
Ayuna benar-benar merasa seperti seorang ratu. Di rumah itu dia tidak diperkenankan melakukan apapun sendiri. Bahkan untuk mandi dan berganti baju pun Dewa yang membantunya.
"Mmm... modus!" seru Ayuna pada Dewa yang sedang menggantikan piyama padanya.
Dewa terkekeh mendengar ucapan istrinya. Dia pikir istrinya itu tidak mengetahui niatannya. Dipikirnya, istrinya itu akan terbuai dengan apa yang dia lakukan padanya. Dan ternyata akal bulusnya pun di ketahui oleh istrinya.
"Gapapa kan modus sama istri sendiri," ucap Dewa sambil terkekeh.
"Coba aja modus sama yang lain, bisa-bisa aku potong itu jadi gantungan kunci," sahut Ayuna dengan wajah kesalnya.
"Gak bakalan. Sampai kapanpun istri Dewa Arion adalah Ayuna dan tidak akan ada yang bisa menggantikan itu. Bagiku istriku hanya kamu dan aku gak akan pernah menggantinya dengan siapapun," tutur Dewa sambil mendekatkan wajahnya di depan wajah Ayuna serta menatap matanya dengan sangat intens.
Ayuna tidak bisa berkata-kata lagi. Dia benar-benar merasa sangat bersyukur dan bahagia bersuamikan seorang Dewa Arion.
Matanya berkaca-kaca, hingga tidak bisa dibendungnya lagi. Setetes air matanya menetes di kedua pipinya.
Dengan segera Dewa mengusap jejak air mata tersebut dan mencium kedua mata Ayuna secara bergantian. Kemudian dia berkata,
"Jangan menangis. Hatiku sakit jika melihat kamu menangis."
Ayuna menganggukkan kepalanya. Dan menghapus air matanya agar tidak ada lagi air mata yang keluar dari matanya.
"Ini air mata kebahagiaan Sayang... bukan air mata kesedihan," ucap Ayuna dengan suara yang sedikit serak.
"Aku tau. Tapi aku gak suka melihat ada air mata yang keluar dari mata indah milik istriku ini. Aku hanya mau mata cantikmu ini bersinar terang memancarkan kebahagiaan," tutur Dewa dengan mengusap pipi Ayuna dan menatap intens manik mata istrinya itu.
Luluh sudah hati Ayuna. Dia tidak akan bisa berpaling dari Dewa, suami yang selalu bisa membuatnya bahagia dan merasa selalu di cintai olehnya.
"Sayang, di situ ada loh hot lingerie baru. Apa kamu mau mencobanya?" ucap Dewa sambil mengedipkan sebelah matanya dan menunjuk ke arah lemari pakaian.
Mata Ayuna membola. Dia tidak mengira suaminya akan membahas masalah lingerie setelah mereka dalam suasana haru.
"Lagi pengen Sayang... Lagian kita kan cuma berdua di rumah ini," Dewa merajuk pada Ayuna layaknya anak kecil yang meminta dibelikan mainan pada orang tuanya.
Tiba-tiba terlihat rona merah pada kedua pipi Ayuna. Ternyata rencana Dewa berhasil. Dia melakukan semuanya agar Ayuna tidak lagi teringat akan perbincangan Reina bersama dengan Bu Intan, mama mertuanya.
Lambat laun tangan Dewa menuntun tubuh Ayuna di atas ranjang. Piyama yang tadinya akan dikancingkan, kini dilepaskannya kembali oleh tangan Dewa.
__ADS_1
Buaian tangan Dewa tidak bisa ditolak oleh Ayuna. Dari dulu hingga sekarang, buaian tangan Dewa dan permainan mulut Dewa selalu membuat Ayuna menjadi mabuk kepayang.
Semua pikiran lepaslah sudah. Yang ada hanya perasaan cinta mereka berdua yang menyatu dalam kegiatan mereka saat ini.
Malam yang dingin dan sunyi itu kini menjadi sangat panas dalam kamar baru mereka. Suara apapun yang mereka keluarkan tidak akan ada yang mendengarnya.
Rumah besar itu kini menjadi saksi penyatuan mereka. Pemilik rumah itu saling menyalurkan perasaan cinta mereka tanpa ada gangguan dari siapapun.
"Sayang... kita tidur aja ya, besok aja mandinya," ucap Dewa sambil terengah-engah seperti kehabisan nafas.
Setelah pergumulan panas itu, Dewa mengajak Ayuna tidur dengan memeluknya erat dan menyelimuti badan mereka sebatas dada dan mencium kening istrinya dengan penuh perasaan.
"Aku sangat mencintaimu istriku," bisik Dewa di telinga Ayuna.
Ayuna yang sudah memejamkan matanya karena lelah, kini tersenyum mendengar pernyataan cinta dari suaminya. Matanya terbuka dan dia memajukan wajahnya mendekati wajah suaminya. Kemudian dia berkata,
"Aku juga sangat mencintaimu suamiku."
Setelah itu Ayuna mencium sekilas bibir suaminya dan meletakkan kepalanya pada dada suaminya. Memeluk erat tubuh suaminya itu dan mencari kenyamanan dalam pelukannya.
Benar-benar kenyamanan yang tidak bisa mereka gantikan. Hingga pagi menjelang pun mereka enggan beranjak dari dekapan pasangannya.
Di restoran milik Ayuna, Reina datang seperti biasanya pada jam kerjanya. Dengan perasaan senangnya dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran tersebut.
Dia melihat ukiran dengan nama Ayuna pada atap restoran tersebut sambil berkata,
"Tunggu saja, sebentar lagi nama itu akan tergantikan menjadi namaku, Reina."
Kemudian dia berjalan menuju ke dalam ruang loker karyawan. Tapi tiba-tiba Pak Suryo menghadangnya.
"Reina, kamu temui saya di ruangan saya sekarang juga," perintah Pak Suryo dengan tegas, kemudian dia berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam ruangannya.
Reina memutar bola matanya dengan malas. Dia menghela nafasnya seolah enggan melaksanakan apa yang diperintahkan Pak Suryo padanya. Tapi dia harus melakukannya, sehingga langkah kakinya pun terseret oleh kemalasannya.
Tok... tok... tok...
Reina mengetuk pintu ruangan Pak Suryo lirih. Bukan karena dia ketakutan, melainkan karena dia malas bertemu dengan Pak Suryo.
__ADS_1
"Masuk!" teriak Pak Suryo dari dalam ruangannya.
Ceklek!
Masuklah Reina ke dalam ruangan tersebut dan dia berdiri di hadapan Pak Suryo.
"Duduklah!" perintah Pak Suryo dengan menunjuk kursi yang ada di hadapannya.
Duduklah Reina pada kursi tersebut. Dia tidak mengatakan apapun dan dia menunggu Pak Suryo yang sedang memainkan ponselnya dengan serius.
"Reina, bagaimana pekerjaanmu di sini?" tanya Pak Suryo dengan memandang Reina, hanya saja ponselnya tidak lepas dari tangannya.
"Pekerjaan saya baik-baik saja Pak," jawab Reina tanpa ragu.
"Apa kamu sudah menguasai semua pekerjaan di restoran ini?" tanya Pak Suryo yang kali ini dia terlihat benar-benar serius memandang Reina.
"Sudah banyak kemajuan Pak," jawab Reina dengan percaya diri.
"Berarti masih banyak yang belum kamu kuasai bukan?" tanya Pak suryo menyelidik.
Reina mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti mengapa Pak Suryo menanyakan itu padanya.
"Maaf Pak, saya tidak mengerti dengan apa yang Bapak tanyakan pada saya," jawab Reina dengan tegas.
Pak Suryo tersenyum tipis, dia mengerti tipe seperti apa Reina yang ada di hadapannya ini.
"Bukannya tadi kamu bilang sudah banyak kemajuan. Berarti masih ada yang belum kamu kuasai. Bukan begitu?" tutur Pak Suryo dengan mengeluarkan smirk nya menatap Reina yang terlihat kesal padanya.
"Ya, memang ada yang belum saya kuasai Pak, tapi kan sudah banyak yang saya kuasai daripada yang belum saya kuasai," ucap Reina memprotes perkataan Pak Suryo.
Drrttt... drrrtt... drrttt...
Ponsel Pak Suryo yang berada di telapak tangannya bergetar. Dilihatnya layar ponsel itu sebentar. Kemudian dia tersenyum tipis dan berkata,
"Reina, kamu diberhentikan mulai hari ini. Dan gaji kamu untuk beberapa hari yang lalu akan tetap dibayarkan."
Mata Reina terbelalak. Dia sangat kaget mendengar perkataan dari Pak Suryo.
__ADS_1
"Apa?! Dipecat?!" Reina berseru dengan pandangan tidak percaya pada Pak Suryo.