Dewa Untuk Ayuna

Dewa Untuk Ayuna
Bab 34 Ketemu


__ADS_3

Dewa bergegas ke alamat yang dia yakini sebagai alamat rumah Devan. Dengan rasa tidak tenang dia mengemudikan mobilnya.


Jarak yang ditempuh dia rasa sangat lama dan tidak juga sampai. Rasa cemas dan khawatirnya kini lebih besar daripada rasa kesalnya pada calon istrinya itu.


Ayuna yang sangat dikawatirkan oleh calon suaminya itu sangat tidak peka dengan status barunya yang menjadi calon istri Dewa.


Dia belum bisa terbiasa dengan status barunya itu. Dia masih sering lupa jika harusnya dia memberi kabar dan meminta ijin Dewa setiap akan pergi ke mana pun.


Dan sekarang dia sedang tahap pencarian oleh Dewa karena kelalaiannya tidak memberi kabar dan meminta ijin pada calon suaminya itu.


"Gimana keadaan kamu Dev?" tanya Ayuna yang baru saja duduk di sebelah Devan.


"Ya begini ini. Nungguin kamu tapi gak datang-datang. Kamu lupa ya kalau punya teman yang lagi sakit?" ucap Devan sambil terkekeh.


Ayuna mengerucutkan bibirnya mendengar sindiran dari Devan yang ditujukan untuknya.


"Aku kan gak lupa, cuma belum sempat aja," sahut Ayuna dengan kesal.


"Halah pasti karena udah punya tunangan tuh jadinya lupa sama kita-kita," tukas Viktor sambil memakan camilan yang disuguhkan pada mereka.


"Tunangan?" celetuk Devan sambil menatap Ayuna seolah meminta penjelasan dari Ayuna.


Sontak saja Gavin dan Felix menoyor kepala Viktor yang keceplosan membicarakan tentang status Ayuna yang sudah bertunangan.


Ayuna tersenyum lebar seperti orang yang tidak mempunyai salah sama sekali. Dia tidak mengerti jika kabar pertunangannya bisa menyakiti hati Devan.


"Kamu sudah bertunangan Ayuna?" tanya Devan ragu sambil menatap intens mata Ayuna.


"Hmmm... Dev, jangan dengarkan Viktor, dia yang sebenarnya ingin sekali bertunangan," sahut Gavin sambil menjewer telinga Viktor.


"Iya dari kemarin dia ngebet banget pengen nikah," ucap Felix sambil mencubit pinggang Viktor.


Mata Devan masih saja menatap Ayuna yang tersenyum padanya. Meskipun Ayuna diingatkan oleh Viktor tentang statusnya sekarang yang sudah bertunangan, dia tetap saja tidak ingat jika dia harus memberitahukan keberadaannya pada Dewa. Dia juga lupa jika Dewa pasti akan mencarinya untuk mengajaknya pulang bersamanya.


Tiba-tiba pembantu di rumah Devan masuk dan memberitahukan sesuatu.


"Maaf, Mas Devan, ada tamu yang nyariin Mbak Ayuna."


Devan, Felix, Gavin dan Viktor menoleh ke arah Ayuna. Sedangkan Ayuna yang tidak tahu apa-apa merasa bingung ditatap seperti itu oleh sahabat-sahabatnya.


"Siapa?" tanya Devan pada Ayuna.

__ADS_1


Ayuna hanya mengangkat kedua pundaknya dan beranjak dari duduknya.


"Siapa Bik?" tanya Devan pada pembantunya yang masih menunggu Ayuna.


"Kurang tau saya Mas. Pokoknya cowok ganteng banget deh," jawab pembantu tersebut sambil mengangkat kedua jempolnya disertai dengan senyumannya.


"Yuna, siapa?" tanya Devan kembali pada Ayuna yang sudah akan keluar dari kamar Devan.


"Gak tau Dev... ini aku mau lihat," jawab Ayuna yang kembali menoleh pada Devan.


"Ayo bik kita ke sana," Ayuna mengajak pembantu Devan untuk menunjukkan tempat orang yang mencarinya.


Pembantu itu pun menunjukkan tempat menunggu orang yang mencari Ayuna tadi. Sesampainya di ruang tamu, Ayuna terbelalak ketika melihat Dewa sudah duduk di sofa ruangan tamu rumah Devan.


"Kak Dewa, kok bisa ada di sini sih?" tanya Ayuna pada Dewa dengan menatapnya heran.


"Kamu kok gak kasih kabar sih sayang kalau mau main ke sini? Kan aku bisa antar."


Dewa tidak memberikan jawaban pada Ayuna, dia malah memberikan pertanyaan balik pada Ayuna.


"Hehehehe... maaf tadi kelupaan. Habisnya semuanya pada narik-narik aku sih, jadinya kan aku lupa," jawab Ayuna sambil tersenyum lebar.


Dewa sengaja menekankan kata sayang karena melihat Devan yang bersama Viktor, Gavin dan Felix berada tidak jauh di belakang Ayuna.


Tadinya mereka ingin tahu siapa cowok yang menurut pembantu Devan ganteng banget. Setelah mereka mengetahui bahwa Dewa lah yang dimaksud oleh pembantunya Devan, mereka sedikit takut karena mereka merasa seperti menculik Ayuna dari Dewa.


Devan, tubuhnya yang masih sedikit merasakan sakit, kini harus merasakan sakit hati ketika melihat Dewa memeluk Ayuna dan tangan Ayuna menyambutnya dengan membalas memeluk Dewa.


Ayuna lupa jika mereka sedang berada di rumah Devan. Dia hanya larut dalam situasi yang disuguhkan oleh Dewa padanya.


"Pulang yuk, tadi Mama nyuruh kita makan bersama di rumah," ucap Dewa ketika sudah melepaskan pelukannya.


"Mama? Mamanya siapa?" tanya Ayuna dengan menampakkan wajah bingungnya.


"Ya Mama Andini, Mama kamu sayang...," jawab Dewa dengan gemas sambil mencubit hidung mancung milik Ayuna.


"Iiih... kebiasaan deh, kalau aku gak bisa nafas gimana? Mati kan?" ucap Ayuna kesal setelah berhasil melepaskan tangan Dewa dari hidungnya.


"Eh jangan dong sayang, masa' aku jadi duda sebelum menikah," tukas Dewa sambil terkekeh.


"Ih enak aja, gak bisa, aku aja belum merasakan-"

__ADS_1


Mulut Ayuna dibekap oleh Dewa. Dia takut jika calon istrinya itu kelepasan mengatakan sesuatu yang hanya bisa mereka bicarakan hanya berdua saja. Karena Dewa tahu jika Ayuna gampang sekali terbawa suasana.


"Kita bicarakan di rumah aja ya sayang, jangan di sini. Malu sama teman-teman kamu," bisik Dewa di sebelah telinga Ayuna.


Sontak saja Ayuna tersadar jika mereka kini berada di rumah Devan bersama dengan sahabat-sahabatnya.


Ayuna menoleh ke belakang, dan matanya membelalak ketika melihat keempat sahabatnya itu berada tidak jauh dari tempatnya. Mereka melihat dengan tersenyum lebar pada Ayuna dan Dewa, kecuali Devan.


"Mampus deh, malu banget aku," ucap Ayuna lirih.


"Pulang aja yuk daripada malu sama mereka," bisik Dewa di sebelah telinga Ayuna.


Ayuna pun mengangguk dan merasa jika apa yang dikatakan oleh Dewa memang benar. Daripada dia dijadikan bahan olokan sahabat-sahabatnya, lebih baik dia pulang sekarang bersama dengan Dewa.


"Hai semuanya... hehehe... Ayuna yang cantik pulang dulu ya," ucap Ayuna canggung dengan memberikan senyum lebarnya.


Felix, Gavin, Viktor dan Devan hanya diam saja dan masih saja memberikan senyum lebarnya kecuali Devan.


Ayuna menarik tangan Dewa dan membalikkan badannya berjalan menuju pintu keluar.


Namun, ada suara yang menghentikan langkah Ayuna.


"Ayuna, kamu gak bawa tas kamu pulang?" tanya Devan dengan sedikit berseru.


Langkah Ayuna terhenti sehingga membuat langkah Dewa pun ikut terhenti.


"Oh iya lupa. Sebentar ya Kak aku mau ambil tas aku dulu di dalam," tukas Ayuna dengan melepaskan tangan Dewa dan berjalan menuju kamar Devan.


Devan mengikuti Ayuna ke dalam kamarnya. Melihat hal itu, Dewa merasa tidak senang dan khawatir, dia berjalan hendak mengikuti Ayuna dan Devan, tapi sayangnya Felix, Gavin dan Viktor malah menghentikannya.


"Tunggu di sini aja Pak, Ayuna gak bakalan ilang kok," ucap Felix sambil terkekeh.


"Iya Pak, dia udah terbiasa di rumah ini," Gavin menyambung perkataan Felix.


"Udah hafal dia denah-denahnya Pak. Gak bakalan dia tersesat," sahut Viktor sambil terkekeh.


Dewa, dia menatap tajam ke arah Felix, Gavin dan Viktor dan mengepalkan tangannya, ketika mendengar perkataan mereka bertiga.


Ingin rasanya dia menerobos masuk untuk mengikuti Ayuna yang mengambil tasnya diikuti oleh Devan.


"Minggir!" seru Dewa menerobos masuk dengan menyingkirkan tubuh salah satu dari mereka yang menghalangi jalan.

__ADS_1


__ADS_2