Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 49 Masih juga ketemu


__ADS_3

"Ayo Ay kita nikmati suasana pagi ini dengan minuman hangat dan kue yang sudah mereka sediakan untuk kita," ucap Dewa sambil menggandeng tangan Ayuna menuju sofa yang ada di ruang kerja tersebut.


Ayuna pun menurut dan mengikuti ke mana Dewa mengajaknya. Mereka menikmati hidangan tersebut di temani dengan obrolan mereka tentang masa kecil mereka.


"Yuk Ay ke bawah," ajak Dewa sambil menarik tangan Ayuna.


"Kita pulang sekarang?" tanya Ayuna sambil berjalan mengikuti Dewa yang menggandeng tangannya.


Mereka turun dari tangga dan disambut oleh banyak pasang mata dari karyawan cafe tersebut.


Ayuna sangat malu, dia menundukkan kepalanya seolah fokus berjalan menuruni tiap anak tangga yang dia lewati.


Mengapa mereka semua berkumpul di sana? Mengapa mereka semua menatap kami? Apa sedari tadi mereka membicarakan kami? Ayuna sibuk bertanya-tanya dalam hatinya.


Tangan Dewa tidak lepas sedetik pun dari tangan Ayuna. Hingga Ayuna kaget ketika Dewa menghentikan langkahnya dengan Ayuna yang masih menundukkan kepalanya.


Ayuna memang berniat menundukkan kepalanya hingga dia melewati mereka dan keluar dari cafe tersebut. Ternyata apa yang dia rencanakan tidak sesuai dengan keinginannya.


Kenapa Kak Dewa berhenti? Ini kenapa banyak kaki di depanku? Apa mungkin...


Ayuna masih saja sibuk berkata dalam hatinya, hingga suara Dewa menghentikan kegiatannya itu.


"Selamat pagi," salam pembuka yang diucapkan oleh Dewa.


"Selamat pagi Pak...," jawab mereka semua dengan serentak.


Ayuna terbelalak, sontak saja dia mendongakkan kepalanya dan dia sangat terkejut karena di hadapannya saat ini berjejer begitu banyaknya orang dengan memakai seragam yang sama.


Ya, mereka semua adalah karyawan cafe tersebut. Mereka kini sedang berkumpul untuk briefing bersama dengan Dewa, si pemilik cafe tersebut.


"Saya tidak akan berlama-lama. Saya hanya ingin memperkenalkan calon istri saya. Ayuna, perempuan cantik ini adalah tunangan saya dan kami akan menikah sebentar lagi. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan. Dan untuk kelanjutannya, biar Pak Feri yang akan memimpin briefing ini. Terima kasih," tutur Dewa sambil merangkul pinggang Ayuna dan menariknya untuk berdekatan dengannya.


Ayuna kembali terkejut dengan penuturan dari Dewa. Dia tidak menyangka jika Dewa benar-benar memperkenalkannya sebagai tunangannya, calon istrinya.


Ternyata dia benar-benar melakukan apa yang aku perintahkan. Padahal aku tadi hanya bercanda saja. Dan dia benar-benar melakukannya, Ayuna berkata dalam hatinya dengan bibirnya yang menyungingkan senyuman memandang calon suaminya itu.

__ADS_1


Dewa meninggalkan briefing itu dan membawa Ayuna berjalan kembali masuk ke dalam kantornya.


"Loh Kak kok kita masuk ke dalam ruangan Kakak lagi sih? Bukannya kita mau pulang?" tanya Ayuna seiring langkahnya menuju ke dalam ruangan Dewa.


"Kerjaan Kakak belum selesai sayang, kamu tunggu sebentar ya," ucap Dewa sambil tersenyum menoleh pada Ayuna.


Ayuna menghela nafasnya mendengar bahwa dia akan lebih lama berada di tempat itu, tapi dalam hatinya sangat senang karena Dewa tidak mengabaikannya. Dia selalu memperhatikannya meskipun dia sedang sibuk mengurus pekerjaannya.


Untung saja suasana dan pemandangan di sekitar ruangan Dewa bisa mengobati rasa bosan Ayuna saat ini.


"Kak, aku boleh jalan-jalan di sekitar sini ya? Bosen aku di sini nungguin Kak Dewa kerja," ucap Ayuna sambil duduk di depan meja kerja Dewa dan menampakkan puppy eyes nya pada Dewa.


Dewa tersenyum dan mencubit pipi Ayuna, kemudian dia berkata,


"Tunggu sebentar ya sayang, aku selesaikan ini dulu, sebentaaaaar saja."


"Kak Dewa pasti lama deh kerjanya. Yuna jalan-jalan sendiri aja ya, cuma sekitar sini aja kok. Nanti kalau ada apa-apa Yuna pasti hubungi Kakak deh," bujuk Ayuna dengan menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya memohon pada Dewa.


"Gak boleh. Kalau kamu diculik gimana?" tanya Dewa yang berniat menakut-nakuti Ayuna.


Sontak saja Ayuna tertawa mendengar perkataan dari Dewa.


"Aku. Udah kamu di sini aja, tunggu sebentar lagi selesai," tukas Dewa membuat tawa Ayuna terhenti dan wajahnya berganti dengan wajah cemberut.


Rugi banget kan kalau ke sini gak jalan-jalan. Kak Dewa pasti lama deh, mending aku jalan-jalan sendiri. Cuma sekitar sini aja deh, sebentar saja terus balik, pasti Kak Dewa juga belum selesai kerjaannya, Ayuna berkata dalam hatinya merencanakan acara jalan-jalannya sendiri.


"Kak, Yuna mau ke toilet dulu ya," ucap Ayuna sambil berjalan menuju pintu ruangan tersebut.


"Kamu tau tempatnya Ay?" tanya Dewa sambil mendongak menatap Ayuna.


Ayuna berjalan menuju pintu tanpa menoleh ke arah Dewa dengan mengacungkan jempolnya ke atas sebagai jawaban dari pertanyaan Dewa.


Dewa tersenyum melihatnya, kemudian dia berkata dengan sedikit berseru pada Ayuna.


"Hati-hati!"

__ADS_1


Brak!


Pintu ruangan itu tertutup dengan sedikit kencang. Rupanya kekuatan tangan Ayuna tidak bisa dikontrolnya. Hingga Dewa sedikit kaget mendengar suara pintu tersebut.


Ceklek!


Pintu ruangan tersebut kembali terbuka. Dengan perlahan Ayuna menampakkan kepalanya dan dia tersenyum lebar melihat Dewa yang juga sedang memandangnya.


"Maaf, terlalu kencang," ucap Ayuna dengan menampakkan senyum lebarnya yang memperlihatkan deretan giginya.


Dewa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah calon istrinya itu. Kemudian dia berkata,


"Jangan lama-lama. Langsung ke sini kalau sudah selesai dari toilet."


"Siap komandan!" ucap Ayuna sambil meletakkan tangannya pada pelipisnya layaknya seperti memberi hormat.


Kemudian dia segera menutup pintu ruangan tersebut dan bergegas menuruni tangga dan keluar cafe untuk berjalan-jalan di sekitar cafe tersebut.


"Aaah... segarnya...," seru Ayuna dengan merentangkan kedua tangannya menikmati udara di sana setelah berada di luar cafe.


"Gini kan enak, daripada di dalam sana kayak orang di dalam penjara aja," ucap Ayuna sambil terkekeh.


Kemudian dia berjalan pelan-pelan sambil menikmati pemandangan yang dia lewati. Sejenak Ayuna berhenti untuk menikmati pemandangan di sekitar. Matanya berkeliling mencari objek lainnya yang sekiranya ingin dia hampiri.


Namun, matanya berhenti pada sosok yang tidak asing menurutnya. Baju, pawakan tubuhnya dan penampilannya, semuanya dia kenali.


"Felix?!" celoteh Ayuna ketika melihat sosok yang tidak asing menurutnya.


"Iya, benar itu Felix. Sedang apa dia di sini?" Ayuna bermonolog dengan matanya yang masih memandang ke arah sosok orang yang diyakininya sebagai Felix.


"Samperin aja kali ya," ucap Ayuna sambil berjalan mendekat ke arah orang tersebut.


"Felix!" seru Ayuna sambil memukul punggung orang tersebut dengan keras seperti candaannya yang biasa dia berikan pada sahabat-sahabatnya.


Plak!!!

__ADS_1


"Auuuuu... setan....!" seru orang tersebut sambil menoleh ke belakang.


"Ayuna?!" seru Felix sambil membelalakkan matanya melihat sosok sahabatnya yang berniat mereka hindari untuk sementara demi kesehatan hati dan pikiran Devan.


__ADS_2