
Dewa mengulurkan ponselnya di hadapan Ayuna. Dia ingin menunjukkan video pernyataan pengakuan dari Reina di hadapan semua orang yang ada di restorannya.
"Apa ini?" tanya Ayuna heran.
"Ambillah. Lihatlah video ini. kamu pasti akan mengetahui maksudku," tutur Dewa sambil mengusap air mata Ayuna menggunakan tangan yang tidak membawa ponsel.
Ayuna menerima ponsel tersebut dan memutar video yang ada pada layar ponsel Dewa.
Air matanya kembali luruh tak terbendung. Dia tidak mengira jika Reina, teman sedari SMA nya itu bisa berbuat hal yang sangat keji padanya.
Tadinya dia mengira jika Reina hanya salah paham dengan kebaikan Dewa dan Bu Intan, tapi kini dia tahu jika pikirannya lah yang salah. Ternyata Reina benar-benar jahat padanya.
"Kamu sekarang mengerti kan Sayang? Kamu tidak akan meninggalkan aku lagi kan Sayang? Harusnya kamu percaya padaku. Kamu tau kan betapa cintanya aku padamu?" Dewa memberondong Ayuna dengan beberapa pertanyaan.
Ayuna tidak menjawabnya, dia malah memandang Dewa dengan lekat dan memegang wajah Dewa.
"Aaaww...," Dewa merintih ketika Ayuna menyentuk lebam yang ada di pipinya.
"Ini, kenapa ini bisa biru begini?" tanya Ayuna pada Dewa dengan menyentuh pipi Dewa yang kena tonjokan tangan Devan.
"Dan ini, kenapa ini bisa seperti ini?" Ayuna bertanya kembali sambil menyentuh sudut bibir Dewa yang sedikit luka dan terdapat sedikit darah kering yang menempel di sana.
"Awww...," Dewa kembali merintih ketika sudut bibirnya disentuh oleh Ayuna.
"Kamu kenapa Sayang? Apa yang terjadi sama kamu?" tanya Ayuna yang sedikit mewek melihat wajah suaminya tidak baik-baik saja.
Dewa memegang tangan Ayuna yang berada di wajahnya. Kemudian dia mencium punggung tangan dan telapak tangan Ayuna berkali-kali.
"Aku rindu Sayang. Aku sangat rindu sama kamu," ucap Dewa sambil menatap mata Ayuna yang berkaca-kaca.
Melihat Ayuna yang matanya sudah berkaca-kaca, Dewa dengan segera memeluk tubuh istrinya itu.
Dengan penuh cinta dan kasih sayangnya, pelukan Dewa itu semakin erat, dia berharap perasaan cinta dan kasih sayangnya itu bisa dirasakan oleh Ayuna yang sedang dipeluknya.
Tangan Ayuna menyambut pelukan itu. Kini mereka saling berpelukan untuk menyatakan perasaan cinta mereka dan rasa rindu yang menyiksa mereka saat tidak bersama.
__ADS_1
Krucuk... krucuk... krucuk...
Ayuna melepas pelukannya. Dia memandang wajah suaminya yang tersenyum padanya.
"Kamu lapar?" tanya Ayuna dengan wajah serius.
Dewa tersenyum lebar dan dia mengusap perutnya yang memang saat ini sedang terasa sangat lapar sekali.
"Iya, sejak tadi aku belum makan. Setelah kamu pergi aku mencarimu ke mana-mana hingga baru ini tadi aku kembali dari villa dan cafe," jawab Dewa sambil tersenyum agar istrinya tidak khawatir padanya.
"Apa? Seharusnya kamu makan dulu sebelum mencariku. Pasti kamu sangat lapar sekali. Dengarlah, perutmu sampai berbunyi seperti itu. Ayo kita makan sekarang," Ayuna mengomel pada Dewa sambil berdiri dan menarik tangan Dewa untuk diajak masuk ke dalam Villa tersebut.
Dewa tersenyum bahagia. Akhirnya usahanya mencari Ayuna ke mana-mana sudah terbayar. Dia rela menerima pukulan dari Devan asalkan Ayuna bisa ditemukannya.
Ayuna membawa Dewa menuju meja makan yang sudah tersedia banyak makanan. Rupanya semua itu sudah dipesankan oleh Devan melalui penjaga Villa tersebut.
"Makanan sebanyak ini kenapa masih utuh? Kamu juga belum makan Sayang?" tanya Dewa sambil menatap lekat wajah istrinya.
Ayuna menggeleng lemah dan duduk di kursi makan yang ada di depannya. Dewa pun duduk di kursi dekat dengan Ayuna.
"Bagaimana aku bisa makan tanpa ada kamu? Bukannya kamu tau kalau aku gak bisa makan sendirian? Apalagi tadi kamu...," Ayuna tidak bisa meneruskan kata-katanya, dia enggan membahas masalah yang tadi dialaminya.
"Kamu memikirkan aku? Sama, aku juga gak bisa makan dari tadi. Pikiranku hanya ingin segera menemukan kamu. Ternyata kita gak bisa berpisah ya Sayang. Mangkanya kamu gak boleh pergi-pergi sendiri lagi. Aku gak bakal ijinkan kamu ke mana-mana sendiri. Kita itu gak boleh pisah. Buktinya kita gak bisa makan jika kita gak bersama," tutur Dewa sambil memegang tangan Ayuna.
"Ya udah, yuk kita makan dulu. Setelah ini terserah kamu, kita akan pulang ke rumah lama atau rumah baru. Atau mungkin jika kamu masih ingin tinggal di sini, kita akan tinggal di sini saja untuk beberapa hari," ucap Dewa sambil menyendok beberapa lauk dan memindahkannya ke dalam piring.
Dengan telatennya Dewa menyuapi Ayuna dan bergantian menyuapi dirinya sendiri. Tanpa berkata-kata, mereka makan dengan diam dan hanya saling memandang untuk memuaskan rindu mereka.
"Sayang, itu sebenarnya kenapa sih? Kok seperti bekas ditonjok gitu? Apa ada orang yang memukulmu?" tanya Ayuna penasaran.
Dewa mengambilkan segelas air yang diminumnya, kemudian diberikan pada Ayuna agar dia meminumnya.
Ayuna pun menerima gelas tersebut dan meminum air putih yang ada di dalam gelas itu.
"Aku pantas menerimanya. Anggap saja ini hukuman buatku karena tidak bisa menjaga istriku dengan baik," jawab Dewa sambil tersenyum.
__ADS_1
Ayuna mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Dewa.
"Siapa yang berani melukai wajah suamiku?" tanya Ayuna dengan antusias.
Dewa tersenyum dan memegang tangan istrinya dan ditempelkannya pada pipinya.
"Aku gapapa Sayang. Kamu gak perlu khawatir," tutur Dewa sambil tersenyum.
"Gal bisa, enak aja bikin wajah suamiku yang ganteng ini jadi babak belur kayak gini," ucap Ayuna yang sedikit emosi.
Takut istrinya marah, Dewa segera mengecup bibir Ayuna. Tampak wajah Ayuna yang kaget menerima ciuman sekilas yang mendadak dari Dewa.
Melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan itu, Dewa kembali menempelkan bibirnya pada bibir Ayuna, hanya sekilas saja. Ciuman itu berturut-turut selama tiga kali. Setelah itu Dewa membuka mulutnya untuk memperdalam ciuman mereka.
"Awww...," Dewa merintih ketika ujung bibirnya terbuka lebih lebar.
Ayuna kaget dan dia menyentuh ujung bibir Dewa yang terluka itu.
"Gak bisa. Pokoknya sekarang kita harus ke rumah sakit," tukas Ayuna sambil beranjak dari duduknya dan menarik tangan Dewa agar cepat berdiri.
"Gak usah Sayang, palingan juga besok udah sembuh," ucap Dewa yang berniat menolak keinginan istrinya.
"Pokoknya harus mau. Kalau gak mau, aku juga gak mau ikut kamu pulang," tutur Ayuna dengan tegas.
"Bukannya aku gak mau Sayang. Aku malu, masa' iya ke rumah sakit cuma gara-gara seperti ini saja," ucap Dewa sambil menunjuk lukanya yang ada di sudut bibirnya dan pipinya.
"Ya sudah kalau gak mau, aku akan marah dan kabur lagi," Ayuna mengancam Dewa.
Dengan segera Dewa beranjak dari duduknya dan berkata,
"Oke... oke... kita ke rumah sakit sekarang juga."
Akhirnya Dewa harua mengalah pada Ayuna agar istrinya itu tidak kembali meninggalkannya.
Sesampainya di rumah sakit, Dewa dan Ayuna segera masuk ke dalam ruangan IGD.
__ADS_1
Bruuk!