalu asyik dengan lamunannya hingga dia tidak mendengar perkataan dari Dewa.
Melihat hal itu, Dewa sangat gemas sekali. Tapi kali ini kejahilan Dewa berbeda dengan biasanya. Dia tidak menjahili Ayuna yang akan membuatnya marah. Kini Dewa menjahili Ayuna dengan cara lain, cara yang mungkin saja akan membuat Ayuna ketagihan untuk dijahili oleh calon suaminya itu.
Dewa setengah berjongkok di depan Ayuna, dan dia menarik tangan Ayuna agar memegang pundaknya. Kemudian Dewa memegang kedua kaki Ayuna dan menggendongnya di belakang punggungnya.
Sontak saja Ayuna kaget dan tersadar dari lamunannya. Ayuna merasakan tubuhnya melayang, dia melihat jika dia berjalan dan ternyata dia sudah berada dalam gendongan Dewa, calon suaminya yang baru saja memaksanya untuk mau segera menikah dengannya.
"Kak... kok aku digendong?" tanya Ayuna yang sudah berada dalam gendongan Dewa.
"Pegangan yang erat Ay, biar gak jatuh," ucap Dewa sambil terkekeh.
Dengan segera kedua tangan Ayuna mengalung di leher Dewa. Tidak hanya itu saja, Ayuna merapatkan tubuhnya pada punggung Dewa agar Dewa tidak merasa berat memggendongnya.
Nyamannya... sangat nyaman sekali, Ayuna berkata dalam hatinya sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher Dewa.
Dewa tersenyum merasakan tubuh Ayuna yang tidak menolak dalam gendongannya. Ternyata benar pikiran Dewa, Ayuna tidak akan marah ataupun menolak ketika dia gendong seperti itu.
Dan kini Dewa pun tahu jika Ayuna sangat suka bila diperlakukan secara romantis olehnya.
Baiklah Ay, setelah ini aku akan berjanji selalu bersikap romantis padamu, Dewa berkata dalam hati sambil tersenyum seiring langkah kakinya dengan Ayuna yang masih ada dalam gendongannya.
__ADS_1