
Devan dipenuhi amarah dan kekecewaan karena Ayuna meninggalkannya begitu saja dengan membawa Dewa pergi tanpa mengucap satu patah kata pun.
Felix, Gavin dan Viktor pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kepergian Ayuna bersama dengan Dewa, meskipun mereka tahu jika Devan sakit hati melihat mereka berdua.
"Dev, kita keluar yuk, cari udara segar," ucap Gavin dengan menepuk-nepuk pundak Devan.
"Gimana kalau kita ke puncak aja? Kita menginap di Villa keluarga Felix," sahut Viktor dengan menaik turunkan alisnya dan tersenyum lebar pada semua sahabatnya.
"Ide bagus tuh," tukas Felix sambil melakukan tos ala mereka.
Devan melihat Felix, Gavin dan Viktor secara bergantian. Senyum tipis terlihat di bibir Devan. Dia mengerti jika sahabat-sahabatnya itu berniat menghiburnya.
"Kalian gak masuk besok?" tanya Devan dengan memandang mereka secara bergantian.
"Sekali-sekali gapapa kali. Kita ijin aja besok. Iya gak?" tanya Viktor pada Gavin dan Felix dengan menunjuk mereka dengan dagunya secara bergantian.
"Yoi, kita kan setia kawan," jawab Gavin dan diikuti oleh Felix.
"Ayolah berangkat. Kita puas-puasin di sana," tukas Devan dengan mengarahkan tangannya ke depan mereka dan disambut oleh mereka bertiga untuk melakukan tos ala mereka.
Di lain tempat, Dewa masih berjuang untuk kembali meluluhkan hati Ayuna, calon istrinya. Ayuna masih saja kesal pada Dewa meskipun Dewa sudah membujuknya dengan membelikannya beberapa jajanan kesukaannya.
"Kenapa dia Wa?" tanya Bu Andini pada Dewa ketika Ayuna masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut.
"Gak tau Ma, marah-marah melulu dari tadi," jawab Dewa sambil tersenyum kikuk.
"Ooow... lagi PMS kali ya," ucap Bu Andini sambil terkekeh.
Dewa hanya tersenyum palsu pada Bu Andini, karena ternyata Ayuna masih berada di sana. Dia masih memantau dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Dewa dan ibunya.
Tatapan mata Ayuna mampu membuat Dewa mengkerut. Dulu sebelum dia melamar Ayuna, dia sangat suka membuat Ayuna menjadi kesal, sama seperti sekarang ini.
Namun, sekarang dia tidak berani membuatnya kesal. Dewa takut jika Ayuna membatalkan pernikahan mereka jika dia benar-benar kesal dan marah padanya.
__ADS_1
"Ay, kita jalan-jalan yuk," ucap Dewa sambil berjalan mendekat ke arah Ayuna.
Ayuna masih saja diam, tatapan matanya mengikuti Dewa yang berjalan mendekatinya.
"Yuk Ay, kamu pasti bakalan suka," tukas Dewa sambil menyuguhkan senyum manisnya yang menjadi kelemahan Ayuna jika melihatnya.
Bu Andini hanya memperhatikan saja dari tempatnya saat ini, dia tersenyum lega melihat Dewa yang bisa memperlakukan Ayuna penuh dengan perhatian.
Tangan Dewa menarik lembut tangan Ayuna. Entah mengapa Ayuna bisa menurut begitu saja dengan Dewa. Bahkan dia tidak mengeluarkan kekesalannya pada Dewa ketika dia menarik tangannya.
"Ma, kami mau jalan-jalan dulu," ucap Dewa sambil mencium punggung tangan Bu Andini.
"Santai aja, bawa dia senang-senang biar gak bete. Gak pulang juga gapapa," tukas Bu Andini sambil terkekeh.
"Mama, kok ngomongnya gitu sih? Seneng ya anaknya gak ada di rumah? Biar Mama sama Papa bisa pacaran lagi kan?" omel Ayuna pada Bu Andini sambil mencium punggung tangannya.
"Iya, biar kamu juga cepat nikah. Biar kamu bisa kasih Mama cucu," jawab Bu Andini dengan senyumnya yang membuat Ayuna semakin kesal.
Ayuna membuka mulutnya sedikit mendengar ucapan Mamanya. Dia tidak mengira jika Mamanya mendukung keputusan Dewa untuk menikahinya segera.
"Mama kok ngusir Ayuna sih?" rengek Ayuna sambil memegang tangan Bu Andini dan menggerak-gerakkannya ke kanan dan ke kiri.
Bu Andini tertawa dan dia memberi kode pada Dewa agar membawa Ayuna pergi.
Grep!
Dewa menggendong tubuh Ayuna ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Ayuna yang kaget karena tiba-tiba digendong oleh Dewa seperti itu membuat Ayuna terpanah memandang Dewa. Dengan bulu mata lentiknya yang naik turun membuat Dewa yang sekilas melihatnya membuatnya gemas dan ingin kembali mencicipi madu yang ada di bibir Ayuna.
Tanpa terasa tubuh Ayuna sudah berada di dalam mobil. Dia baru sadar ketika sudah di dudukkan dalam mobil oleh Dewa.
Mata Ayuna masih saja memandang wajah Dewa yang tersenyum manis padanya. Perlahan wajah Dewa mendekat pada wajahnya. Anehnya Ayuna tidak menghindar, dia malah menutup matanya dan menghentikan nafasnya.
__ADS_1
"Apa kamu mau ke suatu tempat Ay?" bisik Dewa di telinga Ayuna.
Lagi-lagi Dewa menjahili Ayuna. Dia hanya membisikkan kata-kata di telinga Ayuna seolah dia akan menciumnya.
Ayuna yang mendengar bisikan Dewa langsung tersadar, dia membuka lebar-lebar matanya dengan masih menahan nafasnya.
"Nafas Ay!" ucap Dewa sambil menyentil dahi Ayuna.
Seketika Ayuna membuang nafasnya yang tertahan beberapa menit tadi.
"Lain kali jangan lupa bernafas Ay, aku kan gak siap jadi duda," ucap Dewa sambil terkekeh.
Sontak saja Ayuna tidak terima, dia hendak mengomel, tapi Dewa terlebih dahulu menutup pintu mobil Ayuna dan berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah Dewa duduk di kursi pengemudi, Ayuna sudah kehilangan kata-katanya. Dia tidak lagi bisa mengatakan apa yang hendak dia katakan tadi. Niatnya untuk mengomeli Dewa sudah pudar. Kini dia hanya menjadi penumpang yang manis, menunggu hingga sampai di tempat tujuan.
"Loh kok kita ada di sini Kak?" tanya Ayuna dengan memandang sekeliling dari kaca jendela mobil.
"Aku mau tunjukkan tempat yang indah sayang," jawab Dewa sambil tersenyum manis pada Ayuna.
Runtuh lah sudah tembok kekesalan Ayuna yang dia bangun semenjak tadi. Hanya karena perlakuan Dewa, panggilan sayang dari Dewa dan senyuman manis dari Dewa mampu membuat hatinya meleleh.
Sungguh hati Ayuna tidak pernah merasakan seperti itu. Bahkan hatinya seperti tidak tersentuh oleh lelaki manapun. Dia tidak pernah merasakan perasaan cinta pada lelaki manapun. Dan sekarang dia merasakan hal aneh dalam hatinya. Perasaan berbunga-bunga dan menggelitik dalam hatinya.
Apa benar aku mencintainya? tanya Ayuna dalam hatinya.
"Ay, ayo turun," suara lembut itu menyadarkan Ayuna yang masih saja termenung seperti pada saat Dewa masih ada di dalam mobil dan berhadapan dengannya.
Ayuna gelagapan, Dewa yang tahu kegugupan calon istrinya itu segera meraih tangannya dan membantunya untuk turun dari mobilnya.
"Bos, mobilnya mau diparkir di sini atau di villa?" tanya seorang yang menggunakan pakaian seragam pegawai di tempat tersebut.
Ayuna menoleh ke arah Dewa dan memandangnya dengan penuh tanya.
__ADS_1
Dewa mengerti apa yang hendak ditanyakan oleh calon istrinya itu, dia tersenyum dan berkata,
"Milikku sayang, dan itu akan menjadi milikmu juga."