Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 68 Bertemu kembali


__ADS_3

Suara yang memanggil namanya membuat Ayuna menoleh ke arah sumber suara. Ternyata yang memanggil Ayuna adalah orang yang selama ini sudah lama tidak bertemu dengannya.


"Kamu Ayuna kan?" tanya orang tersebut ketika sudah berada di dekat Ayuna.


"Kamu...,"


"Reina. Aku Reina. Kamu gak lupa kan Yuna?" sahut Reina dengan sangat antusias.


Ayuna tersenyum lebar. Dia menelisik penampilan Reina dari atas hingga bawah. Berbeda sekali dengan dirinya yang masih menggunakan pakaian ala-ala abg.


"Kamu bekerja di mana Re?" tanya Ayuna dengan rasa ingin tahunya.


"Aku bekerja di sebuah perusahaan swasta. Kalau kamu kerja di mana Ayuna?" tanya Reina pada Ayuna dengan melihat penampilan Ayuna yang masih saja sama seperti dahulu.


"Aku gak bekerja. Kak Dewa terlalu cinta sama aku, dia gak memperbolehkan aku bekerja, takut capek katanya . Jadinya yaaa... beginilah, aku di rumah saja menunggu dia pulang bekerja," jawab Ayuna sambil terkekeh.


Reina tersenyum getir. Dia iri dengan hidup Ayuna saat ini. Menurut Reina hidup Ayuna sangat sempurna. Dan dia ingin memiliki kehidupan seperti itu.


Seandainya saja aku yang menggantikan kedudukan Ayuna, pasti aku sangat senang. Dia bisa hidup nyaman tanpa memikirkan apapun. Dia juga memiliki suami yang tampan, kaya dan sepertinya sangat mencintainya. Dan juga keluarga mereka yang sangat mendukung dan menyayanginya. Sedangkan aku... aku harus mandiri dan berjuang agar aku bisa hidup dengan layak. Aku iri padamu Ayuna....


Reina berkeluh kesah dalam hatinya sambil tersenyum paksa melihat ke arah Ayuna yang masih bercerita tentang kehidupannya setelah menikah.


"Aku pulang dulu ya Re. Mama pasti udah nungguin. Tadi aku suruh buatin rujak soalnya," ucap Ayuna sambil mengambil kantong-kantong plastik belanjaannya dari lantai yang ada di dekatnya.


"Banyak banget belanjaanmu Ayuna," ucap Reina sambil membantu mengecilkan salah satu kantong belanjaannya.


"Iya nih, padahal aku tadi hanya mau membeli satu barang aja, eh malah jadi beli banyak barang. Mana jalan kaki lagi. Aku lupa kalau aku belanja sendiri. Biasanya kan selalu ditemani Kak Dewa," tukas Ayuna sambil menenteng kantong-kantong plastik belanjaannya.


"Aku tawarkan saja ya Yuna. Kebetulan aku bawa kendaraan kok. Lagian aku ingin merasakan rujak buatan Mama kamu. Boleh kan?" tanya Reina sambil menjinjing satu kantong plastik milik Ayuna.


"Boleh banget dong. Asal kamu ikhlas, gak keberatan mengantar aku pulang dengan barang belanjaan sebanyak ini," jawab Ayuna sambil tersenyum lebar.


"Ikhlas banget malahan," ucap Reina sambil tertawa.


"Eh suami kamu ada di rumah?" tanya Reina kembali sambil berjalan menuju motornya yang diparkir tidak jauh dari mini market tersebut.


"Gak ada, dia masih di kantornya. Kalaupun dia ada, pasti aku gak dibolehin ke mana-mana sendiri," jawab Ayuna sambil terkekeh mengingat kebucinan suaminya padanya.

__ADS_1


"Kamu atau aku yang mengendarainya Yuna?" tanya Reina mencoba menawari Ayuna untuk mengendarai motor miliknya.


"Kamu aja Re, nanti aku tunjukkan arahnya," jawab Ayuna sambil tersenyum lebar.


Setelah itu mereka berkendara hanya sebentar untuk sampai ke rumah orang tua Ayuna.


"Stop di situ Re," ucap Ayuna sambil menunjuk pagar rumahnya.


Reina pun menghentikan motornya. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah orang tua Ayuna.


"Lama banget Yuna, katanya cuma ke mini market depan aja," ucap Bu Andini ketika melihat Ayuna masuk dengan membawa beberapa kantong plastik belanjaan berlabel mini market tersebut.


"Maaf Ma, belanjanya keterusan," jawab Ayuna sambil terkekeh.


"Loh ini siapa?" tanya Bu Andini ketika melihat Reina berjalan di belakang Ayuna.


"Oh iya lupa. Kenalin Ma, dia Reina, teman Yuna di SMA dan kuliah," jawab Ayuna sambil meletakkan kantong-kantong plastik belanjaannya.


Reina mengulurkan tangannya di depan Bu Andini dan dia menyebutkan namanya,


Bu Andini menyambut uluran tangan Reina dengan senyumnya yang khas.


"Saya Mamanya Ayuna," ucap Bu Andini ketika menjabat tangan Reina.


"Ma, rujaknya mana? Apa udah jadi?" tanya Ayuna yang matanya berkeliling mencari rujak buatan Bu Andini.


"Itu ada di meja dapur. Ambil dan bawa ke gazebo belakang, kita makan di sana," jawab Bu Andini sambil menunjuk meja yang berada di dapur.


"Siap Bu Bos!" seru Ayuna sambil meletakkan telapak tangannya pada pelipisnya layaknya sedang hormat.


Bu Andini menggelengkan kepalanya dan terkekeh melihat kelakuan putrinya. Kemudian dia berjalan menuju gazebo belakang rumahnya.


"Aku bantu Yuna," ucap Reina sambil mengangkat wadah buah-buahan yang sudah diiris oleh Bu Andini.


Ayuna menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Reina. Kemudian dia berkata,


"Yuk ah cusss ke gazebo belakang."

__ADS_1


Bu Andini, Ayuna dan Reina menikmati rujak tersebut dengan berbagi cerita tentang masa SMA dan kuliah mereka.


Setelah acara makan rujak mereka selesai, Bu Andini masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Ayuna dan Reina masih berada di gazebo tersebut menikmati hembusan semilir angin yang bertiup dari pohon-pohon yang berada di sana.


"Yuna, Pak Dewa belum pulang?" tanya Reina pada Ayuna yang masih menikmati bumbu rujak buatan mamanya bersama dengan kerupuk.


"Belum lah... masih jam segini. Mungkin sebentar lagi," ucap Ayuna sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Emmm... kalian gak mau pindah gitu dari sini?" tanya Reina menyelidik.


Ternyata Reina mengira jika Ayuna dan Dewa tinggal di rumah tersebut bersama dengan kedua orang tua Ayuna.


"Sebenarnya ada sih rumah yang sudah dipersiapkan oleh Kak Dewa. Hanya saja terlalu besar, aku kurang suka," jawab Ayuna yang masih menikmati bumbu rujaknya bersama dengan kerupuk.


Wah... ternyata Pak Dewa memang benar-benar kaya. Kenapa harus Ayuna yang beruntung mendapatkan Pak Dewa? Kenapa bukan aku saja? Tuhan gak adil. Padahal Ayuna berasal dari keluarga yang kaya. Kenapa dia juga mempunyai suami yang kaya? Beruntung sekali dia. Kapan aku bisa seperti itu? Reina menggerutu dalam hatinya.


"Yuna, kira-kira Pak Dewa pulang jam berapa ya?" tanya Reina menyelidik.


"Gak tau sih. Kadang kalau lembur sih bilang. Ini tadi gak bilang apa-apa. Sebentar lagi kayaknya," jawab Ayuna setelah meneguk air putih dari gelasnya.


"Oh gitu," ucap Reina sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Emangnya kenapa Re?" tanya Ayuna yang masih mendesis kepedasan.


"Gapapa sih, cuma nanya aja," jawab Reina dengan tersenyum paksa.


"Kamu udah mau pulang?" tanya Ayuna setelah meneguk minumannya kembali.


"Belum kok, nanti aja," jawab Reina sambil tersenyum kaku.


Aku kan mau nunggu Pak Dewa, Reina menyahuti dalam hatinya.


"Kamu ada perlu dengan Kak Dewa?" tanya Ayuna kembali yang sepertinya mencurigai pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Reina padanya.


"Sayang...! Sayang... kamu di mana?!"


Suara seruan Dewa yang memanggil Ayuna membuat Ayuna dan Reina menoleh ke arah datangnya suara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2