
"Hei... hei.. bangun semuanya. Ayo kita melihat matahari terbit, mumpung kita berada di sini," ucap Felix sambil menggoyang-goyangkan tubuh Gavin, Viktor dan Devan untuk membangunkan mereka.
"Emmm...," gumam Devan yang menghadap ke lain arah.
Sedangkan Gavin masih saja bergabung dengan mimpinya. Dan Viktor, dia malah meraih tengkuk Felix dan mencium pipinya.
"Iiih... najis... najis... najis...," ucap Felix sambil memukuli lengan Viktor yang masih memejamkan matanya sesudah mencium pipi Felix.
"Woiiii... pada bangun gak? Bangun...!!!" teriak Felix di sebelah telinga sahabat-sahabatnya itu satu persatu.
Suara Felix yang menggelegar itu membuat mata Gavin, Viktor dan Devan terbuka. Mereka berjingkat kaget dan langsung terduduk dari tidurnya.
"Apaan sih?" tanya Gavin dengan suara malasnya.
Viktor menguap dan dia menggaruk-garuk rambutnya. Kemudian dia berkata,
"Felix tuh yang kumat, teriak-teriak gak jelas."
"Aku masih ngantuk, mau tidur lagi," sahut Devan yang memejamkan matanya sambil bersiap merebahkan tubuhnya.
"Eits... kalian jangan tidur lagi," ucap Felix sambil menarik tangan Devan agar tidak tidur kembali.
"Kita keluar. Kita lihat matahari terbit," ucap Felix kembali sambil tersenyum lebar agar tidak dimarahi oleh ketiga sahabatnya itu.
"Males. Aku mau tidur aja," ucap Devan sambil kembali berancang-ancang untuk merebahkan badannya.
Sayangnya Felix tidak membiarkan itu terjadi. Dia menarik kembali tangan Devan sekuat tenaga agar dia tidak bisa tertidur kembali.
"Ayolah... aku biasanya jalan sebentar ke tempat itu. Kalian pasti akan suka. Di sana tempatnya sangat indah. Kita hanya tinggal jalan kaki saja sebentar ke tempat itu. Ayo... ayo...," ujar Felix sambil membangunkan tubuh Devan dan teman-temannya yang lain.
Dengan terpaksa Gavin, Viktor dan Devan menuruti permintaan Felix. Mereka bergantian ke kamar mandi untuk hanya sekedar mencuci mukanya dan menggosok giginya.
"Pakai jaket kalian. Di luar sangat dingin, apalagi kemarin malam hujan sangat lebat seperti itu," ucap Felix dengan memberikan jaket tebal milik teman-temannya yang diambilnya dari tas mereka masing-masing.
__ADS_1
Gavin, Viktor dan Devan memakai jaket milik mereka yang diberikan oleh Felix tadi. Mereka berempat mengikuti langkah kaki Felix yang penuh dengan keceriaan.
Felix benar-benar menghidupkan suasana. Dia mampu membuat suasana pagi yang masih membuat sahabat-sahabatnya itu mengantuk kini menjadi terbuka lebar matanya. Bahkan mereka tertawa mendengar candaan dari Felix.
"Itu lihat, bagus kan?" tanya Felix pada ketiga sahabatnya ketika mereka sampai di tempat yang dimaksudkan oleh Felix.
"Itu sangat indah bukan?" tanya Felix kembali dengan menunjuk matahari yang baru terbit itu.
"Itu... itu...," ucap Viktor ragu sambil menunjuk sepasang kekasih yang sedang melihat matahari terbit.
Devan terpanah melihat sepasang kekasih itu. Apa yang dipikirkan oleh Viktor sama dengan yang dipikirkan oleh Devan. Mereka mengira jika sepasang kekasih itu adalah Dewa dan Ayuna.
Sepasang kekasih itu berada di depan mereka dengan jarak yang tidak jauh dari keempat sahabat itu.
"Apa itu benar Pak Dewa dan Ayuna?" tanya Gavin sambil melihat sepasang kekasih tersebut.
"Sepertinya benar," jawab Felix yang juga memandang tanpa berkedip sepasang kekasih tersebut.
Ya, benar, mereka adalah Dewa dan Ayuna yang sedang menikmati indahnya suasana matahari terbit.
Terdengar suara tawa dan canda dari Ayuna dan Dewa. Mereka sangat bahagia seolah mengejek Devan yang sedang patah hati karenanya.
Dengan menghela nafas berat dan hati yang sangat terluka, Devan berbalik arah, dia berjalan kembali ke Villa dengan langkah lebarnya.
Felix, Gavin dan Viktor berjalan cepat dengan berlari kecil untuk mengejar Devan. Mereka sangat khawatir dengan Devan.
Belum sembuh luka di badannya akibat kecelakaan itu, kini dia harus mengalami sakit hati untuk ketiga kalinya ketika melihat Dewa dan Ayuna yang bermesraan di hadapannya.
Felix sangat merasa bersalah pada Devan. Karena dia, kini Devan terluka kembali. Dia kembali merasakan sakit hati meskipun sudah berada di tempat lain untuk menghibur dirinya.
"Dev, Devan, maafin aku ya. Aku gak tau jika akan ada mereka di sana," Felix berseru sambil berjalan menyusul Devan yang tidak jauh berada di depannya.
Langkah kaki Devan yang lebar dan terburu-buru itu menjelaskan bahwa dirinya sangat kesal dan tidak baik-baik saja sekarang.
__ADS_1
Hingga Felix, Gavin dan Viktor kewalahan mengejar Devan yang seperti dikejar oleh hal yang mengerikan.
"Jangan membicarakan masalah Ayuna dan Pak Dewa sekarang ini. Biarkan Devan melupakan perasaannya pada Ayuna agar dia bisa menerima semuanya dengan lapang dada," ucap Gavin pada Felix seiring langkah kakinya mengejar Devan.
"Iya benar. Kita hibur saja Devan agar dia bisa melupakan sakit hatinya meskipun hanya sebentar ataupun hanya sedikit yang terlupakan," tukas Viktor yang berjalan di sebelah Felix.
"Apa kita salah mengajak Devan datang ke tempat ini untuk berlibur? Perasaan dari kemarin kita ketemunya Ayuna melulu. Sampai-sampai nama cewek yang kita ajak kenalan semuanya sama dengan Ayuna," ucap Gavin pada kedua temannya.
"Bisa juga memang ditakdirkan seperti itu agar Devan bisa menyadari kebersamaan Ayuna dan Pak Dewa, sehingga Devan bisa menerimanya tanpa sakit hati ketika mereka menikah nanti," ucap Viktor menanggapi perkataan Gavin.
"Bisa juga sih. Jadi bukan salah kita kan?" tanya Felix pada Viktor dan Gavin untuk meminta pendapat mereka.
"Sepertinya bukan. Kita kan tidak pernah salah," jawab Viktor dengan percaya dirinya.
"Kita hanya berusaha menolongnya untuk melupakan sakit hatinya dan cintanya," sahut Gavin menambahi perkataan Viktor.
Kemudian mereka bertiga saling memandang dan terkekeh karena ucapan konyol mereka.
"Lalu bagaimana kita harus menghibur Devan?" tanya Felix dengan menampakkan wajah bingungnya.
"Eh, mana Devan? Kok dia gak ada di depan kita? Apa dia sudah sampai di Villa?" tanya Gavin beruntun ketika tidak melihat Devan yang tadinya berjalan di depan mereka.
"Busyet dah... ke mana dia sekarang? Dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan?" tanya Viktor yang tiba-tiba merasa cemas pada Devan.
"Maksud kamu...," Felix ragu meneruskan ucapannya.
"Enggak... enggak... gak mungkin Devan melakukan hal itu. Dia gak sebodoh itu," ucap Gavin dengan tertawa palsu.
Dengan segera Gavin berlari kecil menuju arah lain, arah yang berbeda dari arah jalan menuju villa yang mereka tempati.
"Vin... mau ke mana?" Viktor berseru bertanya pada Gavin yang berlari kecil ke arah lain.
"Ke jurang," jawab Gavin dengan berseru dan tanpa menoleh ke arah belakang di mana Viktor dan Felix berada.
__ADS_1
"Devan!" ucap Viktor dan Felix bersamaan sambil berlari mengejar Gavin.