
Pecat, kata horor bagi setiap pekerja yang tidak ingin mereka dengar, termasuk Reina. Dia tidak ingin dipecat dari pekerjaannya yang sekarang. Bahkan dia bermimpi untuk menjadi pemilik dari restoran tempatnya bekerja saat ini.
"Apa?! Dipecat?!" Reina berseru dengan pandangan tidak percaya pada Pak Suryo.
"Maaf sekali, karena kami rasa kamu masih belum cukup mampu untuk bekerja di sini," tutur Pak Suryo dengan tegas seolah tidak bisa dibantah.
"Tidak bisa Pak. Saya sudah banyak kemajuan dan saya akan lebih berusaha lagi agar bisa sebanding dengan karyawan lain yang lebih dulu bekerja di bidang ini," ucap Reina dengan wajah memohon pada Pak Suryo.
"Maaf, keputusan sudah dibuat. Dan saya tidak bisa menggantinya. Jadi silahkan meninggalkan restoran ini dan temui bagian administrasi untuk mengambil gaji kamu," tutur Pak Suryo sambil beranjak dari duduknya.
Reina pun ikut beranjak dari duduknya. Dia mengikuti Pak Surya sambil terus memohon.
"Pak, saya mohon jangan pecat saya. Hanya di sini harapan saya bisa bekerja. Saya sangat membutuhkan uang Pak untuk membantu keuangan keluarga saya. Bagaimana nasib orang tua saya dan adik-adik saya Pak. Saya mohon berbelas kasihlah sama saya Pak."
Reina masih saja memohon pada Pak Suryo. Bahkan dia menghadang jalannya Pak Suryo dengan berhenti di depan Pak Suryo dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya untuk memohon padanya.
Segala upaya harus diupayakan oleh Reina agar dia tidak dikeluarkan dari restoran itu. Jika dia dikeluarkan dari tempat itu, dia tidak bisa lagi bertemu dengan Dewa. Karena dia tidak tahu lagi di mana bisa bertemu dengan Dewa tanpa adanya Ayuna di sampingnya.
Membantu keuangan keluarga, kedua orang tuanya dan adik-adiknya diikut sertakan oleh Reina dalam permohonannya agar Pak Suryo kasihan padanya.
Padahal kenyataannya kedua orang tuanya masih bisa mencukupi Reina dan adik-adiknya. Bahkan selama ini dia berkuliah menggunakan biaya dari kedua orang tuanya.
Pak Suryo menatap tidak suka pada Reina. Dia paling tidak suka dengan karyawan yang menghalangi jalannya dengan ocehan yang tidak bisa diterimanya.
Dia sudah mengetahui semua tentang Reina dari Dewa. Bahkan Dewa sendiri yang membuat keputusan untuk memecat Reina.
Reina masih saja tidak mau menyingkir dari hadapan Pak Suryo meskipun dia mendapatkan tatapan tajam dari Pak Suryo.
Pak Suryo menghela nafasnya, dia sangat tidak suka dengan model karyawan yang menghabiskan waktu berharganya hanya untuk hal yang sangat tidak berguna untuknya.
Bebal sekali dia. Benar kata Pak Dewa, dia memang kurang ajar dan mementingkan dirinya sendiri, Pak Suryo berkata dalam hatinya sambil menatap tajam ke arah Reina.
"Minggir!" seru Pak Suryo dengan menatap tajam pada Reina.
__ADS_1
"Pak, saya mohon Pak, jangan pecat saya," Reina masih saja memohon dengan wajah sedihnya dan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Sudahlah, kamu hanya membuang waktu saya saja. Tidak ada yang bisa saya rubah. Keputusan sudah dibuat dan tidak ada yang bisa merubahnya," tutur Pak Suryo dengan tegas serta menyingkirkan tubuh Reina dari hadapannya.
Tubuh Reina tersingkir dari hadapan Pak Suryo. Bahkan Pak Suryo tidak menoleh ke arahnya ketika dia merintih karena badannya terhempas menabrak meja kerja Pak Suryo.
Reina menatap punggung Pak Suryo yang telah keluar dari ruangannya dengan tatapan penuh kebencian.
"Lihat saja, aku akan membalasnya," ucap Reina dengan penuh kebencian.
Kemudian dia berjalan keluar dari ruangan Pak Suryo dengan hati yang penuh dengan amarah dan dendam.
Semua pasang mata memandang dengan pandangan yang seolah membicarakannya. Malu? Tentu saja dia sangat malu saat ini. Sebelum-sebelumnya dia sangat angkuh jika ditegur oleh seniornya. Karena dia selalu mengatakan jika dia kenal dekat dengan pemilik restoran tersebut.
Dewa pun mengetahui itu dari Pak Suryo ketika dia menghubungi Pak Suryo agar memecat Reina. Pak Suryo bertanya alasannya pada Dewa karena setahunya Reina mengatakan pada semua karyawan restoran jika dia kenal dekat dengan Dewa.
Dewa bertambah geram karena Reina menyangkut pautkan namanya sebagai pemilik restoran dalam pekerjaannya di restoran tersebut.
Setelah dia mengambil gajinya di bagian administrasi, dia segera meninggalkan restoran dengan perasaan kesal dan ingin membalas pada Pak Suryo yang dipikirnya sebagai dalang dari pemecatannya.
Reina mengendarai motornya dengan perasaan kesal yang masih mempengaruhinya. Motor itu melaju ke rumah Dewa. Dia berniat untuk mencari bantuan pada Dewa dan Ayuna. Bahkan dia siap menggunakan skenarionya untuk memainkan drama di depan Bu Intan, mama dari Dewa.
Dia pikir Bu Intan sudah dangat dekat dengannya sehingga dia sangat yakin jika Bu Intan pasti akan membantunya.
Tok... tok... tok...
Reina mengetuk pintu rumah Dewa dan Ayuna yang ada di hadapan rumah orang tua Ayuna.
"Sebentar!"
Terdengar suara teriakan dari dalam rumah tersebut.
Ceklek!
__ADS_1
"Reina?!"
"Tante!"
Reina berhambur memeluk Bu Intan. Dia berpura-pura menangis dan menampakkan wajah sedihnya pada Bu Intan.
Bu Intan mengernyitkan dahinya ketika mendapatkan pelukan dari Reina. Bahkan suara tangisannya itu membuat Bu Intan menjadi heran.
"Kamu kenapa?" tanya Bu Intan pada Reina.
"Saya... saya... saya dipecat Bu...," jawab Reina dengan air mata yang menetes pada pipinya.
"Dipecat? Kenapa dipecat? Apa kamu berbuat salah?" tanya Bu Intan dengan menatap Reina.
Reina menggelengkan kepalanya. Dia berpura-pura terisak untuk mengambil simpati dari Bu Intan.
"Saya dipecat secara sepihak Tante. Tiba-tiba saja saya dipecat tanpa berbuat salah apapun," ucap Reina disela isakan tangisnya.
"Kok bisa? Gak mungkin mereka berbuat seperti itu. Memangnya siapa yang memecatmu?" tanya Bu Intan penasaran.
"Saya tidak tau Tante. Saya baru saja datang dan tiba-tiba saya diberitahukan bahwa saya dipecat. Pak Suryo yang memecat saya. Sekarang saya tidak tau harus bagaimana. Padahal saya sangat membutuhkan uang untuk membantu biaya kehidupan kedua orang tua saya dan adik-adik saya," jawab Reina dengan dibuat sesedih mungkin.
Bu Intan sebenarnya tidak ingin ikut campur masalah perusahaan yang dikelola anaknya. Hanya saja melihat Reina yang seperti itu, dia menjadi iba.
"Sebentar ya, Tante tanyakan dulu pada mereka," tutur Bu Intan dengan mengusap pundak Reina.
"Terima kasih Bu. Tapi saya takut jika nantinya mereka semua yang ada di sana membenci saya jika tau Tante menanyakan tentang saya," ucap Reina dengan sesenggukan.
Bu Intan tersenyum, lalu dia mengambil ponselnya dari saku bajunya. Kemudian dia berkata,
"Kamu gak perlu khawatir. Mereka tidak akan berani berbuat seperti itu padamu."
Seketika Reina bersorak dalam hatinya. Dia ingin sekali melompat kegirangan karena apa yang direncanakannya semakin dekat menuju keberhasilan. Bu Intan kini semakin dekat dengannya. Itulah yang dipikirkan oleh Reina sekarang ini.
__ADS_1